Jejak Usaha Panglima Besar Reteh Tengku Sulung

GIRI HANDITO MAHATERA/SR/12A
1.      ASAL MULA PERJUANGAN TENGKU SULUNG
Keputusan Gubernur Jenderal Belanda C.F. Fahud tanggal 23 September 1857 yang menurunkan Sultan Mahmud Muzaffar Syah dari kerajaan Riau-Lingga, banyak menerima tantangan dari rakyat Riau.[1] Mereka sangat kecewa terhadap campur tangan bangsa gila dalam hal yang sangat prinsipil ini,  yang belum pernah dilakukan Belanda di waktu-waktu sebelumnya.

Penentangan secara terang-terangan terhadap tindakan Belanda muncul di tempat Reteh yang dipelopori oleh Teungku Sulung atau yang lebih populer dengan nama Panglima Besar Reteh. Penentangan serupa juga timbul dari daerah-daerah lain di sekitar Reteh ibarat dari Manda, tempat Mapar, pulau Singkep dan lain-lain; akan tetapi tidak dinyatakan secara tegas. Hanya saja kepala daerah-daerah setempat membiarkan rakyatnya bergabung dengan pasukan perlawanan rakyat Reteh yang dipimpin Panglima Besar Reteh Tengku Sulung.[2]
Panglima Besar Teungku Sulung mengirim beberapa orang utusan ke Singapura untuk menemui Sultan Mahmud yang masih tinggal di sana semenjak dipecat Belanda. Utusan ini bertugas meminta dukungan Sultan Mahmud terhadap gerakan perlawanan Tengku Sulung serta untuk membeli perlengkapan senjata. Menanggapi permohonan ini, Sultan Mahmud merestui tindakan Panglima Besar Sulung sekaligus menyerahkan proteksi buat modal membeli perlengkapan perang.
Disamping mempersiapkan alat senjata, dibeberapa tempat strategis dibangun pula benteng-benteng yang kokoh. Rakyat Reteh bekerja keras siang malam untuk menuntaskan benteng-benteng pertahanan itu. Selanjutnya semua benteng meriam-meriam ukuran besar dan kecil. Pada benteng besar ibarat benteng sentra dipasang meriam ukuran 6,8 dan 12 pon sebanyak 13 pucuk, sedangkan dibenteng lebih kecil di pasang 6 pucuk meriam ukuran 3,6,8 pon. Begitu pula perahu-perahu ukuran besar dan kecil dipersenjatai dengan meriam banyak sekali ukuran.[3]
Penjagaan di muara-muara sungai diadakan untuk memberitahukan lebih awal perihal kedatangan kapal-kapal atau bahtera yang dicurigai. Tujuan biar semua pasukan Reteh yang siap tempur segera sanggup berkumpul di dalam dan disekitar benteng. Perahu-perahu bersenjata hilir pulang kampung di muara sungai, terutama sungai Sampi yang eksklusif mengalir ke Reteh; selalu dalam penjagaan ketat.
Untuk mempertebal semangat juang, rakyat Reteh yang dipimpin Panglima Besar Tengku Sulung  mengadakan program mengucapkan sumpah setia  yang dilakukan di benteng pusat. Begitu pula belum dewasa dan istri pasukan yang akan bertempur dikumpulkan dalam beberapa buah rumah di sekitar benteng pusat. Maksud mengumpulkan mereka, selain untuk sanggup memberi proteksi eksklusif ibarat menyediakan masakan bagi pasukan, berfungsi pula buat peneguh jiwa para pejuang lantaran mereka tetap didampingi keluarganya. Dapat pula bermakna bahwa perlawanan itu merupakan perang habis-habisan; sedia mengorbankan diri, istri dan anak-anak.[4]
Pasukan Reteh yang sudah siap tempur diperkirakan berjumlah 800 orang. Mereka bukan hanya terdiri dari penduduk Reteh saja, akan tetapi banyak pula yang berasal dari tempat lain ibarat yang telah dikemukakan di atas. Semuanya tetap berjaga-jaga.
