Kronologis Terjadinya Pertempuran Di Surabaya

ANDI AMINAH RISKI/ SI V

Menyerahnya jepang kepada sekutu sehabis dijatukannya bom atom di kota hirosima ada nagasaki oleh sekutu pada tanggal 6 dan 9 agustus 1945, hal tersebut menciptakan indonesia mengalami kekosongan kekuasaan momentum tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh bangsa indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 agustus 19945. Setelah meyerahnya pihak Jepang kepada sekutu, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945, yang dipimpin oleh brigjen A.W.S mallaby.

Tentara Inggris tiba ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan kiprah untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang tiba juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada manajemen pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.
Kedatangan brigjen A.W.S mallaby disambut oleh R.M.T.A suryo yang pada dikala itu menjabat sebagai gubernur jawa timur, dalam pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan sebagai berikut ini:
1.      Inggris berjanji bahwa di antara tentara inggris tidak terdapat angkatan perang belanda
2.      Disetujui krja sama antara kedua belah pihak untuk menjamin keamanan dan ketentraman
3.      Akan segera dibuat contact bureau (biro kontak) semoga kolaborasi sanggup terealisasi sebaik-baiknya
4.      Inggris hanya akan melucuti senjata jepang[1]
Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Hotel Yamato (sekarang berjulukan Hotel Majapahit). Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para cowok Surabaya melihatnya dan menjadi murka alasannya mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Tak usang sehabis mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang dikala itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, tiba melewati kerumunan massa kemudian masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI ia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta semoga bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam negosiasi ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia.
Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian cowok berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek pecahan birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-sera
ngan kecil tersebut di kemudian hari menjelma serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum balasannya Jenderal D.C. Hawthorn meminta pemberian Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.[2]                                                               
Tewasnya brigadir jenderal mallaby 
Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman mengakibatkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang cowok Indonesia yang hingga kini tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya kendaraan beroda empat tersebut terkena ledakan granat yang mengakibatkan mayat Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini mengakibatkan pihak Inggris murka kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal E.C. Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan manajemen NICA.[3]
Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) mencurigai bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia memberikan bahwa insiden baku tembak ini disinyalir kuat timbul alasannya kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku alasannya mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi. Berikut kutipan dari Tom Driberg :
Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu wacana gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, negosiasi gencatan senjata bekerjsama telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit hingga setengah jam sehabis itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby).[4]
Ultimatum 10 November 1945
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Mansergh mengeluarkan ultimatum pada tanggal 9 november 1945 yang berbunyi sebagai berikut ini :
1.      Tuntutan pertanggung jawaban pihak indonesia atas terbunuhnya brigjen A.W.S mallaby
2.      Menuntut semoga semua pemimpin dan orang-orang indonesia yang bersenjata harus melapor, mereka harus meletakkan senjatanya di tempat-tempat yang telah di tentukan
3.      Mereka harus menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas, batas ultimatum tersebut ialah 1x 24 jam
Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan usaha / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga telah dibuat sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi usaha bersenjata yang telah dibuat masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara   Inggris di Indonesia.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan bom udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Berbagai pecahan kota Surabaya dibombardir dan ditembak dengan meriam dari maritim dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan pemberian yang aktif dari penduduk. Terlibatnya
penduduk dalam pertempuran ini menimbulkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal mupun terluka.[5]
Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya sanggup ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat menyerupai penggagas muda Bung Tomo yang besar lengan berkuasa besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa menyerupai KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari ahad ke ahad lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara impulsif dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu hingga tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya balasannya jatuh di tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.[6]
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3] sudirman,adi.2014.sejarah lengkap indonesia.jogjakarta.penerbit diva press