Brunei Darussalam Negeri Bersyariat Islam

Khairin Nisa/SAT
Nama resmi dari Brunei Darussalam ialah Negara Brunei Darussalam yang berarti Negara Brunei yang penuh kedamaian. Ibukotanya terletak di Bandar Seri Begawan. Brunei Darussalam ialah Negara berdaulat di Asia Tenggara yang terletak di pantai utara pulau Kalimantan. Wilayahnya seluas 5.765 km2 yang menempati pulau Kalimantan dengan garis pantai seluruhnya menyentuh Laut Cina Selatan. Brunei ialah Negara renta di antara kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Keberadaan Brunei Tua ini diperoleh

berdasarkan kepada catatan Arab, Cina dan tradisi lisan. Lagu kebangsaan Negara ini ialah Tuhan Peliharakan Sultan. Dan mempunyai motto yaitu Selalu menuruti kode Tuhan.[1] Bahasa Melayu menjadi bahasa utama, disertai bahasa Inggris, Cina, Iban, dan belasan dialek daerah yang berjumlah 17 bahasa. Brunei dikenal sebagai salah satu negara terkaya di Asia sebab hasil minyak buminya.[2]

Brunei Darussalam terkenal  dengan kemakmuran dan ketegasannya dalam menjalankan syariat Islam, baik dalam bidang pemerintahan maupun kehidupan bermasyarakat. Negara mungil sangat kaya minyak ini terletak di pantai barat bahari Pulau Kalimantan.  Bagian Barat ialah dataran pantai berawa, sedangkan di sebelah timurnya berbukit-bukit. [3] Titik tertinggi ialah bukit Pagon (1.850 m) dengan sungai utama, Sungai Belait. Brunei terbagi  ke dalam empat distrik; distrik Brunei Muara, distrik Tutong, distrik Belait dan distrik Temburong. Mesjid Raya Omar Ali Saifuddin yang dibangun di atas sebuah laguna buatan dan berinteriorkan marmer Italia ialah salah satu bangunan termegah di negara ini. Masih ada Kampung Ayer yang menjadi daerah rumah panggung di mana  terdapat 28 desa di dalamnya.  Kampung ini sudah ada selama beberapa abad. Lalu ada Pulau Ranggu di tengah sungai akrab Istana Nurul Iman.  Pulau itgu ialah habitat bermacam-macam monyet khas Kalimantan.
Bandar Seri Begawan ialah ibukota yang tertata rapi dengan penduduk hanya sekitar 60.000 jiwa. Brunei Darussalam menganut bentuk pemerintahan Kerajaan Mutlak (monarki absolut) yang bersendikan fatwa Islam dari golongan Ahli Sunnah Waljamaah.  Falsafahnya ialah keadilan, amanah dan kebebasan. Sultan Hassanal Bolkiah ialah kepala negara, kepala pemerintahan, pemimpin Keagamaan, sekaligus menteri pertahanan dan menteri keuangan.  Sultan Bolkiah ialah keturunan ke-29 yang memerintah negeri tersebut dalam silsilah yang sudah berumur 500 tahun.
Diperkirakan Islam mulai diperkenalkan di Brunei Darussalam pada tahun 1977 melalui jalur Timur Asia Tenggara oleh pedgang-pedagang dari Cina. Islam menjadi agama resmi negara semenjak Raja Awang Alak Betatar masuk Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Shah (1406-1408).[5] Perkembangan islam semakin maju sehabis sentra penyebaran dan kebudayaan Islam, Malak jatuh ketangan portugis (1511) sehingga banyak andal agama Islam pindah ke Brunei. Kemajuan dan perkembangan Islam semakian faktual pada masa pemerintahan Sultan Bolkiah (sultan ke-5), yang daerahnya meliputi Suluk, Selandung, seluruh Pulau Kalimantan (Borneo), Kepulauan Sulu, Kepulauan Balakac, Pulau Banggi, Pulau Balambangan, Matanani, dan Utara Pulau Pallawan hingga ke Manila.
