Indonesia Merdeka Sebab Amerika Serikat

SRI WAHYU ILLAHI/PIS/B

Bagi kalangan awam, usaha memperoleh ratifikasi kemerdekaan Indonesia merupakan murni buah usaha para pendekar baik melalui usaha fisik maupun melalui jalur diplomatik. Namun disebagian kalangan lain terdapat sebuah mitos tak terhapus bahwa sehabis Indonesia menyatakan kemerdekaannya, pemerintah Amerika segera menyatakan dukungan politiknya terhadap Republik Indonesia yang gres berdiri. Hal ini malah dinyatakan oleh Presiden Bill Clinton dalam ucapan selamatnya pada ketika peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka (1995) . Mitos ini terus dipercaya di Belanda, dimana banyak orang Belanda masih berpikir bahwa derma Amerika Serikat terhadap kemerdekaan Indonesia pada 1945-1946 sangatlah besar dan Indonesia takkan bisa merdeka tanpa kiprah Amerika.

Peran Amerika Serikat di balik Kemerdekaan Indonesia
Tentu argumen Spector menjadi sangat menarik. Bahwa pameo “sejarah bergantung pada siapa yang berkuasa” memang menjadi keniscayaan. Bahwa data-data dari Spector seakan membuka tabir bahwa tolong-menolong tidak pernah ada “kemerdekaan sejati” di bangsa ini. Yang ada yakni pengalihan dari satu penjajah ke penjajah lainnya. Terlepas dari penghormatan kita kepada para pendekar yang telah berjuang memperjuangkan kedaulatan bangsa ini.
Hasil pemikiran dan analisis Frances Gouda & Thijs Brocades Zaalberg yang dalam bahasa Inggrisnya berjudul American Vision of the Netherlands East Indies/Indonesia: US Foreign Policy and Indonesian Nationalism, 1920-1949 ini mencoba mengkritisi pendapat umum yang telah menjadi mitos tersebut.
pemuda berumur dua puluhan berpendidikan tinggi yang pada 1949 ditugaskan untuk menjadi atase pers di New York. Dengan cerdas Sudarpo kemudian membandingkan antara revolusi kemerdekaan Indonesia dengan Amerika dengan makalahnya yang berjudul “It’s 1776 in Indonesia”. Sebuah perbandingan yang terlalu dipaksakan, namun cukup menarik perhatian pejabat publik Amerika yang memang selalu mengagung-agungkan deklarasi kemerdekaan Amerika pada tahun 1776.
pandangan umum atas kebijakan luar negeri Amerika Serikat sehubungan dengan Republik Indonesia dan sekutunya Belanda sehabis berakhirnya Perang Dunia II, cara-cara dan usaha kaum nasionalis Indonesia dan politikus Belanda merebut simpati Amerika untuk tujuan masing-masing.
Pemandangan serupa juga terjadi di dalam negeri. Gouda menyampaikan hampir di aneka macam jalanan, tembok-tembok penuh dengan kalimat pidato tokoh kemerdekaan Amerika Serikat ibarat Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, dan lain sebagainya. Mereka berharap, dengan goresan pena itu sanggup terbetik minat pasukan Amerika Serikat di Indonesia. Tak hanya itu, pemerintah Indonesia juga menerbitkan seri perangko bergambar arsitek utama Republik Indonesia yang disandingkan dengan para tokoh kemerdekaan Amerika, antara lain perangko bergambar George Washington berada dibelakang gambar Soekarno, Hatta bersanding dengan Abraham Lincoln, dan Sjahrir yang bersanding dengan Thomas Jefferson.
Sedangkan di dalam negeri, para cowok nasionalis melaksanakan aksi coret-coret di spanduk dan tembok-tembok kota dalam bahasa Inggris, mereka tak asal corat-coret, melainkan mengutip kalimat-kalimat pidato tokoh kemerdekaan Amerika ibarat Jefferson, Linchlon, dll. Mereka berharap coret-coretan tersebut bisa menarik simpati pasukan Amerika Serikat di Indonesia.
Tak hanya itu, pemerintah Indonesia juga menerbitkan seri perangko bergambar arsitek utama Republik Indonesia yang disandingkan dengan para tokoh kemerdekaan Amerika, antara lain perangko bergambar George Washington berada dibelakang gambar Soekarno, Hatta bersanding dengan Abraham Lincoln, dan Sjahrir yang bersanding dengan Thomas Jefferson.
Walau segala usaha dilakukan untuk merebut simpati Amerika terhadap kemerdekaan Indonesia namun sampai selesai 1948 Amerika belum juga menyatakan dukungannya secara terbuka terhadap kemerdekaan Indonesia.
Pada masa 1938-1945, dimana pada masa tersebut, evaluasi AS atas pemerintahan kolonial Belanda mencapai keseimbangan. Selain itu kenyataan aksi Jepang di Asia menciptakan para pembuat kebijakan Amerika Serikat mengakui nilai strategis dan hemat Indonesia.
Kini sehabis sejarah itu berlalu puluhan tahun, kita masih mencicipi bahwa beban sejarah itu masih menggantung di bahu para pemimpin Indonesia. Bahwa mereka seakan mempunyai hutang budi pada Amerika sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sebab Kiprah AS menawarkan kemerdekaan bagi Indonesia, hanya tindakan untuk menggenapi moto bahwa “tidak ada makan siang yang gratis”.
