Islam Di Negara Suriname

NURAINI/S/EB

Data statistik sensus penduduk Suriname tahun 2004 memperlihatkan bahwa Islam di Suriname mencapai 66,307 jiwa (13,5 % dari jumlah penduduk), menduduki peringkat ketiga sesudah agama Kristen, 200,744 jiwa (40,7 %) dan Hindu, 98,240 jiwa (19,9 %). Dari seluruh umat Islam di Suriname, yang terbanyak berasal dari suku Jawa, 46,156 jiwa (69,6 %) dan yang lain dari Hindustan, 15,636 jiwa (23,6 %) dan suku-suku lain. Pada mulanya secara umum masyarakat muslim Suriname memeluk agama sekedar mewarisi agama nenek moyang. Hal itu terjadi alasannya yakni mereka memang tiba ke Suriname tidak mendapatkan pendidikan agama yang kuat. Pada masalah masyarakat muslim Jawa umpamanya, kebanyakan mereka berasal dari tradisi agama Islam Jawa Abangan yang hanya mengenal Islam sekedar nama dan lebih kental dengan unsur tradisi dan budaya Jawa. Hal itu terlihat umpamanya, kenapa hingga kini sebagian masih mempertahankan shalat menghadap ke barat ibarat nenek moyang mereka dari Jawa, padahal Suriname berada di sebelah barat Ka’bah.

Namun sejalan dengan perkembangan zaman, pemahaman Islam semakin membaik, dan kesadaran untuk beragama Islam secara kâffah (komprehensif) semakin meningkat, maka umat Islam Suriname semakin memperlihatkan jati dirinya. Islam tidak lagi dijadikan sebagai agama warisan nenek moyang, tapi dipeluknya dengan seutuh kesadaran. Lambat laun Islam tidak saja dijadikan sebagai agama tradisi nenek moyang, tapi menjadi sebuah jalan kebenaran untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Fenomena ibarat itu sanggup dengan gampang kita temui di mana-mana, di kota dan kampung, di pasar dan jalan-jalan. Berbusana muslim / muslimah menjadi pemandangan yang biasa di tengah-tengah gempuran model busana Barat yang mengumbar aurat. Sahut menyahut ucapan salam simbol Islam (Assalâmu’alaikum warahmatullâhi wa barakâtuh) antara muslim Jawa dengan muslim Hindustan atau Creool, menjadi budaya mereka yang menggambarkan betapa suasana ukhuwwah dan silaturrahmi itu dibangun begitu indah. Bahkan tidak jarang persahabatan itu berlanjut dengan membangun korelasi keluarga dengan menikahnya muslim Jawa dengan muslimah Hindustan umpamanya.
Kondisi keberagamaan masyarakat muslim Suriname yang semakin tercerahkan itu bukan terjadi dengan sendirinya. Peran lembaga-lembaga organisasi sosial, yayasan dan masjid dalam melaksanakan perubahan perilaku keberagamaan itu begitu besar. Berbagai acara dilakukan dalam upaya menghidupkan api Islam di Suriname dari yang paling tradisional hingga yang paling modern, dari yang gres tahap mengajarkan membaca huruf-huruf Arab, hingga upaya pengenalan Islam melalui seminar dan simposium, radio, televisi dan internet. Dakwah bukan saja untuk umat Islam tapi juga meluas ke semua anak negeri. Geliat itu begitu terasa hingga pemeluk Islam bukan saja orang Jawa dan Hindustan, tapi juga satu persatu orang-orang Negro dan kulit putih pun mengasihi Islam. Masjid masyarakat Creool yang populer yakni Masjid Shadaqatul Islam di kota Paramaribo.
Cahaya Islam Bersinar Terang.
Perserikatan milik umat Islam keturunan India, Suriname Muslim Associatie (SMA), mempunyai andil besar dalam menyalakan cahaya Islam di Suriname. Organisasi ini mempunyai masjid terbesar di kota Paramaribo dibambah dengan 14 masjid lain yang berada dalam binaannya. Organisasi yang bermazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah al-Hanafi itu mengelola sekolah-sekolah dan 2 panti asuhan anak yatim yang cukup bagus. Meskipun dikelola oleh para pengurus dari keturunan India, tapi terbuka kegiatannya untuk seluruh umat Islam, bahkan salah satu imam Masjid Terbesar itu yakni seorang ustadz dari keturunan Jawa, dan para pengajarnya juga ada yang berlatar belakang keturunan bukan India.
