Awal Pertumbuhan Pergerakan Kebangsaan

Shalehatul Mawaddah/SI IV

A.Reaksi Baru terhadap Kolonialisme Belanda
            Fajar gres kurun XX M menandai munculnya reaksi yang berbeda di kalangan masyarakat pribumi Indonesia (Hindia Belanda) terhadap eksistensi kolonialisme atau penjajahanbangsa Belanda.reaksi tersebut mengambil bentuk timbulnya gerakan nasionalisme anti-kolonial,yang merupakan mata rantai dari gerakan serupa yang sudah berkembang di beberapa daerah menyerupai anak benua India (Sekarang:India,Pakistan dan Bangladesh),jazirah Antolia (Turki),dan Asia Tenggara (Filipina).
Gerakan nasionalisme anti-kolonial mengadopsi ideologi nasionalisme yang berasal dari Barat(Eropa Amerika).Ideologi nasionalisme menempatkan sebuah negara bangsa (a nation-state) sebagai entisitas ideal yang harus diperjuangkan pembentukannya,sekaligus sebagai muara dari kecintaan dan kesetiaan tertinggi Individu warga negara kepada negara negara tersebut.Di daerah Eropa-Amerika,nasionalisme pada awalnya bersifat liberal dan demokratis sebagai gerakan untuk menumbangkan feodalisme dengan kaum borjuis sebagai tulang punggungnya. ini terjadi di sepanjang kurun XVIII M.[3].
Dalam perkembangan berikutnya,nasionalisme Barat lebih bersifat konservatif alasannya yaitu golongan (konservatif) yang tadinya menentang nasionalisme ini kemudian mau mau menerimanya.momentum dari gerakan nasionalisme konservatif terekam pada berdirinya negara nasional Italia (1860) dan Jerman (1871).kemudian pada simpulan kurun XIX M,nasionalisme Barat telah berubah menjadi nasionalisme chauvinis yang bernafsu dalam bentuk imperialisme-kolonialisme modern.nasionalisme anti-kolonial di wilayah jajahan bangsa-bangsa Barat,termasuk di Indonesia (Hindia-Belanda),yang terjadi sepanjang kurun XX M,merupakan reaksi masyarakat pribumi yang terjajah terhadap kolonialisme bangsa-bangsa Barat.
Kembali pada munculnya gerakan nasionalisme di Indonesia pada awal kurun XX M sebagai reaksi gres terhadap kolonialisme Belanda,tampak perbedaannya dalam sifat perlawanan bangsa Indonesia antara pra dan pasca 1900 M.[2].
B.Faktor-faktor pendorong lahirnya pergerakan kebagsaan.
Faktor-faktor yang mendorong lahirnya pergerakan kebangsaan dalam masyarakat pribumi Indonesia (Hindia-Belanda)dapat dipilah dalam dua faktor,yaitu(1) internal,dan (2) eksternal.faktor internal tiba dari kondisi atau realitas sosial,ekonomi dan politik masyarakat pribumi berkaitan dengan kolonialisme Belanda.sedangkan faktor eksternal berasal dari luar wilayah Indonesia yang ikut mempengaruhi bangkitnya kesadaran berbangsa di kalangan masyarakat pribumi Indonesia (Hindia-Belanda).
Pertama,faktor internal mencakup beberapa fenomena/gejala,kejadian/peristiwa sebagai berikut:
1.      Penderitaan msyarakat pribumi akbat kebajikan pemerintah kolonial,terutama semenjak diberlakukannya politik Tanam Paksa/culturstelsel (1830-1879) dan Politik Liberal/Open Door Policy((1870-1900).penderitaan rakyat pribumi,diantaranya proses pemiskinan secarastruktural (Proverty process),kelaparan,wabah penyakit,dan ketercerabutan atau keterasingan (alineation) dari akar-akar budaya tradisionalnya.kesamaan penderitaan ini menyebabkan perasaan senasib sepenanggungan dari aneka macam golongan dan mendorong terjadinya proses integrasi nasional.
2.      Lahirnya golongan intelektual,cerdik-pandai atau cendikiawan sebagai tanggapan dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menyebarkan pendidikan untuk masyarakat pribumi Indonesia (Hindia-Belanda).
3.      Progra   m Px-neerlandica dari Gubernur Jendral J.B.van Heutz (1904-1909)yang ditindaklanjuti dengan langkah kebijakan pasifikasi mensyaratkan pembangunan sarana-prasarana transportasi dan komunikasi.hal ini ikut memudahkan bagi masyarakat pribumi Indonesia untuk menjalin interaksi dan komunikasi satu sama lain.serta penyebarluasan gagasan nasionalisme.
4.      Program Desentralisasi tahun 1903 berupa perlimpahan wewenang dan kekuasaan dari tangan Gubernur Jendral kepada Residen menawarkan kesempatan bagi masyarakat pribumi untuk menjadi pegawai pamong praja dan melatih dalam hal manajemen pemerintahan.
5.      Kebijakan Ordonasi Perkawinan tahun 1895 yang isinya mewajibkan semua penduduk pribumi di Pulau Jawa dan Madura yang berbeda di luar Kerajaan Mataram yang tidak memeluk agama Nasrani biar kawin dn cerai berdasarkan aturan agama Islam.kebijakan ini menjadi titik temu antara Islam dan pribumi juga menganggap Belanda sebagai golongan absurd yang harus diusir.keluarnya Ordonasi Perkawinan ini menyebabkan dampak bahwa orang terbiasa dan merasa yakin untuk menyatakan diri sebagai orang Islam,Wertheim,sosiolog Belanda,dalam bukunya Indonesian Society in Transtion,menganalisis:”dengan menyatakan diri sebagai orang Islam,orang membuktikan dirinya sebagai pencipta tanah air sejati,dan bukan simpatisan pemerintah kolonial Belanda.”
