Kisah Aktual Membeli Kursi Untuk Menjadi Pegawai Negeri

Artikel ini saya tulis berdasarkan kisah nyata, sulitnya untuk menjadi insan yang beruntung dan  uang telah di jadikan primadona dunia, sangat gampang sanggup menggiurkan logika manusia, jangankan logika, keimananpun sanggup di ombang-ambing sehingga hak orang lain di anggap menjadi hak halal bagi diri, orang tua, anak, cucu, hingga tiba saatnya  pertanggung jawaban  di minta oleh tuhan.
           
Adanya  pembukaan test CPNS merupakan kabar bahagaia untuk mempertaruhkan nasib di masa bau tanah bagi sang guru honorer, ada yang sudah bertahun-tahun mengabdi belum di angkat, ada yang gres beberapa tahun mengabdi nasib baiknya tiba. Takdir yang kuasa memang tidak sanggup di tebak, ada saja cara-cara bagaimana cara insan untuk mendapat uang secara instan, dengan memanfaatkan sesuatu yang baginya menjamin akan mendapat sang primadona dunia yaitu uang. Ketika peluang test CPNS tiba, berdatangan calo-calo untuk menggiurkan usulan haram bagi sang calon PNS, yaitu membeli dingklik untuk menjadi pegawai negeri, dengan system jikalau kita sebagai CPNS di terima sebagai PNS maka kita harus membayar dingklik untuk kawasan kita berada di posisi sebagai pegawai negeri, usulan yang ditawarkan tidak nanggung-nanggung, berkisar 45 juta- 80 juta rupiah. Wow amazing, itu uang? Untuk menyogok manusia? Apa untuk membayar takdir yang diberi yang kuasa dengan cara  memaksa? Ingat, bahu-membahu orang yang menyogok atau orang yang disogok yaitu pelaku dosa besar.
           
Pernahkan kalian membayangkan, hak siapa yang telah kita ambil jikalau kita menjadi pelaku sogok menyogok? Hak siapa yang telah kita rebut secara paksa? Saya akan menceritakan kronologi ajal seorang guru agama di salah satu SDN di kota tangerang, Beliau berjulukan Muhammad Zein ( Allahummagfirlaha Warhamha) , seorang langsung yang ulet ibadah, seorang langsung yang baik, seorang langsung yang selalu berjuang demi memajukan pendidikan dengan ikhlas. Ya, dia yaitu korban ketidak adilan  dunia tanggapan orang-orang yang serakah dan tidak mawas diri.
           
Mereka tidak pernah memfikirkan nasib orang lain, yang dia fikirkan yaitu nasibnya sendiri, dia tidak pernah memfikirkan menghancurkan impian seseorang, dia tidak pernah mengingat bahaya yang kuasa dalam al-qur’an. Ya, itu dia para menyogok dan calo-calo untuk jual beli dingklik PNS ataupun hal yang serupa, bagaimana tidak, ketika Alm.Muh.zen berguru dengan giat, membuka, membolak membalik, buku panduan test CPNS, mengulik bank soal, berguru berdo’a dengan sungguh-sungguh selama bertahun-tahun, dan tibalah dikala test di mulai, dan beliaupun bertekad dalam hati bias dikatakan bernadzar, “ Ya allah jikalau saya diterima sebagai PNS maka saya akan menambah keturunan saya untuk melanjutkan turunan agama islam” do’a Alm.Muh Zen pun dikabulkan oleh Tuhan SWT, pengumuman telah tiba, nama Muhammad Zein pun dinyatakan lolos ujian PNS, Alhamdulillah, wasyukurillah, sorak bangga dirinya, anak dan istrinya,syukruan telah di adakan, bahkan istrinya kini sudah mengandung anak yang di janjikan dirinya pada yang kuasa bahwa ia ingin menambah anak lagi, kebahagiaan tiba, impian gres tiba, nasib baik telah tiba untuk masa tuanya.
Namun, sekali lagi, impian itu hancur, impian itu sirna ketika melihat pemberitaan dikoran bahwa namanya tidak ada lagi, namanya telah di ganti oleh posisi orang yang memaksakan kehendak, namanya telah diganti oleh orang yang membayar takdir yang kuasa dengan cara memaksa, astagfirullah, ingatlah ajab Tuhan sangatlah pedih. Sebulan kemudia Muh.Zen mulai sakit, mulai sakit dan mulai sakit-sakitan sehingga dia di diagnose dan dinyatakan mempunyai penyakit kanker hati, padahal sebelumnya dia baik-baik saja, dia tidak merokok dia orang yang peduli akan kesehatan, ini tanggapan akad yang telah dikabarkan bahwa Muh.Zen dinyatakan lulus sebagai PNS, namun jelang beberapa bulan namanyapun telah digantikan oleh orang yang tidak tahu diri.
           

Belum lagi, kesedihannya yang mendalam di tambah dengan lahirnya anak yang kurang sempurna,  itu menambah beban Muh.Zen, di benaknya, dengan apa saya menghidupi anak istriku, dengan apa?  Setres melanda dan merenggut nyawa Alm.Muh Zen. Akhir kisah banyak hal positif yang sanggup kita cermati, terkadang sesuatu yang berdasarkan kita baik belum tentu baik berdasarkan orang lain, sesuatu yang kita inginkan belum tentu itu yaitu sesuatu yang kita butuhkan, hak orang lain itu bukan hak kita, jangan pernah berfikir itu yaitu halal, biar ajal Alm.Muh Zein ini, akan membawa dia pada surge allah, dengan keikhlasannya selama di dunia, biar amal baiknya di terima di sisi Tuhan SWT. Amin. /Raden Milan Nurmilah