Latar Belakang Berdirinya Pergerakan Cowok Keagamaan Jong Islamieten Bond

Tresha lendia pratiwi/SI IV
Kita mengenal tokoh-tokoh pejuang Islam di Indonesia menyerupai Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Kasman Singodimedjo, Sjafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito, S.M. Kartosoewirjo. Mereka lahir dari dua organisasi Islam kalangan muda waktu itu yang berperan membina perilaku dan keyakinan mereka sebagai muslim pejuang yang dididik di Jong Islamieten Bond (JIB) dan Studentent Islam Studie Club (SIS), perkumpulan mahasiswa untuk studi Islam. 
JONG ISLAMIETEN BOND (JIB) yaitu Organisasi nasional intelektual muda Islam yang didirikan di Jakarta pada tanggal 1 Januari 1925 oleh R. Samsurizal (Raden Sam), yang sekaligus sebagai Ketua yang pertama (1924-1926). Berturut-turut yang menjadi Ketua JIB yaitu Wiwoho Purbohadijoyo (1926-1929), Kasman Singodimejo (1929-1936), M. Arifaini (1935-1936) dan Sunarya Mangunpuspito (1936-1942). [1]
Atas perintah Pemerintah fasis Jepang semua organisasi dibekukan, termasuk Jong Islamieten Bond. Baru pasca kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 5 Mei 1947, Jond Islamieten Bond berdiri kembali dengan nama Pelajar Islam Indonesia (PII), dideklarasikan di Yogyakarta, dengan deklalatornya Yusdi Ghozali..
Tujuan pertama pembentukannya yaitu untuk mengadakan kursus-kursus agama Islam bagi para pelajar Islam dan untuk mengikat rasa persaudaraan antara para cowok terpelajar Islam yang berasal dari banyak sekali kawasan di Nusantara dan sebelumnya masih menjadi anggota perkumpulan daerah, menyerupai Jong Java (7 Maret 1915), Jong Sumatra (9 Desember 1917). H. Agus Salim, Mohammad Natsir, Mohammad Roem,  S.M. Kartosoewirjo dan Kasman Singodimedjo yaitu tokoh-tokoh di Jong Islamieten Bond.
Dalam catatan sejarah, keluarnya Syamsuridjal dari keanggotaan Jong Java (Perkumpulan Pemuda Jawa) dan kemudian mendirikan Jong Islamietend Bond (JIB/ Perhimpunan Pemuda Islam) yaitu lantaran organisasi Jong Java menolak untuk mengadakan kuliah atau pengajaran keislaman bagi anggotanya yang beragama Islam dalam organisasi ini. Sementara, agama Kristen dan Theosofi justru menerima tempat untuk diajarkan dalam pertemuan-pertemuan Jong Java. Pada masa lalu, Jong Java yaitu organisasi yang berada dalam imbas kebatinan Theosofi.
Sosok yang dianggap besar lengan berkuasa dalam menyingkirkan Islam dari organisasi Jong Java yaitu Hendrik Kraemer, utusan Perkumpulan Alkitab Belanda yang diangkat menjadi penasihat Jong Java. Sejarawan Karel Steenbrink dalam “Kawan dalam Pertikaian:Kaum Kolonial Belanda Islam di Indonesia 1596-1942″ menulis bahwa Kraemer yaitu misionaris Ordo Jesuit yang aktif menawarkan kuliah Theosofi dan anutan Kristen kepada anggota Jong Java. Di organisasi cowok inilah, Kraemer masuk untuk menihilkan ajaran-ajaran Islam.
