Pemberontakan G-30-S/Pki (Kudeta G-30-S/Pki)

NURSALINA / SI V / A

Sejak awal tahun 1965, PKI telah mempersiapkan perebutan kekuasaan  politik, yang dilaksanakan secara cermat yang tangguh dan akurat. Yang pertama yakni dicanangkannya slogan ofensif revolusioner. Sejumlah pimpinan partai diturunkan ke daerah- tempat untuk menyelengarakan rapat- rapat umum. Sukses PKI dalam membekukan lawan politiknya yang tangguh merupakan prestasi yang luar biasa pada awal 1965.Ofensif  revolusioner semakin ditingkatkan setelah hari ulang tahun PKI bulan Mei 1965. Pada

  sidang pleno IV CC PKI tanggal 11 Mei 1965,D.N.Aidit memberikan laporannya dengan judul “Perketat Ofensif Revolusioner di Segala Bidang”yang hakikatnya merupakan “Komando”. Kepada setiap jajaran organisasi massa  PKI untuk mempersiapkan diri dalam rangka merebut kekuasaan politik,komando itu diterjemahkan sesuai dengan kiprah dan fungsi organisasi massa masing- masing, alasannya berdasarkan evaluasi PKI kondisi sosial, politik, dan militer didalam negeri telah aman untuk melaksanakan itu.

Menjelang selesai Agustus 1965 pimpinan Biro Khusus PKI terus- menerus mengadakan pertemuan- pertemuan, yang kesimpulannya dilaporkan kepada ketua CC PKI D.N.Aidit. kemudian diputuskan oleh Aidit, bahwa gerakan perebutan kekuasaan akan dipimpin pribadi oleh D.N.Aidit sebagai pimpinan tertinggi gerakan. Sjam Kamaruzzaman ditetapkan sebagai pimpinan pelaksanaan gerakan, pono ditunjukan sebagai wakil pimpinan gerakan, dan Bono ditetapkan sebagai pimpinan bab observasi. Selanjutnya kepada Sjam selaku pimpinan pelaksanaan gerakan diinstruksikan untuk mengadakan persiapan – persiapan terakhir menjelang pelaksanaan gerakan. [1]
Berdasarkan arahan tersebut, semenjak tanggal 6 September 1965 pimpinan Biro Khusus PKI berturut – turut mengadakan rapat – rapat diam-diam dengan beberapa orang oknum ABRI yang telah usang dibina yang digelari sebagai perwira progresif revolusioner untuk membicarakan persiapan kudeta. Rapat dilakukan pertama dirumah Kapten wahjudi Jalan Sidanglaya 5, Jakarta, dihadiri oleh Sjam, Pono, Letnan Kolonial Untung(Komando Batalion 1Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa), Kolonel A.Latif(Komando Brigande Infantri  Kodam V/Jaya), Mayor Udara Suyono(Komandan Pasukan Pengawal Pangkalan(P3) PAU Halim), Mayor A.Sigit(Komandan Batalion 203 Brigade Infantri 1 Kodam V/jaya), dan Kapten Wahjudi( Komandan Kompi Artileri Sasaran Udara). Dalam rapat tersebut dibicarakan mengenai situasi umum dan sakitnya Presiden Soekarno. Selanjutnya Sjam melontarkan isu adanya Dewan Jenderal di Angkatan Darat yang akan mengadakan kudeta, dan memberikan arahan Aidit untuk mengadakan gerakan mendahului perebutan kekuasaan Dewan Jenderal. Rapat kedua diselengarakan pada tanggal 9 September 1965 diempat yang sama, membicarakan janji bersama untuk turut serta dalam gerakan dan mengadakan tukar pikiran ihwal seni administrasi pelaksanaan gerakan, terutama persoalan organisasi dan pengandalian kesatuan – kesatuan yang akan dipakai dalam gerakan serta pembagian kiprah dan calon pemimpinnya.Rapat ketiga pada tanggal 13 September 1965 dirumah Kolonel A. Latif, Jalan Cawang 1 Kavling 524/525, Jatinegara, dan Rapat keempat dilaksanakan tanggal 15 September 1965, dan kelima tanggal 17 September 1965 juga dirumah Kolonel A. Latif, dalam Rapat ini hadir Brigjen Supardjo. Rapat ini menetapkan merancang Operasi Takari, tiga komando, yaiti pasopati, dengan kekuatan Bimasakti,dan Gatotkaca. Rapat keenam tanggal 19 September 1965 bertempat dirumah Sjam, Jalan Salemba Tengah, Jatibuntu, Jakarta. Rapat ketujuh tanggal 22 September 1965 juga diselengarakan dirumah Sjam. [2]
Dalam rapat itu ditetapkan penentuan target gerakan bagi tiap – tiap pasukan. Yang akan bergerak mencuilik atau membunuh para Jenderal Angakatan Darat diberi nama Pasukan Pasopati. Pasukan terotorial dengan kiprah pertama menduduki objek vital. Gedung RRI dan gedung telekomunikasi diberi nama Psukan Bimasakti. Pasukan yang bertugas mengoordinasikan aktivitas di Lubang Buaya diberi nama Pasukan Gatotkaca. Rapat kedelapan dilaksanakan tanggal 24 september 1965, Rapat kesembilan tanggal 26 September 1965, dan Rapar terakhir tanggal 29 September 1965, kesemuanya dilakukan dirumah Sjam. Sementara rapat – rapat Biri Khusus berlangsung, surat kabar PKI Harian Rakjat pada edisi 26 September 1965, dalam pojok Cabe Rawit, Wong Tjilik, menulis: soal menembak kabir, pencoleng dan koruptor besar hingga kini gres ancaman. Maling sanggup berteriak maling tetapi jangan berharap yang harus ditembak akan menembak.
