Adat Istiadat Perkawinan Masyarakat Melayu Di Wilayah Kecamatan Siak Sri Indrapura

elna riptin/PBM/BI/5
            Ketika raja-raja Melayu masih berkuasa , budbahasa istiadat perkawinan ini terpelihara dengan baik oleh para hebat budbahasa istana, akan tetapi setelah Kesultanan Melayu Siak Sri Indrapura tidak berkuasa, budbahasa istiadat kebudayaan Melayu mulai mengalami perubahan dan tidak terpelihara dengan baik walaupun dalam masyarakat Melayu Siak budbahasa istiadat perkawinan masih dilaksanakan.
            Ghalib menjelaskan bahwa budbahasa istiadat masyarakat Melayu Siak ialah salah satu warisan budaya yang masih hidup dan dipegang terus serta dijunjung tinggi yang ditetapkan berdasaarkan kanon kerajaan Siak Sri Indrapura. Adat istiadat yang berdasarkan kanon ini merupakan urutan tata cara uapacara serta alat perlengkapan yang dipatuhi dengan taat oleh masyarakat melayu yang hidup di wilayah bekas kerajaan siak sri indrapura. Adat istiadat perkawinan Melayu Siak mengatur wacana prosesi sebelum,persiapn dan prosesi sehabis perkawinan. Adat sebelum perkawinan menjelaskan perihal menentukan jodoh, syarat-syarat untuk kawin, bentuk-bentuk perkawinan sementara dalam upacara perkawinan menjelaskan upacara sebelum pelaksanaan perkawinan, hari pesta, dan upacara setelah perkawinan, dan upacara sehabis perkawinan mengatur wacana budbahasa menetap, budbahasa mengenai perceraian dan kawin ulang, aturan waris,poligami, hal anak, dan kekerabatan kekerabatan antara menantu dan kelurga istri dan suami.

             Pada masa Kesultanan Siak kiprah orang renta sangaatlah besar lengan berkuasa sehingga dalam pemilihan jodoh orang tualah yang lebih berperan aktif sedangkan anaknya hanya mengikut saja  namun pada masa kini hal tersebut sudah jarang atau sudah berubah seiring dengan perkembangan waktu yang telah dipengaruhi oleh kemajuan zaman, seorang anak pria yang ingin menikah bebas menentukan sendiri calon istrinya Namun, tetap keputusan terakhir masih ditangan orantua. Begitu juga bagi wanita bila akan dijodohi alasannya ialah ada yang melamar orangtua menayakan kepada anaknya terlebih dahulu untuk mendapatkan atau menolak lamaran tersebut. Sehingga pada ketika kini ini telah jarang dijumpai perkawinan yang ersifat paksaan orangtua atau perjodohan.
            Adapun prosesi budbahasa istiadat di kerajaan siak sri indrapura dan Upacara ini digunakan setiap upacara perkawinan terutama didalam wilayah kerajaan Siak Sri Indrapura dan sekitarnya yaitu:
a.       Prosesi sebelum perkawinan
b.      Prosesi persiapan perkawinan
c.       Prosesi setelah perkawinan
            Pada proses prosesi seelum pelaksanan perkawinan budbahasa istiadat perkawinan di siak sri indrapura melalui 4 tahapan sebagai berikut:
a.       Merisik
          Merisik ialah kegiatan yang harus dilaksanakan alasannya ialah hal ini sangat penting dalam pemilihan seseorang calon pengantin. Merisik merupakan langkah utama yang dilakukan dalam proses perkawinan yang bertujuan untuk memeriksa wacana keberadaan seorang calon penganten. Merisik dilakukan seorang lelaki secara belakang layar atau tanpa memberitahu terlebih dahulu kepada pihak wanita yang diidamkan. Rombongan merisik tiba kerumah pihak wanita ialah ditentukan sendiri, berdasarkan petunjuk perlangkahan yang baik, biasanya dilaksakan selepas magrib, rombongan nya didominasi oleh kaum wanita dan lelaki hanya 1 atau 2 orang saja.
