K.H Ahmad Dahlan Tokoh Pembaru Pendidikan Islam

PIMA PUTRIANA/SP
            Pada awal kala ke-20, dunia pendidikan islam masih ditandai oleh adanya sistem pendidikan yang dikontomis antara pendidikan agama dengan umum. Di satu segi terdapat madrasah yang mengajarkan pendidikan agama tanpa mengajarkan pengetahuan umum, dan di satu sisi terdapat forum pendidikan umum yang tidak mengajarkan agama. Pendidikan islam juga tidak mempunyai visi, misi dan tujuan yang jelas,terutama bila dihubungkan dengan perkembangan masyarakat. Umat islam berada dalam kemunduran yang diakibatkan oleh pendidikan yang tradisional.

            K.H Ahmad Dahlan yaitu tokoh pembaru pendidikan islam dari jawa yang berupaya menjawab permasalahan umat. Dialah tokoh yang berusaha memasukkan pendidikan umum ke dalam kurikulum madrasah, dan memasukan pendidikan agama ke dalam forum pendidikan umum. Melalui pendidikan, K.h Ahmad Dahlan menginginkan biar umat dan bangsa Indonesia mempunyai jiwa kebangsaan dan kecintaan kepada tanah air. Dialah tokoh yang telah berhasil menyebarkan dan menyebarkuaskan gagasan pendidikan modern ke seluruh pelosok tanah air melalui organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, dan hingga kini makin menandakan eksistensi secara fungsional.
A.    Riwayat Hidup Singkat KH Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan yang pada waktu kecilnya berjulukan Muhammad Darwis. Beliau dilahirkan di Kauman Yogyakarta dari kesepakatan nikah Kyai Haji Abu Bakar dengan Siti Aminah pada tahun 1285 H (1868 M ). Kyai Haji Abu Bakar yaitu khatib di Majid Agung Kesultanan Yogyakarta, sedangkan ayahnya Siti Aminah yaitu penghulu besar di Yogyakarta.  Kampung Kauman sebagai daerah kelahiran dan daerah Muhammad Darwis dibesarkan merupakan lingkungan keagamaan yang sangat kuat, yang besar lengan berkuasa besar dalam perjalanan hidup Muhammad Darwis di kemudian hari. Ayahnya KH Abu Bakar yaitu Khotib Masjid Agung Yogyakarta. KH Ahmad Dahlan berguru mengaji sekitar tahun 1875 dan masuk pesantren. Sudah semenjak kanak-kanak diberikan pelajaran  dan pendidikan agama oleh orang tuanya, oleh para guru (ulama) yang ada di dalam masyarakat lingkungannya. Ini menandakan naluri melainkan juga melalui ilmu-ilmu yang diajarkan kepadanya. Pengetahuan yang dimiliki sebagian besar merupakan hasil otodidaknya, kemampuan membaca dan menulisnya diperoleh dari berguru kepada ayahnya, sahabatnya dan saudara-saudaranya dan iparnya. Ia di didik sendiri melalui cara pengajian yaitu dengan menirukan kalimat-kalimat atau bacaan yang diajarkan oleh ayahnya.
Dikala muda KH. Ahmad Dahlan populer mempunyai pikiran yang cerdas dan bebas mempunyai nalar budi yang higienis dan baik. Pendidikan agama yang diterima dipilih secara selektif tidak hanya itu tetapi setelah dipikirkan di bawa dalam perenungan-perenungan, ingin dilaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Waktu menjelang sampaumur KH Ahmad Dahlan berguru Ilmu Fiqih kepada KH Muhammad Shaleh. Dan berguru Ilmu Nahwu kepada KH Muhsin, kemudian gurunya yang lain ialah KH Abdul Hamid. Keahlian dalam Ilmu Falaq, diperoleh dari berguru dan berguru kepada KH Raden Dahlan salah seorang putra Kyai Termas dan yang terakhir Ilmu Hadits dipelajarinya dari Kyai Mahfud dan Syech Khayyat.  Pada usia 22 tahun (1890) dengan santunan kakaknya ( Nyai Hajah Sholeh ) ia pergi ke Makkah, dan berguru disana selama satu tahun untuk memperdalam ilmu pengetahuan perihal Islam, setelah kembali lagi ke Kauman Yogyakarta KH Ahmad Dahlan membantu ayahnya mengajar pengajian bawah umur namun pada kesempatan-kesempatan yang memungkinkan sering pula KH Ahmad Dahlan mewakili ayahnya menunjukkan pelajaran keagamaan kepada orang-orang yang usianya lebih bau tanah dari dirinya sendiri, keadaan itu telah  menyebabkan imbas KH Ahmad Dahlan luas karena masyarakat semakin yakin bahwa KH Ahmad Dahlan yaitu seorang yang mempunyai ketaatan beragama yang baik dan seorang yang mumpuni, baik dalam ilmu maupun dalam penalangan nalar budi, oleh karena itu maka KH Ahmad dahlan di gelari degan sebutan “Kyai” lengkapnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Sebagai seorang kyai, KH Ahmad Dahlan merupakan sosok ulama yaitu orang yang saleh dan menekuni serta mempunyai wawasan keilmuan perihal agama Islam. Dalam silsilah, ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka di antara Wali Songo, yang merupakan penggagas pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di tanah Jawa.
