Kongres Cowok Ii Dan Lahirnya Sumpah Pemuda

Anisa Mutiara Priyadi/SI/IV

            Lahirnya Sumpah Pemuda jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928 yang merupakan suatu insiden penting dalam sejarah usaha bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Peristiwa yang sanggup dikatakan sebagai masa penegasan, alasannya yakni pada tanggal tersebut ikrar untuk persatuan dinyatakan.

            Sumpah cowok yakni bukti otentik bahwa memang pada tanggal 28 Oktober 1928, bangsa Indonesia dilahirkan dengan penuh semangat perjuangan, maka dari itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober ini sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Prosedur kelahiran bangsa Indonesia ini yakni buah dari usaha rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis ketika itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para cowok ketika itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan juga martabat hidup insan Indonesia asli. Tekad inilah yang kemudian menjadi kesepakatan usaha rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.[1]
            Sesuai dengan namanya, Sumpah Pemuda dirumuskan oleh para pemuda. Mereka kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme. Para cowok tidak lagi berjuang sendiri, melainkan bersama-sama. Dan perlu kita ketahui bersama, bahwa Sumpah Pemuda ini tidak lahir begitu saja. Banyak perihal yang melandasi para cowok bertekad untuk bersatu. Mereka berpikir tidak akan sanggup menciptakan Indonesia merdeka jikalau berjuang di kelompoknya sendiri.[2]
            Kongres Sumpah Pemuda II merupakan kongres yang diadakan atas inisiatif para Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), personalia dan kepengurusannya terdiri dari berikut ini : [3]
Ketua              : Sugondo Djojopuspito (PPPI)
Wakil Ketua    : Djoko Marsaid alias Tirtodiningrat (Jong Java)
Sekretaris        : Moh. Yamin (Jong Suematranen Bond)
Bendahara       : Amir Syarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I      : Djohan Muh. Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II    : Kotjosungkono (Pemuda Indonesia)
Pembantu III   : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV   : J. Leimena (Jong Ambon)
Pembantu V    : Rohjani (Pemuda Kaum Betawi)
            Sumpah Pemuda sebagai hasil putusan kongres atas inisiatif PPPI dengan dilangsungkan Kongres Pemuda Indonesia II untuk mempersatukan segala perkempulan cowok Indonesia yang ada dalam satu tubuh campuran Kongres yang menghasilkan sebuah ikrar yang kemudian dikenal dengan nama “Sumpah Pemuda”. Jalan Kramat Raya 106 yakni tempat dibacakannya Sumpah Pemuda. Lokasi tersebut yakni sebuah rumah pondokan yang dijadikan tempat untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong. [4]
            Sumpah cowok yakni satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan impian berdirinya Negara Indonesia. Yang dimaksud dengan “Sumpah Pemuda” ini yakni sebuah keputusan Kongres Pemuda II yang diselenggarakan dua hari, yaitu pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), keputusan ini menegaskan impian akan adanya “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia” yang kemudian disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan dimuka rapat perkumpulan-perkumpulan.[3]
            Rumusan Sumpah Pemuda ini ditulis oleh Moh. Yamin pada sebuah kertas, ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Kemudian sumpah tersebut dibacakan oleh Soegondo dan dijelaskan secara terperinci oleh Moh. Yamin.
            Gagasan penyelenggaraan Kongres Sumpah Pemuda II yang m
enurut atas inisiatif PPPI ini dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi menjadi tiga kali rapat, sebagai berikut ini :
Rapat Pertama :
            Sabtu, 27 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB) Waterlooplein (yang kini yakni Lapangan Banteng). Dalam sambutannya ketua PPPI yaitu Soegondo Djojopuspito berharap kongres ini sanggup memperkuat semangat persatuan dalam setiap sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moh. Yamin ihwal arti dan kekerabatan persatuan Indonesia yaitu sejarah bahasa, aturan adat, pendidikan dan kemauan.
Rapat Kedua :
            Minggu 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop membahas problem pendidikan. Kedua pembicara yaitu Poernowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoso beropini bahwa anak harus menerima pendidikan kebangsaan serta juga harus ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
            Pada rapat epilog di Gedung Indonesische Clugebouw yang berada di Jalan Kramat Raya 106. Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan gerakan kepanduan tidak sanggup dipisahkan dari gerakan nasional. Gerakan kepanduan semenjak dini sanggup mendidik belum dewasa disiplin dan mandiri, hal-hal yang diperlukan dalam perjuangan. Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh penerima kongres. Lalu kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para cowok yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia. [5]
            Para penerima dalam Kongres Sumpah Pemuda II ini berasal dari aneka macam wakil organisasi cowok yang ada pada waktu itu, menyerupai Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Bataks, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamietan Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi,dll. Diantara mereka yang hadir ada pula beberapa cowok Tionghoa sebagai pengamat yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie. Namun hingga ketika ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka. Sementara Kwee Thiam Hiam hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Basweden, cowok keturunan Arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan kemudian mengumandangkan Sumpah Pemuda.[6]
            Ada beberapa makna yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda yaitu :
  1. Dikalangan tokoh-tokoh pergerakan telah ada perubahan contoh pikir dari lingkup etnis kedaerahan ke cakrawala nasional.
  2. Perubahan contoh pikir itu  melahirkan kesadaran nasional bahwa seluruh penduduk yang mendiami kepulauan nusantara menjadi satu bangsa besar dengan nama Indonesia.
  3. Untuk keperluan persatuan dalam pergerakan disepakati memakai bahasa Melayu sebagai media perjuangan. Dengan kongres cowok itu identitas kebangsaan Indonesia semakin terbentuk. Identitas itu kini berwujud tanah air, bangsa, bahasa dan persatuan dengan nama Indonesia.
Kongres Pemuda II menghasilkan beberapa keputusan yang menunjukkan rasa nasionalisme yang menjiwai seluruh cowok Indonesia. Keputusan Kongres Pemuda II sebagai berikut ini :
  1. Lagu “Indonesia Raya” ditetapkan sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
  2. Sang Merah Putih ditetapkan sebagai bendera Indonesia
  3. Pengucapaan ikrar Sumpah Pemuda
Berikut ini yakni suara atau isi dari Sumpah Pemuda yang sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisannya memakai ejaan van Ophuysen [7] :
  1. Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia
  2. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia
  3. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoen, bahasa Indonesia
Tidak gampang menyelenggarakan kongres dan aneka macam organisasi cowok ya
ng mempunyai perbedaan latar belakang sosial dan budaya. Diperlukan kesamaan visi dan orientasi perjuangan. Itulah yang berhasil diperankan generasi muda Indonesia pada tahun 1928 dalam lembaran sejarah Indonesia. Perbedaan diantara mereka tidak menjadi penghambat untuk membangun persatuan Indonesia. [8]
DAFTAR PUSTAKA :
[3] Sudiyo.2004. Perhimpunan Indonesia Jakarta: Rineka Cipta & Bina Adiaksara
[4] Tim Nasional Penulis Sejarah Indonesia 2010. Sejarah Nasional V. Jakarta : Balai Pustaka
[5] http://kongresPemudakedua- Wikipedia bahasa Indonesia
[8] s