Awal Kedatangan Jepang Ke Riau

Kevin Reza / Sejarah Riau – 5

            Jauh sebelum pecah perang dunia kedua, Jepang sudah mempersiapkan diri secara matang untuk menguasai Asia. Persiapan-persiapan tersebut ditandai dengan penyebaran spionase ke banyak sekali negara Asia yang pada masa itu masih dijajah oleh bangsa barat.

            Bermacam-macam penyamaran yang dilakukan oleh spionase Jepang ini, ada yang menyamar sebagai pedagang mainan anak-anak, pedagang kelontong, pemborong bangunan, tukang batu, tukang foto dan lain-lain.[1]
            Setelah menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati tanggal 9 Maret 1942, rakyat Indonesia harus mendapatkan rezim Tentara pendudukan Jepang. Sumatera di bawah tentara ke-25, Jawa dibawah tentara ke-16 dan sisa ex Hindia Belanda di bawah komandan angkatan bahari yang berkedudukan di Makassar. [2]
            Sebelum bala tentara Jepang mendarat di Riau, beberapa orang Jepang yang berada di Riau secara sembunyi melancarkan propagandanya kepada rakyat bahwa Jepang pada suatu waktu akan membebaskan rakyat Indonesia dari penindasan penjajahan Belanda. Berita itu disampaikan secara bisik-bisik dari verbal ke mulut.
            Suasana itu menjadi semakin tegang sesudah beberapa orang Jepang di Riau ditangkapi oleh Belanda. Salah seorang diantara mereka itu yakni pengusaha foto yang berjulukan Watanabe yang pernah membisikkan kepada H. Abdul Ganie yang berada di Pekanbaru bahwa perang akan pecah tidak usang lagi. Setelah diperiksa ternyata bahwa ia yakni seorang militer Jepang yang berpangkat Mayor. [3]
            Sementara itu propaganda Jepang sudah tersiar dan meluas dimana saja. Propaganda Jepang ada juga yang dibawa oleh orang-orang yang berdiam di perbatasan Singapura dan Malaya mengakibatkan berita-berita itu cepat hingga ke Riau. Jepang sangat bakir memakai keadaan. Dengan slogan yang muluk-muluk yang berbunyi, “Kita orang Asia bersaudara, lantaran itu penjajahan Barat harus dimusnahkan dari bumi Asia dan sebagainya.”
            Dengan memuncaknya kebencian rakyat terhadap Belanda mempermudah rakyat mendapatkan propagangda Jepang. Rakyat sadar bahwa komitmen Belanda yang akan memperlihatkan pemerintahan sendiri kepada Indonesia dengan secara berangsur-angsur hanyalah aksesori verbal belaka.
            Pertengahan Maret 1942 terlihat kegelisahan pemerintahan Belanda yang berada di Bangkinang, pada dikala itu rakyat tidak boleh mendengar radio. Belanda tidak lagi mempermasalahkan keadaan rakyat. Belanda hanya berfikir bagaimana cara menghalangi kehadiran Jepang. Kedatangan Jepang selalu mengkhawatirkan Belanda.
            Kemudian tejadilah obrolan panjang antara perjaka dan Jepang. Di sinilah perjaka memberikan perlakuan dan kekejaman Belanda terhadap rakyat. Akhirnya dengan nada bermohon H.M. Amin menyampaikan pukullah seluruh Belanda den pegawainya yang selalu berlaku kejam. Jepang pun menjawab bahwa nanti akan mereka laksanakan. Demikian komitmen Jepang. Mendengar balasan itu para perjaka sangat gembira, lantaran berhasil mengadukan nasib kepada ilahi penyelamat, kemudian rombongan tersebut menuju Bangkinang.
Sebelum Jepang menguasai Taluk Kuantan, Jepang mengirim Tuan Yashi dari Malaya. Tuan Yashi itu salah satu dari pada anggota Fuji Wasakikat, yaitu tentara gelap dari pemerintahan Jepang yang sengaja dikirim terlebih dahulu kepada pemimpin-pemimpin di Indonesia. Yashi itu menghadap Umar Usman seorang tokoh politik dan jago propaganda untuk diajak berhubungan untuk membantu Jepang melawan Belanda.
            Propaganda Jepang menyebar hingga ke Indragiri Hulu dibawa oleh Abu Bakar Abduh dan kawan-kawan. Rakyat mendapatkan dengan baik kedatangan Jepang tersebut, lantaran selama ini mereka mengalami penindasan dari pemerintah Kolonial Belanda. Kedatangan Jepang sungguh sangat ramah sekali, sehingga dalam waktu relatif singkat mereka sanggup menggoda rakyat waktu itu.
            Dengan slogan-slogan yang muluk-muluk yang berbunyi, “Kita orang Asia bersaudara, lantaran itu penjajahan Barat harus dimusnahkan dari bumi Asia”. Propaganda ini disiarkan pribadi melalui Radio Takyo dan pada final siarannya selalu dikumandangkan Lagu Indonesia Raya. [4]
            Dalam pada itu terjadi pula perluasan ekonomi Jepang di kawasan Riau. Diantaranya ada orang Jepang mengusahakan kebun kelapa, kebun karet, kebun kelapa sawit. Salah sa