B.     Dasar Pemikiran
Selama ia berstudi di Makkah sepertinya Tafsir al- Manar yang dikarang oleh Muhammad Abduh menerima perhatian serius dan yang paling disenanginya, tafsir ini menunjukkan cahaya terang dalam hatinya serta membuka akalnya untuk berfikir jauh kedepan perihal eksitensi  Islam di Indonesia yang pada waktu itu masih sangat tertekan dari penjajah kolonial Belanda, ketika ia berguru di Makkah itulah, mempunyai kesempatan baik untuk sanggup bertukar pikiran pribadi dengan Rasyid Ridha, yang diperkenalkan KH Bakir. Ide reformasi telah meresap di hatinya, dengan dasar ilmu-ilmu yang diperolehnya, demikian pula pengalaman keagamaan yang ia alami di Makkah, mendorong ia melaksanakan perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan keagamaan kaum Muslimin di tanah air.
Dalam bukunya Dr. H. Maksum (1999) Steenbrink mengidentifikasikan ada empat faktor yang mendorong gerakan pembaharuan Islam di Indonesia awal kala 20 antara lain:
1.      Faktor keinginan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al- Hadits.
2.      Faktor semangat nasionalisme dalam melawan
penjajahan.
3.      Faktor memperkuat basis gerakan sosial, ekonomi, budaya dan politik.
4.      Faktor pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.
Dalam hal ini ia memberi catatan bahwa, ke empat faktor itu tidak secara terpadu mendorong gerakan pembaharuan; melainkan bahwa gerakan-gerakan pembaharuan yang muncul di Indonesia disebabkan oleh salah satu atau dua faktor tersebut. Dengan kata lain berdasarkan Steenbrink gerakan-gerakan pembaharuan Islam di Indonesia mempunyai alasan atau motif yang berbeda-beda.
Untuk itu KH. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah organisasi Islam yaitu Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912.  KH. Ahmad Dahlan meletakkan watu pertama ke organisasian Islam dengan Muhammadiyah, ini atas dasar melihat tujuan didirikannya Muhammadiyah kiranya semua motif yang empat diatas yaitu benar atas dasar pemikiran KH. Ahmad Dahlan.
Ada beberapa faktor intern dan faktor ekstern, yang mendorong mengapa KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah.
Yang merupakan faktor intern adalah:
a.       Kehidupan beragama tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, karena merajalelanya taklid, bid’ah dan churafat (TBC), yang menyebabkan Islam menjadi beku.
b.      Keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran.
c.       Tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat.
d.      Lembaga pendidikan Islam tak sanggup memenuhi fungsinya dengan baik, dan sistem pesantren yang sudah sangat kuno.
e.       Adanya imbas dan dorongan, gerakan pembaharuan dalam Dunia Islam.
Faktor-faktor ekstern, mencakup:
a.       Adanya kolonialisme Belanda di Indonesia.
b.      Kegiatan serta kemajuan yang dicapai oleh golongan Kristen dan Nasrani di Indonesia.
c.       Sikap sebagian kaum intelektual Indonesia yang memandang Islam sebagai agama yang telah ketinggalan zaman.
d.      Adanya rencana politik kristenisasi dari pemerintah Belanda, demi kepentingan politik kolonialnya.
Pendirian KH. Ahmad Dahlan mengenai pentingnya organisasi bagi pelaksanaan dakwahamar ma’ruf nahi munkar, memang mutlak meskipun dalam hal ini organisasi hanya merupakan sarana, bukan tujuan. Ada tujuan yang tidak sanggup hingga kepada tujuan yang dicita-citakan, hal ini di sebabkan sarana itu tidak tepat atau kurang sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Banyak kalangan yang menggambarkan K.H. Ahmad Dahlan yaitu sosok bau tanah yang menggunakan sorban dan menentang keras apapun yang berbau budaya Barat. Anggapan semacam itu bisa dimaklumi, bisa jadi karena selama ini gambar ia yang terpampang di mana-mana yaitu sosok yang sudah sepuh menggunakan sorban. Padahal, ia di masa mudanya merupakan sosok yang berpenampilan cukup “gaul.” Hal itu antara lain tercermin pada penampilan ia ketika pulang dari Makkah yang menenteng kitab dan biola.
