Gusdur Dengan Pemikirannya

Debora Sari Sitorus/S/B
A.    Biografi Gusdur ( Abdurrahman Wahid )
Abdurrahman Wahid  lahir pada 4 Agustus 1940 di Jombang, Jawa Timur dengan nama lengkap Abdurrahman ad-dakhil putra pertama KH. Wahid Hasyim, tapi tokoh dan presiden ke-4 RI yang satu ini lebih bersahabat dipanggil dengan sapaan Gusdur. Ayahnya yakni menteri agama pertama Indonesia yang juga merupakan putra tokoh pendiri Nahdlatl ulama, yaitu KH. Hasyim Asy’ari. Waktu kecil, Gus Dur sudah mulai menghafal sebagian isi Al-Quran dan banyak puisi dalam bahasa arab. Ia memulai pendidikannya di

sekolah rakyat, Jakarta. Setelah itu ia melanjutkan sekolah ke SMEP di Giwangan Yogyakarta, bersamaan dengan berguru bahasa arab di Pesantren Al-Munawir, Krapyak Yogyakarta di bawah bimbingan KH. Ali Maksum, mantan Rais Am PBNU, dengan bertempat tinggal di rumah KH Junaid, ulama tarjih Muhammadiyah Yogyakarta.

 Pada tahun 1964, ia melanjutkan studinya ke Al-Azhar University Kairo Mesir dengan mengambil jurusan Departement of Higher Islamic and Arabic studies. Selama tiga tahun di Mesir, ia lebih banyak meluangkan waktunya untuk mengunjungi banyak sekali perpustakaan yang ada di Mesir. Setelah beberapa usang tinggal di Mesir, Gus Dur tetapkan untuk menghentikan studi ditengah jalan sewaktu beranggapan bahwa kairo sudah tidak aman lagi dengan keinginannya. Ia pindah ke Baghdad irak dan mengambil fakultas sastra. Pada ketika di Baghdad ia membuktikan minat yang serius terhadap kajian Islam di Indonesia, hingga kemudian ia dipercaya untuk meneliti asal-usul keberdaan Islam di Indonesia.
Gus Dur membangun pemikirannya melalui paradigma kontekstualisasi khazanah pemikiran sunni klasik. Oleh alasannya yakni itu masuk akal saja jikalau yang menjadi kepedulian utamanya minimal menyangkut tiga hal yaitu:
·         revitalisasi khazanah Islam tradisional Ahl-As-Sunnah Wal Jama’ah.
·         ikut berkiprah dalam wacana modernitas.
·         berupaya melaksanakan pencarian tanggapan atas kasus faktual yang dihadapi umat Islam indonesia.
Dari segi kultural Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya yaitu:
·         kultur dunia pesantren yang sangat hirarkis, penuh dengan akhlak yang serba formal, dan apreciate dengan budaya lokal.
·         Budaya timur tengah yang terbuka dan keras.
·         Lapisan budaya barat yang liberal, rasional dan sekuler.
Semua lapisan kultural itu sepertinya terinternalisasi dalam langsung Gus Dur mebentuk sinergi. Hampir tidak ada yang secara secara umum dikuasai kuat membentuk langsung Gus Dur. Ia selalu berdialog dengan semua tabiat budaya tersebut. Dan inilah barangkali anasir yang menjadikan Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan tidak  gampang untuk dipahami, alias kontroversi.
B.     Pendidikan  Gusdur ( Abdurrahman Wahit )
Ini yakni rangkaian klarifikasi mengenai riwayat pendidikan Abdurahman Wahid mulai menuntut ilmu :
·         SD Jakarta 1947-1953
·         SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) di Jakarta dan Yogyakarta, 1953-1957
·         Pondok pesantren Rapyak, Yogyakarta, 1954-1957
·         Pondok pesantren Tegalrejo, Magelang Jawa Tengah, 1957-1959
·         Pondok pesantren tambak beras, sambil mengajar di Madrasah Mualimat Tambak Beras Jombang, 1959-1963.
·         Belajar di Ma’had al-Dirosah al-Islamiyah (Departement og Higer Islamic and Arabic Studies) al-Azhar Islamic University, Cairo Mesir, 1964-1969.
·         Belajar di Fakultas Sastra Universitas Bagdad Irak, 1970-1972.
·         Menjadi dekan dan dosen Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Asyari Tebu Ireng Jombang., 1972-1974.
·         Sekretaris pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang 1974-1979.
·         Pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, 1979 hingga sekarang.
·         Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Denanyar Jombang, 1996 hingga sekarang.
·         Anggota Dewan Universitas Saddam Husain Bagdad.
Abdurahman Wahid yakni seorang tokoh besar bertarap Internasional yang banyak mempunyai kemampuan. Padanya terdapat bidang ilmu Islam bertarap ulama besar. Kiyai, bahkan wali juga terdapat keahlian dalambidang ilmu pengetahuan umum dan kombinasi dari banyak sekali kemampuan tersebut menjadikan Ia banyak mempunyai kesempatan untuk mengekpresikannya dalam banyak sekali aktifitas.Guru Abdurahman Wahid antara lain Hasyim Asyari, Wahid Hasyim, Kiyai Khudari, Rufiah, Iskandar, K.H. Fatah, K.H. Masduki, Bisri Samsuri, Kiyai Fatah.
C.    Gagasan Dan Pemikiran Gusdur 
Gagasan dan pemikiran seorang tokoh biasanya terlihat pada sejumlah pidato dan karya tulisnya. Untuk itu pada bab ini akan dikemukakan sejumlah gagasan dan pemikiran Gusdur yang sanggup dijumpai dalam sejumlah karya tulisnya.
