Budaya Melayu Di Kelayang

RIRIN RAHMADANI / PBM / F B
KELAYANG ialah sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Nama kecamatan ini berasal dari sebuah nama kolam yaitu kolam Loyang. Posisi kolam itu terletak didesa kerikil kerbau kecamatan kelayang, konon katanya dulu kola ini merupakan tempat mandinya bidadari yang turun dari kayangan, makanya nama kolam itu disebut kolam Loyang.(Wan Abdullah.2007)
 Hingga sekarang kolam itu tetap menjadi tempat magis yang di percaya penduduk sekitar di tunggu dua ekor harimau yang gaib. Penduduk sekitar kecamatan kelayang juga mempercayai mitos yang menyampaikan bahwa jikalau ingin benar-benar sembuh dari suatu penyakit maka bernazar lah mandi di kolam Loyang tersebut. Jika ada orang yang sebelumnya bernazar akan mandi di kolam Loyang,maka harus menyiapkan beberapa hal diantaranya : nasi kuning telur ayam, kemenyan, kalau memang di niatkan dari awal membawa ayam maka ayam pun menjadi syarat pentingnya.
Kecamtan ini secara keseluruhan penduduknya berbudaya melayu. Uniknya dongeng awal terbentuk nama kecamatan ini tak kalah lebih unik perihal kesenian, permainan hingga makanan khas dan adat-istiadat dikecamatan ini. Diantaranya:
Makanan :
  • Nasi kuning
    : nasi yang di masak dengan pati kunyit, biasanya makanan ini digunakan untuk sesembahan atau hantaran yang bersifat sakral, menyerupai menyerahkan anak mengaji pada guru ngajinya, pemujaan terhadap suatu benda yang di anggap ada pennunggunya
  • Nasi lemak:  nasi dimasak dengan memakai santan, dimakan bersama sambal bilis dan telur
  • Sambal belacan: homogen prisa makanan yang terbuat dari udang kecil yangdigiling.
  • Sidah: teksturnya lembut dan rasanya bagus perppaduan antara cengkeh,kayu bagus dan daun pandan, biasanya di makan bersama dengan bawang goreng. Sebenarnya masih banyak lagi makan khas tempat kecamatan kelayang ini menyerupai :gulsi asam pedas ikan patin, tapai,kue pulut berinti,lemang dll. (Asril, M.Pd.2015)
Permainan:
  • Gasing: terbuat dari kayu yang di bentuk dengan panggal yang lebih luas dan buntutnya agak runcing, dan biasanya dimainkan dengan tali.(Akhmad.3003)
  • Congkak: papan kayu yang berlobang dengan diisi biji karet
  • Guli: permainan yang memakai kelereng. Dll (Asril, M.Pd.2015)
Adat-istiadat:
  • perayaan perkawinan
  • perayaan sunatan rosul
  • perayaan penyambutan 1 syura
  • perayaan  peresmian rumah baru
  • perayaan khatam alqur’an
  • perayaan turun mandi: salah satu  adat yang akan saya kupas habis perihal prosesnya.

TRADISI TURUN MANDI BAYI BARU LAHIR

 

 


