Kemiskinan Sebagai Duduk Perkara Sosial

Nurul Aisyah Febriani/ 14A/ PIS
Menurut sejarah, keadaan kaya dan miskin secara berdampingan tidak merupakan kasus sosial hingga saatnya perdagangan berkembang dengan sangat pesat dan timbulnya nilai-nilai sosial yang baru. Dengan berkembangnya perdagangan ke seluruh dunia dan ditetapkan tarif kehidupan tertentu sebagai suatu kebiasaan masyarakat, kemiskinan muncul sebagai kasus sosial yang diakibatkan oleh faktor ekonomi. Kemiskinan yaitu suatu keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar menyerupai makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan sanggup disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya saluran terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan juga merupakan kasus global, sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Pada waktu itu individu sadarakan kedudukan ekonominya, sehingga mereka bisa untuk menyampaikan apakah dirinya kaya atau miskin. Kemiskinan dianggap sebagai kasus sosial, apabila perbedaan kedudukan ekonomi para warga masyarakat ditentukan secara tegas. Pada masyarakat modern yang kompleks, kemiskinan menjadi kasus sosial lantaran perilaku

membenci kemiskinan tersebut. Seseorang bukan merasa miskin lantaran kurang makan, pakaian, dan perumahan. Namun lantaran harta miliknya dianggap tidak cukup untuk memenuhi taraf hidupnya yang ada. Hal ini terlihat di kota-kota besar di Indonesia, menyerupai Jakarta. Seseorang dianggap miskin lantaran tidak mempunyai radio, televisi, atau mobil. Sehingga usang kelamaan benda-benda sekunder tersebut dijadikan ukuran bagi keadaan sosial ekonomi seseorang, yaitu apakah ia miskin atau kaya. Dengan demikian, persoalannya mungkin menjadi lain, yaitu tidak adanya pembagian kekayaan yang merata. Kemiskinan dikala ini memang merupakan suatu hambatan dalam masyarakat ataupun dalam rung lingkup yang lebih luas. Kemiskinan menjadi kasus sosial lantaran ketika kemiskinan mulai merabah atau bertambah banyak maka angka kriminalitas yang ada akan meningkat. Banyak orang dikala ini menerjemahkan kemiskinan sebagai pangkal penyebab kasus sosial dan ekonomi. Kini kemiskinan menjadi kasus sosial ketika stratifikasi dalm masyarakat sudah membuat tingkatan atau garis-garis pembatas. sehingga adanya kejanggalan atau batas pemisah dalam interaksi atau komunikasi antara orang yang berada di tingkatan yang dibawah dan di atasnya.