b.      Meminag
          Meminang adalah  meminta seorang wanita untuk dijadikan istri atau melamar seseorang. Upacara meminang dilaksakan setelah menerima dari anak dara maupun pihak keluarga bahwa anak dara belum mempunyai ikatan dengan pria lain. Pemberitahuan dari pihak laki-;aki bahwa akan tiba melaksanakan peminangan kepada anak daranya, maka keluarga wanita mengadakan persiapan menanti kedatangan bersama keluarga serta mempersiapkan perangkat adatnya diantaranya tepak sirih yang berisikan  sirih, gambir, kapur, tembakau
, pinang dikupas dengan ukirannya serta kacip  berkepala naga.
c.       Antar Tanda
          Mengantar tanda merupakan suatu ikatan janji diantar kedua calon pengantin. Dalam program antar tanda ini, hanya pihak pria yang membawa  sebuah cincin emas dan diiringi dengan bermacam keperluan wanita seperti: make up, materi kain menyerupai alat shalat, selimut dan lainnya yang sesuai dengan kemampuan laki-laki.Waktu pelaksanaanya berdasarkan kepada kesepakatan kedua belah pihak. Tanda ini menjadi wujud dari persetujuan penerimaan pinangan dan sebagai pengikat bagi kedua belah pihak. Pada masa kerajaan  melayu  siak antar tanda dilakukan dengan mempersiapkan erbagai peralatan dan semua barang antaran disusun di dalam poho ( homogen dulang berkaki)  yang sering disebut semerit. Poho berjumlah 17 buah  yang masing-masing diisi dengan aturan yang telah ditentukan oleh pihak kesultanan. Stelah prosesi antar tanda selesai sanggup disimpulkan wacana berapa besarnya uang antaran dan hari langsung.
d.      Mengantar Belanja
          Antar belanja merupakan penyerahan uang belanja dari pihak pria kepada pihak wanita sebagai lambang gotong royong dan kebersamaan untuk membantu pihak wanita dalam melaksanakan  perhelatan perkawinan kedua mempelai. Besarnya uang hantaran  diatur dan di sepakati bersama kedua belah pihak. Uang hantaran belanja biasanya digunakan untuk dana menyerupai pengadaan pelaminan, atau gerai, daerah peraduan, bangsal, atau tenda dan upacara-upacara lainnya menyerupai berinai, akat nikah, dan upacara langsung.
            Setelah semuanya disetujui barulah melaksakan prosesi persiapan perkawinan, adapun langkah-langkahnya menyerupai berikut:
1.      Menegakkan bangsal
            Semua kaum kerabat yang telah mengetahui semua rangkaian perkawinan maka pada hari yang telah ditetapkan  semua kerabat, sanak saudara, berkumpul ersama bergotong royong meramaikan untuk mendirikan bangsal sebagai daerah menampung tamu seruan atau jemputan dan mempersiapkan daerah memasak dengan memasang tungku berkaki tiga dan dikerjakan secara bersama dengan hati ikhlas. Bangsal ialah bangunan tamahan untuk menampung tamu jemputan  yang biasanya terletak dihalamn rumah. Bangsal dilengkapi dengan meja panjang  berbanjar daerah tamu-tamu jemputan untuk  bersantap  bersama namun, diera modern kini ini bangsal telah tergantikan dengan tenda yang terbuat dari besi dengan alasan  tenda lebih praktis.
2.      Menggantung
          Menggantung ialah cara menghias rumah dan memuat serta  memasang gerai pelaminan dirumah pengantin perempuan, menyerupai menggantung alat embel-embel gerai atau pelaminan serta menggantung tabir yang berwarna merah, kuning hijau. Pekerjaan ini dikerjakan  secara beramai-ramai dari sanak saudara dan mak andam. Menggantung dilaksanakan 3/5 hari sebelum dilaksakan janji nikah.
           Pada acra menggantung ini mak andam akan dibantu oleh tenaga muda mudi untuk membantu menggantungkan gerai pelaminan yang disebut gerai besar. Gerai besar dikelilingi dengan tabir yang berlapis-lapis dan  memiliki  beberapa tingkat, biasanya pada masa kerajaan siak gerai besar  tergantung kepada tingkat sosial bagi mereka yang ingin melaksakan upacara perkawinan. Misalnya  bila sultan yang kawin gerai besarnya bertingkat 9, bila keturunan tengku-tengku gerai besarnya bertingkat 7 , bila anak datuk-datuk dan encik-encik gerainya bertingkat 5, sedangkan  orang biasa gerai besarnya bertingkat 3 saja.
