Adat Sulu-Sulu Air Dan Meminang Di Kota Pasir Pengarayan

Willyam Santos Alfrado/PBM//FB

Tiap-tiap ada melayu, sebelum meminang atau melamar, terlebih dahulu perlu diketahui dan diselidiki pendirian orang bau tanah pihak perempuan, meskipun antara si cowok dan pemudi sudah ada persetujuan. Untuk mengetahui sudah ada persetujuan atau pendirian tersebut tidaklah menghendaki syarat apa-apa. Maksud dan tujuannya yakni sekedar menjejaki hendak mengetahui apakah :
“Ibarat bunga kembang di taman-bolehkah dipetik ?” “Ibarat ayam sudakah ada pautannya ?”
Cara-cara ini yakni sebagai perintis jalan untuk kelak sanggup ditempuh tanpa halangan-halangan dan rintangan-rintangan atau menyerupai air mengalir mencari jalan saluran/ alur semoga lebih tepat dan sentosa.
A. Pengertian Sulu-Sulu Air
Menurut aksen penduduk kawasan pasir Pengarayan dari asal kata saluran yang pada mulanya disebut “sulur-sulur air” kemudian lebih lazim dan jago dengan kependekan sulu-sulu air ( Said, 2006 : 320).
            Sulu-sulu di air tanpa persyaratan itu, baik tempat maupun waktu sering berlangsung antara perempuan dengan perempuan yang terdekat antara keduabelah pihak . Salah satu tempat yang cukup unik tersebut yakni pangkalan tepian pemandian. Di sinilah
setiap pagi dan sore medan pertemuan bagi wanita-wanita menjadikan tempat dan kesempatan untuk berceramah. Malah sampai-sampai tempat tersbut menerima julukan “Balai Napal” (Batu besar/napal di tepi sungai). Bukan saja sebagaimana kita lihat di beberapa desa di perkampungan di sadar atau tidak menjadikan lepau-lepau/ warung kopi tempat kaum lelaki memberi dan mendapatkan kabar “Information Centre”, maka wanita-wanita yakni pangkalan tempat pemandian berfungsi sebagai tempat “rendezvouz”.
Terkadang pembicaraan-pembicaraan perempuan di tepi pemandian di luar keingnian meluap menigkat atau melantur pada hal-hal yang kurang baik dan menjurus pada menggunjing. Semua dikatakan cakap-cakap di air artinya pembicaraan ada yang baik dan ada pula sebaliknya. Oleh lantaran itulah cakap-cakap atau pembicaraan di air dihentikan diterima begitu saja kebenarannya, lantaran baik perkataan maupun negosiasi sebagaimana dikatakan orang kini yakni tidak resmi. Bertalian dengan inilah sekedar merintis dan ditambah dengan tempat dan insiden meskipun di masa yang akan tiba tidak lagi mengenal tepian pemandian, namun setiap sebelum meminang atau melamar dikatakan “sulu-sulu air”.
B. Peranan Sungai dan Tepian Pemandian dalam Sulu-Sulu Air
            Sebagaimana uraian di atas mulanya sulu-sulu air membawa peranan dan kesan atau berlokasi pertama dari tepian pemandian/pangkalan. Jelasnya apa yang dimaksud dengan kata –kata di air yakni di tepi sungai di tempat mandi.
Dikarenakan kawasan Pasir Pengarayan banyak sungai, banyak anak sungai mengalir arah pesisir pantai Timur. Di antaranya yang terbesar sungai-sungai : Rokan Kiri, Rokan Kanan, Batang Lubuh, Batang Sosa, Batang Kumu dan Sei Mahoto. Sungai Rokan Kiri dan Rokan Kanan yakni sebagai induk, bertemu di Rokan Hilir bersahabat kampung Sikapas dalam kawasan Kabupaten Bengkalis yang berjulukan Kualo Sako dan bermuara di Bagansiapi-api. Ada lagi sungai Tandun mengalir dan  bertemu dengan sungai Tapung menuju sungai siak, di pinggir sungai tandun ada negeri Tandun yang berstatus Kecamatan Tandun bahagian kawasan kerajaan/Kesultanan Siak Sri Indrapura yang kemudian semenjak tahun 1942 di zaman Jepang hingga kini masuk bahagian kawasan Pasir Pengarayan.
