Menyingkap Makna Sifat Allah Dengan Pendefinisian Akurat

Menyingkap Makna Sifat Allah Dengan Pendefinisian Akurat ,Pintarbaca.com – Banyak waktu terbuang percuma dan kesalah pahaman, ketika ada dua orang membicarakan sesuatu tanpa menyepakati dulu definisi atau cakupan maknanya. Itulah sebabnya dalam seluruh tulisan ilmiah, sebelum memulai bahasan apapun harus jelas dulu definisinya apa. Jeli dalam menentukan definisi inilah yang membedakan mana dialog ilmiah dan yang tidak ilmiah.
Sekarang, bagaimanakah cara kita membuat definisi? Ada berbagai cara untuk itu, mulai yang sederhana hingga berbelit. Tapi yang paling baik dan efektif untuk menyingkap sebuah makna adalah dengan menggunakan bentuk Definisi Esensial atau dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan Hadd Haqiqy. Bagaimana cara membuat definisi esensial atau hadd haqiqy ini? Caranya mudah, kita tinggal menentukan dua hal saja, yaitu:

  1. Genus/Kully Jinis.
  2. Diferensia/Kully Fashal.

Tenang, tak perlu silau dengan istilah yang sepertinya rumit ini. Maksudnya sederhana saja dan semua pasti bisa sebab ini sudah jadi bagian dari fitrah akal manusia.
Genus/Kully Jinis adalah jenis dari sesuatu yang akan didefinisikan. Misalnya kita akan mendefinisikan kata “Manusia”, maka kita tentukan apa jenis manusia itu? Ada berbagai pilihan untuk menjawabnya, seperti: makhluk hidup, materi dan eksistensi. Kesemuanya adalah jenis dari manusia. Namun kita pakai jenis yang paling sempit sehingga lebih akurat. Yang paling sempit adalah jenis “makhluk hidup”. Setelah itu kita tentukan diferensianya. Yang dimaksud diferensia adalah ciri khas pembeda antara makhluk hidup yang disebut “manusia” dengan makhluk hidup lainnya. Kita dapati yang membedakan antara manusia, hewan dan tumbuhan adalah “berakal” sebab hanya manusia yang punya sifat ini. Dengan demikian, kita sudah menemukan definisi manusia, yaitu: makhluk hidup yang berakal. Dalam bahasa arab, manusia disebut sebagai “al-Insan” dan didefinisikan sebagai al-Hayawan an-Nathiq (makhluk hidup yang berakal). Dalam bahasa apapun, sebuah definisi esensial akan sama persis karena definisi jenis ini mengungkap hakikat atau bentuk sejati dari sesuatu yang didefinisikan.
Sebagai pelengkap, berikut ini adalah contoh definisi esensial dari hal di sekitar kita:

  1. Telepon = alat komunikasi jarak jauh. (alat komunikasi adalah genus. Jarak jauh adalah diferensia)
  2. Shalat = Ibadah umat islam yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam (Ibadah umat islam adalah genus. dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam adalah diferensianya)

Sudah jelas bukan? Sekarang, mari kita ungkap makna sifat khabariyah Allah yang selalu saja menimbulkan dialog berkepanjangan ketika membahasnya. Kita ambil sampel sifat “Yad” dan “nuzul” saja. Yang lainnya bisa dikiaskan sendiri.

  1. “Yad” secara literal berarti “tangan”. Sekarang apa definisi yad/tangan itu? Sesuai teori di atas, kita tentukan genusnya dulu, yakni anggota tubuh. Diferensianya adalah dari siku sampai ke ujung jari. Jadi, tangan = anggota tubuh dari siku sampai ke ujung jari. Definisi ini yang kita lihat di KBBI. Adapun dalam bahasa Arab, kata “yad” dalam kamus al-Ma’any didefinisikan sebagai من أَعضاء الجسد وهي من المنكب إِلى أَطراف الأَصابع (anggota tubuh dari pundak ke ujung jari). Intinya sama saja, perbedaannya hanya pada batasan siku dalam bahasa Indonesia dan batasan pundak dalam bahasa Arab sebab kata arab tak biasa menyebut lengan atas tetapi semua dianggap sebagai tangan.

Nah sekarang definisi “yad” atau tangan di atas bisakah kita lekatkan pada Allah yang Maha Berbeda dari segala yang ada di dunia? Kalau kita mau memakai definisi itu, berarti kita menetapkan adanya anggota badan bagi Allah berikut siku atau pundaknya. Tapi mana ayat dan hadisnya untuk menetapkan ini? Tak ada satu pun. Sebab itulah bila kita menetapkan definisi ini untuk Allah, maka kita telah membuat-buat atas nama Allah dan menyifatinya dengan sesuatu yang tidak Dia nyatakan sendiri. Ini hal yang sangat terlarang dalam agama. Sebab itulah, para ulama ahli tahqiq seperti Imam Abu Hanifah, al-Baihaqy dan seabrek lainnya memberikan catatan bahwa “yadullah/tangan Allah” bukanlah sebuah jarihah (anggota tubuh). Berikut ini di antara pernyataan mereka dalam kitab-kitab mereka sendiri.

