Partai Gerindo ( Gerakan Rakyat Indonesia )

DINI MIRANDA/ S I IV
Gerindo merupakan partai politik yang memberi dinamika gres bagi kaum pergerakan nasionak seluler di Palembang, partai gerindo merupakan front persatuan dalam menghadapi fasisme dan membenarkan kaum nasionalis untuk bekerja sama dengan pemerintahan colonial belanda. Gerakan rakyat Indonesia merupakan salah satu dari organisasi pergerakan atau partai yang didirikan o9leh sartono. Gerindo bangun di Jakarta pada tanggal 24 mei 1937 sebagai akhir bubarnya partindo. Tokoh tokoh yang bergabung dengan gerindo, selain Mr. Sartono yang lainnya yaitu Adam Malik , A.M. Sipahutar, sanusi pane , sarmidi
mangoensarkoro , Dr adnan kapau (A.K) Ghani, Mr amir sjarifoedin, Mr. Mohammad yamin dan lainnya. Kelahiran partai ini bertujuan mencapai Indonesia merdeka, memperkokoh ekonomi Indonesia, mengangkat kesejahteraan kaum buruh, dan memberi santunan kepada kaum pengangguran. gerindo menjunjung azas kooperasi sehingga mereka mau bekerja sama dengan pemerintah jajahan. Kongres pertama gerindo dilaksanakan pada bulan juli 1938 di Jakarta. Kongres pertama ini dilaksanakan sebagai bentuk dari kerja faktual suatu organisasi pergerakan yang peduli terhadap perubahan sosiasocialarakat pribumi. Kongres yang diadakan di Jakarta tersebut menghasilkan pembentukan PERI ( penuntutan ekonomi rakyat Indonesia ) yaitu perkumpulan ekonomi berdasarkan demokratis nasionalisme. Program kerja diantaranya yaitu memperbaiki harga harga hasil bumi dan menurunkan harga harga barang keperluan rakyat dan ekspansi kesempatan kerja. sedangkan kongres kedua dilaksanakan di Palembang pada bulan agustus 1939. Pada kongres kedua ini gerindo memutuskan mendapatkan kaum peranakan ( indo eropa ), (indo tionghoa dan indo arab ) sebagai anggota . [1]
Kelahiran partai gerindo di sambut besar hati oleh para bekas anggota partindo dalam waktu yang singkat mereka telah berhasil mendirikan cabang cabang, cabang cabangnya tersebut tersebar hampir seluruh Indonesia salah satu cabangnya yang cukup berhasil di Indonesia yaitu Palembang. Pada umumnya suatu cabang partindo secara otomatis menjadi cabang garindo. Akan tetapi pemerintah colonial masih berusaha menghambat perkembangannya. Sehimgga ada cabang gerindo yang di bubarkan sebab pemerintah colonial masih menaruh rasa curiga terhadap para mantan anggota partindo. Partai partindo memang menjalin kerjasama dengan colonial, tetapi kerjasama kaum nasionalis dari partai gerindo dengan pemerintah hindia belanda barangkali hanya merupakan taktik belaka sebab jikalau tidak demikian maka gerindo akan kehilangan hak untuk hidup . gerindo untuk rakyat umum yang berusaha untuk mencapai bentuk pemerintahan Negara berdasarkan kemerdekaan dilapangan politik, ekonomi, dan social. Partai Gerindo semakin kuat dengan bergabungnya bekas anggota partindo dan PNI yang lama, mereka lebih menentukan bergabung dengan gerindo dibandingkan bergabung dengan partai parindra yang menuntut mereka lebih lunak. Salah satu tokoh partai gerindo yaitu Amir Syaarifuddin dia yaitu tokoh gerindo yang mengalihkan haluan non kooperatif partai gerindo menjadi kooperatif , karna menurutnya non kooperatif merupakan kesalahan yang ditunjukkan oleh partai gerindo. Awalnya gerindo merupakan partai sayap kiri pergerakan nasional dengan wajah yang gres kooperasi, asas gerindo yaitu kebangsaan kenyataan berjuang untuk mencapai kemerdekaan nasional, asas kebangsaan gerindo tidak didasarkan pada satu darah, satu