Tulisan tersebut merupakan satu isyarat akan terjadinya suatu peristiwa, tetapi tidak perna ditanggapi oleh masayrakat. Setelah persiapan- persiapan terakhir menjelang perebutan kekuasaan dibicarakan dalam rapat – rapat diam-diam oleh tokoh – tokoh pelaksanaan utama dibahwa pimpinan Sjam, ditetapkan gerakan akan dimulai pada hari kamis malam pada tanggal 30 September 1965. Sesuia dengan keputusa rapat terakhir pada tanggal 29 September 1965dirumah Sjam, gerakan itu diberi nama Gerakan 30 september(kemudian dikenal dimasyarakat luas dengan sebutan G-30 S-S/PKI atau Gestapu/ PKI.
Disamping mengadakan rapat – rapat diam-diam dengan beberapa orang oknum ABRI yang memangku jabatan di Jakarta tersebut, Sjam selaku Kepala Biro Khusus PKI berturut – turut mengadakan pertemuan kepada kepala Biro Khusus Daerah yang diselenggarakan dirumah nya didalam rapat – rapat itu dibicarakan kiprah – kiprah yang harus dijalankan oleh Biro Khusus Daerah dalam rangka gerakan yang akan dilancarkan. Pertemuan dengan Biro Khusus Daera h Jakarta Raya dilakukan pada tanggal 4 September 1965 dengan Biro Khusus Daerah Jawa Barat tanggal 8 September, dengan Biro Khusus Sumatra Barat tanggal 17 September, dengan Biro Khusus tempat Jawa Tengah 15 September dan dengan Biro Khusus tempat Sumatra lainya tanggal
20 September 1965.
[3]
Secara fisik militer gerakan dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalion 1 Resimen Cakrabirawa( Pasukan Pengawal Presiden) selaku pimpinan formal seluruh gerakan. Mereka mulai bergerak pada dini hari pada tanggal 1 Oktober 1965, didahului dengan gerakan penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama Angkatan Darat. Kesemuanya dibawa kedesa Lubang Buaya. Mereka dianiayah dan jadinya dibunuh oleh angota – angota cowok rakyat, Gerwani, dan lain – lain organisasi satelit PKI. Semua mayat dimasukan kedalam sebuah sumur bau tanah kemudian ditimbun dengan sampah dan tanah. Keenam perwira tinggi yang dibunuh tersebut yakni :
1.      Menteri/ Panglima Angkatan Darat(Men/pangad) Letnan Jenderal ahmad yani.
2.      Deputi II Pangad, Mayor Jenderal R. Soeprapto .
3.      Deputi III Pangad, Mayor Jenderal Harjono Mas Tirtodarmo.
4.      Asisten I Pangad, Mayor Jenderal Siswondo Parman.
5.      Asisten IV Pangad, Brigadier Jenderal Donald Izacus Pandjaitan.
6.      Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat, Brigadier Jenderal Soetojo Siswomihardjo.
Jenderal Abdul Haris Nasution,Menteri Koordinator pertahanan keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata( Menko Hankam/ Kasab) berhasil meloloskan diri dari penculikan, tetapi putrinya Ade Irma Suryani tewas jawaban tembakan penculik. Ajudanya Lettu Pierre Andries Tendean menjadi target penculikan alasannya sepintas kemudian dalam kegelapan wajahnya menyerupai Jenderal Nasution. Turut tewas brigadier Polisi Karel Satsuit Tubun, pemgawal rumah Wakil Perdana Menteri II dr.J.Leimena yang rumahnya dekat engan rumah Jenderal A. H. Nasution. Satsuit Tbun mengadakan perlawanan ketka akan dilucuti oleh penculik yang akan masuk kerumah Jenderal A. H. Nasution. Bersama dengan gerakan penculikan, pasukan G-30-S/PKI juga menguasai objek vital yaitu Stadio RRI sentra di Jalan Mardeka Barat , dan gedung PN Telekomunikasi di Jalan Medan Merdeka Selatan. Melalui RRI yang telah mereka kuasai pada pukul 07.20 dan diulang pada pukul 08.15, Letnan Kolenel Untung menyiarkan pengumuman ihwal Gerakan 30 September. Antara lain diumumkan bahwa gerakan mereka ditunjukan kepada Jenderal – Jenderal anggota Dewan Jenderal yang akan mengadakan kudeta(perebutan kekuasaan).
