Pengaruh Warisan Genetik Neanderthal Pada Insan Modern

Manusia Neanderthal mungkin sudah punah semenjak 40.000 tahun yang lalu, akan tetapi mereka masih menghipnotis beberapa penyakit yang diderita dan tinggi tubuh pada beberapa orang. Hal ini berkat DNA Neanderthal yang diwarisikan oleh nenek moyang orang-orang dari luar Sub Sahara Afrika, yang telah mengawini saudara kita ini, 50.000 tahun yang lalu.
Tengkorak Neanderthal dari tambang Forbes’, Gibraltar.
Ditemukan tahun 1848.
Gambar orisinil oleh: AquilaGib
Lisensi: Creative Commons

Bukti-bukti bahwa gen Neanderthal menghipnotis insan modern muncul dari analisis mendalam atas DNA dari 214 orang berdarah Eropa di Amerika Serikat. Dengan membandingkan DNA mereka terhadap DNA Neanderthal, yang genomenya diurutkan pada tahun 2008, sebuah tim yang dipimpin oleh Joshua Akey di University of Washington mengidentifikasi gen Neanderthal mana yang telah diwariskan dan masih aktif dalam 52 jaringan tubuh insan yang berbeda.

Tim tersebut menemukan bahwa beberapa orang mempunyai satu copy gen yang sama dari insan dan Neanderthal. Ketika membandingkan gen-gen ini, Akey dan timnya menemukan bahwa seperempat memperlihatkan perbedaan-perbedaan dalam aktifitas antara gen versi insan modern dan Neanderthal. Lebih penting lagi, para peneliti sanggup mengidentifikasi varian mana yang lebih mayoritas (McCoy, et.al. , 2017).
Sebagai suatu contoh, gen Neanderthal mungkin masih melindungi beberapa orang dari penyakit schizophrenia. Sebuah gen yang disebut ADAMTSL3 merupakan faktor resiko yang sudah dikenal dari penyakit schizophrenia, gen ini juga menghipnotis tinggi tubuh manusia. Akan tetapi, akhir efek DNA Neanderthal yang masih tertinggal, resiko yang ditimbulkan oleh gen ini menurun dan tinggi tubuh menjadi meningkat. Akey mengaku terkejut alasannya yaitu ternyata, DNA Neanderthal yang ada dalam tubuh insan bukan semata-mata sisa hibridisasi yang terjadi 50.000 tahun lalu, tetapi mempunyai dampak yang luas dan terukur pada aktifitas gen.
Kebanyakan gen sanggup memproduksi banyak sekali protein berbeda yang keuntungannya bermacam-macam bagi jaringan tubuh yang berbeda, bergantung bagaimana sub-unit protein tersebut terangkai. Penelitian Akey memperlihatkan bahwa, adanya sisa DNA Neanderthal akan menghipnotis varian mana dari protein-protein ini yang diproduksi kala ini.
Tony Capra dari Vanderbilt University di Nashville beropini bahwa efek-efek ini merupakan hasil dari perubahan pada genetic switch. Genetic switch merupakan prosedur yang memilih gen mana yang aktif dan mana yang tidak. Peneltiannya sendiri memperlihatkan bahwa Neanderthal mempunyai efek pada kelainan-kelainan pada insan termasuk depresi dan kecanduan.
Perbandingan antara tengkorak insan modern dan
Neanderthal di Cleveland Museum of Natural History.
Sumber gambar:
http://www.flickr.com/photos/hmnh/3033749380/
Gambar orisinil oleh  hairymuseummatt
Lisensi Creative Commons

Sementara Sriram Sankararaman dari University of California di Los Angeles beropini bahwa varian yang diperoleh 50.000 tahun yang kemudian ini (Sankararaman, et.al., 2012) masih menghipnotis biologi insan secara umum. Menurutnya, gen Neanderthal yang masih dimiliki oleh banyak orang menghipnotis banyak karakteristik-karakteristik manusia, dengan mengontrol bagaimana gen diregulasi.

Akan tetapi efek dari kerabat insan yang telah punah ini jauh lebih kecil pada otak dan testis (Vasudevan, & Steitz, 2007). Menurut Sankararaman, kecilnya efek Neanderthal pada otak dan testis ini menarik. Hal ini sanggup memperlihatkan petunjuk mengenai aspek biologis mana yang paling berbeda antara Neanderthal dan insan modern (Prüfer, et al. , 2014).

Daftar Pustaka