Pengaruh Perhimpunan Indonesia Terhadap Pergerakan Nasional Indonesia

Rinaldi Afriadi Siregar/SI IV

Perhimpunan Indonesia (PI) merupakan penjelmaan dari Indische Vereeniging yang didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang berguru di Negeri Belanda pada tahun 1908. Mereka itu, antara lain Sutan Kesayangan, R.N. Notokusumo, R.P. Sastrokartono, R. Husein Jayadiningrat, dan Notodiningrat.

Pada mulanya hanya bersifat organisasi sosial yang berjuang untuk mengurus kepentingan bersama orang-orang Indonesia yang berada di Negeri Belanda. Kedatangan tiga tokoh Indische Partij di Negeri Belanda tahun 1913 (sebagai orang pengasingan), unsur politik mulai masuk dalam badan Indische Vereeniging.
Setelah Perang Dunia I, jumlah mahasiswa Indonesia yang berguru ke Negeri Belanda makin banyak. Hal ini semakin mensugesti perkembangan Indische Vereeniging, semangat nasionalisme semakin besar lengan berkuasa sehingga sifat organisasi sosial beralih ke organisasi politik. Mereka tidak hanya sekadar menuntut ilmu, tetapi juga berjuang memikirkan nasib bangsanya.
Pada tahun 1922, nama Indische Vereeniging diubah menjadi Indonesische Vereeniging, dan pada tahun 1925 menjadi Perhimpunan Indonesia. Untuk membuatkan semangat perjuangannya, PI menerbitkan majalah Hindia Putra. Dalam majalah bulan Maret 1923 disebutkan asas PI yakni
“Mengusahakan suatu pemerintahan untuk indonesia, yang bertanggung jawab hanya kepada rakyat indonesia semata-mata, bahwa hal yang demikian itu hanya akan sanggup dicapai oleh orang indonesia sendiri bukan dengan pertolongan siapa pun juga; bahwa segala jenis perpecahan tenaga haruslah dihindarkan, supaya tujuan itu lekas tercapai” [1].
Semenjak tahun 1923, PI aktif berjuang bahkan memelopori dari jauh usaha kemerdekaan untuk selurh rakyat indonesia dengan berjiwa persatua dari kesatuan bangsa indonesia yang murni dan kompak. Berdasarkan perubahan ini PI keluar dari indonesisch verbond van studeerenden (suatu perkumpulan yang bertujuan menggabungkan oranisasi-organisasi mahasiswa indoensia, belanda, indo belanda,dan peranakan cina yang berorientasi ke indonesia dalam satu kerja sama) pada taun 1923 lantaran dianggap  tidak perlu lagi. Dalam tahun itu juga diterbitkan suatu buku peringatan PI yang menggemparkan kaum kolonialis belanda: gedenkboek 1908-1923: indonesische vereeniging. Langkah selanjutnya dari perilaku radikal PI ini ialah mengubah nama majalahnya dari hindia poetra menjadi indonesia merdeka tahun 1924.
Meningkatnya kegiatan kearah politik terutama semenjak datangnya dua oran mahasiswa kenegri beland, yaitu A. Subardjo tahun 1919 dan mohammad hatta pada tahun 1921, dan keduanya lalu pernah mengetuai PI. Dengan bertambah banyaknya mahasiswa indonesia yang berguru dinegeri belanda berubahpada kekuatan PI. Pada permulaan tahun 1925 dibuatlah suatu anggaran dasar gres yang merupakan penegasan yang lebih luas lagi dari usaha PI. Didalamnya disebutkan bahwa kemerdekaan penuh bagi indonesia hanya akan diperoleh dengan agresi bersama yang dilakukan serentak oleh seluruh kaum nasiolis dan menurut atas kekuatan sendiri. Untuk itu, sangat diharapkan kekompakkan rakyat seluruhnya. Didalam segala penjajahan kolonial, kepentingan antara pihak yang menjajah dengan piha yang dijajah, yang memang sangat bertentangan menjadi problem penting. Penjajahan itu memang membawa efek yang merusak jasmani dan rohani orang indonesia dan merusak kehidupan lahir batin.
