Kilasan Sejarah Antara Anyer Dan Panarukan (1809-1810)

SISKA MAYA RENTI/014 B
Anda pernah mendengar Nama Daendels?  Ya, tokoh yang sering kita dengar ini  memang  penuh kontroversi. Herman Willem Daendels atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Daendels, ialah nama seorang Gubernur Jenderal Belanda yang pernah memerintah di bumi kita tercinta ini antara tahun 1808 dan 1811. Berdasarkan buku-buku sejarah, Gubernur Jenderal Daendels dikenal sebagai seorang diktator yang sangat kejam, tidak berperikemanusiaan, dan selalu menindas rakyat demi laba pemerintah Kolonial Belanda dan pribadinya.
Daendels mendapatkan dua kiprah yang diberikan oleh Louis Napoleon, yang menjadi raja di negeri Belanda pada ketika itu. Kedua kiprah itu adalah: mempertahankan Pulau Jawa supaya tidak jatuh ke tangan Inggris dan memperbaiki sistem manajemen negara di Jawa. Dan untuk melaksanakan kiprah itu, dirinya berusaha membangun Jalan antara Anyer hingga dengan Panarukan.  Menurut beberapa sumber sejarah, Jalur jalan ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita, Caringin, menembus Gunung Pulosari, Jiput, Menes, Pandeglang, Lebak hingga Jasinga (Bogor). 

Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 – 1810 yang bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos, namun jalan-jalan itu dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya dan telah berubah fungsinya antara lain mejadi jalan ekonomi atau jalan umum dan kini sudah banyak bangunan disekitarnya.
Rute jalan Daendels di Kabupaten Serang hingga ketika ini bergotong-royong masih dihantui oleh kesimpangsiuran informasi. Karena yang beredar di masyarakat ada dua pendapat ada yang beropini bahwa jalan Daendels melewati Kabupaten Lebak, namun ada juga yang menyatakan hanya melewati Kabupaten Serang saja. Memang, menelusuri jalan Daedels dari titik km nol di Anyer hingga 1000 km di Panarukan, orang sering galau untuk memilih rute yang benar apakah melalui Serang ataukah melalui Lebak, beberapa masyarakat yang dihubungi, hanya mengenal jalan Daendels dari Anyer hingga Serang. Tidak itu saja di Banten juga banyak jalan-jalan yang bercabang dan masyarakat setempat menamakannya jalan Daendels.
Kesimpangsiuran informasi itu berdasarkan Halwany Michrob, wajar-wajar saja lantaran pembuatan jalan Deandels ketika itu melakukannya dalam dua tahapan, tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia – Banten pada tahun 1808, pada masa itu Daendels memfokuskan kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di selatan (Ujung Kulon). Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita, Caringin, menembus Gunung Pulosari, Jiput, Menes, Pandeglang, Lebak hingga Jasinga (Bogor). Tahap kedua dimulai tahun 1809, Dari Anyer melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang (utara) dan Lebak (selatan). Dari Serang, rute selanjutnya Ke Tangerang, Jakarta, Bogor, Puncak, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon hingga Panarukan, sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Jalan inilah jalan yang di sebut jalan utama atau jalan protokol, tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels.
Di daerah tertentu, banyak rute khusus yang sengaja di berdiri oleh Daendels pada masa itu terutama daerah pusat Kabupaten lantaran untuk mempermudah transportasi pengangkutan rempah-rempah keluar daerah tersebut. Banten merupakan tempat yang paling banyak mempunyai cabang-cabang Jalan Deandels lantaran Banten cukup banyak menghasilkan rempah-rempah. Anyer dijadikan titik km nol lantaran kota ini sudah di referensi Daendels untuk mempermudahkan pengangkutan hasil bumi dari Banten menuju dua pelabuhan yaitu pelabuhan Merak dan Pelabuhan Ujung Kulon. Banten sendiri sudah dilokalisasi dalam segi hasil bumi oleh Daendels lantaran Banten Subur dan Kaya akan hasil buminya terutama rempah-rempah.
