Peradaban Islam Di Kamerun

Isra Algifari/S/E-A
Kamerun (Cameroon) ialah sebuah negara di Afrtika Barat, sedikit lebih besar dari California, berdasarkan para andal arkeologi telah dihuni insan semenjak 50.000 tahun yang lalu. Pada periode ke-5 sebelum Masehi, suku Hanno dari Kartago (Tunisia sekarang), orang gila pertama yang memasuki Kamerun, dan selama berabad-abad mengeksplorasi perdagangan budak. Pada periode ke-2 hingga dengan periode ke-1 sebelum Masehi, suku Bantu (dikenal dengan sebutan Pygmi) yang berasal dari Nigeria Utara mulai berimigrasi ke Kamerun (dikenal dengan Cameroon Highlanders), mereka andal dalam pertanian. Para

pedagang dari Arab yang sekaligus menyebarkan Islam tiba ke Kamerun pada periode ke-10. Mereka berdagang emas, garam, tembaga dan budak. Orang barat pertama yang memasuki Kamerun ialah Fenando Po, dari tim ekspedisi Portugis pada tahun 1472, mereka mendarat di sebuah pantai di Kamerun. Dinamakan Kamerun, lantaran orang Portugis melihat banyak udang di perairan Kamerun, sehingga mereka menamakan Rio des Cameroes (the Prawn River).