Pada masa Sultan Hassan (Sultan ke-9) dilakukan beberapa hal yang menyangkut tata pemerintahan: 1) menyusun institusi-institusi pemerintahan agama, sebab agama memainkan peranan penting dalam memandu negara Brunei ke arah kesejahteraan. 2) menyusun adat-istiadat yang digunakan dalam semua upacara, baik suka maupun duka, disamping membuat atribut kebesaran dan pelengkap raja; 3) menguatkan undang-undang Islam, yaitu aturan Qanun yang mengandung 46 pasal dan 6 bagian. Pada tahun 1888-1983 Brunei di bawah penguasaan Inggris. Brunei memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 31 Desember 1983. Setelah merdeka, Brunei Darussalam menjadi sebuah negara Melayu Islam Beraja ” melayu” diartikan dengan unsur-unsur kebaikan dan menguntungkan. “Islam” diartikan sebagai suatu kepercayaan yang dianut negara yang bermadzhab Ahlussunnah Wal Jamaah sesuai dengan konstitusi dan harapan kemerdekaannya. “Beraja” ialah suatu sistem tradisi melayu yang telah usang ada.
Brunei merdeka sebagai negara Islam dibawah pimpinan Sultan ke-29, yaitu Sultan Hasanah Bolkiah Mu’izzadin Waddaulah. Panggilan resmi kenegaraan Sultan ialah “Ke Bawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Sri Baginda Sultan dan Yang Dipertuan Negara.” Gelar Mu’izzadin Waddaulah “(penata agama dan negara) mengatakan ciri keIslaman yang selalu menempel pada setiap raja yang memerintah.
Brunei Darussalam ialah negara pertama di Asia Tenggara yang menerapkan aturan pidana syariah Islam pada tingkat nasional. [4] Sultan telah melaksanakan perjuangan penyempurnaan pemerintah, antara lain dengan membentuk Majelis Agama Islam atas dasar Undang-Undang Agama dan Mahkamah kadi tahun 1955. Majelis ini bertugas menasehati sultan dalam duduk kasus agama Islam. Langkah ini yang ditempuh sultan ialah menimbulkan Islam benar-benar berfungsi sebagai pandangan hidup rakyat Brunei dan satu-satunya ideologi negara. Untuk itu, dibuat jabatan hal ikhwal agama yang tugasnya menyebarluaskan paham Islam, baik kepada pemerintah beserta aparatnya maupun kepada masyarakat luas. Untuk kepentingan penelitian agama Islam, pada tanggal 16 september 1985 didirikan sentra Dakwah, yang juga bertugas melaksanakan jadwal dakwah serta pendidikan pada pegawai-pegawai agama serta masyarakat luas dan sentra ekspo perkembangan dunia Islam. Di Brunei, orang-orang cacat dan anak yatim menjadi tanggungan negara. Seluruh pendidikan rakyat (dari Taman Kanak-kanak hingga akademi tinggi) dan pelayanan kesehatan diberikan secara gratis. Brunei juga mengembangkan korelasi luar negeri dengan masuk Organisasi Konferensi Islam, ASEAN, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. [5]
Kerajaan Brunei Darussalam merupakan Negara yang mempunyai corak pemerintahan monarki diktatorial (kerajaan mutlak) yang bersendikan fatwa Islam dari golongan Ahli Sunnah Waljamaah yang falsafahnya ialah keadilan, amanah dan kebebasan dengan Sultan yang menjabat sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, merangkap pula sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan dengan dibantu oleh Dewan Penasihat Kesultanan dan be
berapa Menteri. Brunei tidak mempunyai dewan legislatif, namun pada bukan September 2000, Sultan bersidang untuk memilih Parlemen yang tidak pernah diadakan lagi semenjak tahun 1984. Parlemen ini tidak mempunyai kuasa selain menasihati sultan. Dikarenakan oleh pemerintahan mutlak Sultan, Brunei menjadi salah satu neara yang paling stabil dari segi politik di Asia. Sultan Hassana; Bolkiah yang gelarnya diturunkan dalam wangsa yang sama semenjak era ke-15, ialah kepala Negara serta pemerintahan Brunei Darussalam. Baginda dinasihati oleh beberapa majelis dan sebuah cabinet menteri, walaupun baginda secara berkesan merupakan pemerintah tertinggi.