Stichting der Islamitische Gemeenten in Suriname (SIS), Yayasan Islam Suriname, yakni lembaga paling kuat di Suriname dari kalangan suku Jawa yang membawa obor perubahan bagi kebangkitan Islam. Lembaga ini mempunyai masjid utama, Masjid Nabawi, dengan 54 masjid lainnya berada dalam binaannya tersebar luas di distrik Paramaribo dan distrik-distrik lain. Empat sekolah (madrasah) formal yang didirikan semenjak tahun 80-an menjadi cikal bakal bagi proses pengkaderan dan penempaan semenjak dini perihal kesadaran beragama Islam. Sekolah-sekolah itu diikuti oleh murid-murid dari banyak sekali suku dan agama, tidak hanya Jawa dan Islam. Di madrasah-madrasah itu, apapun latar belakangnya, semua harus mengikuti pelajaran Islam dan kepribadian muslim. Dakwah yang sangat strategis. Mereka yang non-Islam memeluk Islam ketika sekolah atau seusai mengikuti pendidikan. Bahkan keluarga mereka pun karenanya ikut memeluk Islam ibarat bawah umur mereka yang mencar ilmu di sekolah-sekolah itu. Dakwah yang lain dilakukan dengan membangun panti asuhan anak yatim dan panti jompo.
Masjid Nabawi dan masjid-masjid lain menjadi sentra acara Islam bagi masyarakat Islam lebih luas. SIS mengelola masjid-masjid itu tidak sekedar sebagai daerah ibadah shalat. Kegiatan rutin mingguan setiap Kamis malam Jum’at dalam bentuk pengajian dan ceramah dilakukan tidak saja dalam rangka pengayaan pemahaman terhadap pedoman Islam, tapi juga sebagai media memperkokoh ukhuwah di kalangan jama’ah serta dalam rangka membangun shaff wâhid (barisan satu) seakan mereka sebagai bunyân marshûs (bangunan yang kokoh). Masjid-masjid juga dipakai sebagai taman pendidikan al-Quran yang akseptor didiknya tidak saja di kalangan bawah umur dan remaja, tapi juga di kalangan para pensiunan dan manula (manusia lanjut usia). SIS mempelopori gerakan pembaruan Islam di kalangan masyarakat Jawa. Kaum Abangan Jawa yang tadinya sangat kental dengan tradisi kejawen dan shalat menghadap ke barat, lambat laun dirubah menjadi masyarakat muslim dengan pemahaman yang lebih baik. Organisasi kalangan Jawa Abangan (Ngulonan, alasannya yakni shalat menghadap ngulon, barat), ibarat Federatie van Islamitische Gemeenten in Suriname (FIGS) terus menerus diajak obrolan secara kelembagaan ataupun pribadi-pribadi hingga satu-persatu menemukan kebenaran itu. Bahkan para pemimpin Ngulonan pun, bahwasanya telah mengetahui kebenaran itu dan mudah-mudahan segera dibukakan pintu hidayah. Maka muncullah masjid-masjid gres dengan gerakan pencerahan Islam yang menjadi sentra bagi terbitnya cahaya Islam, ibarat masjid Ansharullah, masjid Asy-Syafi’iyah Islam, masjid Rahmatullah Islam, dan lain-lain.
