Kebudayaan Melayu Riau Siak Sri Indrapura

Emiliani/ PBM/ FB

Kerajaan Siak Sri Indrapura merupakan sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Siak Sri Inderapura merupakan kerajaan Islam, yang didirikan di Buantan oleh Raja Kecik dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya Kesultanan Siak muncul menjadi sebuah kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan Imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh imbas kerajaan ini hingga ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan.

            Kerajaan Melayu Siak berkembang dan tumbuh dari zaman berdirinya Kerajaan Gasib yang menganut agama Hindu / Budhab yang merupakan perpecahan Kerajaan Sriwijaya yang pernah berpusat diMuara Takus pada era ke XI-XII, Kerajaan Sriwijaya yaitu kerajaan yang berkembang dengan pesat dan gemilang pada zamannya. Kerajaan Sriwijaya yang pernah berpusat diMuara Takus, runtuh pada era awal era XIII, sehingga timbul kerajaan-kerajaan kecil yang masih menganut agama Hindu / Budha menyerupai diLubuk Jambi, Keritang, Kandis, Bintan dan Tumasik.
            Kerajaan Gasib yaitu perpecahan kerajaan Sriwijaya yang masih menganut agama Hindu / Budha, yang kesenian dan kebudayaannya bekerjasama dengan agama yang dianutnya. Sisa-sisa dari kebudayaan itu terdapat dimasyarakat Gasib ketika ini dan masih berakulturasi dengan kebudayaan dan kesenian Melayu Siak yang sudah menganut agama islam, menyerupai menggunakan Dupa apabila membaca do’a. kerajaan Siak yaitu pewaris dari kerajaan Melaka, Johor Riau, maka adat dan budaya dikerajaan siak yaitu adat dan budaya bersendikan syariat islam yang disebut addat bersendi syarak, dan syarak bersendikan kitabullah. Bagi orang Melayu Siak, yang disebut orang Melayu itu yaitu beradat istiadat Melayu, berbahasa Melayu dan beragama islam. Makara adat dan budayanya bernafaskan islam, kalau seseorang massuk islam maka ia disebut orang Melayu.
            Raja Kecik sebagai pendiri kerajaan siak telah meletakkan islam sebagai agama resmi dikerajaan siak, yang diumukan semasa dia dinobatkan sebagai Sultan siak pertama yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah. Kerajaan siak yaitu keturunan Kerajaan Melaka yang tidak terlepas dari kebudayaan dan keseniannya tidak terlepas dari Kerajaan Melayu Melaka, namum terdapat imbas unsur-unsur adat dan budaya serta kesenian dari suku-suku yang telah usang mendiami negeri Siak. Selain itu ada juga imbas dari budaya dan kesenian dari Cina, Thailand , Arab, Persi, India serta suku-suku pendatang dari Nusantara Indonesia menimbulkan terjadinya akulturasi kebudayaan orisinil Siak dengan mereka sehingga terbentuk kebudayaan dikerajaan siak,
            Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II, menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia. Dari proses yang banyak terjadi dalam kerajaan siak menghasilkan banyak sekali adat dan kebudayaan, yang akan dipaparkan pada pembahasan selanjutnya diantaranya :
A.    Adat Melayu di Kerajaan Siak
            Kerajaan Siak yaitu sentra pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Sultan dengan orang-ornag besarnya, sehingga yang dilakukan dalam program adat mempunyai sopan santun yang telah diatur oleh Kerajaan dan Datuk- datuk dari Ketua Suku. Setiap pelanggaran adat dan sopan santun oleh rakyatnya akan menerima hukuan atau hukuman yang sesuai dengan pelanggarannya. Didalam adat kerajaan siak ada beberapa aturan yaitu :
1.      Adat Sebenar Adat
            Maksud dari Adat Sebenar Adat yaitu prinsip-prinsip adat dikerajaan Siak yang tidak sanggup diubah-ubah sebab sudah tersimpul dalam adat yang bersendikan syarak. Untuk itu ketentuan addat yang bertentangan dengan aturan syarak Islam tidak boleh digunakan lagi. Jika terjadi benturan maka aturan syaraklah yang berlaku dominan, hal ini telah disabdakan oleh Sultan Siak Raja Kecik sewaktu dia dinobatkan. Misalnya : Dalam berpakaian haruslah menutup aurat.
2.      Adat yang diadatkan
            Adat ini yaitu adat yang dibentuk oleh Kerajaan Siak oleh Sultan yang sedang berkuasa sebagai pemimpin pemerintahan dinegeri Siak bersama Dewan Datuk sebagi penasehat Sultan pada kurun waktu tertentu dan masa berlakunya adat yang diadatkan ini ialah sepanjang belum dirubah oleh penguasa berikutnya atau Sultan penggantinya. Contohnya : Warna pakaian yang boleh digunakan oleh Datuk, orang besar kerajaan dan isterinya, dihentikan menggunakan warna kuning sebab itu yaitu warna pakaina sultan dan keluarganya.
3.      Adat yang Teradat
            Adat ini yaitu adat yang disusun bersama oleh Datuk-datuk kepala suku dengan pemuka-pemuka dinegeri Siak pada masa kerajaan dahulu semenjak berdirinya Kerajaan Gasib hingga Kerajaan Siak yang dipimpin oleh Raja Kecik. Adat ini turun temurun dalam masyarakat melayu siak yang telah usang mentradisi dan sudah menjadi pegangan bersama yang harus ditaati oleh rakyat siak. Terutama pantang durhaka kepada raja dan kepada orang renta sebab sumpah raja dan orang renta sangat makbul.
            Adat ini menanamkan sopan santun kepada masyarakat dan rakyatnya terutama kepada anak cucunya yang merupakan pewaris negeri siak.adat sopan santun sangat diutamakan dalam masyarakat melayu siak. Dikerajaan Siak hidup dan berkembang kebudayaan Tradisional yang berpengaruh yang bernafaskan Islam, hal ini terlihat dari beberapa upacara adat dimulai dari kelahiran hingga kematian. kebudayaan tersebut akan dipaparkan pada pembahasan selanjutnya.