            Seperti pada kenyataan, kini Ibu-ibu Negeri Kecamatan Pasir Pengarayan Kecamatan Rambah – Dalu-dalu; Kecamatan Tambusai – Koto Tengah; Kecamatan Kepenuhan – Rokan IV Koto; Kecamatan Rokan Ujungbatu; Kecamatan Tandun; dan Kota Lama; Kecamatan Kunto Dar Essalam). Semuanya terletak di pinggir sungai dan sudah barang tentu tiap-tiap Ibu Kecamatan tersebut ada tepian pemandian.
            Orang-orang dahulu kala semenjak semula menyusun mendirikan negeri di kawasan ini, menjadikan tepian pemandian sebagai syarat, dalam hal ini dikatakan barus tepat berjulukan negeri :
1. ada tepian pemandian
2. ada pandam pekuburan
3. ada surau dan mesjid menandakan perkampungan orang Islam.
Di sinilah terselip kata-kata : “Elok negeri oleh penghulu, indah tepian oleh orang muda”. Oleh lantaran negeri-negeri itu terletak di pinggir sungai bertalian dengan perkawinan yang diawali sulu-sulu air , masih ada lagi beberapa hal yang menjadi tradisi. (322).
Suatu cara yang meriah juga, yaitu “keair berlimau” . tempatnya juga di tepi pemandian. Pengantin laki-laki di tepian laki-laki dan pengantin perempuan di tepian pemandian perempuan . upacara ini dilaksanakan pada hari pelantikan perkawinan sehabis pengantin laki-laki hingga ke rumah anak dara, beristirahat sebentar, barulah melakukan keair berlimau.
Maksud tujuan ataupun pelaksanaannya boleh dikatakan bersamaan dengan tepung tawar di kawasan Siak Sri Inrdrapura dan lain-lain. Begitu juga sekali setahun, sehari menjelang memasuki bulan Ramadhan pada sore harinya kelihatan penduduk ramai ramai ketepian terutama wanita-wanita mandi “berlimau” nyatalah nergeri atau perkampungan tidak sanggup melepaskan diri dari kepentingan sungai atau “tepian pemandian” sehingga dari runag hidup membawa kesan tradisonal.
C.  Meminang Oleh Masyarakat Melayu Pasir Pengarayan
            Meminang, Khitbah atau melamar sudah umum mengetahui, hanya ada beberapa perbedaan dalam tata caranya. Kata-kata meminang apakah berasal dari kata “pinang” sebagai salah satu materi mutlak
untuk mengisi tepak sirih. Di kawasan Pasir Pengarayan peminang atau khitbah lazim juga disebut “mengantar kata”. Perkawinan tanpa melalui perundingan-perundingan meminang sanggup juga dilangsungkan dan syah berdasarkan syariat agama islam, lantaran persyaratan yang mutlak ialah ijab qabul, mahar atau mas kawin dengan segala ketentuannya.
            Meminang dalam istilah Melayu sama dengan melamar. Pihak keluarga calon pengantin laki-laki yang dipimpin oleh keluarga terdekat akan melakukan lamaran secara resmi kepada keluarga calon pengantin wanita. Seperti biasanya, program meminang ini diungkapkan dengan berbalas pantun. Secara adat, calon pengantin laki-laki membawa paling sedikit lima tepak sirih yang berisi tepak pembuka kata, tepak merisik, tepak meminang, tepak ikat janji, tepak bertukar tanda dan beberapa tepak pengiring ( Ukur bumi, 20120.