turunan , tetapi azas kerakyatan yaitu demokrasi dalam bebagai lapangan masyarakat yaitu demokrasi politik, demokrasi ekonomi dan social. Yang menjadi pedoman partai yaitu azas dan tujuan partai, dan semua anggota harus tunduk kepada hukum partai. Jalan untuk mencapai tujuan yang dibutuhkan gerindo yaitu membimbing rakyat hingga pada tingkat keinsafan politik, ekonomi, dan social, menyusun kemampuan rakyat diluar di dalam dewan dewan . gerindo lebih mengutamakan kemennangan di bidang politik sebab bidang tersebut merupakan kunci utama dalam membawa rakyat ke susunan ekonomi dan social lebih utama. Gerindo menjunjung tinggi demokrasi menggambarkan tujuan sebagai suatu dewan legislatif yang sepenuhnya bertanggung jawab terhadap rakyat Indonesia. Tujuan ekonomi partai gerindo sebagai susunan ekonomi yang berdasarkan kooperasi dibawah pengawasan Negara. Tujuan sosialnya yaitu sebagai suatu lingkungan hidup berdasarkan hak dan kewajiban yang sama antar banyak sekali macam penduduk. Sedangkan jalan kedua yang di tempuh partai Gerindo untuk mencapai tujuannya yaitu dengan azas self-help dan kooperasi, serta bekerja sama dengan pemerintah dengan mengirim wakil-wakilnya volksraad dan dewan- dewan lainnya. Partai Gerindo didirikan mempunyai kegiatan yaitu mengadakan kongres pertama di Jakarta pada tanggal 20-24 Juli 1938. Kongres itu dilaksanakan sebagai bentuk dari kerja faktual dari suatu organisasi pergerakan yang peduli terhadap perubahan sosial masyarakat pribumi, dalam Kongres yang pertama ini berhasil membentuk Penuntun Ekonomi Rakyat Indonesia (PERI) yang berdasarkan pada Demokratis Nasionalisme, kemudian Kongres yang ke II di adakan di Palembang. Sama halnya dengan Partai Gerindo yang ada di Palembang Pengikut Gerindo terdiri dari banyak sekali kalangan sebagaian besar yaitu pekerja lepas, buruh pelabuhan, dan buruh pasar. Bekas ketua Partindo Noengtjtik A.R diangkat sebagai ketua Gerindo di Palembang dan wakil ketuanya yaitu Samidin yaitu bekas ketua PNI sedangkan sekretarisnya yaitu A.S Sumadi yaitu seorang penggerak yayasan perguruan tinggi rakyat “Taman Siswa”. Pada tingkat tertentu Gerindo yang ada di Palembang berhasil mempersatuakan kembali bekas-bekas PNI usang kawasan ini yang sebelumnya terpecah antara Noengtjik A.R (Partindo) dan Samidin (PNI baru), dalam waktu yang relatif singkat Gerindo tersebar di hampir setiap kawasan bahkan hingga kepelosok Muara Rupit. Gerindo palembang memang jauh lebih dinamis dibandingkan dengan Parindra. Pada simpulan 1939 anggota Parindra tercatat 2.200 orang, namun Gerindo sudah mempunyai sekitar 25 cabang yang tersebar di banyak sekali kawasan di Palembang dengan jumlah anggota 4.000 orang pada tahun yang sama. Meskipun demikian kedua partai tetap menyelenggarakan kerjasama di bidang-bidang tertentu. Partai Gerindo semakin meningkat dengan diadakannya Kongres Nasional II, yang merupakan Salah satu kegiatan spektakuler Gerindo di Palembang, Gerindo cabang pelembang terpilih sebagai tempat penyelanggara. Kongres yang pertama berlangsung semenjak tanggal 20 juli hingga 24 juli 1938. Sedangkan kongres yang kedua yang diadakan di Palembang yaitu pada tanggal 1-2 Agustus 1939. Kongres yang diadakan di Palembang ini dihadiri oleh sejumlah pemimpin partai Gerindo pusat, menyerupai A.K. Gani, Amir Syarifoeddin, Wikana, Adam Malik, Tabrani, dan Asmara Hadi. Kongres ini merupakan kongres nasional partai politik yang pertama kali diadakan di Palembang , mengambil tempat di Sekanak 10 Ulu, kongres menjadi pujian tersendiri bagi pengurus cabang Gerindo di Palembang.