Pacu Jalur

Rahma Juwita/PBM/ FB
Sebagai orang riau dan kita sebagai generasi muda harus selalu berbagi budaya dan pariwisata kita. Riau ialah sentra kebudayaan melayu di indonesia.Yang kaya akan susila istiadat.
PENGERTIAN PACU JALUR
Pacu jalur merupakan tradisi masyarakat kabupaten kuantan singing yang sudah berlangsung secara turun temurun semenjak zaman dahulu.Sejak kapan penduduk rantau kuantan yang tinggal di sepanjang batang kuantan mengenal jalur dan pembuatan nya,tidak sanggup ditunjukkan tahun yang pasti.Tapi di perkirakan pacu jalur sudah dikenal penduduk di rantau kuantan ini semenjak tahun 1900.
            Pada mulanya yang dipacukan penduduk kebanyakan perahu-perahu besar yang biasa di pakai untuk mengangkut hasil bumi contohnya tebu,pisang dan lain sebagainya.Perahu-perahu besar ini di pacukan penduduk untuk merayakan aneka macam hari besar islam,maulid Nabi Muhammad SAW,hari raya Idul Fitri dan tanggal 1 muharam dan lainnya.< /div>

            Semenjak kedatangan Belanda di kota Taluk Kuantan ± tahun 1905,Belanda tetap melanjutkan kegiatan pacu jalur,dan menukar tujuan dan tanggal pelaksanaannya yaitu pada tanggal 31 Agustus dalam rangka memperingati  ulang tahun ratu Wihelmina.
            Hingga tahun 1950 jalur dengar pacu jalur nya belum kembali ke dalam kehidupan budaya masyarakat kuantan singingi,dan pada tahun 1951 dan 1952 setelah zaman Jepang dan aksi Belanda,jalur kembali ke kehidupan masyarakat kuantan singingi,dimana waktu pelaksanaan dan tujuan melaksanakan dilakukan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Teluk kuantan dan Baserah yaitu dua kecamatan yang selalu mengadakan pacu jalur setiap ulang tahun kemerdekaan.
            Sayang nya, akhir-akhir ini banyak kesenian dan budaya tradisional, permainan rakyat, budaya local sudah hampir punah. Hal tersebut perlu usaha-usaha untuk pelestarian pelestarian kesenian tempat biar tidak hilang di makan masa. Hal yang menghawatirkan lagi ialah kesenian, budaya atau tradisi local tertentu ada yang menklaim sebagai tradisi atau kesenian tempat mereka. Oleh alasannya itu perlu kajian revitalisasi pacu jalur sehingga seluruh proses, kegiatan dan kesenian kesenian yang menempel dengan kegiatan pacu jalur tersebut terdokumen dan merupakan hak cipta atau milik (tradisi) masyarakat kuantan singingi. (pemerintah kabupaten kuantan singing).
SEJARAH PACU JALUR
            Jalur ialah “perahu besar” terbuat dari kayu bundar tanpa sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung (anak pacu). Panjang jalur antara 16 m s/d 25 m dan lebar bab tengah kir-kira 1,3 m s/d 1,5 m.
            Menurut catatan sejarah jalur mulai ada di rantau kuantan semenjak kurun ke 18. Pada mulanya  jalur yang digunakan sebagai menyambut tamu-tamu terhormat seperti  raja, sultan yang berkunjung ke rantau kuantan. Sejak tahun 1905 jalur tersebut di lombakan (dipacukan) dan mulai dikala itu, dikenal dengan nama PACU JALUR. Artinya jalur yang dipacukan (dilombakan) atau lomba jalur.
            Pada masa penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri rakyat  dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus  kegiatan pacu jalur pada zaman belanda di mulai pada tanggal 31 agustus s/d 1 atau 2 september. Perayaan pacu jalur tersebut dilombakan selama 2/3 hari, tergantung pada jumlah jalur menyerupai yang diungkapkan pak Saam (umur 85 tahun) yaitu pada zaman belanda jumlah jalur belum banyak hingga kini menyerupai pada dikala kini yang jumlah nya hingga ratusan buah.pada masa itu jumlah jalur hanya berkisar antara 22 hingga 30 buah jalur. Dia menambahkan kegiatan terjadi pacu jalur tersebut anak sekolah yang berasal dari desa-desa sekitar di teluk kuantan melaksanakan suatu upacara  dengan menyanyikan wihelmus sebagai lagu kebangsaan belanda pada dikala itu (wawancara  tanggal 11 september 2011).