B.     Kebudayaan Kerajaan Siak

1.     Uupacara menujuh bulan
            Upacara menujuh bulan yaitu upacara adat yang dilaksanakan pada ketika seorang ibu yang hamil anak sulungdalam usia kandungan tujuh bulan.

2.      Upacara aqiqah, memberi nama, cukur rambut dan turun mandi.
            Upacara ini dilakukan secara bersamaan, dimana anak yang gres dilahirkan dalam usia tujuh hari atau lebih, diaqiqahkan dengan menyembelih satu ekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki. Bersamaan dengan itu dilakukan kenduri dengan menjemput orang rmai dan pada ketika itu rambut sibayi digunting, ditepung tawari sambil dibacakan puji-pujian kepad Rasul dan kemudian dibacakan doa selamt dan doa member nama. Seterusnya bayi diturunkan memijak tanah dan dimandikan dan terakhir diayun dibuaian.

3.      Upacar Khitanan dan Khatam Al-Qur’an anak laki-laki
            Setiap anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun dikhitankan, dan sebelum dikhitankan dianya haruslah sudah khatam Al-Qur’an.

4.      Upacara adat perkawinan
Upacara adat perkawinan ini terbagi dalam beberapa tahap upacara, antara lain sebagai berikut.

v  Merisik
Pelaksaan merisik ini dilakukan secara bertahap oleh keluarga pihak laki-laki. Mereka mengirim utusan kepada pihak keluarga perempuan terutama kedua orang tuanya dengan maksud menanyakan kepada keluarga perempuan itu apakah anak gadisnya telah dipinang orang atau sudah mengikat janji dengan seseorang. Seandainya belum, maka kedatangan mereka untuk menjalin relasi kekeluargaan.
Tahap ini dilakukan oleh orang renta laki-laki setelah menerima informasi dari anak bujangnya bahwa ada seorang dara yang telah menjadi idaman hatinya, maka dilaksanakanlah program merisik secara belakang layar kepada sang gadis. Acara merisik ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laris dan sopan santun calon manantu tersebut baik terhadap orang tuanya, keluarganya, dan masyarakat di kampung. Di samping itu, juga pula di selidiki bagaimana ketekunannya mengurus rumah tangga, pintar atau tidak tidak bertenun, serta ketaatannya dengan perintah allah.
Hal demikian juga tidak lepas dari penyilidikan orang renta pihak perempuan terhadap calon menantunya, apakah cowok itu menghormati orang tua, sopan santun serta bahagia bergaul sesama di kampung, rajin bekerja dan sifat terpuji lainnya. Seandainya hal yang telah di ingat oleh kedua belah pihak berkenan maka di lanjutkan upacara berikutnya.
v  Meminang
Setelah menerima kepastian dari si gadis maupun keluarganya maka di lakukan program meminang dengan terlebih dahulu mengirim utusan orang tua-tua yang bijaksana, pintar bertutur  secara adat melayu serta di iringi tepak sirih sebagai pembuka kata. Upacara meminang ini dilakukan dengan bahasa pantun dan pepatah petitih sehingga upacara yang di maksud sanggup di sampaikan. Kata berbalas, gayung bersambut, sanggup mufakat bila antaran belanja dilaksanakan.
v  Acara hantaran belanja
Antar belanja atau yang biasanya dikenal dengan  dilakukan beberapa hari sebelum upacara komitmen atau sekaligus menjadi satu rangkaian dalam upacara komitmen nikah. Jika antar belanja diserahkan pada ketika berlangsungnya program perkawinan, maka antar belanja diserahkan sebelum upacara komitmen nikah. Beramai-ramai, beriring-iringan, kerabat calon pengantin laki-laki membawa antara belanja kepada calon pengantin wanita. 
          Konsep pemikiran dari upacara antar belanja yaitu simbol dari peribahasa-peribahasa menyerupai rasa senasib sepenanggungan,rasa seaib dan semalu, yang berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing. Makna dalam upacara antar belanja ini yaitu rasa kekeluargaan yang terbangun antara keluarga pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. Oleh sebab makna dan tujuannnya yaitu membangun rasa kekeluargaan, maka tidak dibenarkan jumlah diantarkan menimbulkan dilema yang menyakiti perasaan di antara mereka. Ungkapan adat mengajarkan: 
Adat Melayu semenjak dahulu 
Antar belanja menebus malu
Tanda senasib seaib semalu
Berat dan ringan bantu-membantu
v  Menggantung
Acara mengantung-gantung diadakan beberapa hari sebelum perkawinan atau persandingan dilakukan. Bentuk kegiatan dalam upacara ini biasanya diubahsuaikan dengan adat di masing-masing daerah yang berkisar pada kegiatan menghiasi rumah atau tempat akan dilangsungkannya upacara pernikahan, memasang alat kelengkapan upacara, dan sebagainya. Yang termasuk dalam kegiatan ini adalah: menciptakan tenda dan dekorasi, menggantung perlengkapan pentas, menghiasi kamar tidur pengantin, serta menghiasi tempat bersanding kedua calon mempelai. Upacara ini menadakan bahwa budaya gotong-royong masih sangat berpengaruh dalam tradisi Melayu. Upacara ini harus dilakukan secara teliti dan perlu disimak oleh orang-orang yang dituakan biar tidak terjadi salah pasang, salah letak, salah pakai, dan sebagainya. Ungkapan adat mengajarkan hal ini sebagai berikut: 
  Adat orang berhelat jamu
Menggantung-gantung lebih dahulu
Menggantung mana yang patut
Memasang mana yang layak 
Sesuai berdasarkan alur patutnya
Sesuai berdasarkan adat lembaga
Supaya helat menggunakan adat
Supaya kerja tak sia-sia
Supaya tidak tersalah pasang
Supaya tidak tersalah pakai 