Dalam Konggres VI (1923) syamsuridjal  terpilih sebagai Ketua Jong Java, pada Konggres VII (1924) mengusulkan semoga diselenggarakan kursus agama Islam bagi yang Muslim dan tidak keberatan dengan kursus agama lain, Kristen dan Katolik, yang selama ini telah berjalan. Ada yang baiklah dan ada yang tidak setuju, lantaran Jong Java bukan organisasi agama, bahkan ada yang menyampaikan agama tidak perlu. Selain Syamsuridjal, usul semoga Islam diajarkan dalam pengajaran di Jong Java juga disuarakan Kasman Singodimedjo. Kasman bahkan mengusulkan semoga Jong Java menggunakan asas Islam dalam pergerakan dan menjadi pionir bagi organisasi-organisasi cowok lain, menyerupai Jong Sumatrenan, Jong Celebes, dan Pemuda Kaum Betawi. Kasman beralasan, Islam yaitu agama lebih banyak didominasi di Nusantara, dan bisa menuntaskan segala sengketa dalam organisasi-organisasi yang ketika itu banyak terpecah belah Lewat voting usul Samsurizal ditolak. Karena penolakan itu, lahirlah Jong Islamieten Bond.[2]
Susunan Pengurus Pusat JIB pertama adalah: Raden Samsurijal (ketua); Wibowo Purbohadidjojo (wakil ketua); Syahbuddin Latif (sekretaris I); Hoesin (sekretaris II), Soetijono (bendahara I); dan So’eb (bendahara II). Komisaris-komisaris yaitu Moegni, Thoib, Soewardi, Syamsuddin, Soetan Palindih, Kasman Singodimedjo, Mohammad Koesban, Soegeng, dan Haji Hasim. Pengurus Pusat tersebut mula-mula gres mempunyai empat cabang: Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan Madiun. Kedudukan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) tersebut berada di Jakarta.
Kemudian diadakan kampanye keanggotaan JIB, dengan mengutus Syahbuddin Latif ke Yogyakarta dan Madiun, Mohammad Koesban ke Solo, Kasman Singodimedjo ke Purworejo dan Kutorejo sementara Samsurijal dan penasihat JIB, Haji Agus Salim, ke Bandung untuk membentuk cabang JIB di sana. Sampai bulan Desember 1925 JIB telah mempunyai 7 cabang dengan 1.004 anggota. Pada Konggres JIB II tahun 1926 di Solo terpilih Wiwoho menjadi ketua menggantikan Samsurijal. Pada Konggres JIB pada tahun 1929 di Jakarta, Kasman Singodimedjo terpilih menjadi ketua menggantikan Wiwoho, dan sekaligus memindahkan kedudukan DPP ke Jakarta. Pada Konggres JIB tahun 1935 di di Jakarta, terpilih M. Arif Aini
Jong Islamieten Bond bukanlah organisasi politik. Hal ini terlihat dari pidato Samsurijal, yang terpilih sebagai ketua umum, pada Konggres JIB I pada tahun 1925 di Yogyakarta yang mengatakan, “Pada kursus-kursus, ceramah-ceramah dan debat-debat yang kami selenggaraka
n, akan diusahakan sejauh mungkin meningkatkan pengertian wacana politik terutama dari sudut Islam. Tetapi JIB tidak akan ikut agresi politik”.”. Pun anggota-anggota kami tidak akan terjun dalam politik atas nama organisasi. Tetapi tidak melarang para anggotanya yang secara sah sanggup ikut dalam gelanggang politik, dengan harapan, mereka tidak berbuat berlebih-lebihan atau menonjol sebelum waktunya[3]
Dalam statuten JIB dijelaskan wacana asas dan tujuan perkumpulan ini:
Pertama, mempelajari agama Islam dan menganjurkan semoga ajaran-ajarannya diamalkan.
Kedua, menumbuhkan simpati terhadap Islam dan pengikutnya, disamping toleransi yang positif terhadap orang-orang yang berlainan agama.
Dalam kongres pertama Jong Islamiten Bond, Syamsuridjal dengan tegas menyatakan : “Allah SWT mewajibkan kami tidak hanya berjuang untuk bangsa dan negara kita, tetapi juga untuk umat Islam di seluruh dunia. Hanya, hendaknya di samping aliran-aliran Islam, kita selalu memberi tempat kepada aliran-aliran nasionalistis. Selain kewajiban yang utama ini, kami wajib berjuang untuk umat Islam seluruhnya, lantaran kami orang Islam yaitu hamba Yang Mahakuasa SWT. dan kami hanya mengabdi kepada-Nya, Yang Maha-kuasa, Maha-arief, Maha-tahu, Raja alam semesta. Inilah prisip yang menjiwai JIB”.
Asas dan tujuan JIB sanggup dilihat dari pidato Raden Sam pada Koggres JIB pertama, yang antara lain menyatakan demikian:
“Allah SWT mewajibkan kami tidak hanya berjuang untuk bangsa dan negara kita, tetapi juga untuk umat Islam di seluruh dunia. Hanya, hendaknya di samping aliran-aliran Islam, kita selalu memberi tempat kepada aliran-aliran nasionalistis. Selain kewajiban yang utama ini, kami wajib berjuang untuk umat Islam seluruhnya, lantaran kami orang Islam yaitu hamba Yang Mahakuasa SWT. dan kami hanya mengabdi kepada-Nya, Yang Maha-kuasa, Maha-arief, Maha-tahu, Raja alam semesta. Inilah prisip yang menjiwai Jong Islamieten Bon.
