Masuknya Penidikan Islam Di Spanyol

Mamik Yuliana/14/B/SP
Semenanjung Iberia di Eropa, yang mencakup wilayah Spanyol dan wilayah Portugal kini ini, menjorok ke selatan ujungnya hanya dipisahkan oleh sebuah selat sempit dengan ujung benua Afrika. Bangsa Grit renta menyebut selat sempit itu dengan tiang-tiang Hercules dan di seberang selat sempit itu terletak di benua Eropa. Selat sempit itu sepanjang kenyataan memisahkan lautan tengah dengan lautan atlantik. Semenanjung Iberia, sebelum ditaklukkan bangsa Visighots pada tahun 507 M, didiami oleh bangsa Vandals. Justru wilayah kediaman mereka itu disebut dengan Vandalusia. Dengan mengubah ejaanya dan cara membunyikannya, bangsa Arab pada masa belakangan menyebut semenanjung Iberia itu dengan Andalusia. Spanyol diduduki oleh umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang

khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan bin Nu’man Al-Ghassani menjadi Gubernur di kawasan itu. Pada masa khalifah Al-Walid, Hasan bin Nu’man sudah digantikan oleh Musa bin Nushair. Di zaman Al-walid itu, Musa bin Nushair memperluas wilayah kekuasaanya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji akan membuat kekacauan-kekacauan ibarat yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Dalam proses penaklukan Spanyol ada 3 pendekar Islam yang memimpin pasukan kesana yakni Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Namun, yang sebagai perintis dan penyelidik kedatangan Islam ke Andalusia ialah Tariq ibn Ziyad. Ia yang telah memimpin pasukan tentera menyeberangi lautan Gibralta (Jabal Thariq) menuju ke semenanjung Iberia. Musa ibn Nushair pada tahun 711 M, mengirim pasukan Islam dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad yang hanya berjumlah 7000 orang dan pemanis pasukan 5000 personel yang memang tak sebanding dengan tentera pasukan Gothik yang berkekuatan 100.000 lengkap bersenjata. Namun, pada akhirnya, Thariq bin Ziyad mencapai kemenangan, dengan mengalahkan Raja Foderick di Bakkah dan menaklukan kota-kota penting ibarat Cordova, Granada, Toledo dan hingga kesannya menguasai seluruh kota penting di Spanyol.


Faktor Penunjang Pengembangan Pendidikan Spanyol Islam
Ilmu pengetahuan Spanyol Islam tidak telepas dari banyak sekali factor, baik factor internal maupun eksternal. Factor internal dalam hal ini ialah factor fatwa islam sebagai motivasi, nilai dan iktikad merupakan factor utama dalam memajukan pendidikan Spanyol Islam. Ini terlihat dari gairah umat Islam dalam menyikapi dorongan tersebut. Mereka menyikapi ilmu pengetahuan bukan untuk mencari kedudukan tertentu dalam susunan pemerintahan, akan tetapi sebab tuntutan fatwa Islam. Factor ekstrinsik merupakan factor yang berafiliasi dengan upaya kaum muslimin Spanyol dalam membuat kultur Islam dalam bentuk peradaban. Factor tersebut antara lain:
·         Factor kekuasaan; Factor ini direflesikan dalam bentuk budi penguasa Umayah II dan penguasa lainnya, member proteksi yang sangat besar lengan berkuasa dalam perkembangan pendidikan.
·         Faktor akademis. Munculnya forum pendidikan di Spanyol mempunyai saham yang cukup besar dalam menstimulasi dan mendinamisir kaum muslim untuk mengembagkan pendidikan dan melalukan banyak sekali rangkaian riset.
·         Factor kompetisi posotif. Dimensi ini memperlihatkan nuansa, bahwa ketika mereka berlomba-lomba mengembagkan ilmu pengetahuan akan tetapi mereka masih menjaga instruksi etik dan harmonisasi hubungan pertransperan ilmu.
