Pakaian Tradisional Masyarakat Berbudaya Melayu Kota Pekanbaru

Kebudayaan merupakan hasil kecerdikan dan karya manusia, baik berwujud maupun tidak berwujud. Dapat dikatakan juga bahwa kebudayaan itu sebagai “keseluruhan dari apa yang pernah dihasilkan oleh insan alasannya yaitu pemikiran dan karyanya”.
Budaya yang berlaku di Negeri Pekanbaru yaitu sopan santun bersendikan syarak penuh dengan doktrin Islam. Maka yang dikatakan orang Melayu itu yaitu : Beragama Islam, beradat istiadat Melayu dan berbahasa Melayu.

Dalam kitab Bab Al Qawa’id Kerajaan Siak menyampaikan bahwa : tidak dibenarkan Datuk, orang Besar, dan hamba rakyat masuk ke dalam istana dan Balai Adat kalau tidak berpakaian baju melayu. Berpakaian baju melayu itu yaitu baju melayu cekak musang atau teluk belangga satu stel, berkain samping dan berkopiah, pakai sepatu atau selepa. Hamba Raja/rakyat tidak dibenarkan berkain gumbang kecuali orangnya mengadu minta derma ditengah jalan.
Berpakaian Baju Melayu Dan Bentuknya.
            Ungkapan sopan santun melayu menyampaikan : “adat menggunakan pada yang sesuai, sopan santun duduk pada yang elok, sopan santun bangun tahukan diri”. Ungkapan ini mengandung makna yang dalam, yang pada dasarnya member petunjuk bahwa setiap orang dituntut untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya, berperilaku berdasarkan alur dan patutnya. Di dalam hal berpakaian hendaklah mengacu kepada azas “sesuai”, sesuai yang memakainya, sesuai dengan cara memakainya, sesuai dengan daerah memakainya, sesuai pula berdasarkan ketentuan sopan santun yang berlaku dalam hal tentang berpakaian (Tenas Effendy).
            Di dalam ungkapan Melayu ditegaskan, “apa tanda sopan santun dijunjung, tahu menggunakan baju kurung, pertama dikurung oleh syarak, kedua dikungkung oleh adat”. Yang dimaksud dikurung oleh syarak ialah pakaian melayu itu wajb mengikuti syari’at Islam, antara lain dipantangkan membuka aurat, terlalu tipis atau jarang, dan terlalu ketat. Yang dimaksud dikungkung oleh sopan santun ialah tahu menentukan pakaian yang sesuai, alat kelengkapan pakaian, cara memakainya, daerah memakainya, dan tahu pula makna dan tujuan memakainya.
Jenis Pakaian Melayu
1.      Pakaian Harian
            Pakaian harian ialah pakaian yang digunakan setiap harinya untuk melakukan kegiatan harian, baik untuk bawah umur bermain, di rumah, bertandang ke rumah tetangga, ke ladang, dan lain-lainnya.
a.      Anak-Anak Yang Belum Akil Baliq
            Bagi anak pria sering menggunakan baju kurung teluk belangga, pakai ikat kepala atau kopiah, berkain samping. Sering juga dipakaikan baju cekak musang atau gunting cina. Biasanya dibentuk dari materi katun yang tahan ditempa atas kelasakan anak laki-laki.
            Untuk anak perempuan, mereka menggunakan baju kurung teluk belangga yang satu stel dengan kainnya, biasanya satu warna dengan motif yang sama.
b.      Anak Yang Telah Aqil Baliq
            Pakaian harian untuk anak pria remaja yaitu baju kurung cekak musang atau teluk belangga bertulang lutut. Bagi anak pria yang sering membantu orang tuanya bekerja, sering menggunakan celana lima jari dari lutut dengan maksud gampang bergerak dalam melakukan pekerjaan menyerupai di ladang, ke laut, dan bertukang. Baju ini harus dilengkapi dengan kain samping dan ikat kepala atau kopiah.
            Pakaian bagi anak wanita yang sudah remaja menggunakan baju kurung teluk belangga lapang berbunga sama deng
an kainnya, atau menggunakan baju kebaya pendek dengan kain batik sarong dan kain pelekat karong dan ada juga menggunakan kebaya laboh dengan mempergunakan kombinasi warna yang serasi. Tutup kepala pakai selendang panjang pada masa dulunya sering menggunakan selendang lingkup dari kain pelekat pula.
c.       Pakaian Orang Setengah Baya Dan Tua-Tua
            Pakaian wanita setengah baya menggunakan teluk belangga, baju kurung laboh dan baju kurung stelan dan kebaya pendek, dilengkapi dengan selendang dan tudung lingkup.
            Bagi orang tua-tua wanita berpakaian baju kurung lapang dan berkain pelekat atau kain batik, leher baju disebut teluk belangga bertulang lutut memiliki saku disamping kiri. Ada juga yang menggunakan baju kebaya laboh dibawah lutut dan lapang.