            Setelah kemerdekaan kegiatan pacu jalur dilakukan 1 kali dalam 1 tahun, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus. Dalam rangka memperingati HUT RI ke 60 di kabupaten kuantan singingi. Kegiatan pacu jalur mengambil tema “peringatan 100 tahun budaya pacu jalur bersempena dengan HUT RI ke 60”.
Kegiatan pacu jalur dilakukan selama tiga hingga empat hari yang biasa nya dimulai pada tanggal 4 agustus. Namun demikian, jikalau program HUT RI bertepatan pada bulan ramadhan maka program pacu jalur tersebut dimajukan pada awal agustus atau bulan juli.
            Selama ini pacu jalur sudah di jadikan event kalender wisata nasional dan di geser hari nya mundur yaitu di mulai pada tanggal 23-26 agustus setiap tahun, kecuali memang pada tahun 2011 ini HUT RI pacu jalur nya di majukan lebih awal lantaran pertimbangan tertentu menyerupai bertepatan dengan bulan pahala (bulan ramadhan ) sehingga tidak mengganggu umat selain menunaikan kewajiman nya.
PERATURAN PACU JALUR
1.      PANCANG
            Pancang ialah pembatas alur jalan antara satu jalur dengan jalun lain nya. Pancang tersebut terbuat dari batang pisang tersebut digabungkan dengan kayu yang dicecakan sehingga ia menjadi bergandeng di beri tali dan kerikil pemberat sehingga ia timbul di atas air dan ia tidak hanyut oleh arus ia berbentuk lancip agak kedepan biar jangan menghambat arus air. Sekarang pancang ini mengalami perkembangan tidak lagi terbuat dari batang pisang tetapi dari dahan atau pelepah rambio dan di atas nya di tancapkan bendera merah putih. Pancang ini berjumlah 6 buah arena pacu lebih kurang 1 km sama jaraknya. Jika air kuantan dalam keadaan pasang atau bisa juga pancang tadi hanyut sehingga disebut dengan pancang hanyuik (pancang hanyut).
            Pancang juga di gunakan sebagai hakim garis jikalau ada salah satu dari jalur lawan nya mengambil jalan melewati pancang ke sebelah nya maka jalur yang salh jalan didiskualifikasi. Jika jalan galur menyisip panjang itu di bolehkan atau jangan pancang tersebut atau di sabung . jikalau di tabrak atau di anggap gagal.
2.      BODIAL
            Bodial sebagai tanda jikalau ia berbunyi tanda pacu sudah sah dari pancang star. Bedil ini dibunyikan jikalau haluan-haluan jalur  akan bertarung haluan nya sudah sama dan bendera sudah turun berkibar. Jika ada kedua jalur ingin sementara haluan nya belum sama maka partuo jalur bergantung di kayu bendera sehingga bendera tersebut jadi turun maka bodial meletus sebgai tanda sah. Tapi kalau hanya bendera saja yang turun tapi bedil tidak meletus kedua jalur tetap juga pacu maka di pancang finish tetap oleh hakim tidak diputuskan dan harus di ulang kembali hilir mereka. Jika tidak juga sama haluan nya sama untuk dilepas maka pada kali yang ke 3 tersebut tetap saja tidak sama haluannya (tidak sejajar) maka kedua jalur tetap dilepas (distart).
            Bila bedil sudah berbunyi ini juga sebagai pedoman oleh hakim dipanjang finish bahwa ia segera melihat jalur yang bertarung tersebut yang mana yang menang .
3.      BENDERA START
            Bendera start berwarna merah putih ukuran jumbo (besar) ia digunakan untuk memanggil giliran pacu yang keberapanya, dengan mengibas-ngibaskan bendera. Di sisi kanan dan kiri bendera atau orang yang memegang bendera berdirilah perwakilan kedua partuo jalur yang akan bertarung. Bendera akan dikibas kan kebawah jikalau masing-masing partuo jalur tadi baiklah dan bedil pun meletus sebagai tanda syahnya pacu.
4.      POSKO START
            Posko start di isi oleh partuo jalur dari jumlah sama yang akan bertarung dengan masing-masing megang kertas atau cabutan undian sehingga terang bagi mereka apa nama lawan jalur mereka dari desa mana , kecamatan mana dan jalan sebelah mana yang akan dilalui. Posko start ini bagaimana poskambling yang tidak berdinding tapi beratap .
5.      POSKO HAKIM (PANCANG AKHIR)
            Posko hakim (pancang akhir) pada poskoh pancang tamat ialah tempat pimpinan kabupaten yaitu bupati dengan jajaran nya dan kades dengan yang paling rendah mewakili desa nya masing-masing serta undangan menyerupai mentri, gubernur dengan jajaran pejebat provinsi.