           Gerai berfungsi sebagi daerah bersading bagi kedua mempelai,tempat upacara budbahasa tepuk tepung tawar, daerah peraduan pengantin wanita dan pengantin laki-laki, dan daerah bertukar pakaian serta digunakan untuk upacara berandam dan makan bersama setelah kedua pengantin telah dinyatakan syah.
3.      Berinai curi
        &nb
sp;   Berinai curi ialah inai yang akan diletakkaan kepada pengantin pria diambil oleh mak andam dan dibawa kerumah pengantin laki-laki. Berinai dilaksakaan di rumah masing-masing kedua pengantin. Berinai diambil dengan cara mak andam memetik inai dan membawanya dengan cara menggendong dengan kain berwarna merah  dan juga payung berwarna merah dan ditumbuk memakai lesung tumbuk dan dicampur dengan sedikit nasi, arang, dan dimantrai oleh mak andam hal ini di yakini biar inai yang akan ditumbuk akan menghasilkan warna merah pada kuku pengantin.
4.      Berandam
            Berandam ialah suatu kegiatan untuk membersihkan kotoran-kotoran dan bulu-bulu halus di wajah atau muka dan dileher serta ditengkuk pengantin perempuan. Bertujuan untuk memelihara dan membentuk kecantikan lahiriah dan batiniah, dalam ungkapan dikatakan ” membersihkan daki dunia dan mensucikan daki hati”. Upacara mengandam lazimnya dilaksanakan besok harinya yakni setelah selesai program berinai curi. Berandam hanya dilakukan oleh pengantin wanita dan  dilaksanakan dirumah pengantin wanita yang dihadiri oleh semua keluarga terdekat. Berandam juga mengandung makna sebagai lambang persiapan diri calon pengantin wanita untuk menjadi seorang wanita yang tepat lahir batinnya dan siap menjadi ibu rumah tangga.
5.      Akad Nikah
Upacara pernikahan ialah suatu upacara agama yang sakral dan dipersiapkan secars besar-besaran dirumah pengantin perempuan. Upacara tersebut dilaksakan dimalam hari setelah shalat isya, dan sebelum turun pengantin pria dari rumah orang tuanya untuk pergi melaksakan pernikahan dirumah pengantin perempuan, terlebih dahulu dirumah pengantin laki-lakimengadakan upacara melepaskan keberangkatan pengantin pria dengan program tepuk tepung tawar yang dilaksanakan oleh kerabat bersahabat dan pengantin pria duduk bersimpuh dihadapan kedua orang tuanya untuk mendapatkan doa restu sehingga selamat menghadapi kehidupan gres nanti program ini cukup mengharukan alasannya ialah orang renta tidak ikut mengantar anak laki-lakinya ketempat upacara pernikahan di rumah bakal mertuanya,orang renta hanya mendoakan anaknya saja dan dengan adanya program ini mempunyai arahan bahwa pengantin pria akan beranjak pindah dari rumah orangtuanya.
6.      Berkhatam Al-Qura’n
            Upacara ini dilaksanakan pada malam hari dan esok harinya dilaksakan upacara berkatham Al-Qur’an dirumah pengantin wanita pada jam 08.00-10.00 pagi, dalam berkhatam dilaksanakan oleh pengantin perempuan  kadang diikuti oleh adik-adiknya, yang dipimmpin oleh guru mengaji pengantin perempuannya. Upacara ini menunjukan bahwa persebatiaan budbahasa dan budaya melayu dengan agama islam, alasannya ialah anak-anaak wanita yang akan dinikahi ia sudah khatam Al-Qur’an dan telah paham seluk beluk agama islam sehingga dirumah tangganya nanti mempunyai daerah mengadu dan menganggungkan kebesaran Tuhannya. Setelah selesai berkhatam dilanjutkan dengan program berzanji dan marhaban.
7.      Hari Langsung
            Upacara berlangsung disebut juga upacara bersanding kedua mempelai. Acara tersebut dilaksanakan setelah shalat zuhur dimulai lebih kurang jam 13.00 Wib siang. Upacara ini dilaksanakan besar-besaran  dirumah pengantin wanita dan mengundang seluruh sanak saudara,handai taulan kaum kerabat jauh dan dekat, dan dijamu dengan hidangan bertalam dan diletakkan diatas meja panjang dan disetiap satu hidangan dipersiapkaan untuk empat orang. Sekarang ini banyak masyarakat lebih menentukan penyajian secara ketring atau sering dinal dengan sebutan ala perancis dengan alsan lebih praktis.
