Kebudayaan Permainan Porok Di Selatpanjang

YENNI LESTARI/PBM/FB
A.    Pengenalan Permainan Porok

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia POROK ialah suatu permainan rakyat dengan materi utama yaitu tempurung. Permainan ini dari zaman dahulu hingga kini menjadi salah satu kebudayaan di Selatpanjang. Akan tetapi, untuk masa kini permainan itu mulai menghilang dan hampir tidak terdengar permainan porok itu . Porok merupakan olahraga rakyat secara tradisional, yang dimainkan oleh pelakunya semata-mata sebagai hiburan pengisi waktu senggang disore hari.

Permainan ini biasanya dimainkan oleh orang-orang yang tinggal didaerah pinggiran bahari yang banyak ditanam kelapa semenjak zaman nenek moyang terdahulu. Karena kelapa dalam kehidupan rakyat selatpanjang termasuk sumber penghasilan , maka kedudukan kelapa bagi rakyat merupakan flora yang terpenting serta besar artinya. Karena sehari-hari masyarakat menggunakan buah kelapa, sehingga banyak timbunan sabut maupun tempurung kelapa didaerah ini. Kegairahan bermain dengan benda-benda terbuang itu tiba secara tiba-tiba tanpa diketahui oleh sejarah. Lalu, sepak menyepak sabut kelapa ataupun tempurung itupun terjadi secara amat sederhana. Dan kesudahannya lahirlah permainan yang berjulukan porok.

Dalam permainan porok ini tidak membeda-bedakan sobat bermainnya. Mereka bermain bahu-membahu baik bawah umur dari kalangan atas atau bangsawan, bawah umur miskin, orang orisinil ataupun cina, semuanya menjadi menyatu dalam ikatan permainan tersebut. Menurut keterangan yang diperoleh, bahwa nama Porok berasal dari sebutan kemenangan dalam permainan tersebut. Yakni biji nilai kemenangan disebut “Porok”.

Permainan porok ini muncul pada zaman kekuasaan Sultan Siak Sri Indrapura sekitar masa XVIII-XIX di kota Selatpanjang. Namun, secara niscaya kapan tumbuh dan berkembangnya permainan tersebut didaerah ini tidak diketahui. Yang terang permainan porok ini tumbuh dan berkembang begitu saja daan mengakibatkan permainan Porok ini menjadi suatu kebudayaan.

B.     Peralatan Permainan
1.    Lapangan
Lapangan permainan Porok harus datar, dan tidak berumput. Ukuran panjang 6 depa dan lebarnya 4 depa.
2.    Tempurung
Tempurung sebagai alat permainan pokoknya harus dimiliki masing-masing pemain 2-3 buah perorang. Tempurung tersebut dibentuk sedemikian rupa. Harus tahan,dan tidak membahayakan pemainnya. Boleh tempurung tumpat dan boleh pula dilobangi tengahnya.

C.    Para Pelaku/ peserta
1. Jumlah penerima                                 : 3-8 orang, dalam sistem perorangan.
2. Usianya                                           : 8-40 tahun
3. Jenis kelaminnya                             : a. Laki-laki sama laki-laki
                                                              b. Perempuan sama perempuan
                                                              c. Campuran
4. Latar belakang sosial pelaku           :
Pada umumnya yang memainkan permainan ini ialah anak petani, bawah umur yang lainnya bukan dari orang tanipun sanggup memainkannya. Adapun pembatasan jenis pelaku pria sama pria dan wanita sama wanita ialah semata-mata berdasarkan sopan santun dan tata cara kehidupan dalam masyarakat melayu. Sekarang tidak lagi merupakan suatu larangan khusus. Bahkan Porok sanggup dimainkan secara adonan pria perempuan.