Gerakan al-rujû’ ila al-Islâm (kembali kepada Islam) dengan kesadaran untuk menerapkan Islam secara kâffah (komprehensif) dalam segala lini kehidupan, telah dilakukan oleh lembaga SIS semenjak tahun 1980-an. Yaitu seiring dengan kedatangan para da’i yang berjuang bagi kebaikan Islam dan saudara muslimnya di Suriname. Ustadh Sobari Muhammad Ridwan (kini ketua SIS), asal Banyumas yang bermukim usang di Masjid Haram Makkah sebelum berdakwah di Suriname, tiba ke Suriname tahun 1981. Beliau berdakwah tidak kenal lelah dari rumah ke rumah, kampung ke kampung, menjelaskan bagaimana pedoman Islam itu. Islam tidak sekedar agama warisan dan tradisi nenek moyang. Islam yakni pedoman hidup yang memperlihatkan kebahagiaan bagi pemeluknya. Kaum muslimin harus gembira dengan agamanya, mengerti benar ajarannya dan menerapkannya dalam kehidupan sosial. Datang pula para da’i, Ustadz Ali Ahmad (asal Jawa Tengah, kini telah pensiun dan tinggal di Belanda), Ahmad Mujib (telah pulang ke Bekasi beberapa tahun lalu), Ahmad Muslih (telah pulang ke Semarang sesudah pensiun). Datang pula Ustadz Abdul Ghafir yang kini perannya tidak saja untuk organisasi SIS, tapi masuk di kalangan muslim Ngulonan dan masyarakat Hindustan dengan penguasaan bahasa Belanda yang sangat bagus. Beliau aktif mengajar dan berdialog dengan cowok dan mahasiswa di kampus-kampus, juga tekun mengajar ngaji bapak-bapak pensiunan dan manula dari masjid ke masjid. Datang pula Ustadz Ali Arifin Thalhah, alumni Libiya, asal Padang yang tiba ke Suriname tahun 1983. Pada waktu datang, tak sepatah kata pun bisa mengucapkan bahasa Jawa. Tapi kini bahasa Jawanya lebih halus dari orang Jawa, bahkan bahasa Taki-taki, Hindustan, dan Belanda menjadi bahasanya dalam mengajar, ceramah, dan berdialog. Ustadzh yang pernah mempunyai rumah makan Padang satu-satunya di Suriname itu dengan lincah sanggup masuk di komonitas masyarakat Jawa, Hindustan, dan Creool dengan memakai bahasa mereka.
Generasi berikutnya yakni para ustadz yang tiba dari bawah umur Jawa warga negara Suriname sendiri, ibarat Ustadz Mahfudz Sarijadi (aktif sebagai militer dan berdakwah di kalangan militer dan sipil), Ustadzh Abdul Ghaffar (ketua lembaga lembaga umat Islam yang membawahi organisasi-oraganis asi Islam dari banyak sekali latar belakang suku). Kedua ustadz tersebut alumni Indonesia dari Pondok Modern Gontor. Datang pula kader-kader yang disekolahkan di Timur Tengah dari bawah umur Jawa Suriname, ibarat Ustadz Marcel (kini pimpinan Masjid Darul Falah, penghulu dan penyiar radio Garuda berbahasa Jawa), Ustadz Stanly Suro Raharjo (ketua Bidang Agama Islam Departemen Dalam Negeri Suriname), Ustadz Henry Waluyo dan lain-lain.
Dakwah yang Hidup dan Mencerahkan Sinar Islam itu memancar alasannya yakni sentuhan lembut para da’i-da’inya. Mereka menampilkan Islam dengan wajah cerah dan dengan bahasa simpatik. Mereka berjuang tidak mengenal lelah, tidak untuk materi apalagi dalam rangka menggapai jabatan. Dakwah dilakukan secara simpel menurut kepentingan masyarakat. Oleh karenanya sang da’i dituntut tidak saja cendekia berceramah, tetapi bisa menjadi pola dalam kehidupan, termasuk pola dalam membangun rumah tangga, masyarakat dan kehidupan ekonomi. Mereka mendakwahkan Islam sebagai pedoman yang hidup dan dinamis. Islam tidak saja ada dalam do’a, dzikir, masjid, kenduri, walimah pernikahan, dan kematian. Islam mestinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di pasar, kantor, pemerintahan, dan lain-lain. Islam menjadi pedoman transformatif yang bisa mentranformasikan nilai-nilai ajarannya ke dalam kehidupan nyata. Itulah dakwah yang hidup dan mencerahkan. Yaitu dakwah yang dilakukan dengan pengorbanan harta, tenaga, pikiran, dan