Kebudayaan Pelalawan

Adat Adat Perkawinan
1.      Ketentuan Adat Sebelum Perkawinan
Sebelum upacara perkawinan dilaksanakan, diberlakukan ketentuan sopan santun istiadat yang disebut sopan santun sebelum perkawinan. Empat hal yang perlu diperhatikan wacana sopan santun sebelum perkawinan, yaitu tujuan perkawinan, perkawinan ideal, syarat-syarat untuk kawin, dan cara-cara menentukan jodoh.
a.       Tujuan Perkawinan
Menurut adat, ada beberapa tujuan perkawinan, yaitu sebagai berikut.
1)      Menyambung Tali Darah
Menyambung tali darah yaitu melanjutkan keturunan. Melalui perkawinan diperlukan keturunan keluarga akan terus berlanjut.

2)      Mendekatkan Yang Jauh dan Merapatkan yang Renggang
Mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang renggang yaitu perkawinan hubungan kekerabatan dan kekeluargaan semakin dekat dan akrab, mendekatkan hubungan dan keluarga, sekaligus memperluas kaum kerabat kedua belah pihak.
3)      Menjunjung Sunah
Menjunjung sunah yaitu mengikut Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan kepada umatnya kawin bagi yang patut dan mampu.
b.      Perkawinan Ideal
Perkawinan ideal yaitu perkawinan yang benar-benar mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan bagi semua pihak sesuai dengan kedudukan mereka dalam masyarakat. Misalnya, status sosial, tujuan, sopan santun istiadat, agama, kepercayaan, dan norma-norma sosial lainnya.
Perkawinan ideal juga disebut perkawinan yang benar-benar memenuhi semua harapan serta memenuhi persyaratan adat, agama dan tradisi, serta tujuan yang sanggup memenuhi keinginan.
c.       Jenis jenis perkawinan
Adat dan tradisi masyarakat di kawasan Riau mengenal beberapa jenis perkawinan. Ada yang tepat bagi, ada pula yang digolongkan jelek dan tidak diinginkan atau dilakukan secara terpaksa yang menjadikan malu dan malu. Jenis-jenis perkawinan yaitu sebagai berikut.
1)      Kawin Biasa
Kawin biasa yaitu perkawinan yang dilakukan secara normal, dilaksanakan melalui ketentuan dan sopan santun istiadat, serta menuruti banyak sekali urutan program yang lazim yaitu perkawinan seorang bujang dan gadis yang dilaksanakan berdasarkan tata cara adat.
2)      Kawin Gantung
Kawin gantung yaitu perkawinan yang dilakukan dengan jarak relatif usang antara pelaksanaanya berdasarkan aturan dengan pesta (upacara) berdasarkan adat. Perkawinan ini dilakukan bagi mereka yang belum memenuhi syarat umur untuk kawin atau menikah.
3)      Kawin Janda atau Kawin Duda
Perkawinan janda atau duda ini yaitu perkawinan antara pria bujang dengan perempuan janda atau antara pria duda dengan seorang gadis.
4)      Kawin Bertukar Anak Panah
Kawin bertukar anak panah yaitu perkawinan yang dilakukan dengan cara bau tanah kawin dengan yang muda dan yang muda kawin dengan yang bau tanah ibarat perkawinan dua orang adik beradik, apakah keduanya pria atau seorang pria dan seorang perempuan kawin dengan dua orang adik beradik lainnya. Perkawinan ini juga disebut sama-sama melepas beban.
5)      Kawin Balam Dua Selenggek
Perkawinan kawin balam dua selengkek yaitu perkawinan yang dilakukan oleh dua orang adik beradik dengan dua orang adik beradik lainnya. Kakak kawin dengan abang dan adik kawin dengan sesama adik.
6)      Kawin Ganti Tikar
Perkawinan ini biasanya terjadi antar keluarga yang berkeinginan untuk melanjutkan kekeluargaan atau untuk kepentingan anak-anaknya. Perkawinan ganti tikar ini yaitu perkawinan apabila seseorang anak pria ditinggal mati istrinya kemudian ia kawin dengan adik istrinya (iparnya). Kawin ganti tikar ini ada yang disebut juga ganti tikar naik, yaitu apabila yang dikawininya yaitu abang istrinya. Apabila seorang istri ditinggal mati suaminya kemudian dikawinkan dengan adik suaminya disebut kawin ganti baju atau kawin beripar turun. Sebaliknya kalau ia kawin dengan abang suaminya disebut kawin saling sertingkat atau kawin beripar naik.
