Belian, Upacara Susila Suku Petalangan Di Pelalawan

Ani Sri Juita/PBM/FB

Upacara akhlak belian ialah upacara tolak bala yang umumnya ditujukan untuk empat hal, yaitu untuk mengobati orang sakit, membantu orang hamil yang dikhawatirkan sulit melahirkan, untuk mengobati kemantan, dan untuk menolak wabah penyakit.
1.      Asal-usul
Suku petalangan ialah salah satu suku terbesar di Riau. Suku ini mempunyai kebudayaan yang unik, salah satunya ialah upacara akhlak belian. Upacara ini mempunyai banyak tujuan ibarat menolak bala, menyembuhkan penyakit, dan mengobati orang yang sulit melahirkan. Di beberapa desa di Riau, orang-orang renta masih menjalankan upacara ini, meskipun sudah ada sistem penyembuhan modern. Hal ini merupakan salah satu bukti kesetian mereka akan tradisi leluhur.
Dalam sejarah masyarakat Melayu Riau, Suku Petalangan dikenal sebagai suku yang mempunyai banyak akhlak istiadat. Contohnya ialah upacara belian yang hingga kini masih tetap dilestarikan. Upacara ini merupakan fatwa leluhur supaya insan menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan makhluk yang terlihat maupun tidak. Upacar ini juga bertujuan supaya insan bersyukur kepada Yang Mahakuasa atas kesehatan mereka (Nizamil Jamil, dkk, 1987; Budisantoso, 1986).
Belian berdasarkan bahasa orang Petalangan diambil dari beberapa arti. Menurut mereka, belian ialah nama kayu yang keras dan tahan lama. Kayu belian ini pada masa kemudian biasa dipakai untuk materi menciptakan ketobung, yakni gendang untuk mengiringi upacara adat. Kayu ini juga baik untuk materi menciptakan bangunan rumah. Menurut kemantan (orang yang sanggup berkomunikasi dengan makhluk gaib), kayu belian disebut juga dengan kayu putih sangko bulan yang berarti kayu tempat tinggal jin yang baik (Nizamil Jamil, dkk, 1987: 89).
Kata belian juga dipercayaberasal dari kata bolian yang berarti persembahan. Belian juga dianggap berasal dari kata belian yang berarti budak atau hamba sahaya. Dari arti-arti tersebut, secara umum, upacara belian sanggup diartikan sebagai upacara persembahan kepada Yang Mahakuasa supaya diselamatkan dari marabahaya dan mengharap kesembuhan serta proteksi dari bermacam-macam penyakit dan gangguan makhluk gaib yang jahat (Nizamil Jamil, dkk, 1987: 89).
Berdasarkan arti di atas, upacara belian pada umumnya ditujukan untuk empat hal, yaitu untuk mengobati orang sakit, membantu orang hamil yang dikhawatirkan sulit melahirkan, untuk mengobati kemantan, dan untuk menolak wabah penyakit. Meskipun demikian, upacara belian biasanya digelar terpisah berdasarkan salah satu dari tujuan di atas (Tenas Effendy, 1980: 560).
Upacara akhlak belian terdiri dari dua macam, yaitu belian kocik (kecil) atau biaso (biasa) dan belian bose (besar) atau polas (khusus). Belian biaso ialah upacara yang digelar untuk orang hamil yang dikhawatirkan sulit melahirkan. Selain itu, juga untuk orang yang terkena wabah penyakit atau menerima gangguan binatang buas. Namun, jikalau upacara belian biaso tidak bisa menyembuhkan penyakit tersebut, barulah diadakan belian bose atau poles (Nizamil Jamil, dkk, 1987). Dengan kata lain, belian biaso dan polas pada dasarnya ialah sama, hanya waktu digelarnya saja yang berbeda.
2.      Waktu dan tempat pelaksanaan
Upacara akhlak belian digelar pada malam hari. Malam dianggap waktu yang sempurna untuk berdoa dan memohon kepada Tuhan. Selain itu, pada malam hari biasanya seluruh warga suku sanggup berkumpul bersama alasannya jikalau siang hari mereka bekerja di hutan.