v  Malam berinai
Adat atau upacara berinai merupakan imbas dari pedoman Hindu. Makna dan tujuan dari perhelatan upacara ini yaitu untuk menjauhkan diri dari bencana, membersihkan diri dari hal-hal yang kotor, dan menjaga diri segala hal yang tidak baik. Di samping itu tujuannya juga untuk memperin
dah calon pengantin biar terlihat lebih tampak bercahaya, menarik, dan cerah. Upacara ini merupakan lambang kesiapan pasangan calon pengantin untuk meninggalkan hidup menyendiri dan kemudian menuju kehidupan rumah tangga. Dalam ungkapan adat disebutkan: 
Malam berinai disebut orang
Membuang sial muka belakang
Memagar diri dari jembalang
Supaya hajat tidak terhalang
Supaya niat tidak tergalang
Supaya sejuk mata memandang
Muka bagai bulan mengambang
Serinya naik tuah pun datang
Berinai bukan sekadar memerahkan kuku, namun memper- siapkan pengantin biar sanggup menjalani pernikahan tanpa aral halangan
Upacara ini dilakukan pada malam hari, yaitu dimalam sebelum upacara perkawinan dilangsungkan. Bentuk kegiatannya bermacam-macam asalkan bertujuan mempersiapkan pengantin biar tidak menemui dilema di kemudian hari. Dalam upacara ini yang populer biasanya yaitu kegiatan memerahkan kuku, tetapi sebenarnya masih banyak hal lain yang perlu dilakukan. Upacara ini dilakukan oleh Mak Andam dibantu oleh sanak famili dan kerabat dekat. Upacara berinai bagi pasangan calon pengantin dilakukan dalam waktu yang bersama-sama. Hanya saja, secara teknis tempat kegiatan ini dilakukan secara terpisah, bagi pengantin perempuan dilakukan di rumahnya sendiri dan bagi pengantin laki-laki dilakukan di rumahnya sendiri atau tempat yang disinggahinya. Namun, dalam adat perkawinan Melayu biasanya pengantin lak-laki lebih didahulukan.

v  Upacara berandam
Upacara berandam dilakukan pada sore hari ba’da Ashar yang dipimpin oleh Mak Andam didampingi oleh orang renta atau keluarga terdekat dari pengantin perempuan. Awalnya dilakukan di kediaman calon pengantin perempuan terlebih dahulu yang diringi dengan musik rebana. Setelah itu gres kemudian dilakukan kegatan berandam di tempat calon pengantin laki-laki. Sebelum berandam kedua calon pengantin harus mandi berlimau dan berganggang terlebih dahulu. Makna dari upacara berandam yaitu membersihkan fisik (lahiriah) pengantin dengan impian biar batinnya juga bersih. Makna simbolisnya yaitu sebagai lambang kebersihan diri untuk menghadapi dan menempuh hidup baru. Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan adat: 
Adat Berandam disebut orang 
Membuang segala yang kotor
Membuang segala yang buruk
Membuang segala sial
Membuang segala pemali
Membuang segala pembenci
Supaya seri naik ke muka
Supaya tuah naik ke kepala
Supaya suci lahir batinnya
Kecantikan kebijaksanaan mestilah yang utama
keelokan paras tiada boleh terlupa. 
Untuk itulah, Mak Andam merias calon pengantin biar kemolekan makin ternampak nyata./ Berandam yang paling utama yaitu mencukur rambut sebab serpihan badan ini merupakan letak kecantikan mahkota perempuan. Di samping itu, berandam juga meliputi kegiatan: mencukur dan membersihkan rambut-rambut tipis sekitar wajah, leher, dan tengkuk; memperindah kening; menaikkan seri muka dengan menggunakan sirih pinang dan jampi serapah. Setelah berandam kemudian dilakukan kegiatan mandi tolak bala, yaitu memandikan pengantin dengan menggunakan air bunga dengan 5, 7, atau 9 jenis bunga biar terlihat segar dan berseri. Kegiatan ini harus dilakukan sebelum waktu shalat ashar. Mandi tolak bala kadang disebut juga dengan istilah ”mandi bunga”. Tujuan mandi ini yaitu menyempurnakan kesucian, menaikkan seri wajah, dan menjauhkan dari segala bencana. Dalam ungkapan adat disebutkan: 