2.      PANGLIMA BESAR TENGKU SULUNG
Panglima Besar Reteh Tengku Sulung ialah cucu Sultan Yahya yang merupakan Sultan Siak terakhir dari keturunan Raja Kecil. Ibu Raja Sulung seorang puteri Sultan Yahya berjulukan Raja Maimunah. Ketika kekuasaan kerajaan Siak ini direbut oleh Said bin Usman pada tahun 1784, ia melarikan diri meminta proteksi kepada Sultan Mahmud III di Riau dan ia menetap beberapa usang di Reteh.  Selama tingggal di Reteh, Raja Maimunah kawin dengan Tok Lukas seorang panglima perang yang ikut menyerang Belanda di Tanjung Pinang pada tahun 1784.[16] Menurut laporan G.F de Bruyn Kops yang pernah bertemu Raja Sulung sewaktu menyidik batubara di Reteh pada tahun 1849, menyatakan bahwa huruf pribadi Panglima Besar Tengku Sulung berwatak keras, cerdas dan suka menanyakan informasi kepada tamu yang tiba kepadanya. Kegiatan yang sangat digemari sewaktu ia masih muda ialah merampok kapal-kapal dagang Belanda yang berlayar diperairan Riau. Oleh lantaran selalu dikejar-kejar pasukan patroli bahari Belanda, sehingga terpaksa melarikan diri ke Kalimantan Barat serta menetap beberapa usang disana. Petualangannya gres berakhir ketika Sultan Mahmud Muzaffar Syah mengangkatnya sebagai Orang Kava  yang mengepalai  daerah  Reteh  sekaligus dianugerahkan gelar Panglima Besar Reteh.[5]
Tindakan Belanda memakzulkan Sultan Mahmud, secara terus terang tidak disetujui pimpinan dan masyarakat tempat Reteh. Tengku Sulung (Raja Sulung) yang telah diangkat Sultan Mahmud sebagai Kepala Daerah Reteh dengan gelar Panglima Besar Sulung, menyatakan perilaku penolakannya dengan tidak mau mengakui dan tunduk kepada Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah yang diangkat Belanda menggantikan Sultan Mahmud.
Dalam hal ini, Panglima Besar Reteh Tengku Sulung betul-betul me-nu
njukkan kesetiaanya “yang tidak berbelah bagi” kepada Sultan Mahmud yang diyakininya masih sebagai Raja yang sah dari Kerajaan Melayu Riau-Lingga. Berkali-kali telah diupayakan membujuk Tengku Sulung supaya merubah sikapnya yang dilakukan oleh Residen Riau beserta Sultan Sulaiman, akan tetapi selalu menemui kegagalan.[6]
Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa gerakan menentang Belanda ini bukan hanya digerakkan Panglima Besar Reteh, namun ikut terlibat pula beberapa kepala tempat lain ibarat Raja Long dan Singkep, Raja Muhammad Kepala Daerah Manda serta Raja Abdul Manan penguasa tempat Mapar. Selain itu dibantu pula oleh sejumlah darah biru asal Kuala Tungkal yaitu Raja Idris, Raja Merdan dan Raja Ismail.[7]
Bagi tempat Riau yang terletak disekitar jalur perdagangan yang cukup ramai, para saudagar juga mempunyai peranan penting dalam tata kehidupan sosial politik dan ekonomi di wilayah itu. Dalam kasus perlawanan terhadap Belanda yang dipimpin Panglima Besar Reteh ini misalnya, peranan kaum saudagar sangat penting sebagai orang yang bertanggung jawab mengumpulkan senjata untuk perlengkapan perang.
Menjelang pecahnya pertempuran Reteh, kaum saudagar Riau yang berniaga ke Singapura, sewaktu pulang selalu membawa senjata yang dibeli di Singapura. Akibat acara kaum pedagang ini memang amat besar lengan berkuasa pada kekuatan pasukan rakyat Reteh, lantaran peralatan senjata yang mereka miliki hampir-hampir sama dengan persenjataan pihak Belanda.[8]
Sementara itu. Panglima Besar Reteh Tengku Sulung terus berusaha mempersiapkan diri memperkokoh pertahanan di tempat Reteh. Persediaan beras dan materi pangan lainnya untuk kebutuhan tiga bulan telah dikumpulkan. Dapat dikatakan, bahwa segala keperluan yang sanggup dipersiapkan untuk menghadapi Belanda telah tersedia bersama para penyokongnya hanya menanti-nantikan kapan datangnya serangan Belanda. Oleh lantaran itu serangan itu belum juga tiba; biarpun masa menunggu sudah cukup lama, maka kesiagaan pasukan Reteh mulai mengendur dari hari ke hari.