Kita mulai dari tambang emas di ujung Indonesia. Menurut Marwan Batubara, gres pada tahun 1995, Freeport secara’resmi mengakui menambang emas di Papua. Sebelumnya semenjak tahun 1973 sampai tahun 1994, Freeport berdalih hanya sebagai penambang tembaga, tidak lebih. Jumlah volume emas yang ditamba
ng selama 21 tahun tersebut tidak pernah diketahui publik, bahkan oleh orang Papua sendiri. Masih berdasarkan Ketua KPK-N (Komite Penyelamat Kekayaan Negara) itu, Freeport mengelola tambang terbesar di dunia di aneka macam negara, yang didalamnya termasuk 50% cadangan emas di kepulauan Indonesia. Namun, sebagai hasil eksploitasi potensi tambang tersebut, hanya sebagian kecil pendapatan yang yang masuk ke kas negara dibandingkan dengan miliaran US$ laba yang diperoleh Freeport.
Atmosfer sosial, budaya, politik, serta tindakan pemerintahan di Indonesia dan Amerika Serikat paska Perang Dunia II. Saat itu perang hirau taacuh mulai mempengaruhi perspektif para pembuat kebijakan di Washington dan Den Hag, sementara para pejabat Republik Indonesia mencoba mencari jalan tengah antara perseteruan blok barat dan Soviet yang mulai tumbuh.
Peran pasukan SEAC (South East Asia Comand, Komando Asia Tenggara) di bawah pimpinan Louis Mountbatten di Jawa dan Sumatera pada 1945-1946, juga kertelibatan Partai Buruh Australia dengan usaha kemerdekaan Indonesia. Hal ini berbarengan dengan dimulainya perundingan-perundingan diplomatis yang berlarut-larut antara Indonesia dan Belanda yang berbuahkan perjanjian Linggarjati yang ringkih pada Maret 1947. Beberapa bulan kemudian Belanda melanggar kesepakatan Lingarjati dan melaksanakan agersi militer. Kejadian ini memicu munculnya resolusi Dewan Keamanan PBB, sehingga menandai permulaan keterlibatan resmi Amerika Serikat dalam Komite Jasa Baik (Good Offices Commite, GOC) untuk menuntaskan konflik Belanda – Indonesia. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan pemusatan bahasan pada upaya-upaya Komisi Jasa Baik (GOC) yang dimotori Amerika Serikat yang berujung pada perjanjian Renvillle yang menguntungkan pihak Belanda.
Amerika Serikat sendiri masih gamang dan belum memilih perilaku yang terperinci terhadap dukungannya kepada kemerdekaan Indonesia, hal ini berbeda dengan pendapat umum masyarakat Amerika Serikat melalui partai buruhnya yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Keraguan pihak Amerika Serikat semakin bertambah dengan kekhawatiran Indonesia yang akan menjadi negara komunis alasannya yakni beberapa tokoh-tokoh revolusioner Indonesia ibarat Amir Syarifudin, Muso, dll merupakan tokoh berhaluan kiri.
Pergolakan di Indonesia pada 1948 yang berpuncak pada pemberontakan PKI di Madium 1948. Pada tahun 1947, kabinet Amir Syarifudin mengikutsertakan partai-partai beraliran kiri, dan membuka korelasi diplomatik dengan Uni Soviet yang telah mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure. Tentu kiprah Amir Sjarifudin menciptakan Amerika khawatir Indonesia akan menjadi negara yang ke kiri-kirian. Untunglah di selesai Januari 1948 sehabis Amir Syarifudin berhenti dari jabatan Perdana Menteri, kabinet Hatta yang menggantikannya tidak mengikutsertakan wakil-wakil partai kiri dalam pemeritahan koalisi barunya.
Seiring waktu, lambat laun terbukti bahwa pemerintahan Hatta ‘positif anti komunis’, hal ini diperkuat dengan keberhasilan Hatta menumpas habis pemberontakan PKI pada September 1948. Melalui kejadian ini Amerika hasilnya menaruh kepercayaan pada pemerintah Indonesia. Dan mulailah kebijakan Departemen Luar Negeri Amerika condong kepada Indonesia dibanding Belanda.
Keberpihakan Amerika pada Indonesia semakin kasatmata ketika tiba-tiba Belanda melaksanakan aksi militernya yang kedua sehingga dengan mantap pemerintahan Amerika Serikat yang dipimpin oleh presiden Truman mengubah sikapnya dari pro-Belanda menjadi pro-Indonesia.
Tekanan Amerika Serikat terhadap Belanda tak menjadikan kemerdekaan Indonesia alasannya yakni di tahun 1945-1947 perilaku pemerintah Amerika Serikat masih pro-Belanda. Pendiri Republik Indonesia – terutama Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, dan Soekarno – berhasil mengamankan kemerdekaan Indonesia melalui kecakapan politik mereka yang luar biasa dalam menghadapi aneka macam tantangan pelik. Namun harus diakui kiprah dan intervensi Amerika Serikat dalam duduk kasus Indonesia pada 1948-1949 mempunyai imbas besar, tidak hanya mempercepat proses dekolonisasi Belanda, tapi juga mencegah Indonesia dan Belanda terlibat peperangan yang berkepanjangan yang tentunya akan menelan banyak korban.
Daftar Pustaka:
Anshor, Zia. 2008. Indonesia Merdeka Karena Amerika ? (Politik Luar Negeri AS dan Nasionalisme Indonesia, 1920-1949). PT Serambi Ilmu Semesta