            Hakimnya ialah dari pengadilan atau kejaksaan untuk memudahkan dal
am menetapkan sehingga lebih dulu pancang finish maka ia yang menang untuk menghindari tuntutan dari partu jalur maka kini ini sudah menggunakan teropong untuk lebih memastikan jalur jalan  sebelah mana yang menang maka setelah hingga di pancang finish semua pendayung naikkan dayung nya sebagai bertanda sudah sampai. kemudian tukang pinggang (juru kemudi) mengarah kan jalur nya merapat kedepan dewan hakim, maka dewan hakim mengucapka kata-kata menyerupai ini:  hilir yang pertama antara jalur keramat jubah merah sebelah kanan dari desa muaro sentajo dengan jalur merak jingga dari desa sawah maka sorak sorai pun beruntung saling bersautan maka yang menang tadi akan segera kembali kepunduang jalur jikalau ternyata podo (sama tidak ada yang menag) maka di nyatakan ulang . jikalau di ulang urutan nya ialah tentu ialah hilir yang paling terakhir dari urutan-urutan hilir pacu yang sudah dibuat.
TUJUAN PACU JALUR
    Secara pesalogis , tradisi pacu jalu mempunyai nilai-nilai bimbingan. Suryaneti (2009) menemukann nilai-nilai bimbingan yang terkandung dalam trasidi pacu jalur ialah :
A.      Adanya saling menghargai antara anggota masyarakat.
B.      Wadah untuk berguru mengespreikan pendapat.
C.      Menumbuh kan kerja sama.
D.      Menghilangkan rasa egois.
E.       Menanam kan sifat mufakat (bulat air lantaran , bundar kata lantaran mufakat)
F.       Memupuk rasa sabar dan lapng dd mendapatkan keputusan (lomak dek awak lomak pulo sek urang , ketuju dek awak ketuju pulo dek urang)
G.     Adanya rasa kebersamaan (pekerjaan berat menjasi ringan lantaran sipikul bersama) (PEMERINTAH  KABUPATEN KUANTAN SINGINGI,2011;6)
PROSES PEMBUATAN JALUR
A.     Rapat panitia pembuatan jalur
Jalur tidak sanggup di buat begitu saja tanpa melalui aneka macam proses baik yang menyangkut duduk kasus tenaga ,biaya maupun yang menyangkutmasalah teknis lainnya seperti  : tukang jalur,partuo jalur atau panitia jalur serta lainnya. Sebelum jalur sibuat ,terlebih dahulu dibuat panitia atau pengurus yang kiprah nya mengurus segala sesuatu yang dibutuhkan dan diperdiap kan dalam proses pembuatan jalur . pengurus itu disebut denganpertuo jalur  yang diartikan orang yang ditugaskan salam proses sebagai ketua panitia pembuatan jalur. Atau dengan makna lain ialah orang yang dituakan , yang didahulukan selangkah , dan yang ditinggikan seranting  dalam urusan jalur di masyarakat. Pada umumnya pengurus pembuatan jalur disebut panitia jalur , tetapi dibeberapa desa menyerupai desa siberakun lebih bersahabat menyebut panitia dengan partuo jalur . (wawancara dwngan pak rusli , umur 60 tahun)
         Untuk rapat panitia pembuatan jalur dimulai dari adanya canang banjar yang dipukul  oleh orang yang sudah ditunjuk oleh kepala desa(kades) yang disebut dengan tukang canang . dirantau kuantan orang yang mahir dalam suatu bidang disebu dengan istilah tukang .  dehingga kalau mahir dalam bercanang disebut dengan tukang canang . orang yang mahir dalam menciptakan rumah disebut dengan tukang rumah dan orang yang mahir dalam menciptakan jalur disebut dengan tukang jalur. ( lihat lebih jauh yusrianto : 2000).
        Canang ialah alat bunyi-bunyian berupa celempong tunggal yang di pukul oleh tukang canang pada malam hari tatkala memberikan beberapa pengumuman di desa.  Tukang canang kiprahnya ialah memberitahukan dan mengumumkan perihal rapat untuk pembuatan jalur. Tukang canang berkeliling kampong sambil memukul canang yang jarak nya sekitar sepuluh rumah begitu seterusnya hingga batas dari  kampong tersebut dan singgah deisetiap ada kedai kopi . orang-orang yang berada dikedai kopi tadi akan bertanya perihal apa isi canang tadi atau pengumuman tadi . biasanya dijawab oleh tukang canang dengan jawaban  bahwa be
sok kita akan mengadakan rapat jalur dib alai desa selepas maghrib dan tidak ada membawa apa-apa . kata-kata yang diucapkan tukang canang tersebut antara lain :
        “oh urang banjar iko , la tibo pulo parentah dalam banjar . banso bisuak malam , ptang omi malam jumat , kito/awak basamo-samo hadiar dalam balai desa untuak rapek mambuek jaluar gres kito . acaranyo lopemagorit sebelum isya. Aa ndak aso yang kan dibaok ro !! lai obe ru!!