Mandi Bunga atau Mandi Tolak Bala bukan sekadar untuk meng- harumkan raga, namun biar jiwa higienis suci, jauh dari iri dengki
Hakekat mandi tolak bala
Menolak segala bala
Menolak segala petaka
Menolak segala celaka
Menolak segala yang berbisa
Supaya menjauh dendam kesumat
Supaya menjauh segala yang jahat
Supaya menjauh kutuk dan laknat
Supaya setan tidak mendekat
Supaya iblis tidak melekat
Supaya terkabul pinta dan niat
 Supaya selamat dunia akhirat

v  Upacara khatam al-qur’an
Pelaksanaan upacara khatam Qur’an biasanya dilakukan setelah upacara berandam dan mandi tolak bala sebagai bentuk penyempurnaan diri, baik secara lahir maupun batin. Upacara khatam Qur’an sebenarnya bermaksud memperlihatkan bahwa pengantin perempuan sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya perihal bagaimana mempelajari agama Islam dengan baik. Dengan demikian, sebagai pengantin perempuan dirinya telah dianggap siap untuk memerankan posisi barunya sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak. Di samping itu tujuan lainnya yaitu untuk memperlihatkan bahwa keluarga calon pengantin perempuan merupakan keluarga yang berpengaruh dalam menganut pedoman Islam, sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan adat: 

Pendidikan boleh tiada tamat, ijazah boleh tiada dapat, 
tetapi khatam Al Qur’an tiada boleh terlewat.
Dari kecil cincilak padi 
Sudah besar cincilak Padang 
Dari kecil duduk mengaji
Sudah besar tegakkan sembahyang
Upacara ini dipimpin oleh guru mengajinya atau orang renta yang ditunjuk oleh keluarga dari pihak pengantin. Upacara ini khusus dilakukan oleh calon pengantin perempuan yang biasanya perlu didampingi oleh kedua orang tua, atau teman sebaya, atau guru yang mengajarinya mengaji. Mereka duduk di atas tilam di depan pelaminan. Mereka membaca surat Dhuha hingga dengan surat al-Fatihah dan beberapa ayat al-Qur’an lainnya yang diakhiri dengan doa khatam al-Qur’an
v  Acara komitmen nikah
Ketika rombongan calon pengantin laki-laki Upacara ijab kabul merupakan inti dari seluruh rangkaian upacara perkawinan. Sebagaimana lazimnya dalam adat perkawinan berdasarkan pedoman Islam, upacara ijab kabul harus mengandung pengertian ijab dan qabul. Dalam ungkapan adat disebutkan bahwa: 
Seutama-utama upacara pernikahan
Ialah ijab kabulnya
Di situlah ijab disampaikan
 Si situlah kabul dilahirkan
Di situlah syarak ditegakkan
Di situlah adat didirikan
Di situlah janji dibuhul
Di situlah simpai diikat
Di situlah simpul dimatikan
Tanda sah bersuami isteri
Tanda halal hidup serumah
Tanda bersatu tali darah
Tanda terwujud sunnah Nabi
Dengan terucapnya ijab dan kabul, tanggung jawab ayah atas anak gadisnya beralih sudah kepada menantu laki-laki.
Pemimpin upacara ini biasanya yaitu kadi atau pejabat lain yang berwenang. Setelah penyataan ijab dan qabul telah dianggap sah oleh para saksi, kemudian dibacakan doa /walimatul urusy/ yang dipimpin oleh kadi atau orang yang telah ditunjuk. Setelah itu, gres kemudian pengantin laki-laki mengucapkan /taklik/ (janji nikah) yang dilanjutkan dengan penandatanganan Surat Janji Nikah. Penyerahan mahar oleh pengantin laki-laki gres dilakukan sesudahnya. 
v  Upacara sembahan