الفقه الأبسط (ص: 159)
يَد الله فَوق أَيْديهم لَيست كأيدي خلقه وَلَيْسَت جارحة
“Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, bukanlah seperti tangan-tangan makhluknya dan bukanlah sebuah anggota tubuh”. (Imam Abu Hanifah dalam al-Fiqhul Absath).

الأسماء والصفات للبيهقي (2/ 159)
وَالْيَدُ لِلَّهِ تَعَالَى صِفَةٌ بِلَا جَارِحَةٍ
“Tangan Allah Ta’ala adalah sebuah sifat dengan tanpa anggota tubuh”. (Imam al-Baihaqy dalam al-Asma’ was-Shifat).

Untuk memperjelas, simak pernyataan Imam al-Hafidh Ibnu Hajar yang menukil pernyataan ulama berikut:

فتح الباري لابن حجر (13/ 368)
وَفِي الْحَدِيثِ إِثْبَاتُ الْيَمِينِ صِفَةً لِلَّهِ تَعَالَى مِنْ صِفَاتِ ذَاتِهِ وَلَيْسَتْ جَارِحَةً خِلَافًا لِلْمُجَسِّمَةِ
“Dalam hadis tersebut ada penetapan sifat “tangan kanan” bagi Allah Ta’ala sebagai sifat Dzat-Nya dan itu bukanlah sebuah anggota tubuh. Berbeda dengan pendapat para Mujassimah”. (al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath al-Bary).

Nah, kalau “tangan Allah” tak bisa dan tak boleh dikategorikan dalam genus “anggota tubuh”, lalu apa? Inilah repotnya. Tak ada genus yang memenuhi syarat untuk mendefinisikannya kecuali hanya sebatas sebagai sifat Allah saja. Ini adalah genus yang luas sekali sehingga tak dapat membentuk definisi esensial yang ideal sebab terlalu samar pengertiannya. Faktanya, bagaimana kita menentukan genus dari sebuah sifat dari Dzat yang hakikatnya tak kita ketahui? Paham bukan kesulitannya?
Andai kita paksa saja mendefinisikan “tangan Allah”. Kita pilih kata “sifat Allah” sebagai genusnya dan diferensianya kita tetapkan berdasarkan QS. Shad: 75, yaitu menciptakan Adam. Jadinya, tangan Allah adalah sifat Allah yang digunakan menciptakan Adam. Definisi ini masih samar dan umum. Akhirnya kita masih bisa bertanya: Apakah sifat Allah yang yang digunakan menciptakan Adam itu? Dan apa bedanya dengan sifat “qudrah” atau Kemahakuasaan Allah yang dengannya Allah menciptakan seluruh semesta? Apa pula bedanya dengan firman Allah “Kun” (jadilah!) yang dengannya Allah menjadikan segala sesuatu? Sulit bagi kita menjawabnya dengan pasti. Semua jawaban hanyalah perkiraan saja sebab ayat maupun hadisnya tak ada. Akhirnya, kita hanya bisa berkata kita tak tahu apa definisi esensialnya sebab Dzat Allah adalah misterius bagi kita.

  1. Sifat “nuzul”. Nuzul secara harfiah berarti turun. Apakah definisi turun itu? Genus dari “turun” adalah gerakan sedangkan diferensianya adalah: dari tempat asal ke tempat yang lebih rendah. Jadi, turun = bergerak dari tempat asal ke tempat yang lebih rendah. Dalam versi KBBI, kata turun didefinisikan sebagai: bergerak ke arah bawah; bergerak ke tempat yang lebih rendah daripada tempat semula. Definisi ini sama persis dengan definisi yang disebutkan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang menjelaskan bahwa untuk terjadi sebuah gerakan “turun”, maka dibutuhkan keberadaan tiga jisim, yaitu: jisim yang berada di atas, jisim yang di bawah dan jisim yang bergerak dari jisim atas ke jisim bawah. (lihat dalam Iljamul ‘awam ‘an ‘ilmil Kalam, karya al-Ghazali).