      Artinya : ” hai orang yang ada dalam negri ini , sudah dating perintah di negri ini. Bahwa besok malam yaitu petang kamis malam jumat kita bahu-membahu dengan orang renta , kepala keluarga, anak muda sanggup bersama –sama hadir dib alai desa untuk rapat mmbuat jalur gres kita . acaranya dimulai selepas maghrib  sebelum isya ,nah tidak ada yang akan dibawa,nah , sudah tau kan .” (wawancara sengan gelar mawardi dengan gelr itam , sabtu malam , 10 september 2011 di pondokan kedai  pulu bungin siberakun)
      Ada juga dalam versi yang sudah agak lebih modern yaitu sudah menggunakan surat undangan yang di edarkan oleh pak RT masing-masing. Dalam hal ini trjadi pergeseran lantaran kesibukan masing-masing dan menghemat waktu lantaran tukang canang terlalu capek/lelah bekerja dikebunnya siang itu. Agar beita lebihefektif dan efisien untuk penyampaiannya dibuar dalam bentuk undangan . media canang sebagai penyampaian pesan mempunyai nilai kearifn local lantaran menghemat pemakaian kertas . dengan adanya canang sebenar nya sudah menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar lantaran dengan adanya surat undangan akan mengakibatkan banyak sampah yang awut-awutan dan pada kesudahannya sanggup meruak lingkungan .
      Dalam malam rapat tersebut disusunlah kepanitiaan nya menurut hasil kesepakatan pada malam yang bersangkutan dengan adanya partuo jalur yang terpilih tasi dibantu oleh kirani (sekretaris)dan juga seksi-seksi lainnya yang membantu menyerupai humas , pengarahan massa dan seksi dana . dalam rapat ini juga dibicarakan perihal kemungkinan apa jenis kayu yang akan digunakan daan di jadikan untuk pembuatan jalur dan siapa yang akan menjadi dukun jalur yang cocok dan sesuai untuk itu. Bahkan dalam rapat itu juga sudah ada kesepaktn  berapa besar nya setiap kepala keluarga (KK)  memperlihatkan proteksi . untuk tempat kuantan mudikmisalnya ditetapkan  Rp.100.000 per (KK) .Hal ini berbeda dengan tempat siberakun yang pada umumnya hasil rapat jalur itu secara suka rela sesuai dengan kemampuan masing-masing dari warganya. Tetapi besarab proteksi terendah sudah ditetap kan Rp.50.000 . bagi PNS dan pedagang tentu diprediksi akan menyumbang lebih besar jikalau dibandingkan dengan yang berprofesi sebagai penyadap karet . ( wawancara dengan duski mansyur Spd anggot dewan perwakilan rakyat kab. Kuansing, ahd , 11 september 2011 di rumahnya di siberakun).
     Badi penerima rapat sudah mempersiapkan dana-dananya akan pribadi secara impulsif untuk menyebutkan sumbanhan nya sebagai upaya untuk memotivasi dari yang lainnya secara fastabiqul khairat .. bahkan ada yang menyumbang yang tidak mau untuk disebutkan namanya hanya dengan nama dari hamba allah sekian puluh ribu rupiah dan setrusnya sesuai dengan besaran jumlah nominal proteksi nya .
B.     MENCARI KAYU JALUR
      Setelah panitia terbentuk, maka dicarilah kayu jalur sesuai dengan kesepakatan hari untuk mulai mencarinya dari hasil rapat panitia jalur dengan akad dimana kita menunggu satu sama lainnya, persiapan apa saja yang dibutuhkan menyankut perkakas yang akan dibawa menyerupai : kampak, beliung, bendo dan pakaian kehutan serta makan, minuman dan makanan ringan elok yang akan dibawa serta juga ditentukan siapa penunjuk jalan dan mlalui arah kekebun siapa rute perjalanan yang akan dilewati.