Pertahanan Keamanan Brunei mengandalkan perjanjian pertahanan dengan Inggris di mana terdapat pasukan Gurkha yang terutama ditempatkan di Seria. Jumlah pertahanan keamanannya lebih kecil bila dibandingkan dengan kekayaannya dan Negara-negara tetangga. Secara teori, Brunei Darussalam berada di bawah pemerintahan militer semenjak pemberontakan yang terjadi pada awal decade 1960-an. Pemberontakan itu dihancurkan oleh lascar-laskar Britania Raya dari Singapura. [6]
Negeri Brunei Darussalam mulai memberlakukan pidana syariah Islam secara bertahap, mulai 1 Mei 2014 ini, yang menimbulkan negara itu sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang menerapkan aturan Islam secara penuh. Syariah Islam diberlakukan di Brunei dalam tiga tahapan. Tahap pertama meliputi eksekusi penjara atau denda untuk pelanggaran-pelanggaran menyerupai tidak menunaikan salat Jumat dan hamil di luar nikah. Sebelum final tahun direncanakan akan diterapkan fase kedua yang meliputi eksekusi lebih berat termasuk eksekusi potong tangan dan pencambukan. Tahun depan tahap ketiga direncanakan akan dilaksanakan dengan eksekusi yang lebih berat lagi, antara lain eksekusi mati dengan cara rajam untuk tindak pidana berupa sodomi dan perzinahan.
Kelompok pelopor HAM internasional menyebut tindakan Brunei sebagai suatu langkah mundur bagi hak asasi manusia. Sebagai protes, bintang film Inggris Stephen Fry meyerukan boikot atas jaringan hotel yang dimiliki Sultan Brunei. Sistem pengadilan sipil Brunei ketika ini mempunyai dua jalur, jalur pertama berdasarkan pada aturan Inggris sedangkan jalur kedua ialah pengadilan syariah yang sebelumnya hanya mempunyai kewenangan terbatas, menyerupai mengurus duduk kasus ijab kabul dan warisan. [7]
Menerapkan undang-undang gres ini, berdasarkan Pemimpin negara ini, Sultan Hassanal Bolkiah  akan membawa Brunei Darussalam memasuki gerbang gres dan menorehkan sejarah besar bagi negaranya. Hukum syariah menyerupai ini gotong royong telah diterapkan semenjak lebih dari 14 era yang lalu. Hingga hasilnya penerapannya terkikis sebab invasi negara Barat yang menjajah neger-negeri muslim dan melayu. Hukum syariah mengatur kehidupan umatnya, dalam amsalah ibadah, puasa, pewarisan harta keluarga, perkawinan, dan sengketa keuangan. Kini, di Brunei aturan ini akan diperluas, yang mengarah dalam bidang aturan dan kriminal. Penerapan aturan Islam ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam Alquran, yang berkaitan dengan qisaas, qadhf, hirabah, dan pencurian. Bagaimanapun juga, aturan ini tidak berlaku pada warga negara Brunei yang non-muslim.
Seperti apa aturan syariat Islam berdasarkan penafsiran pemerintah Brunei? Berikut ini gambarannya:

– Fase persiapan


Pada tahap ini Brunei menerapkan pengadilan syariah dengan kewenangan terbatas, menyerupai mengurusi duduk kasus ijab kabul dan warisan.

Fase pertama

Sejak Rabu lalu, Bolkiah mulai menjalankan fase pertama aturan Islam. Denda atau penjara dikenakan kalau melaksanakan perbuatan melawan hukum, menyerupai hamil di luar nikah, tidak menunaikan salat Jumat, dan berbagi agama selain Islam.

– Fase kedua

Setahun sehabis penerapan fase pertama, dilakukan penegakan aturan fase kedua. Di sini para pencuri dan peminum alkohol akan dikenai eksekusi cambuk dan potong anggota tubuh.

– Fase terakhir

Memasuki fase terakhir, seluruh aturan Islam benar-benar diterapkan. Hukuman mati, termasuk dengan dirajam (dicambuk atau dilempari kerikil hingga mati), dikenakan untuk pelaku zina, sodomi, dan penghinaan terhadap Al-Quran serta Nabi Muhammad. [9]
Note :
[1]
[5] Ensiklopedia Islam, Op.Cit., hal. 257-258