G30s/Pki Dan Supersemar

Zulian.S /S/A

Sebuah penghinatan terbesar yang di alami bangsa indonesia yaitu insiden G 30 S PKI.gerakan ini bertujuan menggulingkan pemerintahan presiden soekarno dan mengigikan pemerintahan indonesia menjadi pemerintahan komunis.Gerakan 30 S PKI dipimpin oleh ketua dikala itu yaitu Dipa Nusantara Aidit atau sering di kenal dengan nama DN.Aidit.DN.Aidit gencar memperlihatkan hasutan kepada seluru masyarakat supaya mendukung PKI denga iming-iming indonesia akan maju dan sentosa.

Gerakan 30 S PKI bergerak atas satu komandan yang dipimpin oleh komandan batalyon I cakarabirawa,Letnan Kolonel Untung Syamsuri.gerakan ini di mulai dari jakarta dan Yogyakarta,geraka ini mengincar Dewan Jendral dan Perwira Tinggi .Awal mula gerakan ini hanya bermaksud menculik dan membawa para Jendral dan perwira tinggi ke Lubang Buaya.Namun,ada beberapa prajurit Cakrabirawa yang tetapkan untuk membunuh Dewan Jendral dan perwira tinggi.Jendral yang di bantai oleh PKI diantaranya Jendral Ahmat Yani dan Karel Satsuit Tubun.Sisa Jendral dan perwira tinggi meninggal dunia secara perlahan lantaran luka penyiksaan di Lubang Buaya.Para satria Dewan Jendral dan perwira Tinggi yang meninggal dunia atas kekejaman Gerakan 30 S PKI dan ditemukan di sumur Lubang Buaya.
Atas kejadian yang menciptakan luka Bangsa Indonesia, rakyat menuntut kepada Presiden Soekarno supaya membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dengan rasa terpaksa alhasil Partai PKI yang menjadi kekuatan bagi Presiden Soekarno dalam agresi “Ganyang Malaysia” di bubarkan. Selanjutnya Presiden Soekarno memperlihatkan mandat pencucian semua struktur pemerintahan nya kepada Mayor Jendral Soeharto yang populer dengan Surat Perintah 11 Maret 1966.[1]
Menurut versi resmi yang disetujui oleh pemerintahan rezim Orde Baru pimpinan Presiden Suharto, sejarah awal lahirnya Supersemar terjadi pada tanggal 11 Maret 1966. Saat itu, Presiden/Pemimpin Besar Revolusi Sukarno mengadakan sidang peresmian “Kabinet Dwikora yang Disempurnakan”, yang juga dikenal dengan istilah kabinet seratus mentri .karena jumlah menterinya mencapai lebih dari 100 orang. Pada dikala sidang kabinet dimulai, Brigadir Jenderal Sabur sebagai Panglima Tjakrabirawa (pasukan khusus pengawal Presiden Sukarno) melaporkan bahwa banyak ‘pasukan liar’ atau ‘pasukan tak dikenal’ yang belakangan
 diketahui yaitu pasukan Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) di bawah pimpinan Mayor Jenderal Kemal Idris yang bertugas menahan orang-orang di kabinet yang diduga terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Salah satu anggota kabinet tersebut yaitu Wakil Perdana Menteri I Dr. Soebandrio. Setelah mendengarkan laporan tersebut, Presiden Sukarno bersama Wakil Perdana Menteri I Dr. Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh pribadi berangkat menuju Bogor memakai helikopter yang telah disiapkan. Sidang kabinet itu sendiri alhasil ditutup oleh Wakil perdana mentri II Dr.J.Lemaina yang juga kemudian ikut menyusul ke Bogor.[2]
Situasi tersebut dilaporkan kepada Letnan Jenderal Suharto yang pada dikala itu menjabat sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat menggantikan Letnan Jenderal Ahmad Yani yang gugur akhir insiden Gerakan 30 September (G-30-S) 1965. Konon, Letnan Jenderal Suharto dikala itu tidak menghadiri sidang kabinet lantaran sakit. Sebagian kalangan menilai absensi Suharto dalam sidang kabinet dianggap sebagai skenario Pak Harto untuk menunggu situasi. Karena cukup janggal malam harinya.