            Pakaian orang pria setengah baya dan orang tua-tua menggunakan baju kurung cekak musang atau baju kurung teluk belangga bertulang lutut, pakai kain samping, berkopiah dan bersandal capal. Baju kurung cekak musang maupun teluk belangga yang kain sampingnya terletak dipinggang diberi nama pakai baju kurung “Ikat Dagang Dalam”. Kalau kainnya di dalam sedangkan bajunya keluar diberi nama “Ikat Dagang Luar”. Pakaian orang tua-tua dan setengah baya sering menggunakan kain pelekat yang sesuai dengan warna bajunya.
2.      Pakaian Setengah Resmi
            Pakaian setengah resmi ini digunakan dalam menghadiri usul pemerintahan, jemputan sopan santun perkawinan, upacara agama atau upacara lainnya menyerupai menghadiri janji nikah, usul jamuan, mendapatkan tamu.
            Bentuk baju melayu orang pria yaitu baju kurung cekak musang atau teluk belangga. Yang dikatakan baju cekak musang lehernya menggunakan kerah tegak dengan ketinggian dua jari tersusun, lazimnya menggunakan lima buah butang baju, juga disebut baju melayu butang lima, yakni dua buah butang terletak di kerah dan tiga buah butang terletak pada serpihan dada. Butang lima ini melambangkan “rukun Islam yang lima”. Sedangkan butang baju teluk belanga hanya satu buah melambangkan “ke-Esa-an Allah”.
            Baju cekak musang yang sering digunakan di dalam upacara resmi ialah ikat dagang dalam. Ikat dagang luar sering digunakan pada dikala kegiatan shalat lima waktu.
            Ikat kain samping untuk orang setengah baya atau sudah berkeluarga, tinggi kainnya tiga jari tersusun dibawah lutut. Sedangkan remaja, tingginya diatas lutut. Kepala kain bagi pria setengah baya terletak dibelakang, sedangkan remaja terletak disamping kanan.
            Orang tua-tua juga menggunakan baju cekak musang atau teluk belangga. Warna bajunya diadaptasi dengan taraf ketuaannya. Ikat kain dalam dan tingginya hampir ditengah betisnya. Kepala kainnya juga terletak dibelakang. Pada zaman kerajaan dahulu, warna kuning merupakan larangan alasannya yaitu hanya digunakan oleh Sultan dan keturunan bangsawan.
            Pakaian baju kebaya laboh bagi wanita remaja dan setengah baya, tinggi baju tiga jari tersusun diatas lutut. Sedangkan orang tua-tua tinggi bajunya tiga jari dibawah lutut atau lebih. Rambut disanggul dan kepalanya ditutup menggunakan selendang/derihok.
            Untuk kaum wanita banyak pantangan yang harus dipatuhi dalam menggunakan pakaian melayu. Pantangan ini antara lain :
a.      Pantang Membuka Aurat
            Setiap pakaian yang tidak menutupi aurat dianggap merendahkan harkat dan martabat diri, melanggar doktrin Islam dan sopan santun Melayu. Ungkapan sopan santun menyampaikan : ” Sesiapa menggunakan terbuka aurat, tanda imannya sudah berkarat”.
b.      Pantang Terlalu Tipis
            Di dalam ungkapan sopan santun dikatakan : “Apabila berkain baju terlalu tipis, disitulah setan dan iblis”.
c.       Pantang Terlalu Ketat
            Ungkapan sopan santun menyampaikan : ” Apabila menggunakan terlalu ketat, agama hilang binasa adat”. Tanda melayu memegang sopan santun pantang sekali berbaju ketat, apalagi untuk kaum perempuan.
3.      Pakaian Upacara Adat
            Pakaian upacara sopan santun yaitu pakaian yang dikenakan dalam suatu upacara sopan santun yang dilaksanakan Kerajaan atau Lembaga Adat Melayu, antara lain :
          Upacara penobatan raja dan permaisuri
          Upacara peresmian menteri, datuk-datuk, pengurus forum adat
          Upacara menjunjung duli
          Upacara penyambutan tamu
          Upacara sopan santun mendapatkan anugerah, penyampaian dan persembahan dari negeri lain atau dari rakyat sendiri.
a.      Pakaian Adat Laki-Laki
            Pakaian program sopan santun pria baik bau tanah maupun muda sama, berwarna hitam baik baju maupun celana. Bajunya model cekak musang berbutang lima. Pakain sopan santun melayu dilengkapi sebagai berikut :
– Baju setelan dengan celana warna hitam.
– Kain samping terbuat dari tenunan orisinil melayu.
   Tenunan Siak, Tenuna Daik, Tenunan Indragiri atau Tenunan Tranggano.
– Tanjak sebagai tutup kepala dari tenunan atau saten bertelepuk warna hitam.
– Bengkong pengikat pinggang.
