Pendidikan Islam Dan Pengaruhnya Di Benua Afrika

Merri Natalia S/SP

Dakwah Islam telah memasuki Benua Afrika semenjak Rasulullah SAW masih hidup. Pada tahun ke-5 dari kenabian, Rasulullah SAW memerintahkan beberapa orang sahabatnya (berjumlah 15 orang, 11 orang pria dan 4 orang wanita) untuk berhijrah ke Habsyah (Ethiopia). Hijrah ini dipimpin oleh Usman bin Maz‟un yang bertujuan untuk menghindari penyiksaan-penyiksaan, dan menyelamatkan diri dari kaum kafir Quraisy serta mendakwahkan agama Islam. Selain itu, pada

kurang lebih tahun ke-6 Hijrah, Nabi SAW mengutus sahabatnya Hatib bin Abi Balta‟ah untuk memberikan surat dakwah (seruan masuk Islam) kepada Muqauqis (penguasa Mesir, gubernur Romawi Timur). Media dakwah Islam ke Benua Afrika, selain dengan cara-cara tersebut di atas, juga melalui perluasan wilayah kekuasaan umat Islam. Hal ini dimulai tatkala Umar bin Khattab menjadi khalifah (643 – 644 M atau 13 – 23 H). Melalui panglima perangnya, yakni Amr ibn As Mesir sanggup dibebaskan dari penjajahan bangsa Romawi, yang waktu itu dikuasai oleh Muqauqis (gubernur Mesir yang diangkat oleh Kaisar Romawi). Setelah itu, Islam menyebar ke negara-negara di Afrika Utara serta terjadi islamisasi dan arabisasi. Hal ini terjadi pada masa 7-8 M, Di Afrika Timur faktor arabisasi dan islamisasi tampak terang pada kedatangan dan perluasan Islam semenjak masa-masa awal hingga masa ke 20, sedangkan penyebaran Islam ke Afrika Selatan antara lain dilakukan oleh para budak Melayu yang dibawa oleh orang- orang Eropa ke wilayah itu. Secara umum, penyebaran Islam di Benua Afrika tidak terlepas dari persaingan antara Islam dan Kristen, serta antara Islam dan westernisasi sekuler. Walaupun begitu, Islam di Benua Afrika tetap berkembang ke arah yang lebih maju, baik kuantitas maupun kualitas. Di Benua Afrika terdapat banyak negara yang penduduknya lebih banyak didominasi umat Islam, seperti: Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Sahara Barat, Mauritania, Mali, Nigeria, Senegal, Gambia, Guinea, Somalia, dan Sudan. Sedangkan negara-negara di Benua Afrika yang umat Islamnya minoritas yaitu Zambia, Uganda, Mozambique, Kenya, Congo, dan Afrika Selatan. Di bawah ini akan dijelaskan keberadaan umat Islam di beberapa negara di Benua Afrika, yaitu di Mesir, Aijazair, dan Tunisia.