Pendidikan Spanyol Islam Bagi Perkembangan Dunia Modern
Spanyol Islam mencapai jaman keemasan, dengan kebangkitan dinamika intelektualitasnya dalam segala bidang ilmu pengetahuan secara integral dan serasi antara tahun 1050-1300 M. di sisi lain, pada waktu bersamaan dunia potongan Eropa mengalami stagnasi ilmu pengetahuan. Dogma gerejani yang melarang mempelajari dan menganggap filsafat dan ilmu Yunani berbahaya bagi agama Kristen.Kondisi inilah yang mengakibatkan banyak para ilmuan Eropa yang haus akan ilmu pengetahuan, keluar dari negaranya. perkenalan mereka dengan dunia Islam mengakibatkan mereka kagum dengan budi pemerintah dan semangat umat Islam dalam menyebarkan ilmu pengetahuan. Mereka berupaya mentransper ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia Islam ke dunia Eropa, dengan jalan menerjemahkan sejumlah buku-buku.
Bunga dasri pencerahan ilmu pengetahuan inilah yang menstimuli timbulnya institusi gres ilmu pengetahuan di Eropa. Dari sinilah kemudian lahir beberapa forum pendidikan di Eropa.
Pola Pendidikan Islam di Spanyol
1.      Kuttab
Di Andalusia banyak terdapat kuttab-kuttab yang menyebar hingga ke pinggira kota. Pada forum ini, para siswa mempelajari banyak sekali macam disiplin ilmu pengetahuan, ibarat fikih, bahasa dan sastra, music dan kesenian. Kuttab termasuk forum pendidikan yang terendah yang sudah tertata dengan rapi di ketika itu. Pada forum ini siswa-siswanya mempelajari banyak sekali macam ilmu pengetahuan di antaranya:
a.       Fikih
Pemeluk Islam di Andalusia menganut mazhab Imam Maliki. Tokoh-tokoh yang termahsyur di sini diantaranya tersebut nama Ziyad ibnu Abd. Ar-Rahman, Abu Bakar ibn al-Qutiyah, Munzir Ibn Said al-Baluti dan Ibn Hazm yang sangat popular di kala itu.
b.      Bahasa dan Sastra
Bahasa arab menjadi bahasa resmi umat Islam di Spanyol, bahasa ini sanggup dipelajari di kuttab, bahkan kepada siswanya diwajibkan untuk selalu melaksanakan obrolan dengan menggunakan bahasa resmi Islam (bahasa arab), sehingga bahasa ini menjadicepat popular dan menjadi bahasa keseharian.Totkoh-tokoh bahasa tersebut ialah Ibn Sayidih, Ibn Malik yang mengarang Al-Fiyah, Ibn Khuruf dll. Di bidang sastra tersohor nama Ibn Abd. Rabbih, Ibn Bassam dan Al-Fath ibn Khaqam.
c.       Musik dan Seni
Di Spanyol berkembang music-musik yang bernuansa arab yang merangsang tumbuhnya nilai-nilai kepahlawanan. Banyak tokoh music yang bermunculan ketika itu, di antaranya Al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Ziryab (789-857). Ziryab selalu tampil pada acara-acara perjamuan kenegaraan di Cordova, sebab ia merupakan aransemen music yang handal dan piawai pula mengubah syair-syair lagu yang pantas dikonsumtifkan kepada seluruh lapisan dan tingkat timur.