Salah satunya  buku Bunga Rampai Pesantren. Di dalam buku ini terdapat 12 artikel yang secara umum bertemakan perihal pesantren. Di dalam buku ini Gus Dur memperlihatkan perilaku optimismenya bahwa pesantren dengan ciri-ciri dasarnya mempunyai potensi yang luas untuk melaksanakan pemberdayaan masyarakat, terutama pada kaum tertindas dan terpinggirkan. Bahkan dengan kemampuan fleksibelitasnya, pesantren sanggup mengambil tugas secara signifikan, bukan saja dalam wacana keagamaan, tetapi juga dalam setting sosial budaya, bahkan politik dan ideologi Negara, sekalipun.
Selanjutnya Gus Dur menjelaskan bahwa dalam melaksanakan modernisasi dan dinamisasi pesantren perlu adanya langkah-langkah sebagai berikut.
·         Perlu adanya perbaikan keadaan dipesantren yang didasarkan pada proses regenerasi kepemimpinan yang sehat dan kuat.
·         Perlu adanya persyaratan yang melandasi terjadinya proses dinamisasi tersebut. Persyaratan yang dimaksud mencakup rekonstruksi bahan-bahan pelajaran ilmu-ilmu agama dalam skala besar-besaran. Dalam hubungan ini ia menyampaikan bahwa kitab-kitab kuno dan kitab-kitab pengajaran modern ibarat yang dikarang Mahmud Yunusdan Hasbi Ash-Shiddiqi telah kehabisan daya dorongnya untuk berbagi rasa kepemilikan terhadap fatwa agama.
Sejalan dengan perubahan visi, misi dan tujuan pendidikan pesantren sebagaiman tersebut di atas, Gus Dur juga berbicara perihal kurikulum pendidikan pesantren. Menurutnya kurikulum yang berkembang di dunia pesantren selama ini sanggup diringkas menjadi tiga hal yaitu:
·         Kurikulum yang bertujuan untuk mencetak para ulama di kemudian hari.
·         Struktur dasar kurikulumnya adalahpengajaran pengetahuan agama dalam segenap tingkatan dan pertolongan bimbingan kepada para s
antri secara langsung yang dilakukan oleh guru atai kiai.
·         Secara kesel;uruhan kurikulum yang ada di pesantren bersifat fleksibel, yaitu dalam setiap kesempatan para santri mempunyai kesempatan untuk menyusun kurikulumnya sendiri, baik secara seluruhnya maupun  sebagian saja.
Selanjutnya Gus Dur juga menginginkan supaya kurikulum pesantren mempunyai keterkaitan dengan kebutuhan lapangan kerja, Untuk kalangan dunia kerja, baik dalam jasa maupun dalam bidang perdagangan dan keahliannya, pesantren harus memperlihatkan masukan bagi kalangan pendidikan, perihal keahlian apa yang yang bahwasanya diharapkan oleh lapangan kerja yang di periode Globalisasi  seperti kini ini demikian cepat dan beragam.
            Gagasan Gus Dur dalam bidang pendidikan Islam sanggup dilihat pada karyangya yang berjudul Muslim ditengah pengumulan, dalam buku yang menampung 17 artikel ini, Gus dur mencoba menjelaskan banyak sekali masalahyang timbul dalam rangka merespon modernisasi sebagaimana tersebut di atas, Selanjutnya dalam buku yang berjudul Kiai nyentrik membela pemerintah, Gusdur mengajak pembaca untuk memikirkan kembali persoalan-persoalan kenegaraan, kebudayaan dan keislaman.
Selain itu, terdapat pula banyak sekali buku yang membahas perihal pemikiran dan gagasan Gus Dur, yaitu buku yang berjudul Kiai menggugat, Gus Dur menjawab, Sebuah Pergumulan Wacana dan transformasi ,abayun Gus Dur Islam, Negara dan demokrasi, Himpunan perenungan percikan Gus Dur, Gus Dur menjawab Tantangan Perubahan,Membangun Demokrasi serta melawan Lelucon.
Berdasarkan isu tersebut sanggup diketahui, bahwa selain sebagai tokoh politik,negarawan,budayawan,kiai, Gus Dur juga sebagai seorang akademisi yang memperlihatkan perhatian yang cukup besar terhadap maju mundurnya pendidikan Islam, dengan titik tekan pada permasalahan pendidikan pesantren, sebuah forum pendidikan tradisional, daerah pertama kali Gus Dur mengenal Islam.
Penerapan pemikiran Abdurrahman Wahid belum bisa dikatakan berhasil. Pemikirannya masih banyak mengundang pertentanga, baik itu dalam masyarakat muslim sendiri, para tokoh politik dan cendikiawan muslim. Namun yang menjadi permasalahan kini ini yakni apakah semua orang sanggup berlapang dada melihat apa yang telah terjadi sehabis ia menjadi orang nomor satu di Negara ini? Kenyataannya tidaklah demikian. Pertentangan demi pertentangan, hujatan demi hujatan banyak sekali ditujukan kepadanya yang dating dari banyak sekali kalangan politikus dan pemikir-pemikir intelektual Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin.Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia,Jakarta:PT.Raja     Grafindo Persada.2005
Muslim Romdono, 72 Tokoh Muslim Indonesia, Jakarta: Restu Ilahi, 2005
Brebesy Ma’mun Murod, Menyingkap Pemikiran Politik Gus Dur Dan Amien Rais Tentang Negara .Jakarta: Raja Grafindo.1999