Pendidikan Venezuela Dalam Seni Administrasi Bolivarian

SITI NUR/S P/2014
pada era kolonial.Penyelenggaraan pendidikan Venezuela dimonopoli oleh golongan Gereja Kristen Roma.Hanya minoritas yang sanggup mengakses pendidikan, yaitu pemilik tanah dan kalangan ningrat gereja saja, dengan sistem fatwa ala ningrat Spanyol.Lalu muncul gagasan pendidikan, dimana hirarki sosial yang kaku yang membedakan antara seorang pemikir atau penulis dengan pekerja manual/teknik.Studi filsafat atau sastrawan mempunyai prestise lebih tinggi dibandingkan studi teknis ilmiah, sehingga pendidikan kejuruan yang berorientasi teknis dan praktek cenderung diabaikan.Sistem pendidikan dikemas dengan struktur kaku di kurikulumnya.[1]

Awal kala 19, seiring berkembangnya liberalisme revolusi Perancis dan Amerika, muncul pemikiran gres mengenai pendidikan.Konsep gres itu dibawa oleh Simon Bolivar yang banyak terinspirasi oleh pemikiran JJ Rousseau dan sistem pendidikan Perancis yang cenderung menguji pengetahuan dengan praktek ilmiah.Dari situ, muncul pemikiran konsep pendidikan publik, yang seharusnya tidak kaku pada teori dan bebas didapat oleh rakyat Venezuela.Setelah deklarasi awal kemerdekaan pada tahun 1811, Bolivar mengeluarkan serangkaian keputusan ihwal pendidikan gratis. Sayangnya, ketika kematiannya pada tahun 1830, sebagian besar kegiatan yang ia olok-olokan belum diterapkan.
Sampai tiba masa Antonio Guzmán Blanco pada tahun 1870. Wajah pendidikan Venezuela disambut dengan dikeluarkan dekrit di mana ia mengakui pendidikan umum wajib dasar sebagai tanggung jawab pemerintah nasional, negara bagian, dan lokal. Peran gereja sebagai pemegang monopoli pendidikan Venezuela pelan-pelan mulai berkurang.Rezim Guzmán melanjutkan untuk mengatur manajemen dan pembiayaan sistem sekolah, mendirikan Departemen Pendidikan Umum dan lapangan kerja seluasnya untuk guru-guru.Pada tahun 1891 National University of Zulia di Maracaibo diciptakan, diikuti pada tahun berikutnya dengan National University of Carabobo di Valencia.Tapi ini awal yang ambisius itu terhenti mendadak.National University of Carabobo ditutup tak usang setelah membuka dan tutup kembali hingga 1958.National University of Zulia, ditutup pada tahun 1904, tidak berfungsi lagi hingga 1946.[2]
Pemerintahan pun berganti ke kediktatoran panjang Juan Vicente Gómez.Di satu sisi pendidikan disikapi hirau tak hirau dan perilaku represif terhadap kritik dan tuntutan mahasiswa.Namun, pendidikan di periode cukup berhasil memeratakan sekolah umum hingga ke daerah-daerah pedesaan.
Selanjutnya, pada masa kediktatoran Pérez Jiménez (1948-1958), pendidikan justru mengalami kemunduran.Rezim ini cukup represif dalam menanggapi kritik dan keluhan dari kalangan mahasiswa dan fakultas, yang sering menuntut tanggung jawab pemerintah atas anggaran pendidikan yang dipotong. Hal ini berdampak pada naiknya biaya pendidikan yang menyebabkan jumlah siswa yang masuk dan lulus dari universitas menurun.