Hingga ketika ini, sebagian besar jalan Daendels masih terpakai bahkan yang usang sengaja diperbaharui supaya sanggup digunakan. Jalan Daendels yang tidak sanggup digunakan lagi ialah daerah Pontang dan Bayah, lantaran hancur dan tidak diperbaiki kembali. Sementara itu Daendels sempat memerintahkan pembuatan jalan di selatan Pulau Jawa, rutenya di mulai dari sebelah barat Jawa yakni; Bayah menuju Pelabuhan Ratu, terus ke selatan ke daerah Sukabumi, Cimanuk dan seterusnya hingga ke Pangandaran, Purwokerto dan Yoyakarta. Jalan Daendels yang lebih di kenal oleh masyarkat ialah jalan pecahan utara Jawa, ini disebabkan lantaran jalan di utara melalui rute yang berhadapan eksklusif dengan rute Batavia, sedangkan jalan pecahan selatan Jawa selain kondisi jalannya rusak banyak juga yang terputus menyerupai jalan Bayah hingga Citorek.
Ada beberapa versi mengenai sejarah pembuatan jalan ini, ada yang menyampaikan bahwa Daendels menciptakan jalan Anyer – Panarukan ini lantaran ingin mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, sehingga Pulau Jawa perlu dibangun jalan guna menghubungkan suatu daerah ke daerah lain supaya sanggup mempercepat kabar informasi dan alur transportasi. Secara kronologis, pada tahun 1808 datanglah Herman Willem Daendels dari Belanda ke Banten, waktu dia tiba ke Indonesia negaranya tengah di jajah oleh Perancis. Sebagai murid yang disayangi Napoleon, kesudahannya Daendels dikirim ke Indonesia untuk menggantikan Gubernur Jendral dari Belanda yang ada di Indonesia oleh Napoleon Bonaparte (Dr. H.J. de Graaf; 363-370, 1949). Dengan segala upaya kesudahannya Daendels mendapatkan santunan dari rakyat Banten berupa rempah-rempah untuk dikirim ke Perancis dan Belanda sebagai upeti, jadi tidak mengherankan kalau dia menciptakan kerja rodi dan tanam paksa (verplichte diensten) lantaran kalau tidak, dia tidak sanggup menunjukkan upeti pada kedua negara itu.
Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute Batavia-Banten tahap pertama, pada ketika itu rakyat masih mau menghimpun kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles, namun sesudah terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas, maka rakyat menghentikan bantuannya. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur, berdasarkan beberapa sejarahwan Indonesia, yang meninggal sekitar 15.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat, dia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya.
Sementara itu ada yang beranggapan jalan Daendels dibentuk untuk jalur pos atau Jalan Pos Raya (Grote Postweq), namun Halwany beranggapan bahwa jalan Daendels sebagai siasat untuk memperlancar jalur ekonomi, politik dan pemerintahan. Makara yang dikatakan jalan pos disini maksudnya ialah sebagai sentral untuk pemerintahan supaya sistim birokrasi referensi pikirnya hingga ke bawah.
Keadaan jalan Daendels ketika ini dari titik nol km yang bertempat di Anyer Kidul, Desa Cikoneng menuju Serang maupun Pandeglang dibandingkan dengan situasi dan kondisi 180 tahun yang lalu, memang jauh berbeda baik cara hidup masyarakat setempat ataupun alam sekitarnya. Pada ketika tanam paksa pembuatan jalan hanya hutan belantara dengan kehidupan hewan yang ada dan di dukung oleh keadaan pantai yang indah menawan belum terjamah manusia. Puluhan orang pribumi atas perintah paksa menerobos hutan dan jadilah jalan tembus untuk mempernudah arus angutan hasil-hasil bumi. Menurut ceritera penduduk setempat, pada pembuatan jalan Daendles (kerja rodi) ini setiap jarak 25 meter di tanami pohon asem di pinggir tubuh jalan, itu dilakukan supaya tubuh jalan yang telah di buat tetap terpelihara adan terjaga.