Upacara ini biasanya digelar di rumah orang yang sakit atau di rumah akhlak yang besar. Selain itu, pemangku akhlak dibantu oleh warga akan menciptakan rumah-rumah kecil di depan rumah tempat upacara sebagai salah satu syarat upacara (Budisantoso, 1986:437 )
3.      Pemimpin dan penerima upacara
Upacara akhlak belian dipimpin oleh kemantan atau mantan (orang yang andal mengobati penyakit). Selain alasannya ahli, seorang kemantan dipilih alasannya ia dianggap sanggup menjalin komunikasi dengan makhluk gaib. Selama upacara berlangsung, kemantan akan berafiliasi dengan makhluk gain yang baik dan meminta mereka ikut hadir untuk membantu menyembuhkan penyakit.
Upacara belian biasanya dihadiri oleh seluruh anggota suku atau keluarga yang sakit dan sanak kerabat mereka. Meskipun demikian, upacara akhlak belian melibatkan warga suku secara keseluruhan alasannya upacara ini ialah upacara kolektif (bersama).
4.      Peralatan dan bahan
Upacara akhlak belian memerlukan bermacam-macam alat dan bahan, antara lain :
·         Puan, rangkaian daun kelapa muda (janur) yang dihiasi bunga-bungaan.
·      &n
bsp; 
Dame (damar), obor yang terbuat dari damar yang ditumbuk halus.
·         Dian, lilin besar yang dibentuk dari sarang lebah yang diberi sumbu kain pintal dan dilekatkan pada tempurung kelapa.
·         Gonto, genta dari kuningan.
·         Pending, kepala ikat pinggang kemantan dari perak atau kuningan.
·         Kain kesumbo, kain warna merah untuk tudung kemantan.
·         Destar atau tanjak, ikat kepala kemantan.
·         Mangkuk putih, tempat meracik limau dan cincin tanda orang minta obat.
·         Cincin perak milik orang yang sakit.
·         Padi
·         Mayang, daun kepau (sejenis palem).
·         Kayu gaharu untuk dibakar.
·         Pisau kecil.
·         Ketitipan, banyak sekali jenis jamur dari pucuk daun kepau.
·         Jeruk limau.
·         Sanding dan lancang, homogen bahtera yang terbuat dari pelepah kelubi (pohon asam paya).
·         Balai pelesungan, rumah-rumahan tidak beratap dari pelepah kelubi.
·         Bokal, sesaji yang dibungkus daun pisang.
·         Mondung (ayam).
·         Hidangan yang terdiri dari nasi kunyit, panggang ayam, telur rebus, gulai ayam, dan daging binatang lain.
·         Balai induk, bangunan khusus yang dibentuk di depan rumah tempat upacara digelar.
·         Tikar pandan putih.
Seluruh perlengkapan dan materi di atas disiapkan oleh dua orang khusus yang disebut tuo longkap dan pebayu. Selain bertugas untuk hal itu, pebayu juga bertugas menyelidiki semua perlengkapan dan bahan-bahan. Jika belum lengkap, maka pebayu harus mencari kelengkapannya sebelum upacara dimulai. Penyiapan segalan perlengkapan dan bahan-bahan upacara juga akan dibantu oleh warga suku dan anak iyang, yaitu orang yang pernah minta tolong kepada kemantan, baik untuk berobat maupun keperluan lainnya.
Jika dalam keadaan darurat, perlengkapan dan bahan-bahan di atas diperbolehkan dibentuk secara sederhana. Keadaan darurat itu antara lain ibarat banyak orang yang sakit atau serangan binatang yang mengganas sehingga tidak ada orang yang berani ke hutan mencari perlengkapan.
5.      Proses pelaksanaan
Proses pelaksanaan upacara belian terdiri dari tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan epilog (konetjaranigrat, 1970 : 325).
a.       Persiapan
Persiapan upacara ini dimulai dengan musyawarah antara pemangku akhlak dengan keluarga pesukuan orang yang akan diobati. Musyawarah dilakukan untuk mencari janji apakah orang yang sakit tersebut akan diobati memakai dengan upacara belian biaso atau bose. Setelah janji diperoleh, kemudian pemangku akhlak menyampaikannya kepada monti rajo (pemimpin puncak adat). Setelah itu, diadakan musyawarah lagi yang melibatkan orang-orang tertentu. Musyawarah ini disebut dengan musyawarah sekampung.