      Setelah upacara ijab kabul selesai dilakukan seluruhnya, kedua pengantin kemudian melaksanakan upacara menyembah kepada ibu, bapak, dan seluruh sanak keluarga terdekat. 
Makna dari upacara ini tidak terlepas dari impian biar berkah yang didapat pengantin nantinya berlipat ganda. Acara ini dipimpin oleh orang yang dituakan bersama Mak Andam. Sembah sujud kepada orang renta tiada boleh lupa, biar tuah dan berkah turun berlipat ganda.
v  Tepuk tepung tawar

Setelah upacara menyembah selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara tepuk tepung tawar. Makna dari upacara yaitu dukungan doa dan restu bagi kesejahteraan kedua pengantin dan seluruh keluarganya, di samping itu juga bermakna sebagai simbol penolakan terhadap segala bala dan gangguan yang mungkin diterimanya kelak. Upacara ini dilakukan oleh unsur keluarga terdekat, unsur pemimpin atau tokoh masyarakat, dan unsur ulama. Yang melaksanakan tepung tawar terakhir juga bertindak sebagai pembaca doa. /Tepuk Tepung Tawar hakikatnya yaitu pertanda, bahwa para tetua melimpahkan restu dan doa, bahwa marwah pengantin kekal terjaga. Dalam ungkapan adat disebutkan bahwa makna dari Tepuk Tepung Tawar yaitu :
Menawar segala yang berbisa
Menolak segala yang menganiaya 
Menepis segala yang berbahaya
Mendingin segala yang menggoda
Menjauhkan dari segala yang menggila
Jadi, upacara Tepuk Tepung Tawar bermakna sebagai doa dan pengharapan. Dalam pantun nasehat disebutkan: Di dalam Tepuk Tepung Tawar, terkandung segala restu, terhimpun segala doa, terpateri segala harap, tertuang segala kasih sayang. Dalam pantun lain disebut juga bahwa: 
                                      Tepung tawar untuk penawar
Supaya hidup tidak bertengkar
Wabah penyakit tidak menular
Semua urusan berjalan lancar
Kegiatan ini dilakukan dengan rincian: menaburkan tepung tawar ke telapak tangan kedua pengantin, mengoleskan inai ke telapak tangan mereka, dan menaburkan beras kunyit dalam bunga rampai kepada kedua pengantin. Setelah upacara ini selesai berarti telah selesai upacara inti perkawinan. Setelah itu tinggal melaksanakan upacara-upacara pendukung lainnya, menyerupai upacara nasehat perkawinan dan jamuan makan bersama.
v  Mengarak pengantin lelaki
Upacara ini bentuknya yaitu mengarak pengantin laki-laki ke rumah orang renta pengantin perempuan. Tujuan dari upacara ini sebagai media pemberitahuan kepada seluruh masyarakat sekitar tempat dilangsungkannya perkawinan bahwa salah seorang dari warganya telah sah menjadi pasangan suami-istri. Di samping itu, tujuanya yaitu memberitahukan kepada semua lapisan masyarakat biar turut meramaikan program perkawinan tersebut, termasuk ikut memperlihatkan doa kepada kedua pengantin. Upacara ini bermacam-macam bentuknya, tergantung adat yang berlaku di masing-masing daerah Melayu. Bernaung payung iram, diiringi rentak rebana dan gendang,pengantin laki-laki tiba kepada dewi pujaan. Dalam upacara arak-arakan ini, yang dibawa yaitu bermacam-macam alat kelengkapan. Namun, yang paling utama dibawa yaitu jambar (di Riau lebih dikenal dengan semerit, pahar ,poha, dulang berkaki).  Isi dalam jambar terdiri dari tiga unsur, yaitu: unsur kain baju atau pakaian dengan kelengkapan perias, unsur makanan, dan unsur peralatan dapur. Ketiga unsur tersebut mengandung makna perihal kehidupan insan sehari-hari. Jumlah jambar ditentukan berdasarkan adat setempat, asalkan maknanya sesuai dengan nilai Islam. Jumlah 17 yaitu sama dengan jumlah rukun shalat, jumlah 17 terkait dengan jumlah rakaat sehari semalam, dan jumlah 25 terkait dengan jumlah rasul pilihan. 
