Nuku Muhammad Amiruddin

PUTRI AMELIA/SI 3

Sultan Nuku ialah putra kedua sultan Tidore, sultan Jamaluddin. Dia dilahirkan pada tahun 1738. Nama kecilnya ialah Kaicil Syaifuddin. Dia merupakan sultan dari kesultanan Tidore yang dinobatkan pada tanggal 13 April 1779, dengan gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan. [1]
Nuku ialah Sultan Tidore yang membebaskan kerajaannya dari bagian-bagian wilayah tiga

gubernuran kompeni Belanda. Sebagai putera sultan beliau bisa mengetahui keadaan negerinya beserta semua permasalahannya. Sejak tahun 1781, Nuku mengadakan gerakan perlawanan melawan Belanda. Dia menentukan Seram Timur. Maluku menjadi markas besarnya. Seluruh Maluku bergerak. Mereka membangun benteng-benteng di pesisir pantai, menyebar ranjau di lautan, dan memasang meriam tempur. [2]

Di seluruh wilayah jajahannya di Indonesia, Belanda senantiasa turut campur dalam penentuan siapa yang berhak bertahta dalam sebuah pemerintahan kerajaan atau kesultanan. Sosok yang biasa diajak berkerja sama biasanya akan ditunjuk sebagai penguasa dan sosok yang dianggap berbahaya sekalipun pewaris sah tahta akan disingkirkan. Begitu juga yang terjadi di kesultanan Tidore.
Sultan Jamaluddin ialah penguasa kesultanan Tidore. Karena dianggap berbahaya bagi kedudukan Belanda, Sultan Jamaluddin mereka tangkap dan diasingkan ke Batavia pada tahun 1779. Sesuai garis keturunan, Nuku Muhammad Amiruddin akan menjadi sultan melanjutkan tahta sultan Jamaluddin, ayahandanya. Namun Belanda tidak menghendaki Nuku naik tahta. Belanda menunjuk Kaicil Gay Jira sebagai Sultan Tidore. Pengangkatan sultan secara sepihak ini menerima tantangan keras. Secara kasatmata Belanda menginjak-injak tradisi kesultanan Tidore. Terlebih lagi sesudah Belanda menurunkan Sultan Kaicil Gay Jira dan menunjuk putra Kaicil, Patra Alam, sebagai sultan Tidore yang baru.
Perlawanan Nuku Muhammad Amiruddin diawali dikala ia dan Kamaluddin menentang pengangkatan Kaicil Gay Jira oleh Belanda. Berdasarkan tradisi kerajaan Tidore, pengangkatan raja gres harus menurut silsilah. Yang berhak menjadi Sultan Tidore waktu itu ialah Nuku bukan Kaicil Gay gira Jira.
Nuku Muhammad Amiruddin menggalang kekuatan untuk melawan kompeni Belanda. Ia membangun armada Kora-kora di kawasan sekitar Pulau Seram dan Irian Jaya dengan mendirikan basis pertahanan di Seram Timur. Belanda kembali memperlihatkan kesewenang-wenangannya dalam penentuan pemegang tahta kesultanan Tidore sekaligus menerapkan politik berkelahi dombanya dengan mengangkat adik kandung Nuku Muhammad Amiruddin, Kamaluddin, sebagai Sultan Tidore sesudah menurunkan Sultan Patra Alam.
