Kolonialisasi Inggris Di Australia Selatan

EGI SEPTIA WINDARI / SAO
Pada tahun 1834 dibuat suatu Perhimpunan Australia Selatan dan dilakukan pendekatan terhadap pemerintah. Parlemen Inggris kemudian mengeluarkan satu undang-undang yang memotong 300.000 mil persegi wilayah New South Wales untuk mendirikan koloni Australia Selatan. Koloni Australia Selatan merupakan koloni yang kelima. Namun pemerintah tidak bersedia untuk mengeluarkan biaya. Biaya untuk itu diusahakan oleh suatu Dewan Komisaris yang juga bertugas mengawasi penjualan tanah. Sekalipun sudah ada Dewan Komisaris,
pemerintah tetap menghendaki semoga koloni gres itu diangkat seorang gubernur yang apabila dikehendaki berkuasa selama 20 tahun. Dengan demikian kekuasaan atas Australia Selatan, sempat terbagi dua (dualisme kekuasaan). Di satu pihak kekuasaan dipegang oleh gubernur yang diangkat dan bertanggung jawab kepada “Colonial Office” di London, dan di pihak lain ada kekuasaan Dewan Komisaris yang secara teoritis mewakili koloni itu.
Para pengikut Wakefield membentuk Kongsi Australia Selatan dan mengumpulkan uang, dan dengan penuh impian mereka berangkat dari Inggris pada tahun 1836. Rombongan pertama ini tiba dalam bulan Juli di Pulau Kangaroo. Ternyata pulau ini kurang cocok untuk dijadikan pemukiman pada waktu itu. Oleh lantaran itu, Kolonel Light, seorang surveyor yang ditunjuk oleh pemerintah, meneliti dan kesannya memlih lokasi di mana kini berdiri kota Adelaide. Nama kota ini diberikan berdasarkan nama istri raja yang memerintah pada waktu itu, raja William IV.
Gubernur pertama untuk koloni itu ialah Kapten Hindmarsh. Selain gubernur ada jug
a komisaris residen yang ditunjuk oleh Dewan Komisaris, dan  yang bertugas mencari uang untuk segala keperluan koloni itu. Adanya dualisme kepemimpinan ini mengakibatkan banyak persoalan. Akhirnya pemerintah Inggris memanggil pulang kedua pejabat tersebut. Pemerintah mengangkat gubernur kedua yaitu Kolonel Gawler dan menghapuskan dualisme kekuasaan di koloni itu.
Ketika Gawler tiba, keadaan koloni itu sangat buruk, menyimpang dari teori Wakefield. Teori Wakefield terdiri dari dua butir yaitu :
1.       Tanah di koloni gres itu hendaknya dijual dengan harga yang cukup mahal (istilah yang digunakan ialah sufficient price), sehingga seorang imigran pekerja tidak gampang membelinya. Uang hasil penjualan tanah tersebut hendaknya digunakan untuk mengongkosi migrasi penduduk ke koloni gres tersebut dalam rangka menjamin tersedianya tenaga kerja di koloni itu.
2.       Tanah hendaknya dijual dalam partai besar, Bereson dan Rosenblat (1979) menyebut “thirty-hectare sections,” dan dibayar tunai lewat suatu lelang.
Akibatnya uang tidak ada, pekerjaan untuk buruh tidak ada, tanah yang diolah sangat sedikit, biri-biri dan ternak lainnya hanya beberapa dan para pejabat tidak dibayar. Bagaimana keadaan menyerupai ini bisa terjadi di koloni yang didasarkan pada suatu teori yang rasional, kiranya perlu dilakukan sedikit telaahan.