C.    Pemikiran Pendidikan
KH. Ahmad Dahlan yaitu tokoh yang tidak banyak meninggalkan tulisan, ia lebih menampilkan sosoknya sebagai insan amal atau praktisi dari pada filosuf yang banyak melahirkan gagasan-gagasan tetapi sedikit amal, sekalipun demikian tidak berarti ia tidak mempunyai pemikiran. Sebagai wujud kongkrit yang dicetuskan ia yaitu Muhammadiyah yang hingga kini masih eksis.
Adapun metode yang ditawarkan KH. Ahmad Dahlan merupakan sintesis antara metode pendidikan Belanda dengan metode pendidikan tradisional. Amal perjuangan Muhammadiyah merupakan refleksi dan manifestasi pemikiran ia dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Istilah pendidikan disini dipergunaksn dalam konteks yang luas tidak hanya terbatas pada sekolah formal tetapi meliputi semua perjuangan yang dilaksanakan secara sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, nilai dan keterampilan dari generasi terdahulu kepada generasi muda, dalam konteks ini termasuk dalam pengertian pendidikan yaitu aktivitas pengajian, tabligh dan sejenisnya.
Adapun tujuan pendidikan berdasarkan KH. Ahmad Dahlan yaitu membentuk insan yang:
1.    Alim dalam ilmu agama.
2.     Berpandangan luas, dengan mempunyai pengetahuan umum;
3.  Siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah dalam menyantuni nilai-nilai keagamaan           pada masyarakat.
Rumusan tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan pesantren yang hanya bertujuan untuk membuat individu yang salih dan mendalami ilmu agama. Di dalam system pendidikan pesantren tidak diajarkan sama sekali pelajaran dan pengetahuan umum serta menggunakan goresan pena latin. Semua kitab dan goresan pena yang diajarkan menggunakan bahasa dan goresan pena Arab. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan “sekuler” yang di dalamnya tidak diajarkan ilmu agama sama sekali. Pelajaran di sekolah ini menggunakan aksara latin. Akibat dualisme pendidikan tersebut dilahirkan dua kutub inteligensia; lulusan pesantren yang menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu umum dan lulusan sekolah Belanda yang menguasai ilmu umum tetapi tidak menguasai ilmu agama.
Melihat ketimpangan itu KH. Ahmad Dahlan beropini bahwa tujuan pendidikan yang tepat yaitu melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spiritual serta dunia dan akhirat. Bagi ia keduanya tersebut merupakan sesuatu yang tidak sanggup dipisahkan satu sama lain. Pada tahun 1912, ia mengadakan program Sidratul Muntaha, sebuah pelajaran mengaji dan berdakwah dalam rangka merintis pergerakan Muhammadiyah di sebuah langgar di Kauman cuilan selatan. Pada tahap berikutnya, ia mendirikan sebuah sekolah lanjutan yang bangun pada tahun 1919 berjulukan Hooge School Muhammadiyah dan kemudian diganti menjadi Kweek School pada tahun 1923. Pada tahun 1930, sekolah ini dipecah menjadi dua, untuk pria (Mu’allimin) dan wanita (Mu’allimat).
D.    Pendidikan dan Pengajaran
Muhammadiyah berusaha mengembalikan aliran Isam pada sumbernya yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Muhammadiyah bertujuan meluaskan dan mempertinggi pendidikan agama Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya. Untuk mencapai tujuan itu, muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. Masalah pendidikan dan pengajaran menjadi perhatian yang utama dari Muhammadiyah. Pada 30 Maret – 2 April 1923, Muhammadiyah secara mendalam membicarakan forum yang memilih corak masyarakat dikemudian hari. Sebagai alhasil pada tanggal 14 Juli 1923 berdirilah suatu tubuh yang diberi nama Majelis Pimpinan Pengajaran Muhammadiyah. Ketua pertama Majelis Pimpinan Pengajaran Muhammadiyah yaitu Mas Ngabehi Joyosugito.
