Nyi Ageng Serang

TURISNO/ SI III

            Nyi Ageng Serang bernama orisinil Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Beliau lahir di Serang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1752. Sebutan Nyi Ageng Serang dikaitkan dengan desa tempat kelahirannya yaitu desa Serang yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur (bukan kota Serang Jawa Barat). Desa Serang menjadi terkenal, semula lantaran menjadi Markas Besar usaha Natapraja atau Penembahan Natapraja, yaitu rekan usaha Mangkubumi dalam
Perang Giyanti tersebut. Nyi ageng serang wafat di Yogyakarta pada tahun 1828, dengan SK Persiden : Keppres No 084/TK/1974, dengan gelar Pahlawan Nasional[1].
Beliau yaitu putri bungsu dari Bupati Serang, Panembahan Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang kini wilayah perbatasan Purwodadi – Sragen. Setelah ayahnya wafat, Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyi Ngeng Serang yaitu salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang jagoan nasional yaitu Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Beliau jagoan nasional yang hampir terlupakan, mungkin lantaran namanya tak sepopuler RA Kartini atau Cut Nyak Dien, tetapi dia sangat berjasa bagi negeri ini. Warga Kulonprogo mengabadikan monumen dia di tengah kota Wates berupa patung dia sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.
            Meski merupakan putra bangsawan, namun semenjak kecil Nyi Ageng Serang dikenal erat dengan rakyat. Setelah remaja dia juga tampil sebagai salah satu panglima perang melawan penjajah. Semangatnya untuk berdiri selain untuk membela rakyat, juga dipicu kematian kakaknya ketika membela Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwana I yang dibantu Belanda.
Yang sangat menonjol dari sejarah sikap dan usaha Pahlawan Wanita ini antara lain ialah kemahirannya dalam krida perang, kepemimpinan yang cendekia bijaksana sehingga menjadi suri tauladan bagi penganut-penganutnya. Tekadnya keras untuk lebh maju dalam banyak sekali bidang, dengan jiwa patriotisme dan anti penjajahan yang berpengaruh dan konsekuen. Imannya teguh terhadap Tuhan SWT dan terampil dalam menjalankan tugas gandanya sebagai pejuang sekalligus istri/ibu rumah tangga dan pendidik utama putra-putranya.[2]
            Nyi Ageng Serang mewarisi jiwa dan sifat ayahandanya yang sangat benci kepada penjajahan Belanda (VOC) dan mempunyai patriotisme yang tinggi. Menyimpang dari tabiat kebiasaan yang masih berpengaruh mengingat kaum perempuan masa itu, Nyi Ageng Serang mengikuti latihan-latihan kemiliteran dan siasat perang bersama-bersama dengan para prajurit pria. Keberaniannya sangat mengagumkan, dalam kehidupannya sehari-hari dia sangat berdisiplin dan pintar mengatur serta memanfaatkan waktu untuk kegiatan-kegatan yang bermanfaat.
            Pandangannya sangat tajam dan menjangkau jauh ke depan. Menurut keyakinannya, selama ada penjajahan di bumi pertiwi, selama itu pula rakyat harus siap tempur untuk melawan dan mengusir penjajah. Karena itu rakyat terutama pemudanya dilatih terus-menerus dalam ha kemahiran berperang. Hal itu rupanya sanggup diketahui oleh penjajah Belanda. Karenanya pada suatu ketika mereka mengadakan penyerbuan secara mendadakan terhadap kubu pertahanan Pangeran Natapraja bersama putra-putrinya itu, dengan kekuatan tentara yang besar. Karena usianya sudah lanjut, pemimpin pertahanan Serang di serahkan kepada nyi Ageng Searang bersama putranya laki-laki. Walaupun diserang dengan mendadak dan dengan jumlah dan kekuatan tentara besar, pasukan Serang tetap berjuang dengan gigih dan melaksanakan perlawanan mati-matian.
Dalam suatu pertempuran yang sangat sengit putra Penembahan Natapraja saudara laki-laki nyi Ageng Serang, gugur. Pimpinan dipegang eksklusif sendiri oleh Nyi Ageng Serang dan bejuang terus dengan gagah berani. Panembahan Natapraja sudah makin lanjut usia dan menderita batin yang mendalam dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Akhirnya dia jatuh sakit dan wafat. Selama Nyi Ageng Serang dalam tahanan Belanda, terjadi perubahan-perubahan pending di Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I telah diganti Sultan Hamengkubuwono II.