7)      Kawin Membayar Nazar
Kawin membayar nazar yaitu disebut juga kawin menebus niat, yaitu suatu perkawinan yang dilakukan apabila seorang bau tanah bernazar ingin mengawinkan anaknya dengan seseorang saat anaknya masih muda atau masih kecil. Setelah anaknya dewasa, barulah anak tersebut dikawinkan untuk menebus nazar yang pernah diniatkannya.
8)      Kawin Menebus Budi
Kawin menebus akal dilakukan secara paksa untuk menebus utang akal terhadap seseorang, baik itu pihak pria maupun pihak perempuan.
9)      Kawin Sekandang
Kawin sekandang yaitu perkawinan antar sesama keluarga sepanjang dibenarkan oleh syarak dan adat. Perkawinan ini bertujuan untuk menjaga semoga harta keluarga tidak jatuh keluar.
10)  Kawin Berkat

Perkawinan berkat yaitu perkawinan yang mengandung maksud untuk memperoleh berkat, tuah, atau meningkatkan status sosial keluarga. Perkawinan berkat dilakukan oleh orang yang tingkat status sosialnya rendah, kemudian kawin dengan orang yang tingkat status sosial keluarganya lebih tinggi.

11)  Kawin Negeri
Kawin negeri yaitu perkawinan yang dilakukan dengan tujuan politis. Perkawinan ibarat ini dulunya dilakukan oleh keluarga raja-raja atau keluarga kerajaan. Melalui perkawinan itu, hubungan kedua kerajaan menjadi baik dan terhindar dari permusuhan.
2.      Upacara Sebelum Perkawinan
Sebelum berlangsungnya perkawinan, dilakukanlah bebrapa rangkaian upacara adat-istiadat, yang terdiri dari :
a.       Tradisi Merisik atau Upacara Meminang
Tujuan merisik atau upacara meminang yaitu untuk memberikan niat baik pihak pria untuk menjodohkan anaknya dengan pihak perempuan. Upacara meminang dilakukan di rumah orangtua perempuan atau di rumah keluarga lainnya yang mereka tentukan. Waktu pelaksanaanya ditentukan atas kesepakatan kedua belah pihak. Lazimnya pada malam hari, sehabis waktu sholat maghrib. Apabila dilakukan pada siang hari, biasanya sehabis sholat zuhur atau ‘ashar. Pelaksana dari kedua belak pihak, yaitu dengan ketentuan sebagai berikut.
1)      Salah seorang wakil pihak pria didampingi oleh keluarga terdekat yang sudah berumur, sobat terdekat, serta penjawatnya.
2)      Satu orang wakil pihak perempuan didampingi oleh beberapa keluarga terdekat, sobat dekat, tetangga dekat, jemputan khusus, dan penjawat.
3)      Seorang utama atau lebih sebagai pembaca doa selamat dan epilog upacara.
4)      Para pemangku atau pemuka sopan santun tempatan, sekurang-kurangnya satu orang sebagai saksi.
Peralatan upacara meminang terdiri dari peralatan pokok yaitu tapak sirih, yang terdiri atas tepak induk dan tepak pendamping dengan jumlah yang bervariasi, peralatan perlengkapanyaitu banyak sekali macam penganan, makanan, bunga-bungaan, buah-buahan dan bacin wangian dengan jumlah yang tidak ditentukan kemudian peralatan kebesaran yaitu peralatan yang menjadi tanda atau lambang kebesaran pihak peminang, misalnya, keris panjang, tombak, pedang, payung, panji, dan sebagainya.