      Jenis kayu yang dipilih biasanya jenis kayu berpengaruh dan sanggup tahan air bukan dari kayu lampung atau mayiang serta tidak midah pecah kalau dibuat menjado jalur. Diantara jenis kayu yang dipilih yang di anggap baik antara lain ialah kayu tonam , kayu kure, kayu kuyuak , kayu banio, dan kayu marantia sogar serta kayu lainnya yang kuat. Dalam mencari kayu jalur ini ada aturan-aturan yang secara konvensi harus dilaksanak dan dilalui yaitu bila ketemu dengan kayu yang sedang dilihat tersebut maka kita harus terlebi dahulu mengelilinginya sengan cara merintis sengan menciptakan lingkaran atau persegi empat dan melaksanakan proses yang disebut menandai dengan tanda yaitu dalam bentuk meletakkan kait untuk merintis tadi di jalan masuk pertama ketika proses mengelilingi kayu dimulai. Kemudian kayu itu diberi tanda dengan goresan pena yang terbuat dari cat merah atau arang kayu keras . goresan pena itu ialah bertuliskan nama jalur atau nama desa mereka. Setelah ditulis menyerupai itu , adanya tanda yang dibuat itu goresan pena nya bukan dalam bentuk mendatar mengelilingi kayu sesuai radiusnya  tetapi ialah dari atas tengah kayu kebawah sehinggaq untuk menuliskan  agak terlalu tinggi dan besar maka dibantulah dengan tuki . tuki ialah homogen alat dalam bentuk tangga-tangga yang sanggup digunakan sebagai  tangga yang terbuat dari kayu yang di sorongkan kecupang kayu lain dan ada yang diikat kan dengan akar .maka kewajiban selanjutnya ialah mengambil materi urat kayu besarnya dari kayu yang bersangkutan untuk sanggup di amalkan dalam beberapa malam berikut ini.ini gres salah satu kayu yang ditandai. Biasanya kayu yang ditandai tidak cukup hanya satu biasanya hingga 3 batang dengan proses yang sama dari awal hingga akhir. Pekerjaan selanjutnya ialah ada pada dukun tadi sehingga ia punya waktu untuk menentukan kayu mana yang pal
ing baik dijadikan jalur termasuk pertambangan intennya komunikasi  sang dukun dgn mambang kayu tersebut dan tarik menarik argumen  antara mambang dan sang dukun sehingga bias bekerja sama untuk dimanfaat kan sebagai jalur .(wawancara sengan mudarus yang digelar bendahara, sabtu, 27 agustus 2011 dirumahnya di ujung tanjung)
C.     MANOBANG  JALUR
   Jika kayu yang telah dicinai tadi selama beberapa malam telah diamal kan oleh dukun jalur dengan banir renta yang sudah ia miliki maka sampailah ia kepada keputusan kayu mana diantara beberapa pokok tadi yang akan ditebang dan seterusnya dan seterusnya akan dibawa kedesa untuk di hela dan ditarik dengan cara bergotong royong setiap minggu mereka pergi kembali kehutan rimba menyerupai proses ketika akan mencari kayu menyerupai semula, akan tetapi persiapan nya sudah lebih lengkap bila dibandingkan dengan mencari atau mencinai kayu Karena mereka teleh membawa apa-apa saja yang dibutuhkan untuk program penebangan  sebaimana yang dikehendaki oleh mambang atau penghuni kayu tersebut. Dari wawancara penulis ada 3 usul yang sering diminta oleh penghuni kayu tersebut. Pertama, ialah dua ekor ayam jantan itam jamui dan paruh atau cotokannya . jikalau ini yang dimintanya maka sang dukun akan duduk terlebih dahulu menghadap kayu tersebut dan posisi kayu ialah sebelah barat dukun berarti dukun juga menghadap kebarat , setelah ia berdo’a dan menyapukan kedua telapak tangan nya ke muka maka ia bangun dari duduknya kemudian menyembelih ayam yang satunya dengan beliunfg yang akan digunakan sebagai untuk menebang dan darah nya harus membasahi banir renta dari kayu  Tersebut . kemudian ayam tadi di bobak (dikuliti) dan di basuh degan air sungai yang ada disekitar tempat kayu tersebut kemudian di beri garam dan di panggang atau di bakar dengan menggunakan kayu kayu yang mersik dan mati di sekitar areal tersebut. Setelah masak maka di berikan kepada tukang , dukun sendiri, anak buah tukang atau tukang pengapit serta partuo,dan rombongan masyarakat yang menyertai. Setelah makan dan minum tadi barulah oleh sang dukun meliahan kea rah mana kayu tersebut akan tumbang. Jika ada perbedaan pendapat perihal arah tumbangnya maka terlebih dahulu harus di selesaikan biar ada kata mufakat dan bunyi bundar jikalau masih  ada selang sengketa pendapat maka ini nanti sebagai alamat jalur akan minta korban atau tumbal pada masyarakat sebagai tumbal nya. Hal ini sudah pernah terjadi menyerupai halnya yang di alami oleh kasin (Alm). Beliau waktu muda kena oleh giligan jalur bomber 1958 keti jalur mau di hela atau di tarik. Akhir nya beliau mengalami cacat seumur hidup dengan kaki dan tangan tidak bias di gunakan yang diseubut layuah oleh masyarakat setempat hingga yang bersangkutan menemui ajal nya sehingga belum pernah merasakan hidup berumah tangga
    Setelah tempat tumbang telah di sepakati maka kegiatan selanjut nya ialah membersih kan ranting dang mengukur berapa depa panjang jalur tersebut kemudian di beri boriaco/basi (sisa ujuran kayu biar jangan pas-pasan sehingga ada tenggang mana tahu ujung dan pangkal nya pecah). Jika hari sudah petang mka gres lah pulang kembali ke kampung. Kalau jaman dahulu menyerupai tahun 1958 mereka para tukang dan partuo jalur menciptakan barung-barung (kemah) selama mengerjakan jalur tersebut hingga dengan mendiang atau melayur.
