Biografi Adam Malik

TURISNO/ SI V        
            Adam Malik yaitu salah sat dari sekian banyak satria nasional indonesia yang  lahir diPematang Siantar, Sumatra Utara, tanggal 22 juli 1917, ia yaitu anak dari pasangan Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis. Ayahnya, Abdul Malik, yaitu seorang pedagang kaya di Pematangsiantar.  Adam Malik yaitu anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Adam Malik menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School Pematang siantar. Ia melanjutkan di Sekolah Agama Parabek diBukittinggi, namun hanya satu setengah tahun saja sebab kemudian mudik dan membantu orang bau tanah berdagang. Keinginannya untuk maju dan berbakti kepada bangsa mendorong Adam Malik untuk pergi merantau ke Jakarta. Pada usia 20 tahun, ia bersama dengan Soemanang, Sipahutar, Armijn Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna memelopori berdirinya Kantor Berita Antara pada tahun 1937 dan berkantor di JI. Pinangsia 38 Jakarta Kota. Dengan modal satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka menyuplai info ke banyak sekali surat kabar nasional. Sebelumnya, ia sudah sering menulis antara lain di koran Pelita Andalas dan Majalah Partindo.[1]

Latar belakang Sosial Budaya
            Adam Malik pada masa Pergerakan Nasional memegang ideologi Sosialis anti komunis hingga masa Orede Baru atau pemerintahaan Soeharto. Ideologi Sosialis Anti Komunis ini terlihat dari partai politik pertama pada masa kemerdekaan yang didirikannya bersama rekan seperjuangannya seperti: Tan Malaka, Chairul Saleh, dan Sukarni. Rekan-rekan Adam malik di Partai ini sama mengusung ideologi Kiri (Sosialis) non komunis jadi berbeda dengan tokoh-tokoh yang menjadi kader PKI.
            Sosialisme atau sosialis sanggup mengacu ke beberapa hal yang bekerjasama dengan ideologi atau kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini mulai dipakai semenjak awal masa ke-19. Dalam bahasa Inggris, istilah ini dipakai pertama kali untuk menyebut pengikut Robert Owen pada tahun 1827. Di Perancis, istilah ini mengacu pada para pengikut iman Saint-Simont pada tahun 1832 yang dipopulerkan oleh Pierre Leroux dan J. Regaaud dalam Encyclop├ędie Nouvelle. Penggunaan istilah sosialisme sering dipakai dalam banyak sekali konteks yang berbeda-beda oleh banyak sekali kelompok, tetapi hampir semua setuju bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada masa ke-19 hingga awal masa ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi berdasarkan mereka sanggup melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite.
Pemikiran Adam Malik
            Pemikiran Adam Malik pada  masa muda sebelum kemerdekaan sangat di penggaruhi oleh Tan Malaka yang radikal dalam memperoleh kemerdekaan dan mempertahankannya, misalakan saja veliau terlibat pribadi dalam insiden Rengas dengklok, rapat Ikada dan mempunyai semanggat kemerdekaan yang menggebu.
            Sebagai Menteri Luar Negeri, Malik melaksanakan perjalanan ke negara-negara Barat untuk menjadwal ulang pembayaran utang Adam Malik juga keluar dari Partai Murba tahun itu untuk menempatkan dirinya lebih sesuai dengan kebijakan yang lebih terbuka rezim gres ekonomi. Partai Murba dikarenakan telah menjadi pihak yang menolak investasi asing. Ketika ia menjabat sebagai menteri Luar Negeri Indonesia kemudian Menteri Utama, diplomat ulung ini pernah masuk sebagai laporan utama majalah terkemuka Amerika News Week. Ia mempopulerkan motto dia dalam kariernya dengan mengutip dalam kata-kata Indonesia : semuanya sanggup diatur. Memang dialah salah satu tokoh pencetus pemulihan kembali perdamaian di Asia Tenggara pada ketika konflik konfrontasi dengan Inggeris-Malaysia masih tengah berlangsung. Dia pula salah satu pencetus dan yang merealisasikan pembentukan ASEAN. Lalu mengembalikan Indonesia menjadi anggota PBB. Dialah yang kemudian mengangkat nama harum Indonesia ke lembaga internasional sehingga boleh berdiri tegak kembali di pentas politik dunia.[2]
Peristiwa Yang Berpengaruh
            Adam Malik memainkan tugas penting dalam insiden menjelang Deklarasi Kemerdekaan Indonesia. Pada 16 Agustus 1945 Malik dan pro-kemerdekaan cowok diculik Nasionalis pemimpin gerakan Soekarno dan Mohammad Hatta. Mereka mengambil dua pemimpin ke kota Rengasdengklok dan memaksa mereka untuk menyatakan Kemerdekaan Indonesia untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Angkatan Kerja Jepang yang telah menyerah. Soekarno dan Hatta alhasil dinyatakan Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945.
            Selain itu pada Awal Kekerdekaan Adam Malik juga berperan dalam Komite Van Aksi yang megadakam rapat raksasa di Lapangan Ikada pada tanggal 19 Agustus 1945. Komite Van Aksi ini terdiri dari 11 orang salah satunya yaitu Maruto Nitimihardjo (orang yang paling dituakan di Kelompok Menteng 31), Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Sayuti Melik, Wikana dan Chaerul Saleh. Mereka juga punya bulat dua untuk menggerakkan ini salah satunya yaitu DN Aidit. Kelompok Menteng 31 ini kemudian menjadi kekuatan penggerak dalam Revolusi Jakarta pada jam-jam pertama.