Panglima Besar  Sulung  sendiri mulai  yakin, bahwa serangan Belanda tidak akan dilaksanakan dalam waktu dekat, berhubung selesai hidup yang dipertuan Muda Riau Raja Ali pada bulan Juni 1858. Lebih-lebih lagi ketika ia mendengar kabar yang gres tiba dari Lingga yang menceritakan, bahwa menjelang meninggal Raja Ali berpesan supaya rencana menyerang Reteh sebaiknya jangan diteruskan lagi. Sejak itu Raja Sulung telah memberi izin kepada sebagian besar anggota pasukan dan keluarga mereka untuk bekerja lagi di ladang-ladang atau kembali kerumah mereka di Kota Baru. Sebagian para pengikutnya telah bertebaran kemana-mana mengurus kehidupan masing-masing ibarat sediakala. Sementara itu, sejumlah enam buah bahtera yang diketuai Raja Idris berangkat berdagang ke Singapura.[9]
3.      PECAHNYA PERTEMPURAN RETEH
Setelah mempertimbangkan akan tingkah laris Tengku Sulung yang benar-benar akan memberontak, maka pihak Belanda pun tidak lagi berdiam diri. Berhubungan terbatasnya ruang  dan waktu, kisah pertempuran Reteh mustahil dijelaskan secara rinci, akan tetapi hanya diuraikan secara garis besar saja.
Pada tanggal 9 Oktober 1858 sejumlah kapal perang Belanda meninggalkan pelabuhan Tanjung Pinang menuju Reteh. Armada itu terdiri dari kapal api “Sumbing”, lima buah kapal penjelajah serta dua puluh buah bahtera yang dipersenjatai. Kapal api “Sumbing” yang khusus dikirim untuk ekspedisi itu, dipergunakan untuk menyeret semua kapal dan bahtera yang tidak bermesin. Komandan kapal “Sumbing” Letnal AA.J. Kroef sekaligus bertindak sebagai pimpinan operasi itu.[10]
Tidak berapa usang kemudian, sebagian pasukan Belanda diperintahkan untuk menutup semua muara sungai yang mengalir ke tempat Reteh. Sebuah kapal pejelajah dan beberapa bahtera yang diketuai Letnal A.J. Van Mansvelt bergerak ke Kuala Enok untuk menjaga muara sungai disana. Akibatnya, maka pada tanggal 13 Oktober 1858 muara-muara sungai ibarat sungai Terap, sungai Tengah, sungai Gangsal dan Sampi; semuanya telah selesai diduduki pasukan Belanda. Blokade itu bertujuan supaya orang-orang Reteh tidak sanggup lagi keluar atau masuk ke tempat itu.
Kedatangan pasukan Belanda gres diketahui penduduk Reteh, sehabis semua muara sungai diduduki mereka. Masyarakat Reteh sangat terkejut dengan ancaman yang secara tiba-tiba telah mengancam itu. Beberapa orang coba menerobos blokade di muara sungai Reteh,sungai  Parang dan Sampi dengan perahu-perahu kecil segera sanggup ditangkap pasukan Belanda.
Panglima Besar Sulung segera mengatur pasukannya ketika mengetahui pasukan musuh sudah memasuki daerahnya. Pada tanggal 16 Oktober 1858 sejumlah pasukan Reteh dalam dua buah bahtera berusaha menyerang kapal-kapal Belanda di Kuala Patah Parang. Pertempuran sengit berlangsung antara kedua pihak, akan tetapi pasukan Reteh tidak usang sanggup mempertahankan diri.[11]
Dalam suatu operasi pasukan Belanda ke tempat bersahabat Kota Baru ibu kota wilayah Reteh, sebuah benteng yang dipertahankan pasukan Reteh sanggup direbut Belanda. Dalam serangan itu Haji Muhammad Taha sekretaris Panglima Besar Sulung ditangkap Belanda, sehingga beberapa pucuk surat diam-diam sanggup disita.