jiwa. Dakwah yang dilakukan ditengah kerusakan yang telah memuncak, di dikala kejahatan meraja lela, di tengah-tengah kebatilan dan kemungkaran, di tengah masyarakat Jahiliyyah, dan di tengah masyarakat yang penuh kemusyrikan dan kemunafikan. Dakwah dilakukan dengan penuh linangan air mata dan cucuran darah, penuh tantangan dan rintangan. Itulah dakwah yang dilakukan para nabi dan rasul, para syuhada’ dan pejuang, para auliya’ Tuhan (wali Allah) dan ulama di sepanjang zaman. Karena Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘âlamîn (kasih sayang bagi sekalian alam), sebagaimana yang terkandung dalam Q.S. al-Anbiyâ’/21: 107, al-An’âm/6: 54, al-A’râf/7: 158, Saba’/34: 28, maka dakwah Islam harus dihadirkan dalam rangka menjelaskan kebenaran kepada seluruh alam. Islam bukan untuk bangsa, suku, atau golongan tertentu. Islam hadir untuk seluruh dunia. Islam hadir tidak untuk membawa bencana, petaka, dan kehancuran, tapi tiba untuk menebar rahmah, kasih sayang, dan kedamaian. Maka dakwah yang hidup yang bisa menjangkau seluruh dunia yakni dakwah yang dilakukan dengan pemahaman yang luas, hati lapang, dan memandang insan sebagai saudara. Rasa persaudaraan itu harus ditanamkan sedemikian rupa, sehingga orang yang gres mengenal Islam tertarik menerimanya. Rasulullah bersabda: “Tebarkanlah rahmah kepada siapa yang di bumi, pasti yang di langit akan memperlihatkan rahmah pula kepadamu”. (H.R. Bukhari). Juga sabda beliau: “Sesungguhnya hamba-hamba Tuhan yang akan diberi rahmah oleh Tuhan hanyalah orang-orang yang mempunyai rasa rahmah di dalam diri mereka”. (H.R. Bukhari, Muslim).
Maka dalam rangka sukses dakwah, Buya Hamka pernah memperlihatkan beberapa kiat, antara lain:
1. Niat yang benar. Mengetahui tujuan dakwah. Apakah untuk kepentingan pribadi, popularitas, atau semoga mendapat kemegahan dan kebanggaan orang. Bila niat dakwah bulat, demi menjalankan perintah Allah, mengharapkan ridha-Nya, dan guna menegakkan agama-Nya, maka andaikan menemukan kegagalan dan kesusahan; air mata mengalir, sumpit tidak berisi, beras yang akan ditanak tidak hingga menyampai, dan banyak sekali derita yang lebih besar dirasakan, sang da’i itu akan terus berjuang membela agama Allah.
2. Mengerti apa yang dibicarakan. Seorang da’i tidak hanya cendekia pidato dan retorika. Dia harus menguasai materi yang disampaikan. Oleh alasannya yakni itu diharapkan persiapan yang matang sebelum berbicara. Seorang da’i yang tidak begitu cendekia berbicara pun bisa jadi berhasil dalam dakwahnya, bila apa yang disampaikan itu dikuasai dan dihayati. Nabi Musa kurang cendekia dalam pidato, tapi berhasil dalam dakwahnya.
3. Mempunyai kepribadian yang kuat dan teguh. Seorang da’i dihentikan gampang terpengaruh oleh kebanggaan orang, dan tidak gampang tergoncang oleh kebencian orang. Jangan ada cacat dalam perangai, meskipun mungkin ada cacat secara fisik.
4. Mempunya
i eksklusif yang menarik, lembut tetapi bukan lemah, tawadhu’ merendahkan diri tetapi bukan rendah diri, pemaaf tapi disegani. Dia duduk di tengah orang banyak, namun tetap tinggi dari orang banyak. Merasakan apa yang dirasakan orang banyak. Sikap lembut yang menjadi keharusan bagi sang da’i itu ditegaskan dalam al-Quran Surat Ali Imran/3: 159.
5. Mengerti al-Quran dan al-Sunnah sebagai pokok pedoman utama. Selain itu, sang da’i harus mengerti Psikologi (ilmu jiwa), mengerti adab istiadat orang yang jadi target dakwah.
6. Tidak membawa perilaku pertentangan, menjauhkan dari perdebatan, apalagi kalau yang diperdebatkan itu hanya duduk kasus khilafiyah. Sang da’i hendaknya mempunyai budi pekerti yang luhur, tidak membicarakan hal-hal yang membawa kepada perpecahan, tapi membawa kepada persatuan.