tunya ialah “Okura Estate” yang berusaha di lapangan perkebunan karet dan kelapa sawit, kemudian Jepang memegang kontrak penyeberangan rakit di Rantau dan Danau. Suatu jalan ekonomi yang vital di Riau yang menghubung Riau dengan kawasan tetangganya. [5]
            Di Siak Sri Indrapura perjuangan yang dilakukan oleh Jepang sebelum tentara Jepang tiba ke Siak yakni di bidang perkebunan. Orang Jepang tersebut berjulukan Tuan Segawa pada tahun 1939 membeli tanah perkebunan seluas 700 hektar di Balai Kayang (Balai Kayang Estate). Perkebunan di Balai Kayang ini yakni perkebunan karet. Karet kawasan ini higienis dan bagus, dijual ke Singapura dengan memakai kapal Belanda setiap hari Minggu berlayar ke Singapura, dengan membawa getah dan rotan, dari Singapura dibawa pula materi pangan menyerupai beras, gula, susu, dan lain-lain, sedangkan materi sandang berupa kain sarung cap gajah, cap buah anggur stelan jas, kemeja dan lain-lain.
            Makara sebelum Jepang berkuasa di Siak mereka telah menguasai perkebunan karet di Balai Kayang Estate. Selain itu ada juga orang Jepang yang membeli tanah perkebunan sawit di Okura.
            Propaganda Jepang ini telah digiatkan ke suluruh pelosok bahwa Jepang sebagai penyelamat Asia dari penjajahan absurd akan tiba mengusir Belanda dan membela kepentingan rakyat Indonesia.Propaganda yang menyerupai ini dicoba dibisikkan kepada orang-orang Riau menyerupai Thoha Hanafi dan Jusih dari Cerenti. Mereka ini mengadakan persiapan pula untuk menyambut kedatangan Jepang.
            Rakyat Indonesia sendiri sudah terlalu usang menderita dibawah penjajahan Belanda. Rasa benci dan tidak bahagia kepada penjajahan sudah ratusan tahun lamanya bersemi di kalangan bangsa Indonesia. [6]
            Dengan mendaratnya pasukan Jepang yang menerima sambutan hangat dari rakyat Riau Daratan menggema. Kedatangan Jepang ke Riau tidak melalui peperangan, akan tetapi sesudah Daerah Riau seluruhnya sudah dikuasai penyerangan pertama dilancarkan Jepang terhadap Kepulauan Riau tanggal 14 Desember 1941 oleh tiga skwandron pesawat terbang. Pulau pertama yang menerima serangan yaitu Tarempa. Pulau itu sangat penting artinya bagi pertahanan tentara Jepang. Bala tentara Jepang tersebut diterima dengan hangat oleh rakyat dimana-mana dengan impian sanggup mengalahkan Belanda.
            Dengan kemenangan Jepang tersebut menciptakan terjadinya perubahan besar pada teladan pikir rakyat bahwa Jepang sebagai negara kecil sanggup menghancurkan negara-negara besar (sekutu). Dengan adanya tragedi tersebut memiliki makna bagi masyarakat, yaitu sanggup memperlihatkan semangat rasa kesadaran kebangsaan untuk Indonesia.
            Dengan menyerahnya Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Stakenberg Stochower dan Letnan Jenderal Teer Portan kepada bala tentara Jepang dibawah pimpinan Jenderal Imamura pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati tanpa syarat, maka seluruh Indonesia telah masuk kawasan taklukan bala tentara Jepang.
            Itu merupakan awal kedatangan Jepang ke Riau sebelum dimulainya pemerintahan Jepang di Riau dengan mulai menghilangnya suasana ramah tamah yang sebelumnya ditunjukkan orang Jepang dan berubah dengan munculnya watak militer facisme yang sebenarnya.
Notes:
[1] Abdullah, HM. Syafei. Korban Pembangunan Jalan Kereta Api Maut Muaro Sijunjung-Pekanbaru Tahun 1943-1945. Pekanbaru. Yapsim. 1987. Hlm: 6
[2] Suwondo, Purbo S. Beberapa Aspek Dari Gerakan Kebangsaan dan Perjuangan Indonesia Mencapai Kemerdekaan 1908-1950. Sarasehan Syukuran Makasar-Serui. 1996. Hlm: 17
[3] Asmuni, Marleily Rahim. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Pekanbaru. Depdikbud. 1983. Hlm: 83
[4] Subarjo Ahmad. Lahirnya Republik Indonesia. Jakarta. PT.Kinta. 1972. Hlm: 14
[5] Asmuni, Marleily Rahim. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Pekanbaru. Depdikbud. 1982. Hlm: 2
[6] Abdullah, HM. Syafei. Korban Pembangunan Jalan Kereta Api Maut Muaro Sijunjung-Pekanbaru Tahun 1943-1945. Pekanbaru. Yapsim. 1987. Hlm: 12
DAFTAR PUSTAKA:
Abdullah, HM. Syafei. 1987. Korban Pembangunan Jalan Kereta Api Maut
Muaro Sijunjung-Pekanbaru Tahun 1943-1945.
Pekanbaru: Yapsim
Asmuni, Marleily Rahim. 1982. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Pekanbaru: Depdikbud
Notosusanto, Nugroho. 1984. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka
Subarjo Ahmad. 1972. Lahirnya Republik Indonesia. Jakarta: PT.Kinta
Suwondo, Purbo S. 1996. Beberapa Aspek Dari Gerakan Kebangsaan dan Perjuangan Indonesia Mencapai Kemerdekaan 1908-1950. Sarasehan Syukuran Makasar-Serui