Beralih tangannya Venezuela kepada pemerintahan yang demokratis pada tahun 1958 telah membawa janji untuk meningkatkan kuantitas, kualitas dan pemeretaan pendidikan.Sejumlah universitas yang gres dibuka di seluruh negeri, menyerupai penyuluhan pertanian untuk petani Venezuela, dan kegiatan pendidikan karikatif dipancarsiarkan di radio dan televisi biar kesempatan mencar ilmu lebih luas.Secara umum, sanggup diakui bahwa hanya setelah tahun 1958 harapan dan tujuan Guzmán Blanco mulai diwijudkan secara sistematis.Pemberlakuan enam tahun sekolah dasar yang wajib hingga 1980, ketika Organic Law ihwal Pendidikan disahkan.Hukum ini berlaku untuk pendidikan prasekolah wajib dan sembilan tahun pendidikan dasar.
Pada tahap ini, prestise jurusan filsafat dan sastra masih jauh menonjol dibandingkan jurusan teknik atau ilmu kejuruan.Padahal, Venezuela pada ketika itu sangat membutuhkan banyak lulusan teknik dan insinyur yang diperlukan sanggup mendorong kemajuan bangsa.Maka semenjak 1969 pemerintah telah menciptakan kebijakan untuk membuka kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, khususnya pendidikan teknik dan kejuruan.Selain itu, nampak jeas kesenjangan antara sekolah-sekolah swasta dengan sekolah yang didanai pemerintah.Perbedaan itu nampak dari segi kemudahan dan honor tenaga pendidik, bahwa sekolah swasta lebih baik daripada sekolah negeri, sehingga menyebabkan perspektif bahwa swasta lebih punya prestise dan favorit di kalangan masyarakat Venezuela.[3]
Venezuela menjadi negara yang pendidikannya paling berkembang pesat pada 1970-an dan 1980-an dibandingkan negara Amerika Latin lainnya. Tingkat pastisipasi akseptor didik dan pendidik meningkat tajam.Pendaftaran sekolah dasar naik lebih dari 30 persen dan sekolah menengah dengan lebih dari 50 persen, sedangkan tingkat universitas re
gistrasi hampir dua kali lipat.Universitas paling populer dan tertua yakni Central University of Venezuela, di Caracas.
Bencana dimulai, tatkala Carloz Andres Perez naik tahta.Kebijakan pemerintah yang notabene perpanjangan tangan negara imperialis Amerika melalui Structural Adjusment Program (SAP) yang di gawangi oleh IMF, telah menghantarkan Venezuela ke jurang Reformasi Ekonomi Neoliberal. Serentetan dongeng kemunduran Venezuela dari Inflasi mencapai 80,7%, upah riil menurun hingga 40%, pengangguran mencapai 14%, dan 80,42% Rakyat hidup dalam kemiskinan. Skala besar pemiskinan struktural mulai menyebar dengan bang boom minyak, dan diperparah dengan kebijakan ‘konsensus Washington’ (Williamson, 1993).Pendidikan pun mengalami penurunan sangat drastis, terutama dari segi partisipasi masyarakat.Tak usang rezim ini tumbang dan digantikan oleh Rafael Caldera.
Pendidikan di era Caldera sedikit mengalami kebangkitan.Namun, hal yang benar-benar signifikan dirasakan masyarakat (sektor pendidikan) justru di masa kepemimpinan setelah Caldera, yaitu pemerintahan Hugo Chávez yang memenangkan Pemilu pada 6 Desember 1998.Pendidikan Venezuela ala transisi Bolivarian siap dijalankan.[4]
Pendidikan masa Transisi Bolivarian
Setelah Venezuela dipimpin oleh pemerintahan Chavez, ada upaya untuk merevolusi seluruh sistem ideologis, yaitu revolusi dengan budaya dan pendidikan.Hal ini menjadi suatu sketsa transisi sosialisme ala Chavez.Transformasi pendidikan di Venezuela secara radikal diarahkan kepada kurikulum dengan kesadaran politik dan kelas yang lebih tinggi, struktur sosial yang lebih egaliter, dan sebagai tahap perwujudan konsep menuju model masyarakat baru, yang disebut Sosialisme kala 21.Berikut beberapa tugas pendidikan untuk mencapai Transisi Masyarakat Sosialisme Bolivarian.