Untuk mengkonter pelecehan-pelecehan terhadap Islam, para cowok Islam yang tergabung dalam Jong Islamieten Bond kemudian mendirikan Majalah Het Licht yang berarti Cahaya (An-Nur). Majalah ini dengan tegas memposisikan dirinya sebagai media yang berusaha menangkal upaya dari kelompok di luar Islam yang ingin memadamkan Cahaya Allah, sebagaimana yang pernah mereka rasakan ketika masih berada di Jong Java. Motto Majalah Het Licht yang tercantum dalam sampul depan majalah ini dengan tegas merujuk pada Surah At-Taubah ayat 32: “Mereka berusaha memadamkan cahaya (agama) Yang Mahakuasa dengan mulut-mulut mereka, tetapi Yang Mahakuasa menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” Jong Islamieten Bond dengan tegas juga mengkonter pelecehan terhadap Islam, sebagaimana dilakukan oleh Majalah Bangoen, majalah yang dipimpin oleh aktifis Theosofi, Siti Soemandari. Majalah Bangoen yang didanai oleh organisasi Freemason pada edisi 9-10 tahun 1937 memuat artikel-artikel yang menghina istri-istri Rasulullah. Penghinaan itu kemudian disambut oleh para penggerak JIB dan umat Islam lainnya dengan menggelar rapat akbar di Batavia. Majalah ini bertahan hingga dibubarkannya Jong Islamieten Bond itu sendiri. [4]
Jong Islamieten Bond juga membentuk Organisasi Pandu Indonesia (National Indonesische Padvinderij, disingkat Natipij), organisasi pandu pertama yang menggunakan nama Indonesia, suatu istilah yang belum lazim digunakan ketika itu. Di setiap cabang, Jong Islamieten Bond mengadakan kursus-kursus agama Islam. Pada bulan Oktober 1931 Jong Islamieten Bond membangun sekolah HIS (Hollandsch Inlandsche School) homogen SD untuk anak Bumiputra golongan atas di Tegal dan pada bulan November 1931 dibangun lagi HIS di Tanah Tinggi Batavia.
Era kepemimpinan R. Samsurizal (Raden Sam), di JIB dari awal berdiri 1 Januari 1925 hingga tahun 1926, sehabis itu berturut-turut yang menjadi Ketua JIB yaitu Wiwoho Purbohadijoyo (1926-1929), Kasman Singodimejo (1929-1936), M. Arifaini (1935-1936) dan Sunarya Mangunpuspito (1936-1942). Atas perintah Pemerintah fasis Jepang semua organisasi dibekukan, termasuk JIB. Baru pasca kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 4 Mei 1947, JIB “bangkit kembali” dengan nama Pelajar Islam Indonesia (PII), dideklarasikan di Yogyakarta, dengan deklalatornya Yusdi Ghozali.[5]
Jong Islamieten Bond amat signifikan dalam memperjuangkan Kemerdekaan RI, meskipun kini tak banyak dikenal oleh generasi muda. Peran organisasi cowok Jong Islamieten Bond (JIB) sangat besar dalam kebangkitan nasionalisme kebangsaan dan usaha kemerdekaan Indonesia, namun deislamisasi sejarah Indonesia menimbulkan nama dan tugas organisasi itu lenyap dari ingatan. Jong Islamieten Bond menjadi katalis penting bagi tranmisi tradisi-tradisi politik “intelektual” Muslim dari generasi pertama ke generasi kedua intelegensia Muslim. Keyakinan Jong Islamieten Bond bahwa solidaritas Islam dianggap sebagai satu-satunya solusi bagi problem-problem sosial layak untuk terus diperjuangkan oleh kaum muda intelektual Muslim di zaman kini ini.
NOTE:
[1] Suwarno.Latar Belakang dan Fase Awal Pertumbuhan Kesadaran Nasional,2011
[2]
[4] Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia,1986:22
[5] sejarah nasional Indonesia, dinas pendidikan dan kebudayaan Indonesia, Jakarta, 1981