Mengikuti teori Wakefield, Dewan Komisaris di London berusaha untuk mencegah terjadinya perkebunan besar. Mereka berusaha menghindari kekeurangan tenaga pekerja dengan cara mengirimkan para pekerja dan mempertahankan harga tanah, bahkan tanah kemudian dinaikkan dari 12 Shilling menjadi £ 1 per acre. Apa yang tak sanggup mereka cegah ialah keinginan penduduk yang ingin segera menjadi orang kaya. Apa yang bekerjsama terjadi adalah, bahwa tanah dijual sebagaimana mestinya dan uang hasil penjualan tanah dikirimkan ke Inggris untuk membiayai pemgiriman imigran gres ke Australia Selatan. Makin banyak orang tiba ke Australia Selatan, makin banyak juga tanah yang mereka beli. Di sinilah terjadi penyimpangan, lantaran tanh-tanah yang mereka beli itu tidak mereka olah akan tetapi mereka jual lagi untuk mendapatkan keuntungan. Pendatang pertama yang menentukan lokasi dan kualitas tanah yang paling diinginkan, melihat bahwa mereka sanggup memperoleh laba yang lebih besar dengan jalan menjual tanah itu dengan harga tanah yang lebih tinggi kepada pendatang gres daripada menanaminya atau menjadikannya ladang peternakan. Setelah menjualnya, mereka ini membeli lagi tanah yang lebih luas, kemudian menjualnya kembali kepada pendatang baru, tentu dengan harga yang lebih tinggi.
Pendatang kedua mengikuti jejak pendatang pertama tersebut, demikian juga pendatang ketiga. Demikianlah meeka menjadi spekulan-spekulantanah, bukan lagi manjadi petani atau peternak. Bahkan kongsi Australia Selatan yang dibuat untuk melaksanakan kolonisasi disana, tidak usang kemudian berubah dari promotor kolonisasi menjadi spekulan tanah. Praktek-praktek menyerupai ini sering juga disebut “a land boom” yang di seluruh koloni Australia selalu mengakibatkan kerusakan. Keadaan menyerupai ini sukar dihentikan. [1]
Tanpa ada perkebunan yang berjalan, para
imigran pekerja tidak akan mendapatkan pekerjaan. Mereka ini berkelompok di Adelaide, di depan kantor gubernur, menuntut masakan serta kepentingan kemanusiaan lainnya. Harus pula diingat bahwa masakan pada waktu itu sukar didapat disana lantaran pertanian tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karena pada dikala itu belum banyak tumbuhan pangan di sana, terpaksa masakan di datangkan dengan jalan membeli dari New South Wales dan Tasmania. Ini berarti uang koloni gres itu mengalir ke koloni yang sudah lebih usang untuk membeli makanan. Tidak diherankan jikalau dalam kas pemerintah pada waktu Gawler tiba hanya ada uang tersimpan sebesar 6d dan 6s.
Dalam keadaan kesusahan menyerupai itu, Gawler tetap berusaha. Ia mengatur para pekerja untuk melaksanakan pekerjaan umum, membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, dan dermaga. Karena Gawler tidak mempunyai uang untuk membayar para pekerja tersebut, ia mengeluarkan janji  tertulis, bahwa Dewan Komisaris di Inggris akan membayarnya kemudian. Janji tertulis ini berfungsi sebagai uang kertas (sering disebut IOU atau bill), dipakai  ketoko untuk membeli masakan dan kebutuhan yang lain. Akan tetapi ketika bill itu disampaikan kepada Dewan Komisaris, dewan tersebut tidak bersedia  membayarnya, begitupun pemerintah. Semuanya ini mengakibatkan kerugian pada pihak penjual yang telah menyerahkan barang atas dasar kepercayaan pada kesepakatan tertulis yang berfungsi sebagai uang kertas atau bill tersebut. Dalam keadaan menyerupai ini nampaknya gampang menyalahkan Gawler. Namun perlu disadari bahwa Gawler melakukannya untuk pembangunan koloni itu. Seandainya ia tinggal membisu dengan alasan tidak ada dana, orang juga akan menyalahkan beliau sebagai gubernur yang tidak mempunyai inisiatif. Bukankah sesungguhnya Dewan Komisaris atau pemerintah Inggris bertanggungjawab atas pembangunan di koloni itu? Perlu juga diingat bahwa untuk melaksanakan pembangunan itu Gawler telah mengorbankan seluruh kekayaan pribadinya.