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran Muhammadiyah telah mengadakan pembaruan pendidikan agama. Modernisasi dalam sistem pendidikan dijalankan dengan menukar sistem pondok pesantren dengan pendidikan modern sesuai dengan tuntutan dan kehendak zaman.Pengajaran agama Islam diberikan di sekolah-sekolah umum baik negeri maupun swasta. Muhammadiyah telah mendirikan sekolah-sekolah baik yang khas agama maupun yang bersifat umum. Sekolah-sekolah yang didirikan Muhammadiyah selalu mengikuti stelsel pengajaran pemerintah Hindia Belanda. Karena itu, banyak sekolah-sekolah Muhammadiyah menerima subsidi dari pemerintah Hindia Belanda.Pada zaman pemerintah Hindia Belanda Muhammadiyah mempunyai bagian-bagian sekolah.  Taman kanak-kanak (Bustanul Athfal), Sekolah Angka II, Sekolah Schakel, HIS, MULO,Inheemse MULO, Normaalschool, Kweekschool, HIK, dan AMS; sedangkan sekolah-sekolah agama yaitu: Ibtidaiyah (Sekolah Dasar dengan dasar Islam), Tsanawiyah (Sekolah Lanjutan dengan dasar Islam/Diniyah), yang hanya menunjukkan pelajaran agama Islam, Muallimin/Muallimat (Sekolah Guru Bawah Agama Islam), dan Kulhiyatul Mubalighin (sekolah Pendidikan Guru Agama Islam). Pada zaman pendudukan Bala Tentara Jepang sekolah-sekolah Muhammadiyah ini pada umumnya berjalan terus meskipun ada kegoncangan disana-sini.
Muhammadiyah menanamkan iman paham perihal Islam dalam sistem pendidikan dan pengajaran.  Penerapan sistem pendidikan Muhammadiyah ini ternyata membawa hasil yang tidak tenilai harganya bagi kemajuan, bangsa Indonesia pada umumnya dan khususnya umat Islam di Indonesia. Muhammadiyah, berpendirian, bahwa para guru memegang peranan yang penting di sekolah dalam perjuangan menghasilkan bawah umur didik menyerupai yang dicita-citakan Muhammadiyah. Yang penting bagi para guru ialah memahami dan menghayati serta ikut berinfak dalam Muhammadiyah. Dengan memahami dan menghayati serta ikut berinfak dalam Muhammadiyah, para guru sanggup menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang dicita-citakan Muhammadiyah. Dalam muhammadiyah, guru menduduki daerah penting, tidak hanya sekadar alat mekanis tanpa pengetahuan, kesadaran, motivasi, dan tujuan. Di dalam pengertian Muhammadiyah, guru merupakan subjek pendidikan, dan subjek dakwah yang sangat penting fungsi dan amal pengabdiannya. Perlu diketahui bahwa tujuan Muhammadiyah dalam lapangan pendidikan yaitu membentuk insan yang muslim yang cakap, berakhlak mulia, percaya pada diri sendiri dan berkhasiat bagi masyarakat. Kaprikornus tidak hanya bertujuan membentuk insan intelektual saja, tetapi juga insan muslim, insan moralis, dan insan yang berwatak.
Segi menarik yang lain dari sekolah Muhammadaiyah, pemisahan Bahasa Arab sebagai mata pelajaran yang bangun sendiri merupakan langkah yang memilih dalam pandangan kaum pembaharu. Di pondok pesantren, bahasa Arab diajarkan sebagai cuilan membaca Al-Qur’an. Setelah mempelajari aksara Arab dan cara pengucapan, ayat-ayat Al-Qur’an dipelajari secara urut, dan tafsir ayat-ayat tertentu diberikan dalam bahasa Jawa. Tidak ada pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa. Sekolah Muhammadiyah mengajarkan bahasa Arab sebagai mata pelajaran yanga bangun sendiri. Ini telah dicoba sebagai pembaruan dalam mempelajari Al-Qur’an dikalangan masyarakat Jawa di Mekah selesai kala ke-19, ketika Snouck Hurgronje tinggal di sana (Hurgronje, 1931: 267). Metode gres yang diterapkan oleh sekolah  Muhammadiyah mendorong pemahaman Al-Qur’an dan Hadis secara bebas oleh para pelajar sendiri. Tanya jawab dan pembahasan makna dan ayat tertentu juga dianjurkan dikelas. “Bocah-bocah dimardikaake pikire (anak-anak diberi kebebasan berpikir)”, suatu pernyataan yang dikutip dari seorang pembicara kongres Muhammadiyah tahun 1925, meluki
skan suasana baik sekolah-sekolah Muhammadiyah pertama kali (Mailrapport No. 467X/25: 13).  Dengan sistem pendidikan yang dijalankan Muhammadiyah, bangsa Indonesia dididik menjadi bangsa berkeperibadian utuh, tidak terbelah menjadi pribadi yang berilmu umum atau yang berilmu agama saja.
DAFTAR PUSTAKA
          Sairin, Weinata , Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah, Jakarta: PT Fajar Interpratama, 1995.
          Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Grafindo Persada, 1990.
          Asrofie, M Yusron, Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pemikiran dan Kepemimpinannya, Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983.
          Mulkhan, Abdul Munir, Warisan Intelektual KH Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah Cet I, Yogyakarta: PT Percetakan Persatuan, 1990.
          Anshoriy Ch, Nasruddin, Matahari Pembaharuan, Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher, 2010.
          Jatmika. Sidik, Kauman; Muhammadiyah Undercover, Yogyakarta: Gelanggang,2010.