            Apabila dilangsungkan tanpa meminang, hal ini berarti suatu tantangan bagi pihak keluarga, melanggar adat, melanggar kesopanan, atau sesuai pepatah menyampaikan “emoh berkaum kerabat dan sebagainya”. Meminang di seluruh pelosok tanah air, baik di kota ataupun di desa yakni salah satunya milik perdaban yang tinggi dalam mewujudkan suatu perkawinan.
            Bukan hanya untuk menghormati kedua keluarga calon pengantin, tetapi juga untuk menjadikan kesan dalam arti mempererat korelasi kekeluargaan dan menjadi moral dalam hidup bermasyarakat terutama dalam suatu lingkungan Korong kampong/pedesaan. Masyarakat yang berkorong berkampung mengutamakan program meminang, lantaran jalinan perkauman, ketertiban dan keamanan negeri itu sendiri. Seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menyerupai kawin lari, dilarikan dan sebagainya maka pihak yang berwenang (Tuan Qadhi) akan bertindak penuh bijaksana memelihara dan menghindarkan ekses-ekses yang tidak baik.
            Hal ini sesuai dengan pepatah “adat dibawa, agama dipatuhi”. Sejak dari mengawali urusan perkawinan (meminang) orang sangat berhati-hati untuk menjaga dan menghindarkan perpecahan. Sedapat mungkin jangan ada yang tersinggung dan jangan lagi ada yang tertinggal.
            Menurut datuk M. Rasyid Manggis Dt Rajo Penghulu (mingguan singgalang padang no. 607 juli 75) antara lain ” menandakan kita beribu bapak, bermamak, ada memiliki tali darah, basosok bajarami, batunggua panabangan, ke hulu boleh ditunjukkan bulakanya, ke hilir boleh ditunjukkan muaranya”.
            Dalam moral Pasir Pengarayan, meminang tetap datangnya dari pihak laki-laki. Sesuai pepatah yang menyampaikan : “kuda yang mencari rumput, bukan rumput yang mencari kuda”. Meminang dilakukan apabila sulu-sulu air serta melalui beberapa rundingan-rundingan kecil telah menerima persesuaian, hingga sampailah pada keputusan memilih dikala meminang.
            Dengan demikian, keduabelah pihak sudah baiklah beserta waktu dan harinya sudah ditentukan. Dalam meminang, utusan yang tiba hanya beberapa orang, antara lain : ninik mamak, orang semondo serta keluarga terdekat dan tentunya sudah ada di antara keluarga yang jago dalam seluk beluk dan turut kata meminang. Orang semondo yakni suami dari perempuan yaitu laki-laki dalam suatu persukuan yang kawin dengan perempuan dari persukuan lain. Pada dikala menyerupai ini, orang semondo ikutb pegang peranan dan lazimnya pribadi jadi utusan untuk berunding dengan orang semondo dari pihak wanita. Sebelum negosiasi dimulai ataupun telah selesai, ada baiknya dilakukan jamuan makan atau minum bagi yang bisa mengadakannya.
D. Kesimpulan
            Dalam tata cara perkawinan masyrakat melayu Pasir Pengarayan, ada 2 hal terdahulu yang harus dilakukan. Yang pertama ialah sulu-sulu di air sesuai dengan banyaknya sungai yang terdapat di Pasir Pengarayan dan yang kedua ialah meminang yang dilakukan pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Baiklah kita sebagai masyarakat melayu membawa moral perkawinan melayu dan mempertahankannya yang di ikuti oleh hukum Agama.
DAFTAR PUSTAKA
Said, Mahidin. 2006. Adat dan Kebudayaan Pasir Pengarayan. Pekanbaru : Lembaga Adat Melayu Riau.
Ukur Bumi. 2012. “Tradisi dalam Kebudayaan Melayu”. . diakses tanggal 11 Mei 2015.