Penerapan Pendidikan Islam Di Indonesia

MERRI NATALIA S/SP

Terkait kemunculan dan masuknya Islam di Indonesia, hingga dikala ini masih menjadi kontroversi di kalangan para ilmuwan dan sejarawan. Namun demikian, mayoritas dari mereka menduga bahwa Islam telah diperkenalkan di Indonesia sekitar era ke-7 M oleh para musafir dan pedagang muslim, melalui jalur perdagangan dari Teluk Parsi dan Tiongkok. Kemudian pada era ke-11M sudah sanggup dipastikan bahwa Islam telah masuk di kepulauan Nusantara melalui kota-kota pantai di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Dan, pada era itu pula muncul pusat-pusat kekuasaan serta pendalaman studi ke-Islaman. Dari pusat-pusat inilah kemudian balasannya Islam sanggup berkembang dan tersebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Perkembangan dan ekspansi Islam itu tidak lain melalui para pedagang muslim, wali, muballigh dan ulama’ dengan cara pendirian masjid, pesantren atau dayah atau surau. Pada dasarnya, pendidikan Islam di Indonesia sudah berlangsung semenjak masuknya Islam ke Indonesia. Pada tahap awal, pendidikan Islam dimulai dari kontak-kontak pribadi maupun kolektif antara muballigh (pendidik) dengan penerima didiknya. Setelah komunitas muslim tempat terbentuk di suatu tempat tersebut, mereka membangun tempat peribadatan dalam hal ini masjid. Masjid merupakan forum pendidikan Islam yang pertama muncul, di samping rumah tempat kediaman ulama’ atau muballigh.

