Pejuangan Pangeran Diponegoro Melawan Bangsa Belanda

ARMINAL HABLI/014B/SI IV
Setelah kekalahannya dalam Peperangan kala Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan aneka macam pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, mereka juga melaksanakan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia.Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya di salah satu sektor, Belanda sempurna melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro (RM Ontowiryo). Hal ini menciptakan Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut. Namun Belanda tetap memasang patok-patok tersebut bahkan yang sudah jatuh sekalipun. Karena kesal.Belanda yang memiliki alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro alasannya dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman dia di Tegalrejo. Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri

menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Sementara itu, Belanda yang tidak berhasil menangkap pangeran. Pangeran Diponegoro kemudian menimbulkan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya.

Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran sesudah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dalam semangat “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati”; sejari kepala sejengkal tanah dibela hingga mati. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Mojo yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro menerima dukungan dari rakyat, ulama dan juga kaum bangsawan. Dari kaum darah biru ada Pangeran Mangkubumi, Pangeran Joyokusumo dan lain-lain. Sementara dari kaum ulama ada Kiai Mojo, Haji Mustopo, Haji Badaruddin. Dalam usaha membangkitkan semangat juang, Kiai Mojo selalu aben keberanian para pejuang. Beliau memutuskan bahwa tujuan perang ini yaitu Jihad yang harus dilakukan semua umat Islam untuk melawan orang-orang yang menimbulkan penderitaan di segala bidang. Pada tahun 1825-1826, pasukan Pangeran Diponegoro menerima banyak kemenangan. Daerah Pacitan berhasil dikuasai pada tanggal 6 Agustus 1825, menyusul kemudian Purwodadi pada tanggal 28 Agustus 1825.
Pertempuran semakin meluas mencakup Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang, Madiun, Kertosono dan lain-lain. Pangeran Diponegoro menugaskan Pangeran Adiwinoto dan Mangundipuro memimpin perlawanan di tempat Kedu, Pangeran Abubakar dan Tumenggung Joyomustopo, mengadakan perlawanan di tempat Lowanu, sedangkan untuk tempat Kulonprogo diserahkan kepada Pangeran Adisuryo dan anaknya Pangeran Sumenegoro untuk memimpin perjuangan, Tumenggung Cokronegoro di wilayah Gemplong, untuk wilayah sebelah utara kota Jogjakarta usaha dikomandoi oleh paman Diponegoro yaitu Pangeran Joyokusumo, dia dibantu oleh Tumenggung Surodilogo, di belahan timur kota Jogjakarta diembankan kepada Suryonegoro dan Suronegoro,  markas besar di selarong dipimpin oleh Joyonegoro Sumodiningrat dan juga Joyowinoto, sedangkan untuk tempat Gunung kidul dipimpin oleh Pangeran Singosari dan Warsokusumo, di tempat Pajang  pimpinan perang diembankan kepada Mertoloyo, Wiryokusumo, Sindurejo dan Dipodirjo, di tempat sukowati juga ditempatkan pasukan perlawanan yang dipimpin oleh Kartodirjo, wilayah strategis Semarang dipimpin oleh Pangeran Serang, sedangkan untuk tempat Madiun, Magetan dan Kediri,dipimpin oleh Mangunnegoro, Pada tanggal 28 Juli 1826 pasukan Alibasha Sentot Prawirodirdjo menerima kemenangan diwilayah Kasuran. Pada tanggal 30 Juli 1826 Pangeran Diponegoro memenangkan pertempuran di wilayah Lengkong. Kemudian tanggal 28 Agustus 1826, Pangeran Diponegoro menerima kemenangan yang gemilang di Delanggu.  Tidak terhitung berapa kerugian yang diderita oleh Belanda akhir perlawanan pasukan Pangeran Diponegoro. Kekalahan demi kekalahan dialami oleh pasukan Belanda dalam menghadapi perang gerilya. Akhirnya pada tahun 1827, Jenderal De Kock menggunakan siasat Benteng Stelsel. Siasat ini untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro dengan jalan membangun benteng-benteng sebagai sentra pertahanan dan untuk memutuskan hubungan pasukan Diponegoro dengan tempat lain. Belanda juga mendatangkan bala dukungan dari Sumatra Barat untuk menghadapi perlawanan pasukan Diponegoro.