            Bertepatan dengan Upacara Penobatan Sulatan Hamengkubuwono II itu, Nyi Ageng Serang dibebaskan dari tahanan Belanda dan bahkan diantarkan ke Yogyakarta untuk diserahkan kepada Sri Sultan. Entah apa latar belakang yang sedungguhnya sehingga hal itu terjadi. Yang sanggup diketahui denga
n terang ialah bahwa kedatangan Nyi Ageng Serang di Yogyakarta disambut secara besar-besaran dengan tata cara penghormatan yang tinggi sesuai tabiat keraton. Upacara itu dilakukan mengingat jasa dan patriotosme almarhum Panembahan Natapraja dan Nyi Ageng Serang serta keharuman nama Pahlawan Nasional Wanita itu sendiri.[3]
            Namun dia sebagai jago krida dan siasat perang tahu benar bahwa saatnya masih belum sempurna untuk melanjutkan lagi perjuangannya. Dan selama waktu menunggu ketika yang baik itu, dia memanfaatkan waktunya untuk memperkuat potensi rohaniah/spiritualnya dengan cara samadi/tirakat mendekatkan diri lahir-batin kepada Tuhan Yang Maha Esa.
            Maka timbullah kemudian keinginannya untuk kembali ke Serang yaitu kota tumpah darahnya dan yang mempunyai arti khusus baginya. Permohonannya untuk kembali ke kota tersebut dikabulkan oleh Sultan Hamengkubuwono II dan kepergiannya bahkan diantarkan dengan penghormatan dan kebesaran.
            Nyi Ageng kemudian menikah dengan seorang pangeran berjulukan Kusumawijaya yang ternyata sangat membahagiakannya. Bukan lantaran pangeran itu membawakan harta-kekayaan yang banyak, tetapi justru lantaran suaminya itu mempunyai jiwa cinta tanah air yang tidak kalah kuatnya. Dari perkawinan ini Nyi Ageng dikaruniai seorang putra dan seorang putri.
            Dalam perkembangan waktu berikutnya makin terungkap bahwa Sultan Hamengkubuwono II itu ternyata yaitu juga patriot tangguh. Melihat sikap dan tingkah laris penjajah Belanda yang makin hari makin menyinggung perasaan dan menyakitkan hati itu, makin menigkatkan rasa bencinya terhadap Belanda.
            Hubungan yang tidak selaras-serasi antara pihak Sultan dengan pihak Belanda itu makin memuncakan dan gawat sehabis diangkatnya Daendels menjadi Gubernur Jendral Pemerintah Belanda di Indonesia. Daendels tabiat dan tingkahlakunya keras dan conkak, juga terhadap Kesultanan. Dia antara lain tidak mau mengikuti tabiat tata cara yang berlaku bagi tamu-tamu di Keraton bahkan melancarkan intrik-intrik memecah belah persatuan di lingkungan keraton. Kemurkaan Sri Sultan Hamengkubuwono II tak sanggup tertahan lagi dan timbullah bentrikan terbuka antara Sultan dan Belanda.
            Rupanyan “jarum-jarum” pemecah belah yang sisusupkan oleh ihak Belanda menemui sasarannya juga, sehingga timbullah pengkhianata-pengkhianat dalan lingkungan keraton, dengan akhir Sultan Hamengkubuwono II sanggup dipaksa turun takhta oleh Belanda dan Sekutu dalamnya dan digantikan oleh Pangeran Adipati Anom (Pangeran Makhkota yang masih muda dan lemah pendiriannya) yang diangkat oleh Daendels menjadi Sultan Hamengkubuwono III. Kekacauan timbul yang makin menjadi berlarut-larut dan tak terkendalikan, sampai kesudahannya terjadilah kejadian bersejarah yang menimbulkan pecahnya perang Diponegoro yang terkenal itu.
            Sebelum itu Nyi Ageng Serang telah kehilangan ayahandanya, saudara laki-lakinya dan suaminya yang semuanya gugur di medan perang. Sungguh berat pengorbanan dan derita batin yang harus dipikul oleh Nyi Ageng Serang. Namun semuanya itu dia hadapi dengan tabah. Semangat dan tekadnya untuk melawan penjajah tidak kendor seujung rambut pun. Harapannya tercurah pada cucunya yaitu Raden Mas Papak. Nyi Ageng Serang mendidik dan menggemlengnya dengan semangat patriot sejati, serta melatihnya dalam hal ketrampilan serta sisat dan strategi keprajuritan dengan penuh disiplin.
