Pengertian Akal Menurut Islam

Pengertian akal dalam bahasa Arab
Didalam Lisanul Arab,disebutkan pengertian akal sebagai berikut :
Akal : Kekangan dan Larangan,merupakan lawan dari kata kebodohan.Jamaknya adalah U’quul.Rajulun aaqil (pria yang beraakal) artinya orang yang mengendalikan urusan dan pikirannya,diambil dari kalimat aqoltul Ba’ira yang artinya aku ikat kaki unta itu.Ada yang berbendapat,al-aaqil (orang yang berakal) adalah yang mementingkan dirinya dan menolak kenginan hawa nafsunya.Dan al-ma’qul artinya sesuatu yang engkau ikat dengan hatimu.
Al-ma’quul juga berarti al-aql; Jadi kita ini merupakan salah satu bentuk mashdar yang mempunyai arti maf’ul…………
Pengertian Akal Menurut Islam
Pengertian Akal dalam Islam

Al-aqlu juga berarti al-qalb (hati),dan al-qalb juga berarti al-aql.akan disebut akal karena dia mencegah pemiliknya terjerumus dalam kebinasaan,al-aqll artinya tamziy yang membedakan antara manusia dan hewan lainnya….
Dalam Kamus al-muhitd disebutkan mengenai pengertian al-aql sebagai berikut.
Al-aql atau akal artinya mengetahui secara mutlak,atau mengetahui sifat-sifat benda-benda ,baik dan buruknya ,sempurna  dan kurangnya : atau mengetahui yang terbaik dari dari dua perkara yang baik ,yang buruk dari dua perkara yang buruk.Akal merupakan potensi untuk membedakan antar kebaikan dan keburukan,digunakan juga untuk menyebut– konsep-konsep yang tersimpan didalam otak yang tersusun didalam otak yang tersusun dari premis-premis untuk mencapai tujuan dan maslahat.[1]

Islam sangat menghargai akal,menyediakan baginya faktor-faktor pendukung pertumbuhan dan perkembangan,menjadikannya sebagai syarat pembebanan dengan hukum-hukum syariat,mendorong untuk memfungsikannya dalam memecahkan problema dan pemikiran-pemikiran akibat-akibat yang akan terjadi.islam memperingatkan untuk tidak mengabaikan akal,atau mematikannya dengan mengikuti tradisi-tradisi sesat yang dipeluk oleh leluhur,atau dengan mengikuti hawa nafsu,atau dengan menghasilkan hukum-hukum secara tiba-tiba.juga sebagainya yang oleh Islam dianggab dapat mematikan akal dan menghalangi kebebasannya serta membuang-buang energinya.Barangkali penghargaan islam yang sedemikian  tingginya kepada akal belum pernah dilihat umat manusia sebelumnya.Kenyataan itu mendorong sejumlah pemikir untuk member predikat yang tidak layak bagi akal,yaitu dengan menjadikannya seagai penentu hukum syariat.[2]
Justeru,fakta-fakta serta ilmu-ilmu semasa membantu kita memahami ayat-ayat tertentu secara lebih tepat.perlu diingat ,ayat-ayat Al-quran tidak pernah tersilap.Yang mungkin tersilap adalah kefahaman kita sebagai manusia berhubung ayat-ayat itu.Benarlah Hamka apabila beliau mengatakan dalam Tafsir al-Azhar,”(Persoalan mengenai Alam) yang  dibicarakan (Qur’an)begitu mengagumkan,karena (semakin bertambah)penyelidikan manusia dalam pelbagai (bidang) ilmu pengetahuan mengenai alam,semakin bertambah jelas maksud ayat-ayat itu.Sekiranya terdapat pentafsir-pentafsir memberikan tafsiran yang tidak tepat,ia bukanlah berarti ayat itu yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan,melainkan pentafsir itulah yang tidak ada ilmu pengetahuan.”[3]
BATASAN AKAL DALAM MEMAHAMI HIKMAH ALLAH

Mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa setiap perintah dan pensyariatan oleh Allah mempunyai hikmahNya.Allah dengan kekuasaanNya dan kebijaksanaanNya pasti tidak akan menjadikan setiap seruanNya dengan sia-sia.
Justeru melalui kalam-Nya dan Hadits-hadits Rasuluullah SAW,ada yang menjelaskan secara langsung mengenai keadaan akal manusia tidak mampu untuk memikir atau melogikan hikmah dibalik segala kejadian yang baik maupun sebaliknya.
Mayoritas ulama berpendapat,otak manusia boleh membedakan yang baik dan yang buruk.Akal manusia faham bahwa berlaku dholim,berbohong,mencuri,membunuh dan seumpamanya adalah perbuatan salah.Sedangkan sifat jujur,adil,mendamaikan dua orang yang bertengkar,menyelamatkan orang yang tenggelam adalah pebuatan baik dan mulia, [4]
                  Islam memberikan perhatian yang besar tentang potensi akal. Karena itu pula, ketika dianugerahkan kepada manusia masih berupa potensi yang belum siap pakai secara sempurna. Maka bagi pendidkan merupakan hal penting untuk mengarahkan agar ia tidak tersesat dalam aktivitas berfikirnya. Pendidikan akal dimaksudkan untuk memberikan arahan agar pemikiran manusia tertuju kepada pencarian Yang Maha Pencipta. Dengan demikian berarti manusia berusaha mencari hakikat kebenaran di balik alam raya ini. Karena kebenaran itu sendiri tergolong dalam dua bagian, yakni kebenaran nisbi yang bersumber dari akal dan kebenaran yang bersumber dari wahyu.

Mendidik akal, tidak lain adalah mengaktualkan potensi dasar yang sudah ada sejak manusia lahir. Berkaitan dengan pendidikan ini, Islam hadir dengan konsepnya antara lain menyangkut masalah tujuan pendidikan akal, berdasarkan semangat ajaran Islam secara utuh adalah terciptanya akal yang sempurna menurut ukuran ilmu dan takwa. Setelah mendapatkan didikan, diharapkan akal dapat mencapai perkembangan yang optimal, sehingga sampai pada keseimbangan antara pikir dan dzikir atau dapat menyeimbangkan pemikiran yang bersifat duniawi dan ukhrawi.

Bahwa aspek-aspek pendidikan yang terkandung dalam Surat Ali Imran : 190-195, membicarakan seputar akal dengan penyebutan “albab” menunjukkan makna yang implisit juga eksplisit. Hal ini disamping akal sangat berfungsi bagi manusia, akal juga sangat berperan dalam kaitannya dengan aktivitas manusia. Penyebutan “albab” dalam QS. Ali Imran 190-195 tersebut dalam pemahamannya mengarah kepada ilmu sebagai petunjuk dari keimanan.

Al-Qur’an merupakan kitab suci dan sumber hukum agama memuat segala aturan kehidupan, baik di dunia atau di akherat. Oleh karena itu mempunyai sifat supel, luwes dan unversal. Dan dalam memuat berbagai masalah, ada yang dijelaskan secara rinci (tafsili) dan kadang-kadang hanya memuat garis besarnya saja (mujmal global), sehingga membutuhkan hadis sebagai bayan wa at tafsir.

Dengan demikian Al-Qur’an membutuhkan pemahaman yang menyeluruh dan mendalam. Dalam kaitannya dengan masalah akal (aqliyah) ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan sekaligus sebagai saran, yaitu :

Dalam hal mempelajari Al-Qur’an khususnya tafsir Al-Qur’an janganlah hanya terpaku pada salah satu kitab atau mufassir saja. karena masing-masing mufassir akan memberikan wawasan yang berbeda. Dan justru karena perbedaan itulah, sesungguhnya banyak sekali akan didapatkan pemahaman yang luas.

Akal sebagai unsur rohaniah manusia pada dasarnya kekuatan yang bebas. Oleh karena itu pendidikan akal sangat penting untuk mengarahkan potensi pengembangan anak. Dan hendaknya para pendidik memperhatikan kepentingan tersebut.


[1]Pendidikan Remaja antara Islam dan Ilmu Jiwa,halaman 46-47.
     Penerjemah Abdul Hayyie al-Kattani dkk,Jakarta :Gema Insani Press,2007
     Dr.M.Sayyid Muhammad Az-Za’balawi
[2] Ibid,halaman 74.
[3] Dr.Danial Zainal Abidin Quran Saintifik,BS Print(M)Sdn.Bhd,halaman 23 
[4] Berdamai dengan Ketentuan Ilahi,Ahmad Zahiruddin Mohd Zabadi.2015 Perct karangkraf,halaman 106