Sementara kemelut keuangan ini belum tuntas , Gawler digantikan oleh George Grey pada bulan Mei 1841. Penggantian ini terutama dikaitkan dengan bills (perjanjian tertulis yang berfungsi sebagai alat tukar atau transaksi) yang dianggap dikeluarkan oleh Gawler melebihi kekuasaan yang dilimpahkan kepadanya. Grey, seorang perwira yang pada waktu itu gres berusia 28 tahun diharapkan sanggup mengatasi keadaan.
Suatu komisi Majelis Rendah (house of commons) selanjutnya melaksanakan penelitian terhadap masa pemerintahan Gawler. Komisi ini mengakui bahwa kondisi koloni  pada dikala Gawler tibalah yang menimbulkan ia merasa perlu mengambil tindakan itu. Kondisi ini mempersalahkan Undang-undang yang mengatur pembentukan koloni tersebut, dan juga memandang bahwa Dewan Komisaris tidak menunjukkan pandangan kedepan yang terang ihwal perlunya dualisme pengelolaan Australia Selatan. Kegagalan Gawler mengakhiri pengawasan Dewan Komisaris, dan suatu Undang-undang gres yang berisi mengatur pemrintahan yang lebih baik bagi Australia Selatan, dikeluarkan pada tahun 1842. Undang-undang ini memutuskan Australia Selatan sama dengan koloni lain, suatu koloni yang dalan ketatanegaraan Inggris biasa disebut Crown Colony. [2]
Ketika George Grey tiba, ia mendapatkan koloni itu dalam keadaan bangkrut. Banyak orang yang ketika tiba ke koloni itu membawa dan menginvestasikan uang, pada dikala itu menjadi orang yang tidak mempunyai uang sama sekali. Di atas pundaknya diletakkan tanggungjawab untuk menolong koloni itu, menjadikannya bisa berswasembada dan menggantikan iklim spekulasi tanah dengan kondisi yang produktif. Dengan keteguhan hati, Grey berusaha memperbaiki keadaan koloni itu, bahkan jikalau perlu melaksanakan tindakan yang tergolong terlalu berani, contohnya mengurangi honor pegawai dalam rangka penghematan. Dalam usahanya itu Grey beropini bahwa tidak ada sesuatu yang sanggup dilakukannya dengan baik jikalau pemerintah Inggris tidak bersedia membayar semua bills (janji tertulis yang berfungsi sebagai alat tukar atau transaksi) pada masa pemerintahan Gawler. Pada awalnya pemerintah Inggris tidak mau bertanggungjawab atas hutang-hutang yang diakibatkan oleh tindakan Gawler itu, namun atas bujukan dan kesepakatan Grey menjadikan koloni itu sanggup berdiri sendiri, kesannya pemerintahan Inggris membayar semua bills yang ternyata berjumlah lebih dari £ 200.000. Penyelesaian keuangan ini mengembalikan kepercayaan para kolonis kepada gubernur dan pemerintah sehingga mereka sungguh-sungguh melaksanakan anjuran-anjuran gubernur. Pertanian mulai berkembang demikian juga peternakan di sepanjang Sungai Murray dan juga pembangunan di koloni Australia Selatan berjalan lancar.
Dalam usahanya memajukan koloni itu, Grey tertolong oleh inovasi tambang tembaga di Kapunda, 80 kilo meter di sebelah utara kota Adelaide
, dalam tahun 1842. Kemudian ladang tembaga yang kaya ditemukan di Burra Burra. Penemuan ini menimbulkan ledakan tambang di Australia Selatan sebelum gold rush di New South Wales dan Victoria. Selain itu, inovasi tamabang ini mendorong perkembangan ekonomi di wilayah Australia Selatan. Tambang di Burra  Burra terbukti sangat menguntungkan. Suatu perusahaan yang membayar £ 10.000 untuk tambang tersebut, dalam waktu enam tahun memperoleh laba sebesar £ 400.000. semenjak dikala itu Australia Selatan bisa membiayai seluruh kegiatannya dan dengan demikian kesepakatan Grey menjadikan koloni itu berswasembada telah terpenuhi.