Belanda segera membangun sebuah benteng kecil disebelah kanan sungai pada tanah yang agak padat. Semua kapal diatur sedemikian rupa, sehingga meriam-meriam gampang untuk ditembak. Wala
upun tembakan hampir setiap waktu dilepaskan laskar Reteh dari dalam benteng mereka, namun pekerjaan membangun kubu-kubu pertahanan terus sanggup dilanjutkan Belanda. Hal ini disebabkan lebatnya belukar yang menjulang tinggi yang menghalangi pandangan pasukan Reteh.
Dalam pertempuran yang berlangsung didarat, banyak korban yang jatuh dikedua pihak. Dipihak Belanda, lima orang terbunuh serta empat yang luka-luka, sementara dikalangan laskar Reteh 14 orang yang gugur. Diantaranya orang-orang terpandang yang ikut gugur ialah Raja Hamzah, yaitu menantu Panglima Besar Reteh, dua orang panglima serta tiga orang tokoh masyarakat dari Kuala Enok.
Pasukan Belanda benar-benar merasa berat menghadapi laskar Reteh yang menyerang secara tiba-tiba. Apalagi serbuan itu dilancarkan dengan jumlah pasukan yang besar. Melihat ancaman yang serius itu, pimpinan ekspedisi Belanda tetapkan untuk meminta proteksi kepada Residen Riau. Pada tanggal 28 Oktober 1858 kapal api “Sumbing” berangkat ke Tanjung Pinang, ikut membawa empat orang tahanan diantaranya Haji Muhammad Taha, sekretaris dan orang kepercayaan Panglima Besar. Kepadanya diserahkan sepucuk surat ultimatum supaya disampaikan kepada Raja Sulung apabila  ia dibawa kembali  ke Renteh.[12] Kapal layar “De Haai” juga kembali ke Tanjung Pinang   untuk  membantu membawa bantuan  yang  sangat diperlukan,  yaitu 50 orang prajurit dari  garnizun.  Begitu pula persediaan amunisi terutama peluru-peluru senapan yang ‘dirasakan sangat sedikit dikala itu.
Pada tanggal 5 November 1858 ultimatum dari Residen Riau dikirimkan kepada Panglima Besar, yang disuruh bawa kepada Haji Muhammad Taha. Ultimatum ini menciptakan tuntutan, supaya Panglima Besar Sulung biar menyerahkan diri kepada komandan ekspedisi untuk dibawa menghadap Sultan Sulaiman dan Sultanlah nanti yang akan tetapkan mengenai dirinya, lantaran ia telah melepaskan diri dari kekuasaan Sultan itu. Residen Riau dalam ultimatumnya menjamin pengampunan dan keselamatan jiwa Raja Sulung niscaya akan diberikan Sultan.
Masa untuk mempertimbangkan isi ultimatum diberikan dua hari dan selama itu semua permusuhan diminta dilarang untuk sementara. Akan tetapi pada hari yang sama para utusan juga membawa pulang tanggapan Tengku Sulung yang ditujukan kepada Residen Riau. Isi tanggapan Tengku Sulung terhadap ultimatum menyatakan, bahwa ia bukan pihak yang memulai peperangan. Disebutkan pula dirinya tidak berperang melawan orang-orang Belanda. Apabila Residen bermaksud baik kepadanya, maka ia mengharapkan bahwa semua kapal perang harus ditarik ke Tanjung Pinang lebih dahulu, sebelum ia sanggup memperlihatkan keputusan perihal permintaan penyerahan diri itu.[13]
Jawaban yang diberikan Panglima Besar Sulung sama sekali tidak memuaskan Belanda, maka semenjak itu pertempuran mahir antara kedua belah pihak berkobar kembali.