Tradisi turun mandi di salah satu kabupaten di Riau yaitu kabupaten Indragiri hulu terutama di kecamatan Kelayang, merupakan suatu proses tabiat yang telah di lakukan orang pribumi tempat Kelayang khususnya. Adat Turun Mandi ini biasanya dilakukan pada bayi yang gres lahir .
Tradisi turun mandi ini atau dikenal dengan bahasa Kelayang “thugun mandi” ini sudah menjadi sebuah tradisi yang turun temurun dari nenek moyang orang  melayu orisinil itu sendiri  khususnya tempat Kelayang. Tradisi ini dilakukan pada bayi yang gres lahir bertujuan untuk “memperkenalkan dan meresmikan” si bayi dan ibu bayi ini untuk bisa mandi kesungai dan keluar rumah secara bebas yang sebelumnya bayi kecil belum bisa mandi sendiri kesungai dan ibunya masih dalam masa pemulihan habis tamat melahirkan.(H. Raja Ali.1887)
Dalam proses tabiat turun mandi ini ada beberapa hal yang perlu untuk di siapkan dari pihak bayi itu sendiri. Antara lain:
·         Penentuan hari pelaksanaan turun mandi, jikalau bayi yang akan di turun mandikan ialah pria maka program di laksanakan ketika bayi berumur 9, 11, 13, 15 hari (hari ganjil). Tapi jikalau yang diturun mandikan itu ialah bayi wanita maka hari pelaksanaannya sempurna ketika bayi berumur 8,10,12,14 hari (hari genap). Penentuan hari pelaksanaan juga tergantung pada kesiapan dari orang bau tanah bayi tersebut dan disaat tali sentra si bayi telah lepas.
·         Setelah hari ditentukan dan sehari sebelum pelaksanaan pihak orang bau tanah bayi harus mempersiapkan beberapa hal berupa:
1.      keambil seikat  : 2 buah kelapa yang utuh yaitu yang belum di kupas kulitnya dan dikat menjadi satu ikatan dengan cara mencukil sedikit kulit luar kelapa dan menjadikannya tali pengikat kelapa tersebut.
2.      Secanting bhogeh: yaitu beras sebanyak 1 kaleng susu indomilk yang di masukkan kedalam kantong yang terbuat dari daun pisang kering.
3.      Seikuk ayam : maksudnya ialah seekor ayam kampung yang beratnya berkisar antara 7-10 ons. Untuk bayi pria dikhususkan ayam kampung jantan , dan untuk bayi wanita dikhususkan ayam betina.
4.       limau mandi : buah jeruk purut yang direbus bersama dengan akar bunga siak-siak, homogen bunga hutan yang mempunya akar yang wangi
5.      Nasi kuning dan ayam bakar.
6.      Colak : colak terbuat dari ramuan arang kayu dan jaring laba-laba yang berwarna hitam pekat
7.      satu buah cermin kecil, sisir, bedak, dan minyak kelapa.
8.      seuleh tobu: maksudnya beberapa batang tebu yang nantinya dibuka di sungai untuk dimakan orang yang ikut menghantarkan bayi kesungai.
9.      Kain panjang : kain panjang biasanya digunakan untuk ganjal pijakan dukun kampung yang menggendong bayi kesungai, biasanya dalam tabiat ini kain panjang boleh ada boleh tidak, itu tergantung undangan orang bau tanah bayi.
10.  Asapan : sebuah mangkok yang terbuat dari tanah liat didalamnya terdapat debu dan potongan kayu kecil yang digunakan untuk mengkremasi kemenyan, yang nanti digunakan untuk asapin ke bayinya ketika berada di sungai.
11.  Dukun kampung : orang yang akan memandikan si bayi ke sungai.
12.  Puntung kayu : sisi bakaran kayu yang masih sedikit ada baranya.  (Koentjaraningrat et.al. 2006)
·         Ketika semua telah disiapkan, maka tinggal menunggu hari esok untuk melaksanakan proses tabiat turun mandi yang di lakukan biasanya di mulai dari pagi hari.
·         Keesokan harinya sekitar pukul 8 program akan dimulai. Pertama sebelum berangkat kesungai sibayi dipakaikan bedong dan dicolakkan memakai kuas bulu ayam yang tadi telah di persiapkan dari ayam kampung dan biasanya dilakukan oleh dukun kampung biasa
nya juga disertaidengan mantra-mantra.  
·         Limau mandi, cermin kecil, sisir, bedak, minyak kelapa dimasukkan kedalam sebuah nampan besar yang biasa disebut talam, yang biasanya dikenal dengan sebutan bintang limau.
·         Selasai semua yang akan di bawa keluar rumah telah disiapkan kecuali perasapan, barulah sang bayi di gendong oleh dukun kampung dan berjalan keluar rumah melalui pintu depan rumah menuju sungai sambil membawa puntung kayu. Ibu si bayi mengikuti dari belakang dengan di didik oleh suaminya. Dan di iringi oleh penduduk kampung sekitar sambil membawa alat- alat yang telah di siapkan seharisebelum program di mulai.