Gubernur George Grey mengakhiri masa pemerintahannya di Australia Selatan ketika ia diangkat menjadi gubernur di New Zealand. Pada dikala itu terjadi perlawanan keras bangsa Maori terhadap kekuasaan Inggris disana. Ketegaran, kebijaksanaan, serta keberhasilan pemerintahannya, menimbulkan ia menerima kebanggaan dari Perdana Menteri Inggris sebagaimana diungkapkan di depan Majelis Rendah dengan mengatakan, ” I must say that in four or five years of administration he has solved the problem with a degree of energy and succes which could hardly have been expected from any one. He has extricated the colony and gained the good-will of both settlers and aboroginals” (scott, 1943, hlm.153). [3]
Pengganti dari Jenderal Grey ialah Letnan Kolonel Frederik Robe Holt yang menjabat mulai tanggal 25 Oktober 1845. Dia berusaha menegakkan peraturan yang menguntungkan pemerintah Inggris terkait dengan hasil tambang mineral di Australia Selatan, namun upaya ini ditolak oleh Dewan Legislatif Australia Selatan. Upaya yang dilakukannya untuk memasukkan unsur agama dalam pemerintahan koloni Australia Selatan juga ditolak oleh Dewan tersebut. Mulai tanggal 2 Agustus 1848 Frederik Holt dibebastugaskan dari jabatan Gubernur Jenderal Australia Selatan kemudian bertugas di Mauritius.
Jabatan Gubernur Jenderal Australia Selatan selanjutnya dipegang oleh Sir Henry Fox Young. Dia menjabat hingga tanggal 20 Desember 1854. Pada masa pemerintahannya, untuk pertama kalinya Australia Selatan mempunyai sebuah dewan legislatif formal dengan nama South Australian House of Assembly dengan jumlah 36 anggota. Pada tahun 1851 Gubernur Jenderal Young menyampaikan hadiah sejumlah 2000 poundsterling kepada orang pertama yang bisa melintasi muara Sungai Murray dengan kapal uap. Pada tahun 1853 beliau membangun rel kereta api untuk memudahkan transportasi dari pelabuhan sungai Goolwa menuju Port Elliot.
Gubernur Jenderal selanjutnya yaitu Sir Richard Groves Mc Donnell menjabat mulai tanggal 8 Juni 1855 hingga 4 Maret 1862. Pada awal pemerintahannya beliau menghadapi masalah pengangguran sejumlah 800 imigran pendatang yang semuanya wanita. Mc Donnell mengatasi masalah ini dengan membatasi jumlah pendatang perempuan pada masa selanjutnya. Kebijakan penting lain yang ditempuh oleh Mc Donnell ialah pemisahan wewenang antara dewan legislatif dan Gubernur Jenderal melalui sebuah konstitusi yang disetujui oleh dewan legislatif Inggris pada tanggal 24 Juni 1856. Melalui konstitusi ini wewenang Gubernur Jenderal terkesan lebih kecil dibanding parlemen, namun telah sanggup menuntaskan masalah tumpang tindih wewenang yang sebelumnya sering terjadi. Pada tanggal 4 Maret 1862, Mc Donnell mengakhiri masa jabatannya di Australia Selatan dan digantikan oleh Sir Dominick Daly.
Sir Dominick Daly menjabat sebagai Gubernur Jenderal Australia Selatan hingga meninggal di Adelaide pada tanggal 19 Februari 1868. Sebelumnya beliau pernah bertugas sebagai gubernur di Trinidad dan pulau Prince Edward. Tak banyak catatan penting ihwal masa jabatannya sebagai Gubernur Jenderal Australia Selatan.
Gubernur Jenderal Australia Selatan berikutnya ialah Sir James Fergusson yang memerintah hingga tanggal 18 April 1873. Dia berasal dari keluarga militer Inggris. Setelah mengakhiri masa jabatannya di Australia Selatan, Fergusson bertugas sebagai Gubernur Jenderal Selandia Baru.
Gubernur Jenderal Australia Selatan ke 9 ialah Sir Anthony Musgrave. Selama masa pemerintahannya, Musgrave banyak menciptakan kebijakan penting. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain ialah pengajuan pinjaman untuk pembangunan rel kereta api, kenaikan pajak, dan pengembangan pemukiman hingga ke pedalaman Australia Selatan. Musgrave mengakhiri masa jabatannya di Australia Selatan pada tanggal 29 Januari 1877 kemudian digantikan oleh Letnan Jenderal William Jervois.