     Ketika mau pulang tadi ayam itam jamui yamh satu nya lagi di lepaskan sehingga nanti apakah ayam tersebut bertahan hidup atau malah menentukan untuk mengikuti rombongan tadi. Jika menentukan mengikuti maka itu sebagai menerangkan bahwa mambang tadi mau ikut dengan mereka terutama sang dukun artinya beliau bias di suruah serayo (bias untuk minta tolong). Bahkan ada juga ayam tersebut tidak ikut tetapi ia kelihatan linglung serta bahkan menjadi ayam hutan yang liar kembali serta berkembang biak di hutan tersebut
    Versi yang ke dua, yaitu membawa ayam kuniang biriang (kuning menyerupai orang yang kena beri-beri),semuanya kuning. Jumlah hanya satu ekor saja guna nya untuk mendarahi penebangan itu biar jangan menerima halangan. Versi yang ketiga, terserah apa saja warna bulu ayam nya tetapi setelah di sembelih untuk darah nya di ambil maka ayamnya oleh sang dukun di bawa pulang untuk di masak tetapi isi dalam nya ia sendiri yang memakan nya. Berdasarkan isi perut ayam tersebut ia akan tahu keadaan kayu tersebut apakah berlobang, dan kalau berlibang di bab mana saja. Kemudian setelah kayu itu di tebas maka iya ganti dengan kayu kecil dan ditancap kan di atas pohon yang di tebas tadi yang di maksudkan sebagai pengganti kayu yang sudah di tebas di tumbang kan tadi. Aneh nya menyerupai terjadi pada jalur rajo mudo dubalan kuantan pulau bungin kayu yang ditancapkan tadi ternyata tumbuh, hidup dan berkembang sebagai kayu lainnya ujang sang dukun pada hal ia tidak ditanam di tanah secara langsung.jenis kayu nya yang ditancapkan itu ialah kayu binio. (wawancara dengan dukun kayu jalur, ahad, 11 september 2011 di rumah nya).
D.    MAELO JALUR
            Proses maelo jalur  dimulai juga dengan ada nya canang banjar yang akan mengumumkan perihal program untuk besok pagi kita akan bergotong royong menarik jalur dari hutan rimbo ke desa.Dengan bunyi canang oh urang banjar iko lah tibo lo perintah dari banjar bahwa bisuak pagi awak besamo-samo maelo jalur awak tu di rimbo gono yaitu rimbo kukok.Untuak itu kepado induak-induak,ondek-ondek tolong di bao bungkui nasi sa ibek nasi bisuak dan buek tambual bawoan untuak awak dan untuak urang. Nan jantan bapak-bapak bao ladiang saruang kapak atau baliuang untuak menobang jalu
r,lai obe ru.Nah awak bekumpual di tompek panyaborangan (kompang).
            Pada hari berikut nya dikala akan pergi maelo jalur maka orang bujang ada di kampong itu akan mengantarkan beras,tepung,telur,ikan sarden besar dengan segala perlengkapan yang akan di masak ke rumah goraan nya (pacar) tamat nya besok pergi ikut secara bahu-membahu untuk pergi maelo jalur dari hutan.