Tanggal 7 Oktober 1858, angin ribut beserta hujan lebat menyiram tempat Reteh sepanjang hari. Keadaan ini menimbulkan laskar Reteh jadi kurang waspada dan tidak menyangka, bahwa serangan besar-besaran akan dilakukan pada hari seburuk itu.
Panglima Besar Sulung segera mengatur anak buahnya. Pertempuran ketika itu sangat dahsyat, lantaran antara kedua belah pihak sudah berdekatan. Laskar Reteh harus menghadapi serangan dari dua arah. Pasukan Belanda yang menyusup dibelakang benteng, menerima serangan bertubi-tubi, baik dari benteng sentra maupun dari benteng kecil. Laskar Reteh yang mempertahankan benteng kecil terpaksa mundur, lantaran menerima serangan yang tidak sepadan.
Panglima Besar yang sudah terluka dua hari yang kemudian akhir kena tembakan ketika menyidik pelindung bentengnya, dengan semangat besar masih bisa memimpin pertempuran yang sangat memilih hingga dikala itu. Dalam keadaan pertempuran masih sedang berlangsung dahsyat, beberapa orang pimpinan laskar Reteh yang penting, diantaranya Said Usman dan Raja Ismail sanggup ditangkap oleh pasukan Belanda. Penangkapan tokoh-tokoh penting itu telah menjadikan laskar Reteh kehilangan pimpinan yang mengatur taktik dan taktik perang. Walaupun demikian, mereka masih melancarkan perlawanan seru, lantaran beberapa tokoh pimpinan lainnya termasuk Panglima Besar Sulung masih tetap berjuang bersama mereka.
Ditengah-tengah pertempuran yang sedang berkecamuk, Panglima Besar Reteh terkena  sebutir peluru sempurna ditengah leher yang menimbulkan ia gugur di dalam benteng. Ketika gosip selesai hidup tokoh tampuk pimpinan itu tersebar kepada para pengikutnya, telah menimbulkan semangat bertempur mereka mulai menurun. Akhirnya, pertempuran itupun terus berakhir. Kekalahan yang menimpa rakyat Reteh dalam pertempuran tanggal 7 November 1858 ini, terutama disebabkan sebagian besar pemimpin dan tokoh-tokoh yang gagah berani telah tewas atau ditangkap pasukan Belanda. Laskar Reteh yang terbunuh dalam pertempuran hari itu diperkirakan berjumlah 70 orang, sedangkan di pihak musuh 16 orang Belanda yang menderita luka, diantaranya 3 orang yang terluka berat. Korban yang lain bagi pasukan Belanda ialah 4 orang pribumi mengalami luka-luka dan tiga orang diantaranya terluka berat.[14]
Daftar Pustaka
[1] N.C. Sierburg, “De Kriygs Verrichtingen Tagen den Panglima Bezaar van Reteh”, De Gids, Vol. 23, 1859, hlm. 308.
[2] J.H. Tobias can Eenen Toght naar Lingga, Reteh en Manda”, dalam Tijd, vol x, 1861, Passim
[3] E. Netscher, De Netherlanders in Djohor  en  Siak 1602-1862. (Batavia : Bruining en Wijt, 1870), hlm. 311.
[4] Ibid.
[5] G.F. de Bruyn Kops, “Togt op de Reteh Rivier” dalam TNI. tahun IV, 1853, hlm. 615.
[6] Surat Dinas (rahasia) Residen Riau kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, 9 Desember No. 546/F, 1957.
[7] J.H. Tobias, Loc.cit.
[8] E. Netscher, log.cit.
[9] Muchtar Lutfi (ed)., Sejarah Riau (Pekanbaru: Perce-takan Riau, 1977), hlm. 311.
[10] N. C. Sieburgh, op.cit, hlm. 310.
[11] E. Netscher, op.cit. hlm. 312.
[12] E. Netscher, op.cit. hlm. 317.
[13] Ibid.
[14] N.C. Sieburgh, op.cit. him. 325.
Muchtar Lutfi (ed)., Sejarah Riau (Pekanbaru: Perce-takan Riau, 1977)