6.      Inspirasi dari kejayaan dua kerajaan besar,yakni Sriwijaya dan Majapahit,yang fakta-fakta sejarahnya diungkap oleh para sarjana Belanda/Barat menyerupai N.J.Krom,Brandes,dan Casparis.
7.      Adanya kepercayaan rakyat terhadap kedatangan seorang pemimpin agung,Ratu Adil,dan ramalan Jayabaya,yang mencerminkan harapan rakyat untuk hidup berdikari dan merdeka.
Kedua,faktor eksternal,di antaranya sebagai berikut:
1.      Masuknya ide,konsep,wacana atau ideologi dari barat seperti: Nasionalisme,Demokrasi,Hak-hak Asasi Manusia (HAM),feminisme/perjuangan Emanipasi Wanita,dan lain-lain ikut menumbuhkan kemandirian dan kesadaran berbangsa.
2.      Berkembangnya gerakan Modernisme atau pembaruan Islam Modern yang dimotori oleh tokoh-tokoh dari Mesir sepeti Sayid Jamaluddin Al Afghani (1839-1897),Syeikh Muhammad Abduh (1849-1905) dan Syaid Muhammad Rasyid Ridha (1865-1938) ikut menumbuhkan kesadaran berbangsa di kalangan masyarakat Muslim Indonesia (Hindia-Belanda).hal ini alasannya yaitu pokok pikiran utama gerakan pembaharuan Islam Modern yaitu integrasi antara Islam dengan kehidupan Modern (Barat) yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
3.      Peperangan yang terjadi antara Jepang dengan Rusia (1904-1905) di Selat Tsusyima yang dimenangkan oleh pihak jepang.kemenangan Jepang telah membangkitkan kesadaran dan rasa percaya diri bangsa-bangsa berkulit putih(bangsa-bangsa Eropa).dengan kata lain,kemenangan Jepang atas Rusia telah merunthkan mitos Superiorty of White (keunggulan ras kulit putih).
4.      Pengaruh yang ditimbulkan oleh perkembangan gerakan Nasionalisme di aneka macam wilayah,seperti:anak benua India (lahirnya organisasi All India National Congress tahun 1885 dan Moslem League awal kurun XX).gerakan serupa di Filipina yang dipimpin oleh Jose Rizal,dan lain sebagainya.
Sementara itu,Kahin (1995:50-54)[1].
menganalisis bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh dan berkembang melalui empat (4) susukan penting.Pertama,derajat homogenitas agama yang tinggi dari masyarakat Indonesia dimana lebih dari 90% penduduk Indonesia beragana Islam,dalam hal ini,Islam tampil sebagai simbol kelompok untuk melaksanakan prlawanan terhadap kekuatan absurd dan penindas yang agamanya berbeda (penjajahan Belanda yang berahgama kristen).Khain menyatakan bahwa tindakan represif pemerintahan kolonial agama Islam semakin berkembang luas.
Kedua,perkembangan bahasa kesatuan Indonesia kuno yang asal-usulnua dari bahasa melayu pasar menjadi bahasa nasional,yakni bahasa Indonesia.penggunaan bahasa Indonesia telah menyebabkan rasa percaya diri yang besar dikalangan aneka macam kelompok masyarakat Indonesia,sebagai sebuah senjata Psikologis yang menggetarkan.
Ketiga,integrasi nasionalisme bangsa Indonesia sedikit banyak juga disumbangkan oleh kehadiran Volksraad(Dewan Rakyat),semacam Majelis Perwakilan Tertinggi bagi seluruh rakyat Indonesia.Volksraad ini dibuat pada tahun 1917 pada masa Gubernur Jendral Van Limburg Sitrrum,dengan fungsi gres sebatas dewan penasihat.pentingnya forum ini ialah sanggup menyatukan semua orang Indonesia dari aneka macam wilayah kepulauan,dan menciptakan mereka lebih sadar mengenai maalah korelasi mereka dengan pemerinta kolonial Belanda.
Keempat,pertumbuhan dan persebaran nasionalisme Indonesia juga dirangsang oleh cara-cara penyebaran gagasan-gagasan nasionalisme dan gagasan-gagasan lainnya melalui surat kabar,mjalah dan radio(media massa)sebagai contoh,surat kabar Indonesia yang pertama kaliterbit ialah Bromartini.surat kabar ini terbit di Surakarta pada tahun 1855,tiga tahun sehabis terbitnya surat kabar Belanda,Java Bode.pada tahun 1860 terbit surat kabar Bintang Timoer di Surabaya dan surat kabar Matahari Jakarta. [4]
DAFTAR PUSTAKA
1.      Suhartono,1999.Sejarah Pergerakan dan kemerdekaan Indonesia.Jakarta:Dian Rakyat.
2.      Kartodirdjo,Sartono.1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru. Sejarah Nasionalisme jilid 2.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
3.      Sitorus,L.M.1988.Sejarah Pergerakan dan Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Dian  Rakyat.
4.      Suwarno,Drs,Msi.2011.Latar belakang dan fase awal pertumbuhan kesadaran nasional.Purwekertditerbitkan oleh Program studi Pendidikan Sejarah Fakultas keguruan dan ilmu Pendidikan Universitas Muhamadiyah Purwokerto.