Transisi pendidikan ala Bolivarian menempatkan negara sebagai poros menuju maksimalisasi kesejahteraan bersama.Dalam hal ini, pendidikan terutama, juga pekerjaan, proteksi dan promosi ekonomi sosial yakni kebutuhan pokok strategis yang pertama harus dipenuhi oleh negara kepada rakyatnya.Pendidikan diarahkan bukan semata berorientasi untuk bekerja, namun output pendidikan harus mengutamakan pemberdayaan dan dedikasi demi kepentingan masyarakat.
Pendidikan Bolivarian menjadi alat sangat penting untuk mencapai “protagonistic” demokrasi.Maka, prinsip konsep pendidikan ini yakni memperluas partisipasi pendidikan bagi seluruh rakyat sebagai potongan integral dari kurikulum.[5]
Terkait dengan percepatan penciptaan institusionalisme aparatur negara baru, de-birokratisasi dari Negara dan pengembangan kebijakan publik ditandai dengan partisipasi warga dan tanggung jawab bersama – dalam proses desain, implementasi, dan kontrol kebijakan. Dan, kedua, ada tugas signifikan dalam pemberantasan korupsi di aparatur negara, di mana pendidikan tinggi harus memperlihatkan teladan pikir siap berkomitmen untuk kepentingan umum dan yang mempunyai rasa yang berpengaruh bagi dedikasi masyarakat.

Pendidikan ditujukan untuk mempercepat pembangunan model produksi gres menuju terciptanya sistem ekonomi baru. Pendidikan tinggi Bolivarian harus responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang paling miskin, kritis terhadap realita ekonomi sosial, dan memperlihatkan bantuan pada keragaman dan ketahan sektor produksi/industri dalam rangka untuk melawan ketergantungan dengan modal ajaib dan pasar liberal.
Untuk melanjutkan counter sistem kapitalisme internasional ,wakil Menteri Kebudayaan dan SDM, Héctor Soto, menganggap pendidikan untuk mempromosikan sebuah proyek edukatif-kultural alternatif dalam sebuah konsepsi geo-politik integrasi negara-negara Amerika Latin, yang memungkinkan kita untuk menghadapi dan memetakan proyek monopoli imperialisme. Dalam implementasinya, isi kurikulum pendidikan tinggi mengarahkan siswa untuk menganalisis masalah-masalah lokal dari perspektif global (kemiskinan struktural, penjajahan modal, dan sebagainya).
Chavez mengutip parafrase Paulo Freire, dan menegaskan: “the act of reading and studying is a liberating act, education is liberating, let’s go then, go ahead with education, towards the liberation of our people”. Oleh sebab itu, sistem pendidikan Bolivarian sanggup dianggap bertujuan melawan segala bentuk diskriminasi dan dominasi ekonomi antara individu dan kelas sosial, yaitu “melawan tatanan kapitalis sarat pemiskinan massal struktural dan kesenjangan kelas”.
Sebagai catatan, konsep ideologi Bolivarian memang sangat mencolok dan seakan-akan mengindoktrinasi para anak didik dengan nilai-nilai sosialis.Dampak dari pemberlakuan pendidikan ala Bolivarian ini sempat juga menerima protes keras dari kalangan anti Chavez, termasuk sebagian gerakan mahasiswa. Kritik mereka, bahwa pendidikan yakni kebebasan setiap akseptor didik untuk menganut ideologi apa pun, namun pendidikan ala Bolivarian telah mengarahkan ke satu ideologi saja.[6]

Pemerataan Pendidikan masa Transisi Bolivarian
Awal tahun 2010, ada laporan UNESCO yang menyampaikan ‘bahwa 4 juta belum dewasa Venezuela berada tak berpendidikan, namun Menteri Pendidikan Hector Navarro membantah klaim dari pemimpin oposisi (anti Chavez) itu.Sebaliknya, banyak hal yang luput dari analisa laporan itu.Diantaranya misi pendidikan yang disiapkan pemerintah sebagai antisipati ketidakmerataan pendidikan tidak diperhitungkan oleh laporan itu.Venezuela mencoba memajukan pendidikan di semua bidang, menyerupai pendidikan bayi, pendidikan kualitas bagi pengajar, misi pendidikan gender, misi melek huruf perjaka dan orang dewasa, peningkatan kualitas pendidikan, dan kebutuhan mencar ilmu orang berakal balig cukup akal dan pemuda.