Letnan Jenderal Suharto mengutus tiga orang perwira tinggi Angkatan Darat ke Istana Bogor untuk menemui Presiden Sukarno, yaitu Brigadir Jenderal Muhammad Jusuf, Brigandir Jenderal Amir Machmud, dan Brigadir Jenderal Basuki Rachmat. Setibanya di Istana Bogor, terjadi obrolan antara tiga perwira tinggi AD tersebut dengan Presiden Sukarno mengenai situasi yang terjadi. Ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa Letnan Jenderal Suharto bisa mengendalikan situasi dan memulihkan stabilitas keamanan nasional apabila diberikan surat kiprah atau surat kuasa yang memperlihatkan wewenang kepadanya untuk mengambil tindakan.[3]
Menurut Brigadir Jenderal Muhammad Jusuf, pembicaraan dengan Presiden Sukarno berlangsung hingga pukul 20.30 WIB malam. Akhirnya, Presiden Sukarno oke terhadap tawaran tersebut sehingga dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret(Supersemar) yang ditujukan kepada Letnan Jenderal Suharto selaku Panglima Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat semoga mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Supersemar tersebut tiba di Jakarta pada tanggal 12 Maret 1966 dini hari pukul 01.00 WIB yang dibawa oleh Sekretaris Markas Besar Tentara Nasional Indonesia AD Brigadir Jenderal Budiono. Hal tersebut menurut penuturan Sudharmono, di mana dikala itu ia mendapatkan telepon dari Mayor Jenderal Sutjipto selaku Ketua G-5 KOTI pada tanggal 11 Maret 1966 sekitar pukul 22.00 WIB malam.[4]
Sutjibto meminta semoga konsep perihal pembubaran partai komunis Indonesia (PKI) disiapkan dan harus selesai malam itu juga.permintaan itu atas perintah pangkopkamtib Letnan Jendral soeharto.Bahkan,Sudharmono sempat berdebat dengan Murdiono mengenai dasar aturan teks tersebut hingga supersemar tiba.
satu dari ketiga perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia AD yang alhasil
mendapatkan surat itu, ada seorang perwira tinggi yang membaca naskah Supersemar, kemudian kaget dan berkomentar,loh inikan perpindahan kekuasaan. Naskah orisinil Supersemar semakin tidak jelas, lantaran beberapa tahun kemudian dinyatakan hilang. Hilangnya naskah orisinil Supersemar pun tidak terang oleh siapa dan di mana, lantaran pelaku sejarah insiden Supersemar tersebut dikala ini sudah meninggal dunia semua. Belakangan, keluarga Muhammad Jusuf menyampaikan bahwa naskah Supersemar itu ada dalam dokumen pribadi sang jenderal yang disimpan di sebuah bank.
Menurut kesaksian salah satu pasukan pengawal Presiden Sukarno (Tjakrabirawa) di Istana Bogor,Letnan Dua sukardjo Wilaradjito, perwira tinggi militer yang hadir ke Istana Bogor pada malam hari tanggal 11 Maret 1966 bukan hanya tiga orang, melainkan empat orang, lantaran Brigadir Jenderal Maraden Panggabean juga ikut serta. Berdasarkan kesaksiannya, Sukardjo Wilardjito mengambarkan bahwa Brigadir Jenderal Muhammad Jusuf membawa stopmap berwarna merah jambu berlogo Markas Besar Angkatan Darat, kemudian mengeluarkan secarik kertas berisi naskah Supersemar untuk ditandatangani Bung Karno. Setelah membaca naskah Supersemar, Bung Karno sempat heran dan bertanya,Lho,kok ini diktumnya diktum militer,bukan ditum kepresidenan. Brigadir Jenderal Amir Machmud lantas menjawab Utuk menguba waktunya suda sempit.[5]
Tandatangani sajalah,paduka.Bismillah.Kemudian, Brigadir Jenderal Basuki Rachmat dan Brigadir Jenderal Maraden Panggabean mencabut pistol dari pinggangnya, kemudian menodongkannya ke arah Presiden Sukarno. Melihat keselamatan Presiden Sukarno sedang terancam dalam bahaya, Sukardjo pun segera mengeluarkan pistolnya juga dan menodongkannya ke arah Basuki Rachmat dan Maraden Panggabean. Segera sesudah itu, Presiden Sukarno pribadi mengatakan”Jangan,jangan!Sudah,sudah! Baiklah jikalau memang surat ini harus saya tandatangani dan harus saya serahkan kepada Harto.