Sementara itu kegiatan nya meningkat menjadi nasional-demokratis, non kooperasi dan meninggalkan perilaku erja sama dengan kaum penjajah; bahkan menjadi internaional dan anti-kolonial. Di bidang internasional ini PI bertemu dan bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan dan tokoh-tokoh cowok serta mahasiswa yang berasal  dari negeri-negeri jajahan diasia dan afrika yang memiliki impian yang samadengan indonesia. PI memang berusaha supaya problem indonesia medapatkan perhatina dari dunia internasional. Hubungan dengan beberapa organisasi internasional diadakan menyerupai liga penentang imperialisme dan penindasan kolonial, dan komitmen. Dalam kongres ke 6 liga demokratie internasional untuk perdamaian pada bulan agustus 1926 di paris, moh hatta dengan tegas menyatakan tuntutan utuk kemerdekaan Indonesia[2].
PI menjadi organisasi politik radikal lantaran efek dar moh hatta dialah yang mengakibatkan PI berkembang dan dialah yang merangsang intelektual rekan-rekannya.oleh lantaran itu PI betujuan untuk:
1.      Menyadarkan para mahasiswa biar memiliki komitmenyang bundar wacana persatuan dan kemerdekaan indonesia sebagai elite intelektual dan profesional harus bertanggung jawab untuk memimpin rakyat melawan penjajah.
2.      PI harus membuka mata rakyat belanda pemerintah kolonial sangat opresif dan meyakinkan rakyat indonesia wacana kebenaran peruangan kaum nasionalis.
3.   &nb
sp; 
Mengembangkan ideologi yang bebas dan besar lengan berkuasa iluar pembatasanisam dan komunisme.
Sejak tahun 1925 PI memiliki empat pikirn pokok yang mencakup:
1)      Kesatuan nasional; mengesampingkan perbedaan menurut tempat dan membentuk kesatuan agresi melawan belanda serta membuat negara kebangsaan indonesai yang merdeka dan bersatu.
2)      Solidaritas; kontradiksi kepentingan antaa penjajah dan mempertajam konflik antara kulit puutih dan sawo matang.
3)      Nonkoperasi; kemerdekaan bukan hadiah dari belanda, tetapi harus direbut dengan mengandalkan kekuatan sendiri 4.      Swadaya;mengandalkan kekuatan sendiri dengan mengembangkan sturkrur alternatif danlam kehidupan nasional, politik, sosial, ekonomi,dan aturan yang sejajar dengan manajemen kolonial.
PI menggabungkan semua unsur itu sebagai satu kebulatanyang belum pernah dikembangkan oleh organisasi-organisasisebelumnya. Mereka percaya bahwa semua orang indonesia sanggup menerimanya dan sanggup membuat gerakan yang besar lengan berkuasa dan trpadu untuk memaksakan kemerdekaan dari pihak belanda.
Kejadian ini mengakibatkan pemerinah belanda bertambah curiga pada PI. Kecurigaan ini bertambah lagi sewaktu moh,. Hatta atas nama PI menandatangani suatu perjanjian belakang layar dengan semaun (PKI) pada tanggal 5 desember1926 yang isinya menyatakan bahwa PKI mengakui kepemimpinan PI dan akan dikembangkan menjadi partai rakyatkebangsaan indonesia.[3] Perjanjian ini, lantaran dinilai oleh komintern sebagai suatumasalah besar, dibatalkan kembali oleh semaun.