7. Keteladanan. Keteladanan dalam perilaku hidup sang sa’i jauh lebih berkesan kepada umat dari pada ucapan yang sekedar keluar dari mulut. Oleh alasannya yakni itu tidak cukup bagi da’i, ketangkasan dalam bertutur kata dan berpidato, tapi dia harus mendidik diri sendiri untuk taat menjalankan agama, taat beribadah, fasih mengungkapkan ayat-ayat maupun hadits dalam bahasa Arab, dan lain-lain. Semua keteladanan itu akan mendukung kesuksesan dalam berdakwah.
8. Menjaga diri dari hal-hal yang akan mengurangi harga dirinya. Seorang da’i harus menjauhkan diri segala bentuk maksiat, termasuk banyak sekali hal yang tidak bermanfaat, menjauhi tempat-tempat yang akan mengurangi penghargaan orang kepadanya. Seorang da’i, tidak hanya sepuhan luarnya saja, sehingga disebut dengan da’i karbitan. Seorang da’i dihentikan hanya tampak shaleh waktu tampil di podium ketika berceramah. Sang da’i harus bertaqwa kepada Allah, bukan sepuhan atau sifat kemunafikan yang disandang.
Sebuah Optimisme dan Prospek Masa Depan Yang menarik dalam statistik tahun 2004 di Suriname yakni adanya jumlah yang cukup tinggi dari kalangan penduduk yang tidak memilih jenis agama, tidak Kristen, Hindu, atau Islam. Jumlahnya sangat fantastis, yaitu 127,538 jiwa (25,8 % jumlah penduduk), dengan rincian: agama tradisi, 16,291 jiwa, lain-lain 12,258 jiwa, tidak menjawab, 21,785 jiwa, tidak jelas, 75,823 jiwa, dan tidak dikenal, 1,381 jiwa. Angka itu jauh lebih tinggi dari jumlah pemeluk agama Islam yang hanya 66,307 jiwa (13,5 %). Artinya bahwa di sana masih ada lahan dakwah yang cukup luas bagi kemungkinan menambah angka pemeluk Islam. Bila kemudian jumlah orang-orang yang belum beragama itu, alasannya yakni alasan tidak tahu, tidak bisa menjawab atau bingung, tertarik dengan cara hidup kaum muslimin, melihat para da’i yang lembut dan santun, dan karenanya masuk Islam. Maka Jumlahnya akan meningkat dua kali lipat lebih dari jumlah sekarang. Hal itu bukan omong kosong. Kemungkinan itu bisa terjadi, bila semangat dakwah terus dibangun, kiat-kiat sukses dakwah diikuti dengan baik, dan pengurbanan tidak pernah berhenti. Meskipun tentu saja, sukses dakwah tidak saja ditentukan oleh jumlah pengikutnya (kuantitas), tapi yang lebih penting yakni kualitas kaum muslimin itu sendiri.
Berbagai tantangan dakwah pasti ada. Kebodohan, kemiskinan, kemalasan sebagian kaum muslimin sehingga sulit diajak maju, menjadi hambatan tersendiri dalam perjuangan. Pengaruh materialisme, hedonisme, modernisasi dan globalisasi, giatnya upaya kristenisasi dan sekularisasi dari budaya Barat menjadi rintangan berat dalam berdakwah. Namun optimisme harus tetap dibangun. Rintangan demi rintangan harus dihadapi. Tidak ada usaha tanpa rintangan. Keberhasilan mengatasi rintangan itulah kebahagiaan dan kejayaan. Untuk mewujudkan khair ummah (umat terbaik) memang diharapkan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (dakwah memerintah kepada yang baik dan mencegah kemungkaran) , serta adanya keteguhan keyakinan yang kokoh (Q.S. Ali Imrân/3: 110). Tuhan juga menjanjikan kepada para pejuang akan jalan-jalan kebahagiaan itu: “dan orang-orang yang berjuang untuk agama Kami, maka pasti Kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami”. Q.S. al-Ankabût: 69. Itulah jalan-jalan kesuksesan, kemenangan, kesejahteraan, kejayaan dan kebahagiaan.
Referensi :
Behrman, J. R. Suriname. Washington, D.C.: Inter-American Development Bank, 1996.
Lieberg, Carolyn S. Enchantment of the World: Suriname. Chicago: Children’s Press, 1995.