Sejak tahun 2003 pemerintah telah meluncurkan banyak sekali misi untuk mengatasi problem pendidikan, antara lain Misi Sucre; yaitu pendidikan setingkat universitas untuk orang-orang yang sebelumnya dikeluarkan dari pendidikan (drop out atau putus sekolah), sebab faktor biaya dan lokasi.Misi Ribas; untuk melayani pendidikan sekunder bagi siswa berakal balig cukup akal (yang tidak sempat mengenyam pendidikan sekolah).Misi Robinson; konsep pendidikan untuk memberantas buta aksara. Setengah juta mahasiswa lulus dari Misi Ribas dalam tiga tahun pertama dan pada tahun 2008 Misi Sucre mempunyai 527.000 siswa yang terdaftar. Ada pula Senifa (Layanan Pendidikan untuk Bayi dan Keluarga). Senifa yakni forum pemerintah yang bertujuan untuk memperlihatkan pendidikan awal dan proteksi untuk anak usia 0-6 melalui pengasuhan anak masyarakat, disebut Simoncitos (semacam Paud).
Tak pelak, dari rentetan historinya, penyelenggaraan pendidikan di Venezuela terbilang cukup maju dibanding negara-negara Amerika Latin lainnya. Data dari Education for all Development Index, menyebutkan bahwa Venezuela menempati peringkat ke-55 untuk tingkat melek huruf orang dewasa, ke-74 untuk kesetaraan gender, dan ke-49 untuk tingkat partisipasi siswa ex-putus sekolah.[7]

Notes:
·        [1]  Venezuela : Higher Education for All oleh Thomas Muhr dan Antoni Verger – Journal for Critical Education Policy Studies,hlm.22-32
·         [2] Fursus B I-Sedjarah, concise history o Europe II; From the Renaissance to the end of the old Regime. Jogjakarta: Jajasan Loyola, tanpa tahun terbit, tanpa tahun terbit,hlm.52-57
·    &nbsp
;  
[3] UNESCO : Education in Venezuela has Highly Improved, oleh Tamara Pearson – Venezuelanalysis.
·        [4] DK. Kolit, Sejarah Amerika Selatan. Terjemahan. Kupang, tanpa tubuh penerbit.192,hlm.102-110
·        [5] Venezuela : Higher Education for All oleh Thomas Muhr dan Antoni Verger – Journal for Critical Education Policy Studies,hlm.124-130
·        [6]  Krisnadi,  IG. Sejarah  Amerika Selatan. Jogjakarta : Penerbit Ombak.2012,hlm. 67-78
·         [7] UNESCO : Education in Venezuela has Highly Improved, oleh Tamara Pearson – Venezuelanalysis.
DAFTAR PUSTAKA
·        Venezuela : Higher Education for All oleh Thomas Muhr dan Antoni Verger – Journal for Critical Education Policy Studies
·        UNESCO : Education in Venezuela has Highly Improved, oleh Tamara Pearson – Venezuelanalysis.com
·        Fursus B I-Sedjarah, concise history o Europe II; From the Renaissance to the end of the old Regime. Jogjakarta: Jajasan Loyola, tanpa tahun terbit, tanpa tahun terbit.
·        DK. Kolit, Sejarah Amerika Selatan.1972. Terjemahan. Kupang, tanpa tubuh penerbit.
·        Krisnadi,  IG. 2012. Sejarah  Amerika Selatan. Jogjakarta : Penerbit Ombak.