Setelah penggunaan masjid sudah cukup optimal, maka kemudian dirasa perlu untuk mempunyai sebuah tempat yang benar-benar menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran Islam. Untuk itu, muncullah forum pendidikan lainnya menyerupai pesantren, dayah ataupun surau. Nama–nama tersebut walaupun berbeda, tetapi hakikatnya sama yakni sebagai tempat menuntut ilmu pengetahuan keagamaan.  Pesantren sebagai akar pendidikan Islam, yang menjadi pusat pembelajaran Islam sesudah keberadaan masjid, senyatanya mempunyai dinamika yang terus berkembang hingga sekarang. Menurut Prof. Mastuhu, pesantren ialah forum pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan pemikiran Islam dengan menekankan pentingnya etika keagamaan sebagai pedoman sikap sehari-hari. Pesantren sejatinya telah berkiprah di Indonesia sebagai pranata kependidikan Islam di tengah-tengah masyarakat semenjak era ke-13 M, kemudian berlanjut dengan pasang surutnya hingga sekarang. Untuk itulah, tidak asing bila pesantren telah menjadi akar pendidikan Islam di negeri ini. Karena senyatanya, dalam pesantren telah terjadi proses pembelajaran sekaligus proses pendidikan; yang tidak hanya memperlihatkan seperangkat pengetahuan, melainkan juga nilai-nilai (value). Dalam pesantren, terjadi sebuah proses pembentukan tata nilai yang lengkap, yang merupakan proses proteksi ilmu secara aplikatif. Menurut Muhammad Tolhah Hasan dalam bukunya Dinamika Tentang Pendidikan Islam, disebutkan bahwa komponen-komponen yang ada dalam pesantren antara lain:
·         Kyai, sebagai figur sentral dan lebih banyak didominasi dalam pesantren, sebagai sumber ilmu pengetahuan sekaligus sumber tata nilai.
·         Pengajian kitab-kitab agama (kitab kuning), yang disampaikan oleh Kyai dan diikuti para santri.
·         Masjid, yang berfungsi sebagai tempat aktivitas pengajian, disamping menjadi pusat peribadatan.
·         Santri, sebagai pencari ilmu (agama) dan pendamba bimbingan Kyai.
·         Pondok, sebagai tempat tinggal santri yang menampung santri selama mereka menuntut ilmu dari Kyai.
Sedangkan dalam proses pembelajaran dan proses pendidikan, di pesantren memakai dua sistem yang umum, yakni Sistem “sorogan” yang sifatnya individual, yakni seorang santri mendatangi seorang guru yang akan mengajarkan kitab tertentu, yang umumnya berbahasa Arab. Dan Sistem “bandongan” yang sering disebut dengan sistem weton. Dalam sistem ini, sekelompok santri mendengarkan dan menyimak seorang guru yang membacakan, menerjemahkan dan mengulas kitab-kitab kuning. Setiap santri memperhatikan kitab masing-masing dan menciptakan catatan yang dirasa perlu. Kelompok bandongan ini bila jumlahnya tidak terlalu banyak, maka disebut dengan halaqoh yang arti asalnya ialah lingkaran. Di pesantren-pesantren besar, ada lagi sistem lain yang disebut musyawarah, yang diikuti santri-santri senior yang telah bisa membaca kitab kuning dengan baik.
Lembaga-lembaga pendidikan Islam sesudah Pesantren
a.       Madrasah
Madrasah merupakan forum pendidikan Islam yang lebih modern dibanding pesantren, baik ditinjau dari sisi metodologi maupun kurikulum pengajarannya. Kendati demikian, kemunculan madrasah ini tidak lain diawali oleh keberadaan pesantren. Sebagian lulusan pesantren melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ke beberapa pusat kajian Islam di beberapa negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan Mesir. Lulusan-lulusan Islam Timur Tengah itulah yang kemudian balasannya menjadi pemrakarsa pendirian madrasah-madrasah di Indonesia. Dalam madrasah, sistem pembelajaran tidak lagi memakai sorogan ataupun bandongan, melainkan lebih modern lagi. Madrasah telah mengaplikasikan sistem kelas dalam proses pembelajarannya. Elemen yang ada dalam madrasah juga bukan lagi Kyai dan santri, tetapi murid dan guru (ustad/ustadzah). Dan metode yang dipakai juga beragam, bisa ceramah, atau drill dan lain-lain, tergantung pada ustad/ustadzah atau guru.
b.      Sekolah-sekolah Islam
Di samping madrasah, forum pendidikan Islam yang berkembang hingga kini ialah sekolah-sekolah Islam. Pada dasarnya, kata sekolah merupakan terjemah dari madrasah, hanya saja madrasah ialah kosa kata bahasa Arab, sedangkan sekolah ialah bahasa Indonesia. Namun demikian, pada aplikasinya terdapat perbedaan antara madrasah dan sekolah Islam. Madrasah berada dalam naungan Kementrian Agama (Kemenag), sedangkan sekolah Islam pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Selain itu,dari segi bobot muatan materi keagamaannya, madrasah lebih banyak materi agama dibanding sekolah Islam.
c.        Pendidikan Tinggi Islam
Pendidikan Tinggi Islam juga merupakan salah satu forum pendidikan Islam yang modern. Dalam sejarah, pendidikan tinggi Islam yang tertua ialah Sekolah Tinggi Islam (STI), yang menjadi cikal bakal pendidikan tinggi Islam selanjutnya. STI didirikan pada 8 Juli 1945 di Jakarta, kemudian dipindahkan ke Yogyakarta, dan pada tahun 1948 resmi berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Selanjutnya, UII merupakan bibit utama dari perguruan-perguruan tinggi swasta yang kemudian berubah menjadi beberapa Universitas Islam yang terkenal di Indonesia, menyerupai contohnya Universitas Ibn Kholdun di Bogor, Universitas Muhammadiyah di Surakarta, Universitas Islam Sultan Agung di Semarang, Universitas Islam Malang (UNISMA) di Malang, Universitas Islam Sunan Giri (UNSURI) di Surabaya, Universitas Darul ‘Ulum (UNDAR) di Jombang dan lain-lain. Menurut Tolhah Hasan, perkembangan dan kemajuan perguruan tinggi Islam di Indonesia banyak ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya: dapat dipercaya kepemimpinan, kreativitas manajerial kelembagaan, pengembangan jadwal akademik yang terperinci dan kualitas dosen yang mempunyai tradisi akademik.
Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia
Tak sanggup dipungkiri, bahwa seiring berjalannya waktu, lembaga-lembaga pendidikan Islam juga mengalami aneka macam dinamika. Tak hanya pada pesantren, bahkan madrasah dan perguruan tinggi Islam pun tak luput dari dinamika yang ada. Pesantren yang dulunya masih tradisional senyatanya mengalami beberapa perubahan dan perkembangan, seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Pesantren yang dulunya tradisional, dalam referensi pembelajaran dan muatan materi serta kurikulumnya, kini telah mengalami perkembangan dengan mengadaptasi beberapa teori-teori pendidikan yang dirasa bisa diterapkan di lingkungan pesantren. Alhasil, kini semakin banyak bermunculan pesantren modern, yang dalam referensi pembelajarannya tidak lagi konvensional, tapi lebih modern dengan aneka macam sentuhan administrasi pendidikan yang dinamis. Mayoritas pesantren remaja ini juga memperlihatkan materi dan muatan pendidikan umum. Tidak sedikit pesantren yang sekaligus mempunyai forum sekolah dan manajemennya mengacu pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan dinamika sistem pendidikan madrasah sanggup dicatat dari beberapa perubahan, menyerupai dimasukkannya mata pelajaran umum dalam kurikulumnya, meningkatkan kualitas guru dengan memperhatikan syarat kelayakan mengajar, membenahi administrasi pendidikannya melalui pengakuan yang diselenggarakan pemerintah, mengikuti ujian negara berdasarkan jenjangnya.
Daftar Pustaka
1.      Dhofier, Z. (1982). Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.
2.      Hasan, M. T. (2006). Dinamika Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Jakarta: Lantabora Press.
3.  Mastuhu. (1994). Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren . Jakarta: INIS.