Dalam kongers I liga pada bulan februari 1927 diberli yang dihadiri diantara lain oleh wakil-wakil pergerakan  dinegeri jajahan, PI yang bertindakatas nama PPPKI diindonesia juga mengirimkan wakil-wakilnya; moh hatta, nazir pamoentjak, gatot dan A . subardjo kongers mengambil keputusan antara lain:
Kegiatan PI Di kalangan internasional ini mengakibatkan reaksi yang kerasari pemerintah belanda. Atas tuduhan “dengan goresan pena menghasut dimuka umum untuk memberontak terhadap pemeritah”, maka pada tanggal 10 juni 1927 empat anggota PI yaitu Moh hatta, Nazir Pamoentjak, Abdulmadjid Djojoadiningrat dan Al sastroamidjojo ditangkap danditahan hingga tanggal 8 maret 1928  namundalam investigasi disidang pengadilan di den haag tanggal 22 maret1928 risikonya pengadian membebaskan mereka dari tuduhan sehabis dilakukan pembelaan oleh hatta dengan judul “indonesia virj”(indinesia merdeka) dan tertuduh lainnya didampingi salah seorang pembela Mr.ban duys,seorang sosialis dalam perlemen belanda dari SDAP.
Dengan perubahan itu maka terjadi pula perubahan dasar pedoman dan orientasi pergerakan mereka. Gerakan mereka menjadi radikal dan dengan tegas menginginkan Indonesia merdeka. Untuk mempertegas dasar perjuangannya, pada tahun 1925 Perhimpunan Indonesia mengeluarkan anggaran dasarnya sebagai berikut:
1.      Perhimpunan Indonesia akan berjuang untuk memperoleh suatu pemerintahan untuk Indonesia yang hanya bertanggung jawab kepada rakyat Indonesia.
2.      Kemerdekaan penuh bagi Indonesia akan dicapai dengan agresi bersama dan serentak oleh rakyat Indonesia.
3.      Untuk itu sangat diharapkan persatuan nasional yang murni di antara seluruh rakyat Indonesia dalam menentang penjajahan Belanda yang telah merusak kehidupan bangsa Indonesia.
Sejak itu tindakannya meningkat, di samping bersifat nasional-demokratis juga menjadi antikolonial. Untuk itu dasar perjuangannya disebarluaskan dan dipropagandakan, yakni mengadakan relasi dengan pergerakan nasional yang ada di Indoensia, baik eksklusif maupun tidak langsung. Selain itu, mengadakan relasi dengan organisasi internasional.
Itulah sebabnya Perhimpunan Indonesia juga bekerja sama dengan perhimpunan-perhimpunan dan tokoh-tokoh pemuda serta mahasiswa yang berasal dari negara-negara jajahan di Asia dan Afrika yang memiliki impian yang sama dengan Indonesia.
Untuk mendapatkan perhatian dunia dan mencari derma usaha Indonesia maka Perhimpunan Indonesia ikut serta dalam organisasi internasional, menyerupai Liga Demokrasi Internasional di Paris (1926), Liga Penentang Imperialis dan Kolonialisme di Brusel (1927), Kongres Wanita Internasional di Swiss (1927), dan Liga Komintern di Berlin (1927)[4].
Aktivitas Perhimpunan Indonesia di Eropa dan pengaruhnya yang makin besar lengan berkuasa di Indonesia mulai dicurigai oleh pemerintah kolonial Belanda. Atas tuduhan menghasut untuk memberontak terhadap pemerintah maka pada pada tanggal 10 September 1927 ke empat tokoh Perhimpunan Indonesia, yaitu Moh. Hatta, Nasir Datuk Pamuncak, Abdulmajid Joyodiningrat, dan Ali Sastroamijoyo ditangkap dan diadili. Di dalam investigasi sidang pengadilan di Den Haag pada bulan Maret 1928, mereka terbukti tidak bersalah sehingga dibebaskan. Namun, gerakan Perhimpunan Indonesia terus diawasi dengan ketat.
Di tanah air pengaruh Perhimpunan Indonesia sangat kuat, dan menurut pandangan gres dari perjuangan Perhimpunan Indonesia, maka berdirilah Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tahun 1926, Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927, dan Jong Indonesia (Pemuda Indonesia) tahun 1928.
Notes:
[1] Andi taher (1985) sejarah kebangkitan nasional.
[2] Prof. Dr suhartono(1994). Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo hingga Proklamasi.
[3] Poesponegoro. Djoened Marwati.2008.Sejarah Nasional Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
[4]
Daftar Pustaka
[1] Prof. Dr. Suhartono.1994. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo hingga Proklamasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Poesponegoro.
[2] Djoened Marwati. 2008. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
[3]