b.      Upacara Hantar Tanda
Upacara ini disebut juga ‘Melahirkan Tanda’, yakni tanda dari pihak lelaki sebagai ikatan pertunangan. Upacara hantar tanda ini bertujuan untuk menyerahkan ‘tanda’ ikatan pertunangan dari pihak pria kepada perempuan. Tempat upacara ‘Hantar Tanda’ atau ‘Melahirkan Tanda’ ini dilaksanakan di rumah perempuan atau rumah yang ditentukan oleh pihak perempuan. Waktunya ditetapkan atas mufakat kedua belah pihak, lazimnya malam hari, sehabis sholat magrib.
c.       Upacara Hantar Belanja
Upacara hantar belanja ini ialah pemberian dari pihak pria untuk pihak perempuan dalam menyelenggarakan helat perkawinan. Upacara ini bertujuan yaitu untuk meringankan beban pihak perempuan. Sebab berdasarkan lazimnya, pesta dan kegiatan upacara lebih banyak dilakukan di rumah perempuan, sebab disanalah pusatnya. Upacara hantar belanja dilakukan di rumah pihak perempuan, sebagaimana upacara meminang atau upacara melahirkan tanda. Upacara hantar belanja lazimnya dilakukan sebelum upacara kesepakatan nikah. Namun sekali-sekali, ada pula yang melakukannya sejalan dengan kesepakatan nikah. Pelaksananya hampir sama dengan upacara meminang atau pun upacara hantar tanda, demikian pula akseptor lainnya. Alat pokok terdiri atas barang-barang ibarat uang putaran, perhiasan, kain, kelengkapan tempat tidur, kelengkapan rias pengantin wanita, kelengkapan tempat tidur, dan tepak sirih.
3.      Upacara Pelaksanaan Perkawinan
Upacara pelaksanaan perkawinan merupakan rangkaian kegiatan upacara perkawinan yang mencakup upacara ijab kabul dan pribadi disertai pula upacara-upacara yang lebih kecil. Rangkaian ini bertujuan sebagai satu kesatuan dari pelaksanaan perkawinan.
a.       Upacara Menggantung-gantung
Upacara ini bertujuan untuk menghiasi rumah kediaman pengantin dengan menyiapkan kelengkapan upacara langsung. Upacara ini dilaksanakan dirumah orang bau tanah pengantin perempuan atau tempat perkawinan dilaksanakan. Biasanya upacara ini dilaksanakan saat matahari naik hingga selesai, dan dimalam hari dilakukan setelah magrib.
b.      Malam Berinai
Upacara malam berinai bertujuan sebagai menolak bala, memperindah badan dan sebagai perlambang bahwa pengantin siap meninggalkan hidup membujang masuk ke dalam hidup berumah tangga. Upacara ini biasanya dilakukan dikediaman masing masing pengantin. Upacara ini dipimpin oleh mak andam. Dilakukan pada malam hari yang dihadiri oleh beberapa orang jemputan.
c.       Berandam
Upacara ini bertujuan untuk memperantik pengantin perempuan dengan cara membersihkan wajah. Upacara ini dilakukan dikediaman pengantin perempuan yang dilakukan pada pagi hari saat matahari mulai naik yaitu sehabis malamnya dilakukan upacara berinai. Upacara ini juga dipimpin mak andam.
d.      Upacara Akad Nikah
Tujuan upacara ini yaitu untuk mengesahkan suatu perkawinan, baik secara agama maupun secara adat. Akad akan dilakukan dirumah pengantin perempuan. Dilaksanakan pada malam hari setelah magrib. Upacara ini dipimpin oleh kadi, yang biasa disebut Tuan kadi. Upacara ini diikuti oleh kedua belah pihak.
e.       Upacara berkhatam Al-Qur’an
Upacara ini bertujuan semoga hidup berumah tangga dilengkapi dengan ilmu pengetahuan agama dan menjadi kehidupan rumah tangga yang baik dan diridhai oleh Tuhan SWT. Upacara ini dilakukan dirumah pengantin perempuan pada pagi hari sehabis malam dilakukannya ijab kabul yang dipimpin oleh guru mengaji atau orang yang ditunjuk dan diiringi oleh perangkat kesenian yang bernapaskan keagamaan, ibarat zikir, berzanji, dan marhaban.
f.       Upacara Langsung.