D.    Jalan Permainan
a.    Penentu
pengundian untuk memerlukan sipembawa yang lebih dulu disebut penentu :
1.   Perorangan : untuk bermain perorangan, penentu dilaksanakan dengan cara melerengkan tempurung permainannya secara bahu-membahu kegaris sentra yang telah ditentukan secara mufakat. Barang siapa yang paling terdekat dengan sentra itu, maka ialah yang berhak untuk memulai permainan.
2.   Berpehak/beregu : untuk bermain beregu, cara penentunya ialah antara kedua regu mengadukan tempurungnya. Siapa yang telungkup ialah yang kalah, yang terlentang ialah yang menang dan membawa dahulu. Jika sama-sam terlentang ataupun sama-sama terlungkup, pengundian diulangi hingga sanggup satu terlungkup dan satu pula terlentang.
3.    Yang menang penentu, namanya Pehak Lapang. Sedangkan yang kalah dalam penentu itu disebut penjaga.
b.    Jalannya Permainan
1.    Pehak Lapang
Pehak lapang membawa dengan mempergunakan tempurung permainannya secara menjepit dengan ibu jari kaki, kemudian memukul tempurung lawannya dalam bundar jaga :
a.    Melereng
Melereng yaitu permulaan menjalankan tempurung permainan dengan ibu jari kaki secara demonstratif boleh dengan membalikkan badan, memukul dengan tumit, dan sebagainya.
b.    Mangarung
Mangarung dilakukan dengna menjepit tempurung menyerupai melereng juga. Hal ini dilakukan kalau dikala melereng tak hingga kearah jaga.
c.    Merasuk
Merasuk artinya mengetuk tempurung lawan sehabis selesai mengarung. Aturan Permainan :
   Melereng dilakukan secara demonstratif membelakangi arena permainan. Sebaliknya tempurung dilerengkan dengan kedua belah tumit kaki kiri dan kanan kemudian putar kebelakang. Jika eksklusif mengenai tempurung dipihak lawan, maka eksklusif tidak melaksanakan mengarung lagi. Ia berhak menerima nilai, dengan mengucapkan “Porok” atau merasuk.
   Mengarung, artinya tempurung itu dijepit saja dengan ibu jari kaki kemudian dilempar dengan gaya menyepak kea rah tempurung lawan. Hal ini dilakukan kalau waktu melereng tak hingga kea rah jaga
   Jika dalam mengarung itu terkena tempurung lawan, eksklusif mengetuk dengan cara mengangkahkan tempurung kita dengan tempurung lawan. Bila berhasil mengetuk, terus lari kebenteng dan berkata “Porok”.
   Setiap ucapan porok sanggup dilaksanakan ketika mengarung, nilainya 1 (satu).
   Mengetuk, artinya mengetuk tempurung lawan sehabis selesai mengarung. Jika gagal maka pembawa dianggap mati. Lalu yang membawa sobat berikutnya dalam permainan berpeham/beregu, dan kalau bermaian perorangan dibawa lagi oleh yang ke 2, dan seterusnya.
   Jika eksklusif mengenai tempurung lawan waktu melereng nilainya 2 (dua).
   Gim, bila pehak yang terlebih dahulu mencapai nilai terbanyak dalam pertandingan itu menyerupai yang telah dimufakati sebelum bermain.
   Kalap, tempurung yang dilerengkan tertelungkup, sedangkan yang dianggap baik tertelentang,. Maka pembawa dianggap tidak sah atau mati.
   Gayuk, pehak melereng tempurung tidak pada urutan semestinya disebut gayuk, dan tak sah atau mati.
   Garis, apabila pehak pembawa melanggar garis yang telah ditentukan dianggap tidak sah dan mati.
   Barang siapa yang kalah, hukumannya menggendong lawannya masing-masing perorang sejauh dua kali bolak-balik lapangan permainan.
2.    Pehak Jaga
a.    Memasang tempurungnya dalam bundar jaga.
b.    Bila lawan merasuk selesai mengetuk tempurungnya boleh dihalang-halangi supaya gagal. Bila gagal lawan merasuk, ia gagal pula memperoleh nilai dan dianggap mati.
E.     Susunan Permainan dan Daerah Permainan
1.    Lingkaran pehak jaga lebih besar dari bundar pehak penjaga.
a.    Jumlah bundar sebanyak pemain, dengan susunannya (2) (1) (3) untuk bertiga, (4) (2) (1) (3) (5) untuk berlima seregu bagi pehak lapang.
b.    Bagi pehak jaga bangun dalam bundar secara berhadapan dengan lawannya satu orang lawan satu orang. Dalam bundar itulah diletakkan tempurung permainannya.
2.    Pehak lapang dilingkaran (1), lawannya ialah pehak jaga juga. Tempurung pehak jaga satu itulah harus kena waktu melereng ataupun mangarung. Waktu merasuk harus semuanya satu persatu tempurung pihak lawan diantuk atau dipangkah. Memangkah untuk merasuk itu boleh memecahkan tempurung lawan. Cara memangkah, tempurung disepit dengan ibu jari kaki dan antukkan ketempurung lawan.
F.     Pertukaran Jaga

Pertukaran antara pehak lapang dengan pehak jaga dilakukan bila pehak lapang semuanya mati. Maka pehak jaga menjadi pehak lapang, dan demikian pula sebaliknya pehak lapang menjadi pehak jaga.

Menurut salah satu tokoh masyarakat Selatpanjang yaitu Bapak Eriwan menjelaskan bahwa permainan Porok tidak ada sangkut pautnya dengan tuntutan watak istiadat, dan didalamnya tidak terdapat unsur-unsur relegius. Porok biasanya dimainkan juga oleh para cukup umur para hari-hari raya Aidil Fitri ataupun pada hari raya Adha sebagai penambah kemeriahan hari besar lingkungan masyarakat tersebut. Permainan ini dimainkan lebih kurang 1 hingga 2 jam lamanya. Selain disenangi oleh para pemainnya sendiri, porok juga merupakan permainan yang mangasyikkan penonton hingga berjam-jam ikut pula menyaksikannya dengan penuh perhatian.

Menurutnya permainan porok tersebut masih sanggup dikembangkan di masyarakat Selatpanjang dan sekitarnya terutama melalui sekolah-sekolah. Perhatian guru-guru SD sangat dibutuhkan untuk membina anak didiknya, menggiatkan permainan Porok itu semoga sanggup hidup kembali dan berkembang ditengah-tengah permainan modern dikala ini. Sehingga kebudayaan ini tidak hilang di kota Selatpanjang.

KESIMPULAN

Porok merupakan permainan sebagai salah satu kebudayaan yang berkembang di Kota Selatpanjang yang menggunakan tempurung sebagai materi utamanya. Nama Porok berasal dari sebutan kemenangan dalam permainan tersebut. Pada umumnya yang memainkan permainan ini ialah anak petani.  Permainan porok ini muncul pada zaman kekuasaan Sultan Siak Sri Indrapura sekitar masa XVIII-XIX di kota Selatpanjang. Porok berkembang dari zaman dahulu hingga kini ini, tetapi mainan porok ini hampir tidak kelihatan lagi di kota Selatpanjang. sehingga perlu dikembangkan di masyarakat Selatpanjang dan sekitarnya terutama melalui sekolah-sekolah atau yang lainnya , sehingga kebudayaan ini tidak hilang di kota Selatpanjang.
DAFTAR PUSTAKA

Attaayaya. 2008. Http://www.formi-pb.or.id/porok-permainan-tradisional-riau.html. Diakses pada tanggal 4 Mei 2015.
Rahman, Elmust. 2008. Atlas Kebudayaan Melayu Riau Tahap II. Riau : P2KK Universitas Riau.