            Peristiwa Lapangan Ikada 19 September 1945, bukan semata-mata sebuah demo biasa, atau sebuah program kumpul bareng yang melibatkan ratusan ribu orang, sebuah gerakan terorganisir awal dalam sejarah Indonesia modern untuk membentuk jaringan perlawanan terhadap kemungkinan datangnya Belanda yang membonceng sekutu, sekaligus sebuah statemen kepada pihak luar bahwa Indonesia telah mempunyai pemerintahan sendiri.
            Pada masa konfrontasi dengan belanda soal Irian Barat tahun 1962 Adam Malik  ditunjuk sebagai Ketua Delegasi Indonesia untuk perundingan untuk menyerahkan Irian Barat ke Indonesia. Dia kemudian menjabat sebagai Menteri Perdagangan sebelum Menteri yang ditunjuk untuk Pelaksanaan Ekonomi Terpimpin dalam Kabinet Soekarno.
            Pada masa Demokerasi terpimpin kedekatab Presiden Soekarno dengan komunis menciptakan dia mendirikan Badan Pelestarian Soekarnoisme (BPS). Organisasi ini bertujuan untuk menerjemahkan ide-ide Sukarnois dalam arti non-Komunis dan memakai nama Sukarno mengkritik PKI. Sukarno tidak menyadari ini dan BPS tidak boleh pada tahun 1965. Bersama-sama dengan Jenderal Abdul Haris Nasution dan Ruslan Abdulgani, Adam Malik sangat dihina oleh PKI untuk anti-Komunis sikapnya.
            Penggaruh dari masa Adam Malik masih sanggup dirasakan hingga ketika ini, dia dalah salah satu pencetus dari ASEAN (Association of Southeast Asian Nations ). ASEAN merupakan himpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara, sebuah organisasi regional yang dibuat atas jasa Adam Malik. ASEAN dibuat berdasar komitmen lima menteri luar negeri negara yang berada di daerah Asia Tenggara pada tanggal 8 Agustus 1967. latar belakang didirikanya ASEAN yaitu adanya persamaan-persamaan dan berakhirnya konfrontasidi asia Tenggara, Secara formal ASEAN merupakan satu organisasi yang memfokuskan kolaborasi dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya. ASEAN didirikan berdasar dari deklarasi Bangkok, isi dari dekarasi Bangkok itu antara lain:
1.      Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di daerah Asia Tenggara
2.      Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional
3.      Meningkatkan kerjasama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi
4.      Memelihara kerjasama yang erat di tengah – tengah organisasi regional dan internasional yang ada
5.      Meningkatkan kerjasama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di daerah Asia Tenggara[3]
Karir politik dan Organisasi adam malik
            Selama hidupnya adam malik mempunyai karir politik dan organisasi yang sangat membanggakan diantaranya yaitu sebagai berikut ini:
1.      Ketua Partai Indonesia di Pematang Siantar dan Medan, (1934-1937)
2.      Mendirikan Kantor Berita Antara di Jakarta, (13 Desember 1937)
3.      Anggota Eksekutif Partai Gerindo, (1940-1941)
4.      Anggota Gerakan Pemuda untuk persiapan kemerdekaan di Jakarta, (1945)
5.      Anggota Badan Persatuan Perjoangan di Yogyakarta, (1945-1946)
6.      Deputi dan Badan Eksekutif Harian Komite Nasional Indonesia Pusat, (1945-1947)
7.      Mendirikan Partai Rakyat, (1946)
8.      Mendirikan Partai Murba, (1948-1956)
9.      Dipilih menjadi Anggota DPR, (1956)
10.  Anggota Dewan Pertimbangan Agung Sementara, (1959)
11.  Duta Besar Luar Biasa Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia, (28 November 1959)
12.  Delegasi RI untuk Perundingan Indonesia dengan Belanda Masalah Irian Jaya di Washington AS, (Maret 1962)
13.  Delegasi RI untuk Perundingan Indonesia dengan Belanda Masalah Irian Jaya di Middleburg AS, (September 1962)
14.  Anggota Dewan Eksekutif Kantor Berita Antara, (September 1962)
15.  Menteri Perdagangan di Kabinet Kerja, (13 November 1962)
16.  Menteri Koordinator Ekonomi, (31 Maret 1965)
17.  Menteri Luar Negeri ad interim, (18 Maret 1966)
18.  Menteri Politik dan Sosial/Menteri Luar Negeri, (27 Maret 1966)
19.  Menteri Luar Negeri Kabinet Ampera, (11 Oktober 1967)
20.  Menteri Luar Negeri Kabinet Pembangunan, (6 Juni 1968)
21.  United Nations General Assembly New York, (21 September 1971)
22.  Anggota Independent Commission on International Development Issues (ICIDI), (Oktober 1967) – Ketua MPR DPR, (Oktober 1977-Maret 1978)
23.  Wakil Presiden RI, (23 Maret 1978)
            Setelah berperan banyak untuk Republik tercinta ini, sepertinya tibalah waktu bagi Adam Malik untuk beristirahat untuk selamanya. Beliau meninggal pada tanggal 5 September 1984 di Bandung sebab penyakit kanker lever atau kanker hati. Setelah kematiannya, keluarga Adam Malik mendirikan Museum Adam Malik untuk mengenang jasanya. Pemerintah RI juga menunjukkan banyak sekali tanda jasa sebagai penghormatan untuk beliau.[4]
DAFTAR PUSTAKA
[1] ajisaka, arya.2004.mengenal satria Indonesia.jakarta.penerbit mitra pustaka
[3]
[4]