            Setelah shalat zuhur pengantin wanita didudukkan diatas gerai pelaminan sambil menunggu ketibaan pengantin pria yang didampingi oleh dua oarang anak dara yang bertugas mengipas pengantin. Sedangkan mak andam menanti pengantin pria di muka pintu rumah sambil memegang beberapa kantong uang untuk persiapan adanya upacara buka pintu.
8.      Makan Bersuap ( makan Beradap)
             selesai bersanding, kedua pengantin melaksanakan upacara makan bersuap-suapan dihadapan kedua orang tuanya yang dipimpin oleh mak andam. Setelah selesai program tersebut dilanjutkan program makan bersama sama dengan tamu jemputan dan hidangan makan beradap.
9.      Mandi Damai ( Mandi Taman)
            Mandi taman dilaksanakan setelah selesai program upacara bersanding. Acara mandi hening ini pada hakekadnya mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan S.W.T yang telah memperlihatkan berkat dalam program ini dan rasa terimakasih kepada kaum kerabat dan handai taulan atas terlaksanakan serta berlangsungnya upacara perkawinann ini dengan selamt alasannya ialah kedua pengantin telah bersatu menjadi sepasang suami istri.
            Setelah upacara mandi taman selesai, mak andam membawa kedua pengantin masuk kedalam rumah dan terus kebilik peraduan untuk mengeringkan tubuh dan persalinan pakaian.
10.  Menyembah kedua orang renta dan keluarga ( duduk bersimpuh)
            Maksud dari upacara menyembah disini ialah kedua mempelai duduk bersimpuh dihadapan kedua orang renta dan keluarga untuk memohon doa restu biar perkawinan mereka berlagsung dengan sejahtera dan membawa kepada hari depan yang berbahagia.
11.  Makan Nasi Damai
            Makan nasi hening ialah program keluarga setelah berlangsungnya upacara mandi damai/ mandi taman. Yang dimaksud dengan makan nasi hening ialah dimana selama hidup bersama dengan kelurga, baik pihak pengantin pria maupun pihak pengantin wanita terdapat saling sengketa atau salah faham dan sebagainya, aik disengaja maupun tidak  selama bergaul dan selama berlangsungnya upacara perhelatan perkawian atau ada hal-hal yang mungkin kurang berkenann dihati, tersalah cakap, salah ditempatkan  atau ada kata-kata yang kurang layak untuk diucapkan maupun yang didengar atau tidak maka makan nasi hening inilah untuk penghilang hal-hal salah pengertian tersebut sehingga kehidupan gres berumah tangga bagi pengantin tidak membawa onak dan duri yang nantinya menjadipenyebab atas kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam peraahu kehidupannya.
12.  Malam mengunjung mertua
            Malam mengunjung mertua disebut juga menjelang mertua dan keluarga. Acara ini dilaksanakan setelah selesai semua program resmidari perhelataan perkawinan. Acara ini biasanya dilakasanakan pada malam hari setelah lepas shalt magrib.
            Pengantin pria berdasarkan budbahasa melayu setelah mengadakan perkawinan ia bertempat tinggal dirumah pengantin perempuan, oleh alasannya ialah itu pengantin wanita bersama suaminya dan kaum kerabat pengantin wanita pergi mejelang atau berkunjung kerumah orang renta pengantin pria makanya program ini disebut menjelang mertua atau berkunjung. Biasanya dalam program ini orang renta akan memperlihatkan nasehat-nasehat kepada kedua mempelai/ pengantin dan tunjuk didik dalam membina rumah tangga yang gres biar menjadi keluarga yang serasi atau keluarga yang sakinah mawaddah dan warommah.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat.2007. Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan, Yogyakarta: Balai Pengkajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
Ghalib, Wan, dkk. 1991. Adat Istiadat Melayu Riau Bekas Kerajaan Siak Sri Indrapura.
2006. Pedoman  Adat Perkawinan Melayu Siak, kabupaten Siak.