·         Sesampai disana dengan hati-hati dukun kampung turun kesungai dan yang mengiringi Cuma memperhatikan dukun kampung yang di bantu dengan beberapa orang kampung dalam proses pemandian sang bayi.
·          Kain bedong yang melilit badan bayi dibuka secara berlahan kemudian ayam kampung yang telah disiapkan di dudukan di pangkuan dukun kampung, dan si bayi di letakkan di punggung ayam sambil sesekali sang bayi di usap kan dengan air sungai diikuti dengan pembacaan beberapa mantra.
·         Limau yang tadi telah di siapkan kemudian di usapkan kepada bayi dari ujung kepala hingga ujung kaki.
·         Puntung kayu yang telah disiapkan di atasnya di letakkan kemenyan yang asapnya di kipaskan kebayi.
·         Kemudian punting kayu itu di hanyutkan ke sungai sekalian dengan keambil seikat. Dan ketika bayi tamat di mandikan, bayi kembali di bedong, dan di bawa lagi pulang kerumah .
·          Di dalam perjalanan pulang maka nasi kuning, ayam bakar dan tebu yang sudah dibuka sebelumnya di berikanikan kepada orang-orang yang ikut mengiringi sang bayi kesungai.
·         Sesampai dirumah bayi tadi eksklusif di bedong dengan rapi, kemudian di bedakkan di di letakkan di depan cermin barulah bayi di masukan ke dalam ayunan.
·         Dibawah ayunan telah disiapkan asapan. Saat itulah sang bayi di perkenalkan kekhalayak ramai yang tiba dengan nama yang telah di siapkan orang bau tanah bayi sebelumnya.
·         Maka selesailah program turun mandi dari sang bayi, dan biasanya tamat program turun mandi maka malam harinya orang bau tanah bayi akan memperkenalkan lagi bayi dengan mengadakan program be”Zanggi” dalam hal ini orang bau tanah bayi mengundang tetua kampung (pemangku adat) untuk memimpin program salah satunya memimpin dalam memberikan pujian-pujian ke pada Yang Mahakuasa dan membacakan do”a selamat kepada bayi tersebut.
KESIMPULAN
Adat turun mandi ini sesungguhnya bermakna untuk memperkenalkan bayi secara resmi kepada alam semesta dan kepada seluruh masyarakat didesa tersebut perihal kelahirannya serta juga meresmikan nama bayi dan di di perbolehnkannya sang bayi mandi kesungai.
Dalam penyelenggaraan tabiat turun mandi ini ada beberapa makna yang di sampaikan yaitu:
a.       Colak yang dipasangkan kepada bayi terbuat dari ramuan arang kayu dan sarang laba-laba yang yang bermakna kelak sang bayi yang sudah berilmu balig cukup akal ia akan sama menyerupai laba-laba yang rajin mencari nafkah.
b.      Keambil seikat dan puntung kayu yang di hayutkan bermakna bahwa setiap kesusahan dan penyakit pada bayi tersebut telah di buang jauh-jauh.
c.       Mengusapkan bayi dengan limau bermakna untuk menyucikan jiwa sang bayi.
d.      Bayi yang di mandikan diatas punggung ayam bermakna itu sebuah kendaraan yang bakal ditunggangi sang bayi kelak berilmu balig cukup akal nanti.
e.&nbsp
;     
Nasi kuning, ayam panggang dan tebu yang dibagi-bagikan bermakna bahwa sang bayi membagigikan sedikit rezekinya kepada masyarakat setempat, atau bermakna kelak berilmu balig cukup akal akan menjadi primadona atau yang bakal di perebutkan di masyarakat..
f.       Bercermin dan berbedak bermakna biar kelak jikalau bayi sudah berilmu balig cukup akal pintar memandang penampilannya.
g.      Saat bayi di bedong selsai mandi bermakna kelak jikalau berilmu balig cukup akal bisa menutup auratnya dengan baik.
h.      Saat bayi di masukan kedalam ayunan mengambarkan bayi telah kembali kerumahnya dan program turun mandi selesai. (rubrik Tokoh Melayu)
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah ,Wan.2007. Legenda-Legenda Cerita Rakyat Melayu. Riau: Yayasan Pustaka Riau
Akhmad.2005. Sopan-Santun Melayu.Malaysia: Akademi Pengajian Melayu
Asril, M.Pd.2015.Pendidikan Melayu Riau.FKIP UNIVERSITAS RIAU
Haji, Raja Ali. 1887. Adat Melayu. Daik Lingga
Koentjaraningrat et.al. 2006. Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan.                                                  Yogyakarta: Balai Kajian Dan Pengembangan Budaya Melayu.
http://personage.melayuonline.com (rubrik Tokoh Melayu), diakses tanggal 09  mei 2015