Dampak yang Ditimbulkan Akibat Kemiskinan
Masalah kemiskinan yang terjadi akan menimbulkan dampak atau tanggapan yang dapat terjadi yaitu meningkatnya tingkat kriminalitas. Kriminalitas disini yang sering terjadi antara lain adalah pencurian, pencopetan, perampokan, dan lain-lain. Alasan mereka melaksanakan hal itu adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, lantaran mereka tidak mempunyai penghasilan untuk mencukupi kebutuhannya. Seseorang cenderung melaksanakan apa saja bila terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Baik itu dengan cara halal maupun tidak. Sehingga tingkat kriminalitas di kota-kota besar meningkat. Selain meningkatkan kriminalitas, kemiskinan juga sanggup menimbulkan tingkat kesehatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) semakin rendah. Hal ini terjadi lantaran masyarakat miskin cenderung kesulitan pula dalam memenuhi kebutuhan makan mereka. Sehingga kandungan gizi yang ada pada masakan yang biasa dikonsumsiny setiap hari kurang, atau bahkan sudah tidak layak konsumsi. Akibatnya, kesehatan mereka terganggu dan tingkat kesehatannya semakin menurun. Sementara tingkat SDM atau pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat miskin yang semakin menurun, sanggup disebabkan lantaran mereka sulit untuk bersekolah atau menyekolah anak mereka (sebagai orang tua), sehingga pendidikan mereka pun tidak jauh berbeda dengan orang tua mereka. Padahal pemerintah juga telah banyak memutuskan peraturan dan program-program yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan dan biar masyarakat miskin masih tetap bisa bersekolah atau mendapatkan pendidikan hingga di Perguruan Tinggi sekalipun. Namun mungkin semua itu tetap terjadi lantaran beberapa di antara pinjaman yang diberikan kepada masyarakat miskin tidak sempurna sasaran.  Kemiskinan juga sangat besar lengan berkuasa terhadap lingkungan hidup yang balasannya akan merusak lingkungan itu sendiri. Penduduk miskin yang terdesak akan mencari lahan-lahan kritis atau lahan-lahan konservasi sebagai tempat pemukiman. Lahan-lahan yang seharusnya berfungsi sebagai tempat penyangga atau mempunyai fungsi konservasi tersebut akan kehilangan fungsi lingkungannya sesudah dimanfaatkan untuk tempat pemukiman. Akibat berikutnya, maka akan menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan lingkungan. Selain itu, penduduk miskin pun akan sulit dalam hal mencari lapangan pekerjaan, penduduk miskin tanpa mata pencaharian akan memanfaatkan lingkungan sekitar, sebagai perjuangan dalam memenuhi kebutuhannya tanpa mempertimbangkan kaidah-kaidah ekologis yang berlaku. Karena desakan ekonomi, banyak penduduk yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memasuki kawasan-kawasan yang bahwasanya dilindungi, apabila tidak dicegah dalam jangka waktu yang tidak terlalu usang menimbulkan tempat lindung akan berkurang bahkan hilang sama sekali, yang berdampak pada hilangnya fungsi lingkungan (sebagai pemberi jasa lingkungan).
Ada beberapa catatan yang bisa menjadi pola wacana kemiskinan terutama di Indonesia, yaitu:
1.      Adanya kemiskinan lantaran angka kelahiran yang tinggi
Kelompok masyarakat yang tidak maju lebih sering dan cenderung disebut kaum miskin yang sarat dengan kemiskinan. Kemiskinan ini juga selalu mengalami pertumbuhan dengan pesat atau bertambah banyak jumlahnya terutama lantaran angka kelahiran yang tingi. Angka kelahiran kaum miskin di negara-negara dunia ketiga termasuk pada wilayah-wilayah tertentu di Indonesia yang tinggi, pada konteks tertentu, tidak seimbang dengan tingkat kematian. Pertumbuhan kemiskinan yang sangat pesat ini terjadi hampir semua lokasi atau tempat mereka berada. Dengan demikian, pada umumnya mereka hampir tidak mempunyai apa-apa selain anak; lantaran mereka tidak banyak berbuat apa-apa, selain prokreasi dan reproduksi.
2.      Mereka tetap miskin lantaran menutup diri dari imbas luar
Tatanan serta keteraturan suatu komunitas masyarakat di suatu daerah merupakan warisan secara turun-temurun. Dan bila komunitas itu mempunyai kontak dengan yang lain, maka akan terjadi saling menggandakan kemudian masing-masing menyebarkan hasil tiruan itu sesuai dengan situasi dan kondisinya. Dengan itu, sanggup dipahami bahwa kekerabatan sosial antar manusia, dan antar masyarakat bersifat mempengaruhi satu sama lain. Namun, tidak menutup kemungkinan, walau terjadi interaksi, ada kelompok atau komunitas yang tidak menyebarkan diri, sehingga tetap berada pola-pola hidup dan kehidupan statis. Akibatnya, mereka tidak mengalami kemajuan yang berarti sehingga mereka tetap dalam keberadaanya yaitu kemiskinan.
3.      Mereka tercipta lantaran korban ketidakadilan para pengusaha
Kemajuan sebagian masyarakat global termasuk Indonesia yang mencapai masa teknologi dan industri ternyata tidak bisa menjadi gerbong penarik untuk menarik sesamanya biar mencapai kesetaraan. Para pengusaha teknologi dan industri tetap membutuhkan kaum miskin yang pendidikannya terbatas untuk dipekerjakan sebagai buruh. Dan dengan itu, lantaran alasan kurang pendidikan, mereka dibayar di bawah standar atau sangat rendah, serta umumnya, tanpa tunjangan kesehatan, transportasi, uang makan, dan lain sebagianya. Para buruh tersebut harus mendapatkan keadaan itu lantaran membutuhkan nasi dan pakaian untuk bertahan hidup. Akibatnya, menjadikan mereka tidak bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Secara langsung, mereka telah menjadi korban ketidakadilan para pengusaha konglomerat hitam yang sekaligus sebagai penindas sesama insan dan pencipta langgengnya kemiskinan. Para buruh pria dan wanita harus menderita lantaran bekerja selama 12 jam per hari bahkan lebih, walau upahnya tak memadai. Kondisi jelek yang dialami oleh para buruh tersebut juga membuat dirinya semakin terpuruk di tengah lingkungan sosial kemajuan di sekitarnya terutama para buruh migran pada wilayah metropolitan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ala, Andre Bayo, 1981 Kemiskinan dan Strategi Memerangi Kemiskinan, Liberty, Yogyakarta
2.  Nugroho, Heru, Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia, Aditya Media,Yogyakarta,1995
3.  Soekamto, Soerjono, 1987 Sosiologi Suatu Pengantar, Rajawali Pers, Jakarta
4. Soetrisno Loekman, 1997 Kemiskinan, Perempuan dan Pemberdayaan, Kanisius, Yogyakarta
5. Susanto, Astrid S, 1983 Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bina Cipta, Jakarta.