Sesampainya rombongan arak-arakan pengantin laki-laki di kediaman keluarga pengantin perempuan, kemudian dilanjutkan dengan upacara penyambutan. Dalam budaya Melayu, upacara penyambutan tersebut mempunyai makna yang sangat dalam. Oleh karenanya, pengantin laki-laki perlu disambut dengan penuh kegembiraan sebagai bentuk ketulushatian dalam mendapatkan kedatangan mereka. Upacara pencak silat merupakan perlambang kepiawaian pengantin laki-laki menghadapi tantangan.
Upacara penyambutan arak-arakan pengantin laki-laki biasanya bentuknya tiga macam, yaitu permainan pencak silat, bertukar tepak induk, dan berbalas pantun pembuka pintu. Dalam kegiatan permainan pencak silat, makna yang terkandung di dalamnya yaitu bahwa pengantin laki-laki sebagai calon kepala rumah tangga perlu ditantang kejantanan dan kepiawainnya. Meski hanya sebagai simbol, pencak silat juga mengandung makna persahabatan dan kasih sayang yang dibungkus dengan jiwa kepahlawanan. Setelah permainan silat, rombongan pengantin melanjutkan perjalanannya, biasanya diteruskan dengan kegiatan perang beras kunyit antara pihak pengantin laki-laki dan pihak yang menyambutnya. Perang Beras Kunyit antar kedua pihak pengantin, bukan mengobarkan permusuhan, melainkan menyuburkan persaudaraan. Setelah permainan silat dan perang beras kunyit selesai, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bertukar tepak induk. Kenapa tepak perlu ditukar? Sebab, simbol tepak melambangkan rasa lapang dada hati dalam menyambut tamu dan juga sebagai lambang persaudaraan. Isi dalam tepak berupa daun sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau. Kegiatan ini dilakukan setelah rombongan pengantin laki-laki masuk ke halaman rumah pengantin perempuan. Kegiatan ini sanggup dilakukan di dalam atau di luar rumah. Bertukar Tepak melambangkan ketulusan hati dan bersebatinya dua keluarga menjadi satu. Kegiatan terakhir dalam upacara pribadi yaitu berbalas pantun pembuka pintu yang dilakukan di ambang pintu rumah pengantin perempuan. Kegiatan ini bentuknya yaitu saling bersahutan pantun antara pemantun pihak pengantin laki-laki dengan pemantun pihak pengantin perempuan yang disaksikan oleh Mak Adam. Fungsi dari kegiatan ini biasanya dipahami sebagai bentuk izin untuk memasuki rumah pengantin perempuan. Setelah Mak Adam atau pemantun pihak pengantin perempuan membuka kain penghalang pintu dan mempersilahkan tamu untuk masuk, maka kegiatan ini dianggap selesai. Berbalas pantun Pembuka Pintu memperlihatkan watak sopan santun pengantin laki-laki memasuki kehidupan pengantin perempuan. Upacara Bersanding Acara bersanding merupakan puncak dari seluruh upacara perkawinan. Setelah pasangan pengantin berijab-kabul, pengantin laki-laki akan balik ke tempat persinggahannya untuk beristirahat sejenak. Demikian halnya pengantin perempuan perlu kembali ke balik bilik untuk istirahat juga. Setelah keduanya beristirahat kemudian dilangsungkan upacara bersanding. Wakil pihak pengantin perempuan menemui wakil pihak pengantin laki-laki dengan membawa sebuah bunga yang telah dihias dengan begitu indah. Bunga yang diberikan ini menandakan bahwa pengantin perempuan telah siap menanti kedatangan pengantin laki-laki ke tempat persandingan. Pengantin laki-laki kemudian dijemput untuk disandingkan dengan pasangannya.