Menginjak tahun 1950-an, sepanjang jalan pantai Selat Sunda ini masih sunyi, lantaran tidak seminggu sekali pun kendaraan roda empat melintas ke tempat ini kecuali kereta api yang melintas jurusan Rangkasbitung – Anyer itupun sehari sekali pulang-pergi mengangkut para penumpang, tapi semenjak tahun 1970 di Anyer tak ada lagi ada kereta api yang melintas dan yang ada tinggal sebuah stasiun renta yang sunyi dan sepi. Beberapa masyarakat beropini waktu tahun 1972, jangankan malam hari pada siang hari saja masih sering menemukan rombongan hewan seperti; monyet, kancil, manjangan, kelinci maupun sesekali terlihat macan. Sekarang jalan itu telah ramai di lalui kendaraan bermotor, tak kelihatan lagi gerobak yang biasa lewat mengangut singkong ataupun pisang malah yang banyak terlihat tembok-tembok bangunan milik penduduk berjejer bahkan vila dan hotel pun telah menutupi hampir semua daerah pantai Selat Sunda itu. Tidak hanya itu saja pabrik-pabrik pun telah memadati daerah ini termasuk tambak udang, kini tidak ada lagi kelihatatan hewan liar yang bebas bergelantungan di pohon-pohon maupun bergerombol di pinggiran jalan. Binatang ini telah pergi entah kemana.
Secara singkat mari kita lihat rute jalan Anyer hingga Panarukan
·         Ruas jalan Anyer Cilegon ruas pertama yang dilebarkan hingga 7 meter
·         Dari Cilegon membelok ke timur bahari menuju alun-alun bekas Istana Sorosowan-Banten Lama
·         Banten Lama-Serang-Tangerang
·         Daan Mogot-Pangeran Tubagus Angke-Gadjah Mada/Hayam Wuruk-Harmoni
·         Weltrevreden (Gambir)-Waterlooplein (Lapangan Banteng)-Istana Weltervreden (RSPAD Gatot Subroto)-Asrama Tentara (Hotel Borobudur)-Koningsplein (taman raja, Lapangan Monas), sanggup menampung 70.000 tentara berlatih
·         Kantor gres di utara Lapangan Banteng (jadi Gedung Departemen Keuangan)
·         Gereja katolik pertama di Jakarta (terbakar pada kebakaran besar tahun 1828)-Senen, Manggarai.-Meester Cornelis (Jatinegara)-barak-gudang senjata-pusat pendidikan militer-Pusat artileri (Penjara Wanita Bukit Duri)-Palmeriam-Depok-Cibinong-
·         Bogor-(Jl Raya Pajajaran) melalui kawasan -Warung Jambu-jln Jend.Sudirman(museum PETA)-Gereja Zebaoth-Surya Kencana-Baranangsiang Tajur-Daendels tinggal di Istana Gubernur Jenderal (Istana Bogor) dan memperluasnya
·         Megamendung-perkebunan the milik Riemsdijk. Jalur sulit. Di ruas Megamendung 500 pekerja tewas, tulis Nicolaus Engelhard (salah satu mantan Gubernur Jawa)
·         Cianjur-Padalarang-Bandung
·         Tidak melewati ibukota Bandung.
·         Daendels memerintahkan Adipati Wiranatakusumah (penguasa Bandung) supaya memindahkan ibukota Bandung di Krapyak (10 tahun di selatan) ke Kilometer 0, di depan Gedung Bina Marga, Jl Asia Afrika.
·         Jl Asia Afrika, Jl Jenderal Sudirman, Jl Jen Ahmad Yani, melalui Gedung Sate terus ke arah Cileunyi, Jatinangor
·         Ciherang, menjelang Sumedang
·         Di bawah jalan usang pemerintah sudah menciptakan jalan yang lebih landai yang keduanya bertemu di Desa Singkup (dari kata scoop atau sekop). Katanya ketika itu sekop pertama kali diperkenalkan oleh Belanda.
·         Pada ruas ini di jalan agak mendatar sebelum puncak bukit ada Kampung Pamucatan,pos pergantian kuda dan pelepasan kerbau beban.
·         Awalnya Jalan Raya Pos berakhir di Karang Sembung, 10 kilometer selatan Cirebon.