Taktik lain yang dipakai Belanda untuk melemahkan pasukan Pangeran Diponegoro yaitu mendekati para pimpinan pasukan  supaya mau mengalah dan memihak Belanda. Siasat ini berhasil, Pangeran Notodiningrat putra Pangeran Mangkubumi menyerah  pada tanggal 18 April 1828. Pangeran Aria Papak mengalah pada bulan Mei 1828. Kemudian pada tanggal 31 Oktober 1828, Kiai Mojo berunding dengan Belanda. Perundingan dilakukan di desa Mlangi. Perundingan gagal dan Kiai Mojo ditangkap kemudian diasingkan ke Minahasa hingga jadinya wafat pada tahun 1849.   Pemimpin lainnya yang masih gigih berjuang yaitu Alibasha Sentot Prawirodirdjo. Pada tanggal 20 Desember 1828 berhasil menyerang benteng Belanda di tempat Nanggulan. Untuk menghadapi perlawanan Sentot, Jenderal De Kock melaksanakan pendekatan supaya ia mau berunding. Belanda kemudian minta dukungan dari Pangeran Ario Prawirodiningrat, bupati Madiun untuk membujuk Sentot. Usaha ini berhasil, pada tanggal 17 Oktober 1829 diadakan negosiasi perdamaian dengan syarat : Sentot tetap menjadi pemimpin pasukan dan pasukannya tidak dibubarkan, selain itu ia dan pasukannya tetap diperbolehkan menggunakan sorban. Pada tanggal 24 Oktober 1829 Sentot dan pasukannya memasuki kota Jogjakarta. Kemudian oleh Belanda dikirim ke Sumatra Barat.
Dengan menyerahnya Sentot, kekuatan Pangeran Diponegoropun semakin berkurang. Apalagi sesudah putranya yang berjulukan Pangeran Dipokusumo mengalah pada Belanda di tahun 1830. Walaupun sudah banyak yang mengalah tetapi Pangeran Diponegoro masih tetap bertahan melaksanakan perlawanan. Pada tanggal 21 September 1829 Belanda mengeluarkan pengumuman bahwa siapa saja yang sanggup menangkap Pangeran Diponegoro akan menerima hadiah 20.000 ringgit.Setelah berjuang dengan gigih jadinya Pangeran Diponegoro bersedia berunding dengan Belanda. Pertemuan pertama antara Pangeran Diponegoro dengan pihak Belanda yang diwakili Kolonel Cleerens dilakukan pada tanggal 16 Februari 1830 didesa Remo Kamal, ditetapkan apabila negosiasi mengalami kegagalan, Pangeran berkenan kembali kemaskasnya Pada tanggal 28 Maret 1830 negosiasi berikutnya dilakukan di rumah Residen Kedu. Perundingan tidak mencapai kata sepakat. Jenderal De Kock ternyata mengingkari janjinya alasannya pada ketika Pangeran Diponegoro hendak meninggalkan meja perundingan, dia ditangkap oleh pasukan Belanda. Hari itu juga Pangeran Diponegoro diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan kembali ke batavia. Pada tanggal 11 April 1830 hingga di Batavia dan ditawan di Stadhuis. Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. Tanggal 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnoningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya menyerupai Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. Pada tahun1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. Pada 8 Januari 1855 Pangeran Diponegoro wafat dan dimakamkan di Makassar. Akibat perang ini, Belanda menderita kerugian yang sangat besar. Dan merupakan perang yang paling menguras tenaga dan biaya. Tercatat setidaknya 8.000 prajurit Belanda tewas dan sekitar 7.000 penduduk pribumi menjadi korban perang ini serta kurang lebih 20.000 gulden habis untuk membiayai perang ini.
DAFTAR PUSTAKA
          Hanna, Williard. 1996. Ternate dan Tidore. Jakarta : PT Penebar Swadaya
          Kartodirdjo, Sartono,dkk., 1977 Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.
          Notosusanto, Nugroho:Poesponegoro Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia  Jilid IV.  Jakarta: PN Balai Pustaka.
           Suyono Capt.R.P. 2003. Peperangan Kerajaan di Nusantara. Jakarta:PT Gramedia