v  Bersanding
Menyandingkan penganting laki-laki dengan pengantin perempuan yang disaksikan oleh seluruh keluarga, sahabat, dan jemputan. Inti dari kegiatan ini yaitu mengumumkan kepada khalayak umum bahwa pasangan pengantin sudah sah sebagai pasangan suami-istri. Seperti halnya dilakukan dalam upacara komitmen nikah, dalam upacara pribadi juga dilakukan tepuk tepung tawar untuk mengantisipasi kalau ada yang belum sempat menyaksikannya pada upacara akad. Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan adat sebagai berikut:  
Tiada ketika seindah ketika bersanding di pelaminan, bertabur senyum, salam, dan sejahtera
Apabila pengantin duduk bersanding
Sampailah niat usailah runding
Tanda pasangan sudah sebanding
Hilanglah batas habis pendinding
Dalam ungkapan adat lain disebutkan
Pengantin bersanding bagaik
an raja
Disaksikan oleh renta dan muda
Tanda bersatu kedua keluarga
 Pahit dan manis sama dirasa
Kesimpulan
Kebudayaan merupakan hasil kebijaksanaan insan dalam banyak sekali bentuk dan menifestasinya yang di kenal sepanjang sejarah sebagai milik insan yang tidak kaku melainkan selalu berkembang dan berubah membina insan untuk mengikuti keadaan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan. Salah satu bentuk daripada kebudayaan ini yaitu adat istiadat. Adat istiadat merupakan sekumpulan aspek-aspek kebiasaan yang telah mendiami dalam sekelompok orang atau masyarakat. Salah satu bentuk dari istiadat ini pula berupa upacara adat istiadat perkawinan yang ada di kabupaten siak. Adat istiadat ini berpusat pada siak sri indrapura yang di susun dan di tata oleh seorang raja dan orang-orang besar kerajaan. Adat istiadat ini merupakan hasil warisan budaya siak dari upacara adat perkawinan  raja-raja melayu yang dulunya sebagai sentra kerajaan melayu. Adat istiadat ini mempunyai bentuk kesamaan dan mempunyai perbedaan yang berlaku di daerah masing-masing.
Upacara adat perkawinan ini terbagi dalam beberapa tahap upacara antara lain sebagai berikut.
·      Merisik
·      Meminang
·      Hantaran Belanja
·      Menggantung
·      Malam berinai
·      Berandam
·      Akad nikah
·      Berkhatam
·      Menyembah
·      Tepung tawar
·    
 
Mengarak pengantin laki-laki
·      Bersanding
Seiring dengan berkembangnya zaman, kebudayaan tersebut berubah sedikit demi sedikit. Hal tersebut merupakan suatu perilaku sekelompok dari orang untuk mengikuti keadaan terhadap lingkungannya dan perubahan zaman.
Daftar Pustaka
Tim Penulis Sejarah Kerajaan Siak. 2011. Sejarah Kerajaan Siak. Pekanbaru : Lembaga Warisan     Budaya Melayu Riau.