Tetapi, jikalau situasi sudah kembali pulih, mandat ini semoga dikembalikan lagi kepadaku Presiden Sukarno pun menandatangani Supersemar di bawah todongan pistol Brigadir Jenderal Basuki Rachmat dan Brigadir Jenderal Maraden Panggabean.Setelah Supersemar ditandatangani oleh Presiden Sukarno, pertemuan pun bubar. Setelah memperlihatkan salam kepada Presiden Sukarno, para jenderal utusan Suharto kemudian kembali menuju ke Jakarta.
Saat itu, Sukardjo pribadi mencicipi firasat buruk, terlebih seusai Bung Karno berpesan, “Mungkin saya harus meninggalkan istana. Berhati-hatilah kamu.” Itulah kata-kata terakhir Presiden Sukarno kepada Sukardjo, yang pribadi dijawab dengan anggukan kepala untuk memperlihatkan hormat sekaligus bentuk kekagumannya kepada Bung Karno. Sukardjo pribadi yakin bahwa insiden penandatanganan Supersemar yang diawali dengan penodongan pistol ke arah Presiden Sukarno tersebut niscaya akan diselewengkan oleh Suharto. Benar saja, tidak usang kemudian (sekitar 30 menit) Istana Bogor sudah diduduki oleh pasukan RPKAD dan Kostrad. Letnan Dua Sukardjo Wilardjito beserta rekan-rekan pengawalnya sesama anggota pasukan Tjakrabirawa dilucuti senjatanya, kemudian ditangkap dan ditahan di sebuah Rumah Tahanan Militer.
Mereka semua lantas diberhentikan dari dinas militer. Hingga dikala ini, kesaksian Sukardjo Wilardjito yaitu acuan sejarah yang paling sering dirujuk dan paling dipercaya oleh banyak orang terkait kontroversi lahirnya Supersemar, meskipun beberapa kalangan menyatakan keraguannya terhadap penuturannya tersebut. Bahkan, dua di antara para pelaku sejarah Supersemar, yakni Jenderal (Purn.) Muhammad Jusuf dan Jenderal (Purn.) Maraden Panggabean dengan tegas membantah insiden tersebut. Mereka menyatakan bahwa Presiden Sukarno menandatangani Supersemar dalam ‘kondisi baik dan hangat’, bukan di bawah todongan senjata.[6]
Kesimpulan
Bahwasanaya dalam pemerintahan soekarno banyak terjadinya peristiwa-peristiwa yang akan selalau di ingat bangsa ini.terutama insiden G 30 SPKI yang merupakan insiden yang mengiris bangsa ini.di mana terbununya para petinggi ABRI di sebabkan oleh partai komunis Indonesia yang ingin menerapkan paham komunis di Negara Indonesia.dan mereka beranggapan sebetulnya ABRI telah menghalangi niyat mereka untuk menimbulkan Negara Indonesia yang menganut paham komunis.
Akibat terbununya petinggi ABRI menciptakan situasi di Negara Indonesia semakin panas,dengan adanya tuntutan rakyat terhadap presiden soekarno semoga membubarkan partai komunis Indonesia.serta para petinggi Negara ingin soekarno memperlihatkan jabatan kepresidenannya untuk sementara kepada soeharto,sampai kondisi Negara stabil.sehingga lahir supersemar,yang mana supersemar ini menciptakan soeharto menjadi presiden Indonesia serta menumpaskan G 30 SPKI.tapi supersemar kini menjadi tanda Tanya bagi bangsa Indonesia,di karnakan tidak ada di temukan nasaka orisinil supersemar.sehingga supersemar dikala ini menjadi misteri. Dan juga menimbulkan runtunya pemerintahan soekarno
Kutipan :
[1]Lorimer, Lomren. 1999. Negara dan Bangsa, Jakarta: Widya Dana
[2]M.C, Rickles. 1999. Sejarah Modern Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University
[3]Drs. C.T.R.Kansil,SH. 1992. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Jakarta :Erlangga
[4]http://www.perjuangan bangsa indonesia
[6]http://www. Supersemar
DAFTAR PUSTAKA
Lorimer, Lomren. 1999. Negara dan Bangsa, Jakarta: Widya Dana
M.C, Rickles. 1999. Sejarah Modern Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University
Drs. C.T.R.Kansil,SH. 1992. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Jakarta :Erlangga
http://www.perjuangan bangsa indonesia
http://www. Supersemar