Bahkan Hewanpun Bisa Menilai Kepribadian Manusia

Jadilah orang yang baik, sebab bahkan hewanpun bisa menilai Anda.  Baik anjing maupun simpanse peliharaan memperlihatkan preferensi terhadap orang yang suka membantu orang lain, dan hasil ini mungkin juga mengambarkan asal muasal moral-moral dasar manusia.
Monyet Capuchin sedang membuatkan makanan
gambar orisinil oleh Frans de Waal
Lisensi Creative Commons

Pada usia satu tahun, bayi insan sudah mulai sanggup menilai orang lain menurut bagaimana orang tersebut berinteraksi (Hamlin, et.al., 2007). Hal ini memperkuat anggapan bahwa bayi sudah mempunyai nilai-nilai watak dasar sebelum mereka mulai diajari bagaimana untuk berperilaku. Tim dari Kyoto University, Jepang, yang dipimpin oleh hebat psikologi komparatif James Anderson, tertarik untuk meneliti apakah spesies lain juga melaksanakan proses penilaian yang sama dengan manusia.

Mereka memulainya dengan meneliti apakah simpanse capuchin mempunyai preferensi terhadap orang yang suka membantu orang lain atau tidak. Monyet-monyet ini diajak untuk menyaksikan seorang pemeran (aktor A) yang bertingkah seakan-akan tengah kesulitan membuka sebuah wadah yang berisi mainan. 
Aktor A kemudian akal-akalan meminta dukungan kepada pemeran lain (Aktor B) untuk membuka wadah tersebut. Aktor B bisa memutuskan untuk membantu pemeran A maupun tidak. Kedua pemeran kemudian menawari monyet-monyet ini makanan. Monyet-monyet ini bebas menentukan masakan yang ditawarkan oleh pemeran mana yang akan mereka terima. Jika pemeran B memutuskan untuk membantu pemeran A, maka monyet-monyet ini tidak mempunyai preferensi antara pemeran A dan pemeran B. Akan tetapi dikala pemeran B tidak membantu pemeran A, maka monyet-monyet ini lebih menentukan untuk mengambil masakan dari pemeran A. Anjingpun memperlihatkan sikap yang sama.
Tim ini juga meneliti penilaian monyet-monyet capuchin terhadap keadilan. Dalam tes ini pemeran A meminta bola dari pemeran B. Aktor B kemudian menyerahkan tiga buah bola kepada pemeran A. Akan tetapi, dikala pemeran B meminta kembali bolanya, pemeran A sanggup mengembalikan seluruhnya, atau tidak mengembalikannya sama sekali. Kedua pemeran ini kemudian kembali mengatakan monyet-monyet ini makanan.
Monyet-monyet ini tidak mempunyai preferensi dikala pemeran A mengembalikan seluruh bola yang ia terima. Akan tetapi mereka lebih menentukan pemeran B dikala pemeran A tidak mau mengembalikan bola yang diterimanya (Anderson et.al., 2017).
Berdasarkan hasil-hasil ini, tim menyimpulkan bahwa simpanse dan anjing juga melaksanakan penilaian sosial sebagaimana halnya bayi manusia. Oleh karenanya, kalau seseorang melaksanakan tindakan anti sosial ia cenderung akan mendapatkan reaksi emosional.
Hubungan jangka panjang yang dimiliki oleh anjing dengan insan memungkinkan mereka untuk menjadi sangat sensisitif terhadap sikap kita. Tidak hanya sikap kita terhadap mereka, akan tetapi juga sikap kita terhadap insan lain. Akan tetapi tim peneliti lain dari  Emory University, Georgia, menyatakan bahwa monyet-monyet di alam liar juga nampaknya memakai proses yang sama untuk memutuskan mana anggota kelompoknya yang sanggup diajak bekerja sama. Jika binatang-binatang ini sanggup mendeteksi tendensi untuk bekerja sama antar pemeran manusia, maka mereka juga bisa menilai sikap sesama primata. Sebaliknya, kemampuan insan untuk membentuk moralitas mungkin juga terjadi dengan cara yang serupa. Menurut Anderson, pada insan mungkin terdapat sensitifitas dasar terhadap sikap antisosial, sensitifitas ini kemudian dilengkapi melalui interaksi dalam budaya tertentu dan aliran watak dari orang lain.
Kapasitas untuk menilai orang lain berfungsi menstabilkan kelompok sosial yang kompleks, sebab dengan kemampuan ini orang sanggup mengesampingkan anggota kelompok yang tidak bermanfaat atau mau menang sendiri. Hal ini sanggup mencegah sikap jelek dan interaksi sosial yang merusak. Pendapat ini dikemukakan oleh Kiley Hamlin dari University of British Columbia, Canada.
Kelompok peneliti yang dipimpin oleh De Waal juga melihat adanya kekerabatan besar lengan berkuasa antara moralitas dan reputasi (De Waal & Luttrell, 1988). Menurutnya, sikap bermoral yang ditunjukkan oleh insan merupakan upaya untuk membangun reputasi. Orang tidak akan berusaha untuk menjadi baik kalau tidak memperoleh perhatian dari orang lain. Kita memang tidak bisa menyebut simpanse sebagai mahluk yang bermoral, akan tetapi dalam kehidupan sosial mereka mempunyai sikap yang amat penting.

Daftar Pustaka

  1. Anderson, J. R., Bucher, B., Chijiiwa, H., Kuroshima, H., Takimoto, A., & Fujita, K. (2017). Third-party social evaluations of humans by monkeys and dogs. Neuroscience & Biobehavioral Reviews.
  2. De Waal, F. B., & Luttrell, L. M. (1988). Mechanisms of social reciprocity in three primate species: symmetrical relationship characteristics or cognition?. Ethology and Sociobiology, 9(2-4), 101-118.
  3. Hamlin, J. K., Wynn, K., & Bloom, P. (2007). Social evaluation by preverbal infants. Nature, 450(7169), 557-559.