1.      Mesir
Mesir terletak di pantai timur bahari benua Afrika. Umat Islam di negeri ini merupakan mayoritas. Berdasarkan sensus 1986, jumlah umat Islam mencapai 90% dan seluruh penduduk. Ibukota Mesir ialah Kairo, dan bahasa resminya yaitu bahasa Arab. Dan tahun 623 M – 1914 M, Mesir diperintah o!eh kekhalifahan dan raja raja Islam. Mesir menjadi protektorat Inggris dan tahun 1914 hingga tahun 1922 M. Mesir merdeka dari Inggris pada tahun 1922 M. Setelah merdeka, Mesir merupakan negara yang bentuk pemerintahannya ialah monarki konstitusional. Mesir menjadi negara Republik pada tanggal 18 Juni 1953, dengan presiden pertamanya Mayor Jenderal Muhammad Naguib. Mesir merupakan negara agraris, dan hasil pertaniannya yaitu kapas, padi-padian, sayur-mayur, tebu, dan buah-buahan. Selain itu, di Mesir terdapat industri tekstil, pariwisata, materi kimia, baja, semen, pupuk, dan lain-lain.
Mesir yaitu negara yang besar jasanya bagi kemajuan umat Islam di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan. Hal ini ditandai dengan didirikannya banyak sekali perguruan tinggi tinggi, dan yang tertua yaitu Universitas Al-Azhar di Kairo, yang didirikan oleh Jauhar A1-Khatib As-Saqili pada tanggal 7 bulan berkat 361 H (22 Juni 972 M). Selama berabad-abad, Universitas Al-Azhar ini menjadi sentra pendidikan Islam dan tempat pertemuan puluhan ribu mahasiswa Muslim yang tiba dari seluruh dunia. Di bidang arsitektur, Mesir juga mempunyai bangunan-bangunan yang mempunyai nilai seni yang tinggi, seperti: Al-Qasr Al-Garb (Istana Barat), Al Qasr Asy-Syarq (Istana Timur), Universitas Al-Azhar, tembok yang mengelilingi istana, dan pintu-pintu gerbang yang populer dengan nama Bab An-Nasr (pintu kemenangan) serta Bab Al-Fath (pintu pembukaan). Selain itu, di Mesir juga terdapat masjid-masjid yang megah nan indah, misalnya; masjid A1-Azhar, masjid Maqis, masjid Rasyidah, masjid Aqmar, masjid Saleh dan masjid raya di Qairawan yang dibangun kembali pada tahun 862 M. Mesir biasa juga disebut: “Jumhuriyah Misr Al-Arabiyah” (Republik Arab Mesir), luas wilayahnya sekitar 997.739 km2 .
2.      Aljazair
Aljazair terletak di Afrika Utara. Bentuk pemerintahannya ialah republik, adapun ibukotanya yaitu Al-Jir, dan bahasa resminya ialah bahasa Arab dan bahasa Prancis. Penduduknya yang beragama Islam berjumlah 99,1% dan seluruh penduduk Aljazair diperintah oleh bangsa Romawi semenjak tahun 40 SM, oleh Vandala dan tahun 429-534 M, oleh Bizantium dan tahun 534-690 M, final masa ke-7 dikuasai umat Islam. Pada tahun 1830 M Aljazair diduduki oleh Prancis, dan gres pada tanggal 3 Juli 1962 memperoleh kemerdekaan. Semenjak tahun 1980, Aljazair memasuki masa kebangkitan Islam. Hal itu ditandai antara lain oleh :
          Semangat kehidupan beragamanya meningkat. Hal ini terbukti dengan adanya aktivitas generasi muda untuk mengadakan pengkajian terhadap Islam, dan dengan adanya umat Islam yang berupaya memakmurkan masjid.
          Perencanaan ekonomi yang lebih sistematis, bahkan menjadikan penduduk menganut mitos industrialisasi sebagai satu-satunya kekuatan, yang secara sosial bersifat integratif, dan secara ekonomi bersifat konstruktif serta menjadikan kemerdekaan secara internasional.
          Berdasarkan kongres partai tunggal di Aljazair, yakni The National Liberation Front (Front Pembebasan Nasional) pada tanggal 27-31 Januari 1979, maka diadakan kegiatan-kegiatan: Mendirikan “Pusat Latihan Imam” di Meftah, sebelah utara Al-Jir. Membangun Universitas Teknik Ultra Modern di Oran, mendirikan sentra perdagangan ultra modern di Oran, dan membangun sentra perdagangan serta kebudayaan Riyad Al-Feth yang bergaya barat dan kontroversial di Al-Jir.  Pembangunan masjid-masjid.
Selain itu, di Aljazair terdapat Kementerian Agama (Wizarah As-Syu’un Al- Diniyah), yang kiprah utamanya menyebarkan studi Islam dan mengenalkan tradisi Islam serta ideologi Islam. Salah satu kegiatannya yaitu menyelenggarakan seminar perihal pedoman Islam yang pertama di Batna (1969), kedua di Aures (1978), dan ketiga di Al-Jir (1980). Untuk pengembangan dan peningkatan kualitas keislaman di Aljazair semenjak tahun 1981-1986 telah dibangun 160 sekolah Al-Qur’an, yang terletak di banyak sekali wilayah di Aljazair.
3.      Tunisia
Tunisia terletak di Afrika Utara, bentuk pemerintahannya ialah Republik, adapun ibukotanya yaitu Tunis (dulu berjulukan Tarsyisy). Penduduknya lebih banyak didominasi beragama Islam, yakni sebanyak 99,4%. Islam masuk ke Tunisia pada tahun 670 M. Semenjak itu, Tunisia diperintah oleh penguasa-penguasa Islam. Kemudian pada tahun 1881 Muhammad Sadiq, raja dari kerajaan Husainiyah, mengalah pada Perancis. Sejak itu, Tunisia menjadi jajahan Prancis hingga dengan memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1956 M. Tunisia mempunyai peranan besar dalam sejarah perkembangan Islam. Melalui forum pendidikan Jam’iyah Zaitu nah, yang kemudian bermetamorfosis Institut Ilmu- ilmu Islam, kader-kader ulama dididik dan dilatih biar kemudian menjadi ulama besar. Lembaga pendidikan tersebut berada dalam pengarahan dan pengawasan pemerintah Tunisia. Tunisia aktif dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan ikut memilih pengambilan keputusan perihal kebijakan-kebijakan diplomasi Timur Tengah, terutama yang menyangkut konflik di Timur Tengah, khususnya konflik Palestina dan Israel.
DAFTAR PUSTAKA
1.      Abuddin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Angkasa Bandung, 2003
2.      Yulia,dkk. Pendidikan Islam di Benua Afrika. Yogyakarata: Penerbit teras.2009
3.      Chapakia. Masyarakat Islam di Afrika. Angkasa Bandung. 2001