Tujuan upacara pribadi yaitu untuk memperlihatkan penghormatan kepada kedua pengantin, menobatkan mereka sebagai kepala dan ibu rumah tangga, serta penyampaian hajat orang bau tanah dan kaum kerabatnya. Upacara ini dilakukan dirumah pengantin perempua. Upacara ini dilaksanakan sehabis upacara berkhatam Al-Qur’an atau sesuai dengan ksepakatan bersama.
g.      Upacara Bersanding
Upacara ini pada hakikatnya merupakan kepingan dari upacara langsung, yaitu suatu upacara mendudukkan kedua pengantin berdekatan dan bersanding. Dalam upacara ini ada beberapa upacara lainnya, yaitu:
1)      Upacara Tepung Tawar
Upacara ini merupakan kegiatan menaburkan bunga-bungaan, wangi-wangian kepada kedua pengantin. Penepung tawar terdiri atas unsur keluarga terdekat, unsur pemerintah atau raja kuasa, unsur pemangku sopan santun atau raja adat,unsur patut-patut, unsur ulama dan raja ibadat. Ketentuan jumlah orang yang melaksanakan tepung tawar harus ganjil, paling sedikit lima orang dan paling banyak 21 orang.
2)      Makan Adap-adapan
Upacara ini yaitu makan berhadap-hadapan bersama keluarga terdekat dan orang yang patut-patut. Makan adap-adapan biasanya dilakukan simpulan upacara tepung tawar, bertempat didepan pelaminan.
h.      Upacara Menyembah Mertua
Upacara menyembah mertua bertujuan sebagai sembah sujud, terima kasih dan permohonan doa restu kepada orang bau tanah pengantin pria dan keluarganya. Upacara ini biasanya dilakukan dirumah pengantin pria pada sore hari setelah program bersanding dilaksanakan. Jika dilakukan besok hari atau beberapa hari berikutnya diartikan menyalahi sopan santun sebab dianggap tidak ingat orang tua.
4.      Upacara Sesudah Perkawinan
Sesudah upacara berlangsung, dilaksanakan pula banyak sekali rangkaian kegiatan upacara sehabis perkawinan, antara lain upacara mandi damai, upacara mengantuk gigi atau mengasah gigi. Rangkaian ini pada hakikatnya merupakan satu kesatuan sebab dilaksanakan secara berturut-turut.
a.       Upacara Mandi Damai
Upacara ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kedua pengantin sudah selamat melaksanakan hubungan sebagai suami istri. Upacara ini dilaksanakan 3 hari sehabis pelaksanaan upacara bersanding yang dilakukan di rumah pengantin perempuan dengan dibuatkan tempat khusus ibarat rumah maupun berbentuk ular naga sebagai tempat mengalirnya air untuk kedua pengantin. Upacara ini dipimpin oleh mak andam dan dihadiri oleh sanak keluarga, sahabat, handai tolan, jemputan, yang patut-patut, serta para pejawat.
b.      Upacara Mengantuk Gigi
Upacara ini bertujuan untuk meratakan gigi pengantin supaya kelihatan lebih indah. Upacara ini dilakukan di dalam rumah pengantin perempuan sehabis upacara mandi tenang dilaksanakan. Pelaksanaannya di atas pelaminan atau di tengah ruangan di atas tilam khusus. Upacara ini memakai kelengkapan alat pokok, terdiri atas telur ayam 2 buah, kain putih, dulang berisi lilin lebah, kikir kecil, dan mangkuk putih. Alat embel-embel terdiri atas pebara dengan kemenyan atau setanggi, kapas, serta wangi-wangian. Alat kebesaran yang diubahsuaikan dengan status sosialnya. Upacara mengantuk gigi dipimpin oleh mak andam dan disaksikan oleh seluruh akseptor dalam upacara mandi damai.
DAFTAR PUSTAKA
Dr.(HC)H.Tenas Effendy.2009.Adat istiadat dan upacara Nikah Kawin Melayu Pelalawan.
Dr.(HC)H.Tenas Effendy.2004.Pemakaian Ungkapan Dalam Upaca
ra Perkawinan Orang Melayu.
Bastian,S.H.I dkk,.2001.Budaya Melayu Riau.
Drs.Djoko Widagdho,dkk.2004.Ilmu budaya dasar.