[2] Dalam Kongres ini diambil keputusan berupa penerimaan peranakan menyerupai peranakan Eropa, peranakan Tionghoa, dan peranakan Arab, untuk menjadi anggota partai Gerindo. Salah satunya yaitu diterimanya Oei Gee Hwat yaitu seorang sekretaris pengurus besar Partai Tionghoa Indonesia (PTI) menjadi salah seorang pengurus partai Gerindo, keputusan itu diambil berdasarkan keputusan kongres yang diadakan di Palembang, yang pada ketika itu di pimpin oleh A.K. Gani, sebab Gerindo menjalankan garis Demokrasi yang mengutamakan perlawanan terhadap fasisme dan tidak mempersoalkan warna kulit yang berbeda dan bisa membuka pintu untuk meneriama etnis Tionghoa. Sudah sanggup kita lihat bergotong-royong Gerakan Rakyat Indonesia ini yaitu unruk memperteguh ekonomi Indonesia serta memperkuat pertahanan negeri. Serta dalam Kongres yang kedua ini Gerindo juga berusaha mencapai adanya hukum menentukan batas upah yang rendah dan tunjangan bagi penganguran. [3]
Seiring dengan kemajuan partai Pengurus Gerindo Palembang pada simpulan 1939 mulai menuntut dingklik lebih banyak bagi wakil bumi putra dalam Gemeenteraad yang semula tidak lebih dari lima orang dan tuntutan itu di penuhi. Kemajuan yang dialami oleh partai Gerindo yang ada di Palembang tidak bisa lepas dari peranan A.K. Gani, yaitu berawal dari kepindahan tokoh berpengalaman ini dari Batavia ke kota Palembang untuk tugasnya sebagai Dokter yang alhasil menciptakan Gerakan Gerindo yang ada di Palembang semakin hidup sedikit dan sedikit banyak menjadi avantgarde pergerakan nasionalis sekuler kawasan ini. Walupun posisi Gani turun dari sentra ke kawasan tetapi wibawanya amat terasa di cabang Gerindo seluruh Sumatera. Selain itu di bidang kepemudaan di bentuk Barisan Pemuda Gerindo sesudah Juli 1938. Azas dari Barisan Pemuda Gerindo ini sama dengan Gerindo itu sendiri dan yang terpilih menjadi ketuanya yang pertama yaitu Wikana. Organisasi yang di buat oleh cowok Gerindo yaitu Bariasan Pelopor Gerindo (BPG), dan sering melaksanakan kegiatan bersama dengan Suryawirawan dari organisasi kepanduan Parindra. Pada awal 1940 sesudah dirasa kekuatan partai dianggap semakin mantap dengan cermin banyaknya cabang yang t
elah dibuka didaerah-daerah pedalaman. Pengurus Gerindo yang ada di Palembang mendesak pimpinan Gerindo sentra untuk meninggalkan garis politik “Co”. Tetapi perilaku percaya diri yang terlalu hiperbola tentu saja sama dengan bunuh diri, taktik kooperatif yang dijalankan selama ini sebenarnya tidak merugikan Gerindo malah menguntungkan sebab semenjak tahun 1939 partai Gerindo sudah menerima jatah dingklik di dalam Gemeenteraad. Sementara orang yang di percayai untuk menduduki dingklik tersebut yaitu Mohammad Thaher Mangkudijaya yaitu seorang pedagai dan simpatisan PNI yang bergabung dengan Gerindo dan aktif mengurus koperasi Centraal Coperatie Palembang (CCP). Kerena Gerindo menganut anutan politik “Co”, maka koperasi mendapatkan banyak sekali fasilitas dari pihak pemerintah. Koperasi Konsumsi dijadikan sebagi warung baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anggotnya maupun untuk masyarakat luas. Yang bertugas mengawasi jalannya koperasi yaitu Ir. Ibrahim , dibawah pengawasannya koperasi Gerindo sanggup berkembang pesat dan bisa membuka sejumlah cabang di kota Palembang dan konon katanya sanggup menyaingi toko-toko Cina dan India khususnya dalam hal penjualan materi kebutuhan pokok sehari-hari.