Pada tahun 1787, pasukan Belanda menyerbu Seram timur untuk melumpuhkan perlawanan Nuku. Basis pertahanan Nuku berhasil direbut namun Nuku berhasil meloloskan diri. Nuku Muhammad Amiruddin mengalihkan basis pertahanan pasukannya di Pulau Gorong dan menjalin kekerabatan baik dengan pasukan Inggris atas dasar kekerabatan timbal balik yang sangat menguntungkan kedua belah pihak. [3]
Untuk menghadapi Belanda, Sultan Nuku memalsukan siasat yang sering dipakai oleh Belanda, yaitu siasat devide et impera. Sultan Nuku pun menjalankan siasat mengadu domba. Sultan Nuku menghasut orang-orang Inggris semoga mengusir orang-orang Belanda. Setelah berhasil sultan Nuku segera menggempur orang-orang Inggris. Ternyata politik memecah-belah Belanda mirip senjata makan tuan. Pasukan Nuku semakin berpengaruh sesudah menerima banyak sekali perlengkapan perang dari Inggris. Dengan peralatan perang yang semakin baik itulah pasukan Nuku menggempur dan memenangkan pertempuran melawan Belanda. [4]
Mendapati kekalahan di banyak sekali medan peperangan, pemerintah kompeni Belanda mengajukan usulan berunding dengan Nuku Muhammad Amiruddin. Belanda mengatakan kekuasaan kepada Nuku jikalau bersedia berunding dengan Sultan Kamaluddin. Nuku menolak secara tegas siasat Belanda dan semakin menggiatkan serangan pasukannya terhadap pasukan Belanda yang dibantu pasukan kesultanan Tidore yag setia terhadap Sultan Kamaluddin.
Pada tahun 1796, pasukan Nuku berhasil merebut dan menguasai Pulau Banda. Setahun kemudian, mereka bisa merebut Tidore dan menciptakan Sultan Kamaluddin melarikan diri ke Ternate. Sepeninggal Sultan kamaluddin, rakyat Tidore secara lingkaran menunjuk Nuku Muhammad Amiruddin menjadi sultan Tidore. Sultan Nuku terus menggempur kekuatan Belanda di Ternate sampai tahun 1801 Ternate sanggup dibebaskan dari cengkraman Belanda.
Pada zaman pemerintahan Nuku (1797-1805), kesultanan Tidore memiliki wilayah kerajaan yang luas yang mencakup Pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai barat dan cuilan utara Irian Barat serta Seram Timur. Sejarah mencatat bahwa hamper 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan tanah airnya dan membela kebenaran. Dari satu daerah, nuku berpindah ke kawasan lain, dari perairan yang satu, menerobos ke perairan yang lain, berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur seni administrasi dan taktik serta terjun ke medan perang. Semuanya dilakukan hanya dengan tekat dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari cengraman penjajah dan hidup hening dengan alam yang bebas mer
deka. Cita-citanya membebaskan seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajahan bangsa asing. [5]
            Kepulauan Maluku menjadi sentra rempah-rempah sehingga menjadi daya tarik bagi orang-orang Eropa. Orang-orang yang tiba ke Maluku ialah orang-orang Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Persaingan dalam perdagangan rempah-rempah terjadi dengan sengitnya diantara orang-orang Eropa. Mereka  berusaha menguasai bumiputera sebagai upaya untuk memenangkan persaingan tersebut. Dalam persaingan ini Belanda keluar sebagai pemenang. Hal ini disebabkan lantaran Belanda lebih baik organisasinya dalam menguasai kunci-kunci perdagangan mulai dari Malaka, Batavia, Makassar, dan Ambon. Penanaman kekuasaan pun dilaksanakan oleh satu kongsi dagang yang berpengaruh dan teratur rapi yang populer dengan nama kompeni. Kapal-kapal VOC malayani jalan-jalan perdagangan itu dengan teratur pula. Di Maluku, Belanda sanggup menguasai kepaulauan Ambon, Banda. Kesultanan Ternate ditempatkan dibawah pengaruhnya. Satu-satunya kekuasaan bumiputera yang bebas dari imbas Belanda ialah kesultanan Tidore di bawah Sultan Saidi.
Di Maluku, belanda menjalankan politik monopoli, ekstirpasi dan campur tangan dalam pergantian tahta. Pelaksanaan politik ekstirpasi ini berkaitan dengan politik monopoli. Politik ekstirpasi ialah politik yang membinasakan pohon rempah-rempah dan mengatakan ganti rugi kepada sultan. Akibat dari politik ekstirpasi ini rakyat Maluku sangat menderita, lantaran ribuan pohon rempah-rempah rakyat yang dibinasakan, sedangkan sultan hidup berfoya-foya lantaran ganti rugi yang diterimany. Maksud politik ekstirpasi ini ialah untuk tetap menjaga keseimbangan pohon rempah-rempah tetap sanggup dipertahankan di pasaran Eropa.