2.      Pendidikan Tinggi
Tidak sanggup dipungkiri bahwa Islam di spanyol merupakan tonggak sejarah peradaban, kebudayaan dan pendidikan pada kurun kedelapan dan selesai kurun ketiga belas. Universitas Cordova berdiri megah dan menjadi ikon Spanyol,sehingga Spanyol termashyur ke seluruh dunia.Universitas ini tegak bersanding dengan Masjid Abdurrahman III, yang pada kesannya menjelma forum pendidikan tinggi yang populer dan setara dengan Universitas Al-Azhar di Cairo dan Universitas Nizamiyah di Baghdad. Secara garis besar perguruan tinggi di spanyol terdapat dua konsentrasi ilmu pengetahuan yaitu:
          Filsafat
Universitas Cordova bisa menyaingi Baghdad, salah satu diantaranya sebab bisa mengimpor ilmu filsafat dari potongan timur dalam jumlah yang besar.Ibnu Bajjah ialah filosof muslim yang pertama dan utama dalam sejarah kefilsafatan di Andalus. Nama lengkapnya ialah Abu Bakar Muhammad ibnu Yahya ibnu Al-Shaiq, yang lebih populer dengan nama ibnu Bajjah. Dilahirkan di Zaragoza, ia pindah ke Sevilla dan Granada. Meninggal sebab keracunan di Fez tahun 1138 M dalam usia muda. Seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya ialah Tadbir al-Mutawabbid. Tokoh utama kedua ialah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk orisinil Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah Timur Granada dan wafat pada usia lanjut pada tahun 1185 M. ia banyak menulis problem kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang populer ialah Hay ibn Yaqzhan.
          Sains
Tercatat nama Abbas ibn Farnas yang termasyur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ia ialah orang pertama yang menemukan pembuatan beling dari batu. Perkembangan sains pada kawasan ini diikuti pula oleh ilmu kedokteran, matematika, kimia dan music serta ilmu lainnya, bahkan ada ilmuan perempuan yang jago kedokteran, yaitu Umm al-Hasan binti Abi Ja’far.
Faktor Pendukung Kemajuan Islam di Spanyol
1)      Adanya proteksi dari penguasa, membuat pendidikan Islam cepat sekali maju, sebab penguasa sangat mengasihi ilmu pengetahuan dan berwawasan jauh ke depan.
2)      Adanya beberapa sekolah dan universitas di beberapa kota Spanyol yang sangat populer (Universitas Cordova, Malaga, Sevilla, dan Granada).
3)      Banyaknya para sarjana Islam yang dating dari ujung timur dan ujung barat wilayah Islam dengan membawa banyak sekali buku dan banyak sekali wawasan.
4)      Adanya persaingan antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.
5)      Runtuhnya Kedigdayaan Islam di Andalusia
Di antara penyebab keruntuhan peradaban dan pendidikan Islam di Andalusia adalah:
          Konflik Agama
Pada akhir-akhir kemajuan peradaban pendidikan Islam di Andalusia, telah muncul ke permukaan paham-paham dan perbedayaan keyakinan. Kondisi yang tidak menguntungkan bagi umat Islam telah membuat “berani” umat Kristiani menampakkan dirinya ke permukaan. Bahkan terang-terangan berani menentang kebijakan penguasa Islam di kala itu.
          Ideologi Perpecahan
Kultur social kemasyarakatan ketika itu amat berpeluang besar terjadinya pertikaian, apalagi dengan tida adanya sosok pemimpin yang sanggup mempersatukan ideology yang telah memecah belah persatuan.Sehingga keamanan negeri tidak lagi bisa terjamin dan terjadinya perampokan di mana-mana. Kondisi ibarat ini dimanfaatkan oleh umat Kristiani untuk menyusun kekuatan.
          Krisis Ekonomi
Dalam situasi semakin sulit, umat kristiani tidak lagi jujur dalam membayar upetinya kepada penguasa Islam, dengan banyak sekali dalih. Sering terjadi perampokan yang diskenario oleh kelompok Kristiani, dan pada kesannya menuduh Islam yang berbuat aniaya kepadanya.
           Peralihan Kekuasaan
Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ke tangan Fendinand dan Isabella, sementara di kalangan Islam sendiri terjadi perpindahan kekuasaan dengan system jago waris. Pola yang masih dipertahankan umat Islam dalam menggantikan tampuk kepemimpinan kadang jauh dari kelayakan.
DAFTAR PUSTAKA
1.      Harum, Maidir. 2001. Sejarah Pendidikan Islam. Padang: IAIN Imam Bonjol.
2.      Munir, Syamsul. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah
3.      Nizar, Samsul. 2009. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.