Setelah kongres yang pertama dan kedua, masih ada kongres yang diadakan oleh partai Gerindo yaitu kongres yang ke tiga yang dilaksanakan pada tanggal 10 hingga 12 Oktober 1941. Dalam kongres ketiga yang diadakan oleh Gerindo ini diputuskan bahwa Gerindo hendak mendirikan sebuah partai yaitu Partai Buruh Politik Indonesia yang baru. Akan tetapi rencana tersebut tidak terealisasikan sebab sudah ada partai Gerindo, hal tersebut dilakukan sebab berdasarkan mereka Gerindo bukan hanya sekedar partai polik saja tetapi Gerindo berusaha untuk mencapai suatu bentuk masyarakat yang mempunyai bukan hanya demokrasi politik saja tetapi juga demokrasi di bidang ekonomi dan sosialnya. Dari kongres yang ketiga ini juga diambil keputusan untuk membebaskan pemimpin Indonesia yang sudah diasingkan. Kita melihat bergotong-royong yang di fokuskan oleh Partai Gerindo yaitu kemenangan di bidang politik, sebab berdasarkan mereka kemenangan di bidang politik merupakan jalan untuk kemenangan di bidang lainnya. Tetapi walaupun demikian bidang ekonomi juga tidak bisa dilupakan sebab ekonomi ikut menunjang bidang politik, susunan ekonomi yang baik akan sangat kuat terhadap bidang politik dan sosial. Sehingga menciptakan relasi antara politik, ekonomi, dan sosial menjadi tali penghubung yang saling terkait satu dengan yang lainnya sehingga sangat sulit untuk dipisahkan. Meskipun perkembangan partai Gerindo mengalami kemajuan yang pesat dalam mencapai tujuannya tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Gerindo akan mempunyai nasib yang sama dengan partai yang lainnya yaitu terjadi konflik dalam batang badan Partai Gerindo. Konflik yang terjadi dalam badan Partai Gerindo dimulai ketika Moh. Yamin mencalonkan diri sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia- Belanda) untuk mewakili golongan Minangkabau yang tidak mau bekerja sama dengan Gerindo. Pencalonan tersebut menimbilkan keonaran dalam partai Gerindo sehingga menciptakan pengurus besar mengadakan pemecatan sementara terhadap Muh. Yamin. Ternyata keputusan yang diambil oleh Muh. Yamin membuatnya tidak menyadari bahwa dia telah masuk ke dalam jebakan pemerintah Hindia Belanda, yaitu dijadikan sebagai alat untuk memecah belah barisan kulit berwarna. Permohonan Muh. Yamin memang dikabulkan sebagai anggota Volksraad tetapi dengan masuknya dia sebagai anggota Volksraad menciptakan dirinya dipecat dari keanggotaan Gerindo secara tidak hormat dan dianggap sebagai suatu bentuk penghianatan terhadap partai Gerindo. [4]
Notes
[1] Onghokham (1989). Runtuhnya Hindia Belanda. PT. Gramedia. Jakarta. Hal 149
[2] Zed Mestika (2003). Kepialangan politik dan revolusi Palembang 1900-1950. Jakarta
[3] Poesponegoro, Marwati Djoened (1992). Sejarah Indonesia V. Balai Pustaka. Jakarta. Hal 379
[4]  
DAFTAR PUSTAKA
Onghokham (1989). Runtuhnya Hindia Belanda. PT. Gramedia. Jakarta. Hal 149
Zed Mestika (2003). Kepialangan politik dan revolusi Palembang 1900-1950. Jakarta
Poesponegoro, Marwati Djoened (1992). Sejarah Indonesia V. Balai Pustaka. Jakarta. Hal 379