– Sebilah keris, sepukal, tuasik, atau tumbuk lada, tergantung pilihan.
– Sepatu atau kasut capal dari kulit.
            Pemakaian tanjak tergantung kepada tingkat jabatan yang dipegang. Jenis tanjak :
– Tanjak elang menyongsong angin
– Tanjak belah mumbang
– Tanjak ikat laksmana
– Tanjak balong ayam
– Tanjak tebing runtuh
– Tanjak ikat biasa
b.      Pakaian Adat Perempuan
            Datin-datin dan encik-encik sering menggunakan warna baju hitam kemerah-merahan menyerupai warna kumbang jati, warna hijau lumut, atau bunga terung. Kelengkapan pakaian wanita dalam upacara sopan santun yaitu :
– Baju kurung cekak musang, teluk belangga, atau kebaya laboh (panjang)
– Kain sarung tenun asli
– Kain sarung untuk tudung lingkup
– Selendang epilog rambut
– Selendang mente dijuraikan
– Sanggul siput jonget, siput lipat pandan, dll
– Tusuk sanggul dibenam
– Jurai pendek atau panjang
– Anting-anting
– Dukuh bertingkat
– Pendeng mas atau perak
– Gelang tangan dan kaki
– Kalung pendek-pendek permata dan kalung panjang
– Keris pendek kecil atau keluait diletakkan di sanggul
– Kasut atau selepa
4.      Pakaian Upacara Keagamaan
            Bagi masyarakat melayu kota Pekanbaru, pakaian yang digunakan dalam kegiatan keagamaan ini, disesuiakan dengan kegiatan keagamaan yang akan dihadiri menyerupai Shalat Jum’at, Shalat Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, dan program lainnya.
            Kaum pria berbusana muslim sering menggunakan baju kurung cekak musang dan teluk belangga, menggunakan kopiah dan kain samping.
            Untuk ulama, bilal, imam, dan qatib, mereka mengenakan jubah. Imam dan qatib menggunakan jubah berwarna hitam, dikepalanya menggunakan terbus warna merah dibalut kain tipis berwarna putih dan ujung kainnya diuntaikan di pundak sebelah kiri. Sedangkan bilal berwarna hijau lumu pada jubahnya dan menggunakan terbus warna merah dikepalanya.
            Kaum wanita menggunakan baju kebaya labong atau teluk belangga, dilengkapi selendang, jilbab, dan kain sarong tudung lengkop. Kalau untuk kegiatan jamaah harian, orang tua-tua wanita menggunakan baju kurung teluk belangga dari materi katun dan kain pekat.
Warna Pakaian Tradisional Melayu Riau
            Warna yang sangat mayoritas dalam masyarakat Melayu Riau yaitu kuning keemasan, hijau lumut dan merah darah burung, warna tersebut merupakan warna yang telah diturunkan secara turun temurun semenjak nenek moyang orang melayu di Bumi Lancang Kuning ini. Ketiga warna tersebut terhampar pada tabir-tabir pelamina
n melayu  Riau dalam suatu program sopan santun perkawinan ataupun sopan santun kebesaran Budaya Melayu.
1.     Warna kuning keemasan, melambangkan kebesaran dan kewibawaan dan kemegahan serta kekuasaan. Warna kuning keemasan pada zaman kerajaan Siak, Kerajaan Riau Lingga, Kerajaan Indragiri dan Kerajaan Pelalawan yaitu warna larangan dan tabu bagi masyarakat biasa bila memakainya.  Yang menggunakan warna kuning keemasan yaitu Sultan atau Raja suatu negeri dari kerajaan Melayu. Permaisuri Kerajaan atau istri Sultan menggunakan kuning keemasan pada upacara -upacara kerajaan.
2.     Warna hijau lumut, melambangkan kesuburan dan kesetiaan, taat serta patuh, terhadap pedoman agama. Warna Pakaian Hijau Lumut digunakan oleh kaum-kaum bangsawan, Tengku, Encik, dan Wan.
3.   Warna merah darah burung, melambangkan kepahlawanan dan keberanian, patuh dan setia terhadap raja dan rakyat. Warna Merah dari darah burung memancarkan  kecemerlangan.
4.      Warna hitam, melambangkan kesetiaan, ketabahan dan bertanggung jawab serta jujur. Baju warna Hitam digunakan oleh datuk dan orang besar kerajaan  dalam upacara sopan santun kebesaran kerajaan.
Daftar Pustaka
Jamil, O.K. Nizami. 2005. Pakaian Tradisional Melayu Riau. Pekanbaru: LPNU Press dan Lembaga Adat Melayu Riau.
 
S, Abdulkadir Muhammad. 1987. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Fajar Agung.
Zulkifli, Encik. 2005. Adat Perkawinan dan Pakaian Tradisional Masyarakat Melayu Kota Pekanbaru. Pekanbaru: pemkot Pekanbaru dan Lembaga Adat Melayu Riau.