            Kemudian sang nenek beserta cucu terjun kembali ke medan perang menggabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena usianya sudah lanjut (73 tahun) Nyi Ageng Serang diangkat Pangeran Diponegoro menjadi penasihat bersama paman Pangeran Diponegoro sendiri, yaitu Pangeran Mangkubumi. Namun demikian Nyi Ageng Serang selalu ada di tengah-tengah para prajurit di garis depan. Berkat petunjuk dan pesan yang tersirat Nyi Ageng Serang, pasukan Belanda selalu sanggup dikalahkan dan diporak-porandakan.[4]
            Disamping itu Pangeran Papak juga telah mengambarkan kemahirannya sebagai komandan pasukan. Sebagai hasil didikan dan gemblengan sang nenek, pasukan yang dipimpinnya selalu memperoleh kemenagan-kemenangan dalam banyak sekali peperangan. Perlu diketahui bahwa Nyi Ageng Serang bersama Pangeran Papak pada waktu itu sudah memakai panji-panji yang berwarna merah putih yang disebut Panji Gula Kelapa(Gula yang dibentuk dari buah kelapa berwarna merah, sedangkan daging kelapanya sendiri berwarna putih).
            Panji merah putih dililitkan pada senjata tombak warisan almarhum Panembahan Natapraja. Disamping panji merah putih dililitkan pula Slendang Pusaka yang merupakan lambang patriotisme Nyi Ageng Serang. Pasukan Papak terkenal juga sebagai Pasukan Natapraja, dan mempunyai kawasan pertempuran mencakup wilayah Serang Purwodadi, Gundih, Demak, Semarang, Kudus, Salatiga, Boyolali, Klaten, dan Magelang.[5]
            Walaupun terpaksa harus dipikul memakau tandu, dalam pertempuran-pertempuran besar Nyi Ageng Serang selalu ada di tengah-tengah prajurit untuk menggugah dan tetap menyalakan semangat, dan dimana perlu eksklusif memberkan komando. Nyi Ageng Serang juga terkenal dengan siasat Daun Lumbu-nya (rumpun dioscorea, berwarna hijau, lebar, agak tebal tetapi lemas). Kegunaan daun unu ganda yaitu, untuk menutup/pelindung diri sehi
ngga tidak nampak dari jarak yang agak jauh oleh musuh, sebagai payung bila hujan, dan sebagai pelindung terhadap panas terik matahari.
            Siasat Daun Lumbu ini sering mengacaubalaukan musuh dengan serangan-serangannya yang tak terduga dan mendadak, lantaran tentera musuh tidak sanggup mengetahui sebelumnya bahwa di sekitarnya ada pasukan Nyi Ageng Serang, lantaran tidak nampak alasannya yaitu terlindung oleh daun-daun lumbu itu.
            Berhubung dengan itu maka pasukan Nyi Ageng Serang atau Pasukan Natapraja ini terkenal dengan sebutan Pasukan Hantu, dan sangat ditakuti oleh tentara Belanda. Sebagaimana kita telah mengetahui, Perang Diponegoro ini berlangsung berlarut-larut untuk waktu yang cukup lama, sedangkan Nyi Ageng Serang makin hari makin mendekati titik selesai dari hayatnya. Menjelang usia 76 tahun, lantaran beban tugs bercampur derita lahir-batin yang berat dan bertubu-tubi datangnya, kesehatan Nyi Ageng Serang makin mundur, walaupun semangat juangnya masih tetap tinggi. Akhirnya dia jatuh sakit dan kemudian wafat ditahun 1828. Beliaudimakamkan di Dusun Beku, Pagerarjo, Kalibawang, Kulonprogo. Makam ini terletak di atas bukit kurang lebih 6 km dari jalan Dekso-Muntilan. Jarak dari Yogyakarta ± 32 km, dari kota Wates ± 30 km.[6]


DAFTAR PUSTAKA
 [1]. Ajisaka, Arya (2008). Mengenal Pahlawan Indonesia. Jakarta: Kawan Pustaka. ISBN 9789797572785
[2]. S. Soetomo dan Wongso, Honggo. Perjuangan perempuan sejagat menuntut hak politik. 1990. Jakarta: Balai Pustaka.
[3].
[4].
[5].
[6]. https://www.pahlawanindonesia.com/biografi-nyi-ageng-serang/