·         Tanggal 5 Mei 1808 dalam perjalanan dari Bogor ke Semarang, Daendels memerintahkan para Bupati se Jawa meneruskan pembangunan Jalan Raya Pos tahap pertama Anyer Cirebon diteruskan hingga ke Jawa Timur
·         Cirebon-Semarang
·         Di Semarang melewati Lawang Sewu (Kantor Pusat Jawatan Kereta Api Belanda), dan Jl Bojong (Jl Pemuda)
·         Waktu tempuh Semarang Batavia yang semula dua ahad dipersingkat menjadi 4 hari
·         Jalan raya yang terutama sering digunakan sebagai jalan pengiriman pos antar kota di Jawa, didukung 1000 kuda dan pos pergantian tiap 10 kilometer, mengakibatkan jalan ini di sebut Jalan Raya Pos
·         Semarang-Gresik
·         Di Pati dan Demak memotong Alun-alun Kota ditengahnya(mengubah tata kota dan kosmologi Jawa), menyurutkan kekuatan kosmis istana raja-raja
·         Surabaya
·         Melalui daerah jembatan merah, Jl Veteran terus ke selatan.
Penjara Kalisosok
·         Wonokromo-Sidoarjo-Porong-Bangil-Pasuruan-Probolinggo-Kreaksaan-Besuki-Pasir putih Panarukan
Jalan raya pos ini sudah mengalami perubahan yg signifikan menyerupai pengaspalan hotmiks yg sanggup digunakan sehari-hari.
Perlu diketahui
ü  Umur jalan ini ialah 201 thn (1808-2009)
ü  Landmark Anyer ketika itu ialah sebuah Mercu Suar, 5,4 km di selatan perkampungan Anyer.dan dijadikan patokan km 0 Anyer
ü  Perlu diingat bahwa semua bangunan di ruas jalan raya Anyer-Cilegon yang berbatasan atau akrab dengan laut, termasuk Menara Suar di selatan Anyer itu, musnah dilanda tsunami akhir meletusnya gunung Krakatau pada Agustus tahun 1883 oleh lantaran itu dibentuk sebuah tugu Kilometer 0, Anyer-Panarukan (dan diberi angka tahun 1806)
ü  Pengembangan pembangunan hingga 200 tahun setelahnya, menggeser jalan tersebut kepada jalan yang ada sekarang
ü  Ada juga yang menyampaikan Jalan Raya Pos dari Alun-alun Serang eksklusif mengarah ke Banten usang kea arah Benteng Speelwijck melalui akrab stasiun kereta api Kramatwatu
ü  Salah satu pemicu pertempuran VOC dgn Raja setempat ialah jalur jalan raya pos yg melintas di pemakaman Raja-raja & Sultan-sultan setempat
ü  Pembangunan jalan Tol Merak Jakarta lebih mengurangi arti Jalan Raya Pos sebagaimana semula dimaksudkan pada ketika pembangunannya
ü  Setelah ratusan tahun dikembangkan, jalan raya Serang Jakarta ini cukup menanggung beban yang kian berat
ü  Setiap jarak 30-40km terdapat Gardu Pos untuk menggantikan kuda yang membawa Kereta-Pos. Lama-kelamaan disekitar gardu Pos terbentuk Desa atau kota. Dulu bergotong-royong hanya tempat sangkar kuda kereta pos. Sehingga pengiriman Pos terus berjalan hingga ditujuan. Sekarang kalau diperhatikan jarak antara tiap kota sepanjang Pantura sekitar 30-40km.
ü  Ruas megamendung (puncak) ialah ruas yg paling sedikit memakan korban terhitung 500 pekerja tewas
ü  Ruas Sumedang ialah yg paling bnyak memakan korban terhitung 5000 pekerja tewas
ü  Medan tersulit ialah Ruas Sumedang lantaran harus membobok kerikil cadas berkilo2 meter
ü  Hebatnya walaupun panjangnya 1000km,tp jalan ini selesai dlm tempo 1 thn
DAFTAR PUSTAKA
Ø  Asril, M.Pd.Sejarah Indonesia (zaman penjajahan bangsa Eropa). FKIP-Universitas Riau. 2015
Ø  Marwati Djoened Poesponegoro.Sejarah Nasional Indonesia III.Balai Pustaka:Jakarta,2008
Ø  Drs.Supardiono.sejarah untuk SMP/MTs.CV.Gema Nusa.2010
Ø  Kemala Ekspresi. SPd.Buku bimbing sejarah.SMAN 1 Kec. Harau.2012