Menguak Kehidupan Di Sistem Tata Surya Trappist-1

Para peneliti telah memulai langkah awal untuk mengungkap kemungkinan adanya kehidupan di planet yang gres ditemukan di TRAPPIST-1, dan bagaimana kehidupan yang mungkin ada di sana.
Pada bulan Maret 2017, sebuah tim yang dipimpin oleh Michaël Gillon dari Belgium’s University of Liege mengumumkan bahwa TRAPPIST-1, sebuah bintang redup yang berada kira-kira 40 tahun cahaya dari kita, mempunyai empat planet berbatu selain tiga planet lain yang sudah diketahui sebelumnya (Gillon, et.al., 2017).
Planet-planet yang berada dalam zona hijau yakni
planet-planet yang mungkin sanggup ditinggali.
Sumber gambar: NASA/JPL-Caltech
Lisensi Public domain

Kesemuanya berukuran kurang dari 20% lebih besar dari bumi, dan semuanya mengorbit dengan jarak yang sama dengan jarak Merkurius dari Matahari. Terlepas dari dekatnya planet-planet ini dengan sang bintang (tidak terdapat kehidupan di Merkurius sebab terlalu erat dengan Matahari sehingga terlalu panas), mereka merupakan kandidat yang pantas untuk mencari kehidupan lain. Hal ini dikarekan TRAPPIST-1 jauh lebih kecil dan lebih redup dari Matahari. Karenanya, tiga dari planet-planet ini kemungkinan cukup hambar dan memungkinkan bagi keberadaan air dalam bentuk cair di permukaannya (air pada planet yang terlalu panas akan menguap, sementara pada planet yang terlalu hambar akan tersimpan sebagai es). Hal ini menjadikan mereka berada dalam zona yang sanggup ditinggali.

Akan tetapi, bintang merah kecil ibarat TRAPPIST-1 sanggup memancarkan radiasi sinar X dan sinar ultraviolet yang sangat kuat. Pancaran sinar ultraviolet yang terlalu berpengaruh sanggup mengancam keberadaan kehidupan di suatu planet. Oleh sebab hal tersebut dan sebab mereka mengorbit terlalu erat dengan sang bintang, planet-planet TRAPPIST-1 mempunyai resiko yang sangat tinggi.
Saat ini para astronomer sedang mengungkap apakah mungkin kehidupan ada di sana, dan jikalau memang benar di sana ada kehidupan, bagaimana kita bisa mengamatinya.
Lisa Kaltenegger dan Jack O’Malley-James, peneliti dari Cornell University di New York, menguji bagaimana susunan atmosfer yang berbeda, sanggup mencegah sinar ultraviolet supaya tidak mencapai permukaan planet-planet yang terletak di zona yang sanggup ditinggali. Mereka menemukan bahwa atmosfir yang serupa dengan atmosfir bumi ketika ini sanggup memperlihatkan pinjaman yang cukup bagi kehidupan.
Atmosfir yang tebalnya kurang dari 10% atmosfir bumi akan kurang efektif. Walaupun demikian, jikalau disniari dengan sinar ultraviolet yang sama berpengaruh dengan radiasi yang diterima bumi 2 milyar tahun yang lalu, kehidupan masih mungkin ada walaupun berat.
Atmosfir yang lebih tipis lagi, ibarat dengan yang dimiliki bumi 3.9 milyar tahun yang lalu, hanya memungkinkan adanya kehidupan jikalau TRAPPIST-1 lebih rendah aktifitasnya. Walaupun demikian, ketika bintang ini menyemburkan radiasi, seluruh mahluk hidup harus berlindung di bawah permukaan planet, di dalam maritim atau di dalam gua. Bentuk kehidupan semacam tersebut memang aman, akan tetapi akan sulit untuk dideteksi (O’Malley-James & Kaltenegger, 2017).
Ilustrasi bagaimana planet-planet di sistem tata
surya TRAPPIST-1 terlihat dari bumi dengan
menggunakan teleskop khayal yang sangat kuat.
Sumber gambar: NASA/JPL-Caltech
Lisensi Public Domain

Perlindungan lain mungkin sanggup kita deteksi. Beberapa jenis kerikil karang sanggup menyerap sinar ultraviolet dan memancarkannya kembali dengan gelombang yang lebih panjang dan lebih aman, ditandai dengan pancaran cahaya biru-hijau. Menurut Kaltenegger dan O’Malley-James prosedur semacam ini sanggup membantu organisme untuk bertahan di planet-planet di sekitar TRAPPIST-1 (O’Malley-James & Kaltenegger, 2016).

Dalam penelitian lain, Kaltenegger dan rekannya yang lain di Cornell, Ramses Ramirez, menemukan bahwa aktifitas vulkanik sanggup melepaskan banyak hidrogen ke atmosfir dan menghangatkan planet-planet yang semestinya dingin. Hal ini sanggup memperlebar zona kehidupan di TRAPPIST-1, bahkan sampai planet terjauhnya (Ramirez & Kaltenegger, 2017).
Para peneliti telah memakai teleskop antariksa Hubble untuk mencari kemungkinan atmosfir yang bisa menyangga kehidupan pada enam planet di TRAPPIST-1. Pengganti Hubble, teleskop antariksa James Webb, sanggup meneruskan pekerjaan ini dengan melihat lebih erat komposisi kimiawi atmosfir masing-masing planet.
Orbit planet-planet yang terkoordinasi dan dekatnya jarak antar mereka, memungkinkan adanya perpindahan kehidupan dari satu planet ke planet lain. Yang tengah dicari oleh para peneliti yakni kesamaan material biologis antar planet satu dengan yang lain, ujar Stephen Kane dari San Francisco State University

Daftar Pustaka