            Pada tanggal 1 Oktober itu ada dua surat kabar yang memuat informasi G-30-S/PKI menyelamatkan pemimpin Besar Revolusi dan memuat nama – nama anggota Dewan Rovolusi,yaitu Harian Rakjat dan Warta Bakthi. Dalam kolom”Flim ahad Ini”,Harian Rakjat memuat karikatur lakon, the General’s Fall.
Mereka mengumumkan bahwa G-30-S dilancarkan oleh perwira – perwira yang ” berpikiran maju” menentang rencana perebutan kekuasaan Dewan Jenderal. Pada pukul 13.00 disiarkan pada senuah dekrit ihwal pembentukan Dewan Revolusi, dan Kabinet Dwikora dinyatakan demisioner. Diumumkan pula bahwa Dewan Revolusi merupakan sumber kekuasaan dalam negara Republik Indonesia. Dengan dekrit tersebut terbukalah tabir yang menyelubungi tujuan G-30-S bekerjsama yakni kudeta, yaitu gerakan merebut kekuasaan yang didahului dengan gerakan penculikan dan pembunuhan pimpinan Angkatan Darat, alasannya mereka dinilai sebagai penghalang utamanya. Gerakan pendadakan ang dilancarkan pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965 oleh Komando yang menanamkan diri G-30-S untuk sementara berhasil membingungkan masyarakat. Akan tetapi, pada hari itu juga Panglima Komando Tjadangan Strategis Angkatan Darat(Pangkostrad) Mayor Jenderal Soeharto setelah mendapatkan laporan megenai terjadinya penculikan – penculikan dan pembunuhan – pembunuhan, bertindak cepat untuk menguasai keadaan. Hal itu sesuai dengan tata cara yang berlaku bahwa apaila Menteri/Panglima Angkatan Darat berhalangan,pangkostrad yang ditunjuk sanggup mewakilinya. 
            Sambil menungu pengaturan lebih lanjut dari Presiden/Panglima Tertinggi ABRI, untuk sementara pimpinan Angatan Darat dipegangnya. Ia mengambil langkah – langkah mangadakan koordinasi diantarah kesatuan- kesatuan ABRI, khususnya yang ada di Jakarta, melalui panglima masing – masing yang semuanya berhasil dihubungi, kecuali Menteri/Panglima Angkatan Udara yang mengeluarkan perintah harian mendukung G-30-S. [4] Setelah menilai keadaan dengan cepat Pangkostrad hingga kepada kesimpulan bahwa penculikan dan pembunuhan terhadap perwira tinggi Angkatan Darat yakni bab perjuangan dari perebutan kekuasaan pemerintahan, bahwa pimpinan Angkatan Udara mendukung gerakan yang menamakan diri Gerakan 30 September  Batalion 454/Diponegiro dan 530/Brawijaya yang berda disekitar Medan Merdeka disalahgunakan oleh G-30-S/PKI. Kedua Batalion tersebut datangkan ke Jakarta dalam rangka parade Hari Ulang Tahun ABRI 5 Oktober 1965.
            Hubungan dengan Presiden Soekarno tidak sanggup dilakukan alasannya tidak diketahui keberadaanya. Baru kemudian diketahui keberadaanya di Pangkalan Udara Utama(Lanuma) Halim Perdanakusuma, tetapi tidak sanggup dimintai petunjuknya atau perintah – perintah untuk menghadapi keadaan. Dengan kondisi menyerupai itu Pangkostrad menetapkan untuk segera melancarkan opersi menumpas G-30-S/PKI dengan keyakinan bahwa gerakan itu yakni suatu pemberontakan untuk merebut kekuasaan pemerintahan, yang tampak terang setelah mereka mengumunkan dekrit pembentukan Dewan Revolusi dan pendeminioseran Kabinet Dwikora. Dengan mengunakan unsur – unsur Kostrad yang sedang berada di Jakarta dalam rangka parade Hari Ulang Tahun ABRI, yakni Batalion 328 Kujang/Siliwangi, Batalion 2 Kavaleri, dan Batalion 1 Resimen para Komando Angkatan Darat (Men Parako atau RPKAD), gerakan penumpasan Kudeta pun dimulai.  
Notes:
[1] Kopkamtib, Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia(G-30-S/PKI), Jakarta, 1979, hal. 100
[2] Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI; Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Hal: 483
[3] Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI; Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Hal: 483
[4] Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI; Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Hal: 485
Daftar Pustaka
Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI; Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.