Hasil musyawarah sekampung disampaikan kepada tuo longkap yang kemudian akan berunding dengan pebayu untuk memilih waktu pelaksanaan upacara yang tepat. Setelah ditentukan waktunya, keduanya memberikan lagi kepada monti rajodan kepala desa, lau mereka gotong royong pergi ke rumah kemantan. Kemantan lantas menetukan apakah akan diadakan upacara belian biaso atau bose. Lazimnya antara cita-cita kemantan, masyarakat, dan pemuka akhlak tidak ada perbedaan. Setelah itu, gres diumumkan kepada seluruh masyarakat dan mereka akan mengumpulkan biaya dan segala kebutuhan upacara.
Persiapan selanjutnya ialah membersihkan rumah yang akan dijadikan tempat upacara dan memasak hidangan untuk para penerima upacara. Namun, supaya tidak memberatkan tuan rumah, biasanya para kerabat yang akan hadir sudah membawa bermacam-macam bahan-bahan dapur sesuai kemampuannya, ibarat beras, gula, kopi, ayam hidup, ikan, sayur mayur, dan sebagainya.
Persiapan lainnya ialah memilih siapa-siapa yang akan pergi ke hutan untuk meramu (mengambil) kayu, mencari rotan, pucuk kepau, atau pelepah pohon kelubi. Mereka ini akan dipimpin oleh seorang dukun yang mengetahui mantra kayu, supaya nantinya upacara tidak diganggu oleh makhluk gaib jahat.
b.      Pelaksanaan
Saat pagi hari, dengan dipimpin oleh dukun, beberapa orang mengambil kayu di hutan untuk ritual beramu. Kayu dipilih yang batangnya lurus, tidak cacat, bukan kayu tunggal, tidak dipalut akar, tidak berhimpit kayu lain, tidak sedang berbunga atau berbuah, dan tidak ditandai orang lain.
Pertama-tama, sang dukun duduk di bersahabat pohon sambil memperabukan kemenyan kemudian membaca doa monto kayu atau doa memohon mengambil kayu dari hutan. Setelah itu, kayu gres boleh ditebang dan dibawa pulang untuk dijadikan salah satu syarat upacara.
Saat sore hari, pebayu memberikan hajat pengobatan kepada kemantan. Keduanya kemudian berbincang sembari makan sirih dan disaksikan oleh orang banyak. Kemantan kemudian berdoa dan meminta proteksi doa kepada yang hadir supaya nantinya upacara sanggup berjalan lancar.
Setelah itu, bujang belian mengambil gendang ketobung. Gendang kemudian ditaburi padi, diasapi dengan kemenyan, dan dibacakan mantra dengan tujuan supaya sanggup mengobati orang sakit. Kemudian, pebayu membaca doa sambil meracik limau dan merendam cincin perak milik orang yang sakit. Ritual ini dibacakan hanya dengan diterangi damar (lilin). Cincin ini nantinya diperlukan sanggup menyembuhkan sakit sang empunya. Setelah pebayu selesai membaca doa, dilanjutkan kemantan membaca doa. Hal ini ditujukan supaya limau dan cincin semakin mujarab.
Setelah ritual-ritual di atas, upacara belian dimulai dengan membunyikan ketobung. Saat itu, kemantan duduk bersila sambil dikerudungi kain dan menyembunyikan genta kemudian membaca mantra. Selanjutnya, kemantan sujud menyembah ke arah dian sambil membaca mantra.
Seusai bersujud, kemantan berdiri. Pada ketika yang sama pebayu menggelar tikar putih. Lalu kemantan berjalan mondar-mandir di atas tikar dan mulai menari sambil melantunkan mantra. Pada ketika ini, kemantan berada dalam kondisi kerasukan (trance) akuan (makhluk gaib). Menurut kepercayaan, dalam kondisi kerasukan, kemantan sedang melaksanakan perjalanan melewati padang, mendaki gunung, dan sebagainya.
Setelah hingga tujuan, kemantan kemudian meminta obat secara spiritual sesuai dengan tujuan upacara. Ritual ini dilakukan sambil terus diiringi dengan menari, membunyikan genta, dan mendendangkan mantra. Biasanya kemantan memberi aba-aba tertentu kepada pebayu supaya membawa orang yang sakit ke tengah ruangan, kemudian kemantan akan mulai mengobati dengan membacakan mantra atau meminumkan ramuan yang telah diberi doa.