Catatan terpenting selama pemerintahan William Jervois ialah keberhasilannya bersama dengan Letnan Colonel Peter Scratchley merancang sebuah sistem pertahanan koloni yang kemudian diterapkan secara luas di Australia dan Selandia Baru pada tahun 1877. Sistem tersebut dikenal sebagai sistem pertahanan Jervois-Scratchley. Jervois mengakhiri tugasnya di Australia Selatan pada tanggal 9 Januari 1883 dan digantikan oleh Sir William Robinson.
Pada masa kepemimpinannya yang berlangsung hingga tanggal 5 Maret 1889, Sir William Robinson menerapkan reformasi pajak tanah pada tahun 1884 dan pada tahun1886 menerbitkan makalah Geografi Australia Barat dan Selatan. Selain sebagai eksekutif kolonial, Sir William Robinson juga seorang musisi berbakat yang menghasilkan beberapa karya dan dipercaya menghibur hadirin pada perayaan ulang tahun Ratu Inggris tahun 1887. Jabatannya sebagai pimpinan koloni Australia Selatan digantikan oleh Earl Kintore.
Earl Kintore dihadapkan pada masalah pemogokan buruh tambang yang terjadi pada tahun 1890 dan 1892. Dia menuntaskan masalah-masalah tersebut pada tahun 1893 melalui reformasi birokrasi. Earl Kintore mengakhiri masa jabatannya pada tanggal 10 April 1895 digantikan oleh Sir Thomas Buxton.
Konflik dengan Parlemen yang merasa tidak dilibatkan oleh Kerajaan Inggris menimbulkan Buxton dan keluarganya berada dalam kesulitan ekonomi akhir pengurangan honor dan penerapan pajak yang ditetapkan oleh dewan legislatif terhadap keluarga Buxton. Thomas Buxton ialah seorang Humanis yang peduli terhadap Hak Asasi Manusia masyarakat Australia Selatan, termasuk warga suku Aborigin. Pada masa pemerintahannya banyak dibangun kemudahan kesehatan untuk masyarakat. Sir Thomas Buxton digantikan oleh Lord Tennyson pada tanggal 29 Maret 1899.
Pada masa pemerintahan Lord Tennyson yang berlangsung hingga tanggal 17 Juli 1902, pemerintah koloni Australia Selatan melaksanakan kebijakan efisiensi keuangan. Sikap bersahaja yang ditunjukkan oleh Lord Tennyson meninggalkan kesan yang baik ketika ia mengakhiri masa jabatannya pada tanggal 17 Juli 1902.
Sebagai implikasi dari penerapan Australia Colonies Government Act oleh pemerintah Inggris, maka pada tahun 1856 Australia Selatan secara efektif mempunyai pemerintahan sendiri. Daerah pemukiman meluas hanya sekitar Adelaide saja. Namun ekspansi pemukiman itu dibatasi oleh kondisi alam Australia Selatan yang sebahagian itu dibatasi oleh kondisi alam Australia Selatan yang sebahagian besar terdiri dari guru pasir atau semi-gurun pasir dengan curah hujan yang sangat rendah. Dalam kaitan ini, surveyor-General Goyder pada tahun 1865 memutuskan bahwa batas tempat pertanian yang kondusif hanya sejauh 150 km disebelah utara Adelaide. Diluar tempat itu sudah mulai terbentang semi gurun pasir. Oleh lantaran itu pertumbuhan koloni itu terutama terbatas dibagian tenggara saja. Kemudian pada tahun 1901, Australia Selatan bergabung dengan The Commonwealth of Australia (Persemakmuran Australia). [4]
Note :
[1] Siboro, J., (1989). Sejarah Australia. Bandung: Tarsito.
[2] Drs.Santoso & Dra.Anik Andayani. Sejarah Australia dan Oceania. Surabaya: UNIPRESS IKIP Surabaya
[3]
[4]