Perubahan politik di Eropa menguntungkan bagi Belanda untuk memperkokoh kekuasaannya di Maluku. Pada tahun 1648 diadakan perjanjian Munster antara Spanyol dan Belanda. Perjajnian ini menetapkan bahwa masing-masing pihak memegang apa yang telah diduduki sebelum perjanjian ini dan juga masing-masing pihak tidak menyinggung jajahan atau milik pihak lain yang menyerang, menakhlikkan raja-raja dan bangsa yang ada dibawah kekuasaan pihak lain. Dengan perjanjian ini Belanda mulai memainkan peranannya di kesultanan Tidore. Belanda beropini bahwa Tidore ialah wilayah kesultanan Ternate yang berada dibawah kedaulatan Belanda.
Peperangan antara Belanda dan kesultanan Tidore tidak pernah terjadi. Belanda tidak pernah menentukan jalan perang untuk menguasai Tidore. Jalan yang dipilihnya “pecah belah dan kuasai” (devide et impera). Kesempatan itu terbuka pada tahun 1656, dikala terjadi pergantian tahta lantaran wafatnya Sultan Saidi. Seharusnya yang menggantikan ialah putera sulungnya, Kaicil Goranaya. Akibat campur tangan Belanda, bukan Goranaya yang menjadi sultan Tidore, tetapi adiknya yang berjulukan Kaicil Golafino menjadi sultan Tidore. Dengan kejadian ini, Belanda telah sanggup menanamkan kekuasaannya di Tidore.
Wilayah kesultanan Tidore pada masa Sultan Jamaluddin meliputi:
1.      Halmahera tengah dengan dua jazirah disebelah timur
2.      Kepulauan raja empat mencakup Pulau Gebe, Waigeo, Salawati, dan Misool, termasuk pantai Barat dan utara Irian.
3.      Seram Timur dengan pulau-pulau Seranlaut, Gorong, Watubela, Kai dan Aru, termasuk pantai Selatan Irian.
Kesultanan Tidore memiliki wilayah yang sangat luas, hampir mencakup seluruh Maluku Utara. Siasat lain yang dijalani Nuku Muhammad Amiruddin untuk melawan Belanda adalah:
1.      Petani, yaitu jazirah timur pulau Halmahera menjadi sentra pertahanan.
2.      Membuat dinas pemberitaan dengan kiprah untuk menyaring isu yang berasal dari Tidore dan Ternate. Disamping itu dinas isu juga berbagi isu secepat-cepatnya ke kawasan yang ada dibawah kekuasaan Nuku.
3.      Membentuk pasukan spionase yang diseludupkan ke kota Tidore dan Ternate.
4.      Memperkuat korakora hongi untuk menghadapi monopoli Belanda dalam perdagangan rempah-rempah.
5.      Meningkatkan penyeludupan dan mengkoordinasikan bajak bahari dengan menetapkan pulau Gebe sebagai pusatnya. [6]
Nuku sanggup menegakkan ketertiban dan keamanan diseluruh wilayahnya, berkat kepandaiannya menjaga keseimbanagn kekuasaan di Maluku Utara. Empat tahun sesudah pembebasan ternate, Sultan Nuku Muhammad Amiruddin menghembuskan nafas terakhirnya sesudah berjuang selama 40 tahun dan berhasil membebaskan Tidore dari kekuasaan Belanda. Atas jasa-jasanya kepada negara, Nuku Muhammad Amiruddin Kaicil paparangan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional menurut SK Presiden RI No. 71/TK/Tahun 1995, yaitu pada tanggal 7 Agustus 1995. [7]
Daftar Pustaka :
[2] Iskandar, Salman (2009). 99 Tokoh Muslim Indonesia. PT Mizan Publika. Jakarta. Hal : 84
[3] Komandoko, Gamal (2006). Kisah 124 Pahlawan dan Pejuang Nusantara. Pustaka       Widyatama. Jakarta. Hal : 239
[4] ?m=1
[5] Ajisaka, Arya (2004). Mengenal Pahlawan Nasional. Kawan Pustaka. Jakarta. Hal : 142
[6] ?m=1
[7] Mahawira, Pranadipa (2013). Cinta Pahlawan Nasional Indonesia. Wahyu Media. Bandung. Hal : 198