            Setelah mereka berkumpul di tempat yang telah di janjikan tersebut maka dalam perjalanan yang berkelompok-kelompok tersebut ada yang di tunjuk untuk penunjuk jalan dari partuo jalur. Dalam perjalanan tersebut tidak hingga dari surak-surak ialah semacam  menerangkan ada teman lain, ada apa tidak di dalam hutan rimbo tersebut.Jika surat tadi dibalas, maka berarti ada orang lain, teman kita yang menyukai ada penyadap karet, atau mencari rotan, dammar, cari petai, juga kebun dan pekerjaan  mencari   hasil hutan lainnya. Dalam perjalanan tersebut dalam berbual-bual dengan dongeng lucu dan konyol serta diberikan dengan aneka macam teka-teki yang baik dan bahkan jenaka dan lucu menyerupai aponyo aang iko aa. Ndok ndiang artinya tersisik di dinding (sendok tersisip di dinding) kelompok yang tidak bisa membalas  lagi dengan teka-teki sebagai jawaban dari 1-0 yang di terima yaitu: koa kok bisa dek aang menjawab nya. enyo mintak di masuak an la di masukan inyo di luar jo, apo nyo aang,aponyo kau. (dia mintak di masukkan tapi setelah di masukkan di masih di luar juga) jawabannya ialah buah baju (kancing baju). Begitulah seterusnya dengan berbagai  teka-teki yang saling balas-membalas kesudahannya dengan tidak terasa mereka rupanya telah hingga ke pungko jalur. Semakin jauh tempat mencari jalur semakin banyak teka-teki dan dongeng dlm perjalanan tersebut.
            Hal menyerupai itu dimaksudkan juga ialah sebagai pengontoran (untuk menghilangkan dari rasa takut dari tempat tempat yang anker hutan sunyi tersebut). Maka sudah hingga rombongan tadi beristirahat sejenak partuo jalur menciptakan dan mencari tali untuk maelo jalur yang terbuat dari rotan dan dengan kebudian di iekekan di luar jalur dengan menyangkut kan di indera pendengaran jalur yang masih sabal. Sabal ialah semacam bayangan jalur yang sudah berbentuk dan tidak lagi dalam bentuk kayu bundar tapi sudah agak ringan untuk di tarik bersama-sama. Setelah ada tali untuk ditarik secara bersama-sama. Setelah tali siap ada instruksi dari naik tangan dari yang mengucap kan lah ado tali di tangan. Pogang tali,dengan instruksi 1-2-3 tariak torui panjang mungkin
            Jika kelihatan orang yang maelo jalur sudah kelihatan lelah maka tambual dan kue-kue tersebut sudah bisa untuak di makan dengan membentangkan tikar atau beralaskan daun-daun rimba, bagi yang punya pacar tadi maka di perboleh kan makan ke semak sambil membawa bekal yang telah dibawa dan di persiap kan dari tadi pagi,bahkan tadi makan tambual dan makanan ringan elok ini di keluarkan pada jam 10.00 wib tadi pagi. Kemudian setelah ini di lakukan, maka kembali di suruh untuk menarik jalur kembali dengan instruksi yang sam yaitu 1,tali dipogang 2, tubuh membungkuak 3, menangkui. Maka menjelang siang berati maka masuk waktu suhur dengan sholat dan makan siang. Selesai hal itu mka lanjutkan kembali hingga dengan waktu asar, tapi ketika anggota maelo jalur jadi kecapean maka partuo jalur akan memutus kan tali dengan menconcang dengan menggunakan bendo tajam dan orang sekuat-kuat nya dengan tenaga menarik jalur, maka ketika tali putus orang yang berpacaran tadi akan jatuh berhimpitan dengan pacar bahkan serak serai pecah kembali di antara mereka para penerima penarik jalur ada yang saling membersih kan pakaian masing-masing dan urutan di antara mereka.
            Ketika hari sudah soreh mereka pulang bahu-membahu untuk menuju rumah maasing-masing dengan perjalanan yang  sangat melelah kan maka biar terasa perjalanan mereka kembali berbual-bual (berceri yang lucu dan jenaka) dari orang yang sudah di tentukan atau bah di tingkah orang lain lagi. Meelo jalur jalur ini biasa nya biasa nya hanya di lakukan setiap hari , minggu/ahad sehingga bahwa jalur tersebut samapi di desa memerlukan waktu lebih kurang 3 bulan, itu dengan catatan jikalau jalur tidak terbenam di dalam lumpur kalau tetanam itu lebih usang lagi.