Setelah pengobatan selesai, proses selanjutnya ialah mengantarkan persembahan kepada akuan yang telah menunjukkan obat. Persembahan diberikan dengan cara dibawa sambil menari, kemudian kemantan dan pebayu saling berdialog –dialog, salah satunya menanyakan kepada akuan apakah dirinya mendapatkan persembahan tersebut. Dialog ini penting, alasannya jikalau tidak diterima akan berakibat pada obat yang diberikan, di mana obat tidak akan bermanfaat.
c.       Penutup
Tahap terakhir ialah kemantan mengambil perapian dengan mengusapkan kemenyan ke wajahnya dan mengelilingi asapnya. Ritual ini ialah untuk mengembalikan kesadaran kemantan. Dengan ritual ini upacara belian dianggap selesai.
6.      Doa-doa
Dalam upacara akhlak belian terdapat beberapa doa yang dibaca, antara lain doa mohon izin menebang kayu, doa meminta obat, dan obat persembahan. Doa-doa tersebut dibaca memakai bahasa orisinil Suku Petalangan.
7.      Pantangan atau larangan
Upacara ini mempunyai pantangan dan larangan yang harus dihindari, antara lain :
·         Upacara dihentikan digelar pada siang hari
·         Upacara dihentikan digelar dalam bulan puasa, kecuali untuk menolak wabah penyakit ganas atau binatang buas yang tiba-tiba mengamuk
·         Upacara dihentikan digelar pada malam Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha.
8.      Nilai-nilai
Upacara akhlak belian memuat nilai-nilai kehidupan yang positif, antara lain sebagai berikut :
·         Kebersamaan. Nilai ini tercermin dari perayaan upacara yang dipersiapkan dan digelar secara kolektif. Contoh kerja ibarat ini penting alasannya bersentuhan eksklusif dengan aspek ekonomi. Nilai ini juga tercermin ketika seluruh masyarakat hadir gotong royong menuju tempat ritual. Mereka mengikuti ritual bersama secara khidmat sambil membaca doa. Suasana ini tentu saja semakin menguatkan rasa solidaritas bersama sebagai satu suku.
·         Sakralitas. Nilai ini tercermin dalam banyak sekali ritual dan bacaan doa yang membutuhakn konsentrasi, ketenangan jiwa, dan keikhlasan seluruh penerima upacara. Hal ini tampak pada ketika pelaksanaan ritual pembacaan mantra oleh kemantan, persembahan untuk akuan, dan ritual meminta obat. Suasana semakin terasa sakral ketika kemantan dalam kondisi trance sambil menari membaca mantra dan dalam amis kemenyan. Dalam suasana itu, masyarakat tampak pasrah kepada Yang Maha Kuasa dengan mengharap obat yang diberikan melalui akuan.
·         Peduli terhadap lingkungan. Orang Petalangan sepertinya sangat menyadari bahwa alam perlu dijaga keseimbangannya. Penyakit yang mereka alami dipercaya sebagai indikasi saatnya mereka menyeimbangkan kembali korelasi mereka dengan alam sekitar dan makhluk yang ada di dalamnya. Oleh alasannya itu, upacara ini dilengkapi dengan syarat-syarat yang diambil dari hutan dan berafiliasi dengan akuan (makhluk gaib).
·         Pelestarian tradisi leluhur. Upacara akhlak belian yang digelar merupakan fatwa peninggalan leluhur. Dalam konteks ini, maka penyelenggaraan upacara ini merupakan upaya dalam menjaga dan melestarikan tradisi nenek moyang.
9.      kesimpulan
Upacara akhlak belian ialah bukti keterikatan orang-orang Petalangan di Pelalawan  akan fatwa leluhur. Oleh alasannya itu, masuk akal jikalau upacara ini terasa gaib dan penuh dengan perlengkapan serta proses yang rumit. Dalam upaya melestarikan tradisi leluhur, ritual ibarat ini penting untuk dijaga, alasannya mempunyai nilai-nilai luhur.
10.  Referensi
Effendy, Tenas. 1980. Upacara Belian. Riau : Bagian proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan.
Jamil, Nizamil, dkk. 1987. Upacara Tradisional Belian di tempat Riau. Riau : Bagian Proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan.
Budisantoso, dkk. 1986. Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya. Riau : Pemda Propinsi Riau.
Konetjaranigrat. 1970. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta : jambatan.