Kisah Nyata Rajin Sholat Dhuha, Nelayan Ini Selalu Pulang Bawa Banyak Ikan Meski Sepi bagi Nelayan Lainnya

Kisah Nyata Rajin Sholat Dhuha, Nelayan Ini Selalu Pulang Bawa Banyak Ikan Meski Sepi bagi Nelayan Lainnya , PintarBaca.Com – Sudah belasan tahun lamanya Pak Hamidun ( Nama samaran bukan nama Aslinya) menekuni profesi sebagai nelayan.  Sebagian besar waktunya dihabiskan di laut untuk mencari ikan.
Usaha nelayan ini merupakan lanjutan dari usaha yang pernah ditekuni oleh orang tuanya.
Darah negara nelayan yang mengalir pada dirinya, Ia sudah merasakan enaknya melakukan pekerjaan di bidang yang berhubungan kental dengan laut dan ikan. Sementara, saudara-saudara yang lainnya bekerja di bidang yang katanya lebih maju dan lebih modern.
“Berada di lautan Sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari dalam hidup saya. Air, ikan,perahu , ombak sudah sangat akrab bagi saya.”
Ia melanjutkan ceritanya tentang kondisinya ketika di lautan. saya bisa melupakan semua itu sejenak,saat saya mengerjakan sholat wajib dan sholat dhuha di atas perahu. meskipun perahu bergoyang-goyang,terkadang belok arah,tapi saya hanya merasakan ” bahwa saya sedang berhadapan dengan Allah pada pagi yang hangat oleh terpaan sinar matahari dhuha dan sepoi-sepoi angin laut yang menerpa”.
Bisa kita bayangkan suasana lautan yang diceritakan nelayan ini.
Dalam keheningan rasa,bersama suara-suara ombak yang menerjang dinding perahu perlahan ku pahami dan tenggelam dalam ketenangan jiwa yang benar-benar damai. hamparan laut yang luas putih kebiruan seakan-akan memberikan harapan jauh kedepan,bahwa tidak ada celah untuk bersedih,mengeluh dan berputus asa dalam menjalani hidup. kalau sudah di dalam kekhusyukan seperti ini,saya sudah tidak berpikir lagi tentang seberapa banyak ikan-ikan yang harus saya dapatkan.

Kisah Nyata Rajin Sholat Dhuha

Teman-teman yang kerap kali meledek saya, ” Hei ! ikan-ikan sudah menunggu di bawah perahumu.”
Saya menganggap ledekan teman-teman itu hanyalah banyolan,dan hal itu sudah biasa di kalangan para nelayan. ternyata tidak semua yang dikatakan oleh teman-teman itu sebagai banyolan.
Sebab,setiap kali ia melihat kebawah perahu,ikan-ikan memang banyak berseliweran. ” dalam hati saya merasa, ikan-ikan itu sangat dekat dengan diri saya, seolah-olah mereka itu sahabat-sahabat saya di lautan.
Terkadang, muncul perasaan tidak sampai hati untuk mengangkat ikan-ikan itu ke daratan dan mengangkutnya untuk dijual,dikarenakan mereka juga tentu ingin hidup. Namun, nampak dari mata dan mulut mereka yang klakep-klakep itu seakan saya mendengar mereka berteriak bahalah kami !”
Pak Hamidun mengakui, dengan rasa syukur dan memohon ampun pada Allah, Ia dan beberapa orang pendampingnya selalu mengangkut ikan-ikan itu setiap harinya untuk dijual.
Pak Hamidun merasa,tangkapan ikannya setiap hari jumlahnya biasa-biasa saja,karena menangkap ikan ikannya pun apa adanya. Tetapi Para nelayan yang lain melihat Pak Hamidun selalu mendapat tanggapan yang banyak.
Kata Mereka, ” Buktinya ketika kami mendapatkan tangkapan ikan yang sedikit,kamu tetap dapat ikan yang banyak,dan kamu kelihatannya tidak pernah sepi membawa pulang ikan-ikan yang banyak itu !”.
Komentar para nelayan yang lain itu membuatnya semakin sadar bahwa ia harus lebih baik lagi mensyukuri nikmat Allah ini,meskipun Ia tetap merasa tangkapannya itu biasa-biasa saja hasilnya.
” Dalam Sholat Dhuh, Saya yang masih terayun-ayun di atas perahu kerap kali menitikkan air mata sebagai ungkapan rasa ketidak mampuan saya dalam mengira-ngira Jumlah nikmat Allah yang sudah diberikan kepada saya. Dan itu tidak akan pernah mampu saya balas sampai kapanpun ” Papar Pak Hamidun.

Hanya rukuk dan sujud dihadapan Allah sebagai bukti kepasrahan saya. bertambah luas Nikmat-Mu ya Allah,melebihi lautan di bumi ini,tak akan pernah habis tanpa izin-Mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.