            Akan tetapi kini ini masyarakat mulai bergesr maelo jalor ini dengan menggunakan chainsaw dalam menebang dan dalam bentuk kayu bundar di tarik ke desa dengan menggunakan cartefilar atau alat berat sehingga masyarakat tidak perlu setiap minggu pergi ke rimba tetapi cukup dengan beriuran untuk biaya nya mebawa nya ke desa. Hal ini jikalau terus menerus terjadi maka  kebersamaan dan semangat gotong royong sudah mulai luntur bahkan sudah untujk muda-mudi mengenali lawan jenis nya semakin tidak ada dan antar mengantar sesuatu yang akan di masak tidak ada lagi sehingga suatu dikala ini bisa saja memintak nya tidak pintar memasak lantaran dengan maelo jalur lah seorang perempuan bersama memasak dengan baik dan yummy biar orang yang mengatar bekal tersebut yang tidal lain ialah pacarnya sendiri yummy dan lahap dalam memakan dan merasakan hasil makanan nya.
E.     PEMBUATAN JALUR
            Pembuatan jalur di hutan tempat kayu tersebut,di tebas bukan
lah hingga selesai hingga 100% tetapi penggarapan jalur tersebut hanya selesai kira-kira 50%.Tujuan nya biar kayu yang akan di tarik besama-sama oleh masyarakat yang sudah dewas tidak terlalu berat lantaran tubuh jalur bab tengah sudah banyak yang di kurangi.Penarik jalur dari hutan( dari tempat kayu jalur) di tebas hingga ke desa biasanya di tepui salah satu lapangan bola akan tempat yang cukup luas dan strategis untuk menuntaskan pembuatan jalur.
            Pembuatan jalur selayak jadi menyerupai yang di gambar tadi mengalami perubahan maka semenjak tahun 1991. Artinya,sebagian jalur telah diproses hingga selayak jadi di hutan sebagai batang dip roses di desa tersebut. Karena terbuka nya kanal jalan dari hutan ke desa. Pada umumnya kanal jalan tersebut di buat oleh perusahaan yang beroperasi di wilayah kabupaten,kuantan singing. Dengan demikian hanya jalur yang sudah du tebas di hutan sanggup di angkat dengan menggunakan truk hingga ke desa. Setelah hingga di desa barulah kayu bundar tersebut diproses pembuatan nya hingga selesai dan siap untuk di lombakan. Jika kayu jalur yang masih bundar itu di olah di tari bahu-membahu oleh masyarakat. Ia tidak akan pribadi ditarik lantaran sangat berat walaupun bisa ditarik maka akan membutuhkan waktu yang sangat usang dan hal tersebut akan menggangu anggota masyarakat untuk menjalankan pekerjaan rutin meraka sehai-hari.
 KESIMPULAN
Pacu Jalur merupakan sebuah perlombaan mendayung di sungai dengan menggunakan sebuah bahtera panjang yang terbuat dari kayu pohon. Panjang bahtera ini bisa mencapai 25 hingga 40 meter dan lebar bab tengah kir-kira 1,3 m s/d 1,5 m, dalam bahasa penduduk setempat, kata Jalur berarti Perahu. Setiap tahunnya, sekitar tanggal 23-26 Agustus, diadakan Festival Pacu Jalur sebagai sebuah program budaya masyarakat tradisional Kabupaten Kuantan Singingi,Riau bersamaan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia..
Pacu jalur biasanya dilakukan di Sungai Batang Kuantan. Hal ini tak lepas dari catatan panjang sejarah, Sungai Batang Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bab hulu dan Kecamatan Cerenti di hilir, telah digunakan sebagai jalur pelayaran jalur semenjak awal kurun ke-17. Dan, di sungai ini pulalah perlombaan pacu jalur pertama kali dilakukan. Sedangkan, arena lomba pacu jalur bentuknya mengikuti aliran Sungai Batang Kuantan, dengan panjang lintasan sekitar 1 km yang ditandai dengan tiga tiang pancang.
 
REFERENSI
Suwardi, MS., 1984/1985. Pacu jalur dan upacara pelengkapnya. Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Jakarta, Depateemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), edisi ketiga. Jakarta: Balai
Pustaka.
Tim Koordinasi Siaran Dierktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka ragam khasanah budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Irfan Afifi, 2008. “Pestival Pacu Jalur di Kuantan Singingi,” [Online], tersedia di  (http://wisatamelayu.com/id/object/62/34/festival-pacu-jalur-di-kuantan-singingi/&nav=geo), [diakses pada tanggal 27 September 2010].
Anonim. “Kabupaten Kuantan Singingi”, [Online], tersedia di  (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kuantan_Singingi), [diakses pada tanggal 27 September 2010].