Nah, sekarang apakah makna seperti itu akan kita sematkan kepada Allah yang Maha Berbeda dari segala hal? Tentu tidak mungkin. Bila kita memakai makna itu, maka berarti kita harus menetapkan adanya bentuk fisik Allah, batasan fisik yang lebih kecil dan ruang yang lebih besar untuk menampung fisik Allah itu. Kita juga harus menetapkan bahwa ketika turun, maka ada sesuatu yang posisinya lebih tinggi secara fisik bagi Allah. Kesemua hal ini mustahil kita tetapkan bagi Allah sebab selain tak ada satu pun ayat dan hadisnya, juga merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk. Bahkan pendaku salafi harusnya menolak makna ini sebab mereka takkan terima bila dikatakan ada suatu benda yang posisinya lebih tinggi secara fisik dari Allah. Bila kenyataannya mereka tak mempermasalahkan arti turun seperti ini, itu sebab mereka memang tak konsisten.
Yang menarik adalah tulisan Abdul Wahab Ahmad dalam bukunya yang berjudul “Dialog Akidah dengan Wahabi-Salafi”. Dia menulis demikian:
“Imam al-Ghazali menerangkan bahwa mengartikan turun-Nya Allah sebagai turun dari atas ke arah bawah hanya membuat salah paham di hati anak kecil atau orang awam dewasa yang pikirannya seperti anak kecil. Untuk meluruskan pemahaman anak kecil itu, cukup ditanya kepadanya: “Untuk apa Allah turun seperti itu? Kalau hanya untuk memanggil makhluk-Nya, maka kita tidak mendengar apa pun. Selain itu, memanggil bisa dilakukan tanpa harus turun ke langit dunia. Kalau turunnya Allah hanya untuk mendekat, maka apa gunanya turun ke langit dunia? Bukankah kita ada di bumi dan tetap tidak dapat melihat atau mendengar Allah yang berada di langit dunia itu?”. Dengan begitu, si anak akan sadar bahwa makna “turun” itu bukan dalam arti yang dia pahami sebelumnya. Ini kalau anak kecil, entah kalau Salafi-Wahabi apa bisa sadar dengan argumen seperti ini. Semoga mereka mendapat hidayah”.
Karena itulah, para Imam menyatakan dengan gamblang bahwa “nuzul”nya Allah bukanlah suatu gerakan. Simak pernyataan mereka berikut:

الاعتقاد للبيهقي (ص: 117)
وَأَنَّ إِتْيَانَهُ لَيْسَ بِإِتْيَانٍ مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانٍ، وَأَنَّ مَجِيئَهُ لَيْسَ بِحَرَكَةٍ، وَأَنَّ نُزُولَهُ لَيْسَ بِنَقْلَةٍ

“Dan bahwasanya kedatangan Allah bukanlah kedatangan dari satu tempat ke tempat lain, dan bahwasanya tibanya bukanlah perpindahan, dan bahwasanya turun-Nya bukanlah perpidahan/pergeseran tempat”. (al-Baihaqy dalam al-I’tiqad).

Lalu kalau nuzul/turun tak bisa dan tak boleh didefinisikan sebagai sebuah gerakan, lalu apa? Inilah sulitnya lagi. Karena kita tak tahu hakikat Dzat Allah, maka kita lagi-lagi tak dapat membuat definisinya. Paling maksimal kita hanya memaknainya sebagaimana keterangan Imam Baihaqy berikut:

الأسماء والصفات للبيهقي (2/ 371)
فِي أَخْبَارِ النُّزُولِ إِنَّ الْمُرَادَ بِهِ فِعْلٌ يُحْدِثُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي سَمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ يُسَمِّيهِ نُزُولًا بِلَا حَرَكَةٍ وَلَا نُقْلَةٍ، تَعَالَى اللَّهُ عَنْ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ
“Dalam hadis nuzul, sesungguhnya yang dimaksud adalah sebuah perbuatan yang diadakan oleh Allah di langit dunia setiap malam yang Dia sebut sebagai nuzul, dengan tanpa ada gerakan atau perpindahan. Allah Maha Suci dari sifat-sifat makhluk”. (al-Baihaqy dalam al-Asma’ was Shifat”.

Sudah jelas, keterangan tersebut bukanlah definisi esensial sebab tak bisa memberi kejelasan yang definitif. Tapi memang tak mungkin kita mendefinisikan sifat Tuhan secara definitif sebab kita tak tahu hakikat Dzat-Nya.
Lalu kalau makna seluruh sifat itu tak bisa kita definisikan secara sempurna, maka bagaimana kita memahaminya? Apakah berarti semua ungkapan Allah dan Rasul itu tak bermakna? Apakah berarti kita tolak saja keberadaan maknanya sebab kita tak bisa mendefinisikannya seperti kita mendefinisikan sifat makhluk? Saya akan jawab semua pertanyaan ini di tulisan selanjutnya. Jangan lewatkan!
Sebelum saya akhiri harap diperhatikan bahwa semua keterangan panjang lebar ini berbicara tentang makna sifat. Definisi hanyalah berkaitan dengan makna, bukan lainnya. Sama sekali saya tak berbicara tentang kaifiyah sehingga jangan ada yang salah paham seperti yang sudah-sudah. Tiap saya membicarakan makna, maka disanggah dengan sanggahan yang berisi kaifiyah. Ini tak nyambung namanya. Nanti di tulisan lain saya akan membahas apa itu kaifiyah dan bagaimana kaifiyah itu bila disematkan pada Allah.  (Pembahasan sifat bag. 3 Oleh: Abdul Wahab Ahmad)

Leave a Reply

Your email address will not be published.