Dengan wilayah seluas 475.440 km2, beriklim tropik dan kering, berbatasan dengan banyak negara, antara lain Nigeria, Chad, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Gabon dan Equatorial Guinea. Berpenduduk padat, dihuni sekitar 16.063.678 orang, terdiri dari suku orisinil Afrika (black African) sebanyak 99%, yaitu Cameroon Highlander, Bantu, Fulani, Kirdi dan suku orisinil Afrika lainnya. Selebihnya ialah pendatang dari Eropa dan Arab. Angka pertumbuhan penduduk, rata-rata 1,97% per-tahun, angka kelahiran 35,08 per-1000, dan angka kematian 15.34 per-1000. Agama Islam dianut sekitrar 20%, Nasrani (Katholik dan Protestan) 40% dan animis 40% Bahasa nasional mereka ialah Inggris dan Perancis di samping bahasa lokal (24 bahasa).
Republic of Cameroon (Republik Kamerun), ibukotanya YAOUNDE (semula beribukota di Buea), terbagi dalam 10 propinsi. Sebelum orang-orang Portugis menemukan Kamerun pada periode ke-15 (1472), para pedagang Arab dan orang-orang Islam telah memasuki Kamerun dari arah utara (Sahara) pada periode ke-10. Mereka berda’wah sambil berdagang emas, perunggu, tembaga, garam, dan budak. Oleh lantaran itu, Islam sangat besar lengan berkuasa di kepingan utara dan tengah Kamerun. Portugis ialah kolonial Barat pertama yang masuk ke Kamerun, yaitu sekitar periode ke-15 (tahun 1472), diikuti Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Orang-orang Barat ini tiba ke Kamerun untuk memperebutkan perdagangan budak. Perdagangan budak ini berakhir pada periode ke-19 (1845), dan Kamerun dijadikan protektorat Inggris. Namun pada tahun 1884, Jerman yang diwakili oleh Gustav Nachtigal mengadakan perjanjian dengan Raja Doula, dan pada tahun 1885, Baron von Soden ditunjuk sebagai Gubernur Kamerun. Ketika terjadi perang dunia pertama (1916-1918), Inggris dan Perancis berhasil mengusir Jerman dari Kamerun, kedua negara terakhir membuatkan kekuasaan di Kamerun. Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan dari para penjajah dimulai sesudah perang dunia kedua, yaitu ketika pada tahun 1955 muncul revolusi di daerah kekuasaan Perancis yang dipelopori oleh Union des Populations Camerounaises (UPC), yang disponsori oleh suku Bamileke dan Bassa.
Bapak kemerdekaan Kamerun, seorang pejuang muslim sejati dari suku Fulani, El-Haji Ahmadou Babatoura Ahijo (lahir pada Agustus 1924), berhasil membawa bangsa Kamerun memperoleh kemerdekaan, ketika pada tahun 1958 melalui partainya I’Union Camerounaise menguasai parlemen. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 1960, Ahijo memproklamasikan kemerdekaan Kamerun, dan dia ditunjuk sebagai Presiden pertama. Pada awalnya pemerintahan Ahijo kurang berjalan mulus, lantaran penduduk kepingan selatan yang didominasi Nasrani dan berbahasa Perancis belum sanggup mendapatkan kemerdekaan. Untuk itu, pemerintah Kamerun di bawah Ahijo mengadakan referendum pada bulan Oktober 1961. Hasil referendum adalah, penduduk kepingan utara yan didominasi Islam dan berkiblat ke Inggris lebih menginginkan bergabung dengan Nigeria, sedangkan pendudukan kepingan selatan lebih menginginkan pembentukan Republik Federasi Kamerun. Kemelut ini berakhir pada tanggal 20 Mei 1972, ketika disepakati adanya konstitusi gres yang pada pada dasarnya membentuk Republik Kesatuan Kamerun.
Awal Masuk dan Berkembangnya Islam di Kamerun
Islam telah masuk ke Kamerun pada periode ke-10, ketika para pedagang Arab melalui Sahara memasuki Kamerun kepingan utara. Di samping mereka berdagang (emas, garam, tembaga, perunggu dan budak), mereka juga mengenalkan Islam (da’wah) pada penduduk pribumi. Mereka terus tumbuh dan jadinya menguasai Kamerun kepingan utara dan tengah hingga kini. Sedangkan misi Nasrani gres mulai bekembang pada periode ke-19, namun hampir menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat Kamerun. Ketika Kerajaan Kanem Bornu di erat Danau Chad dipimpin oleh dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi masuk Islam pada tahun 1221 (memerintah hingga dengan tahun 1251), maka kejayaan Islam di Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger maupun Kamerun. Pengaruh Kanem Bornu di Kamerun ini berlanjut hingga periode ke-15. Islam menjadi kekuatan penuh di Kamerun kepingan utara, ketika suku Fulani (Fulbe) menguasai daerah itu pada periode ke-18, dan mendirikan kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate), yang mencakup Kamerun dan Nigeria. Sultan Adamawa ketika ini ialah Issa Maigari, sekaligus sebagai Gubernur propinsi Adamawa. Suku Fulani memang termasuk salah satu suku unggulan di Afrika, dan paling gigih menyebarkan agama Islam di daerah itu. Mereka hingga ketika ini menguasai pemerintahan modern di Senegal, Guinea (Futa Jallon), Mauritania, Guinea Bissau, Mali, Burkina Faso, Benin, Niger, Chad, Kamerun dan Sudan. Sebelumnya, pada periode ke-17, suku Fulani telah mengekspansi Kerajaan Bamoun yang didirikan oleh Nshare Yen, dan kerajaan Bamoun gres mendapatkan Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.
Sepakterjang suku Fulani, yang notabene ialah islam, sangat diakui keberadaannya di Kamerun, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan. Salah satu putra terbaik suku Fulani ialah El-Hajj Ahmadou Babatoura Ahijo, kelahiran Garou, Agustus 1924, proklamator dan bapak kemerdekaan Republik
Kamerun. Beliau ialah pejuang muslim dari suku Fulani dan terpilih sebagai presiden pertama Republik Kamerun dari tahun 1960-1982. Sayangnya, estafet kepemimpinannya tak sanggup diteruskan oleh kader-kader politikus muslim lainnya, dan justru jatuh ke pihak Kristen, yaitu Paul Biya. Pada pemilu 2004, salah seorang politikus, scientist dan pejuang muslim Kamerun, yaitu Prof. Dr. Adamou Ndam Njoya, gagal terpilih sebagai presiden Kamerun, dan hanya memperoleh bunyi 4,5%. Padahal dia ialah tokoh muslim Kamerun ketika ini, dan mempunyai jabatan luar biasa banyaknya, antara lain, sebagai gurubesar University of Cameroon, co-president of World Conference of Religious for Peace (WCRP), founder and president of the Islamic and Religious Studies Institute, Gubernur Foumban dan masih banyak lagi jabatan-jabatan lain yang dipangkunya. Perjuangan Islam di Kamerun ketika ini memang tergolong berat, lantaran sepeninggal mendiang Ahmadou Ahijo, kekuatan Nasrani di sana semakin kokoh. Hal ini disebabkan infrasktuktur kekuasaan Nasrani sangat luar biasa, dan tunjangan negara bekas kolonial. Namun, apapun yang terjadi, Islam di Kamerun telah menorehkan tinta emas dalam memperjuangkan kemerdekaan, dan ummat Islam di sana, tentu tak akan tinggal diam, dan akan terus mengembalikan kejayaan masa lalunya.
Islam Berkembang di Kamerun yang Toleran
DOUALA, KAMERUN– Para pengunjung yang gres tiba ke kota pesisir Douala akan melihat dengan terang jumlah masjid yang semakin meningkat sejalan dengan semakin berkembangnya warga Kamerun yang memeluk islam lantaran sikap tumpuan yang ditunjukkan oleh umat Islam setempat.
“Perluasan masjid yang ada dan pembangunan masjid gres dengan terang memperlihatkan bahwa Islam berkembang sangat cepat di Douala dan di Kamerun pada umumnya,” ujar Sheikh Mohamed Malik Farouk, imam kepala Douala.  “Alhamdulillah kita kini mempunyai banyak masjid untuk shalat Jumat di Douala dan ini ialah tanda dari perkembangan Islam,” imbuh Sheikh Farouk.
Dianggap sebagai ibukota ekonomi Kamerun, Douala sedang menyaksikan peningkatan jumlah masjid baru-baru ini. Setidaknya setiap dua tahun, muslim setempat membangun sebuah masjid gres untuk mengakomodasi meningkatnya jumlah ummat Islam. Meskipun Islam pertama kali masuk di Kamerun pada 1800-an, tetapi Islam masuk ke Douala pada tahun 1922, sesudah Muslim dari Kamerun utara dan pedagang gila tiba ke kota pesisir tersebut. “Masjid besar pertama dibangun pada tahun 1922,” kenang Sheikh Farouk. Dan dia menambahkan bahwa jumlah tersebut telah meningkat secara signifikan selama bertahun-tahun.
“Di Douala saja kami mempunyai lebih dari 90 masjid dan sekitar 500.000 Muslim dari 3 juta penduduk kota.” kata Sheikh Farouk.
Menurut CIA Factbook, Muslim berjumlah sekitar 20 persen dari total penduduk Kamerun yang berjumlah sekitar 20,5 juta. Sebagian besar dari mereka tinggal di Kamerun utara dan berasal dari suku-suku utama ibarat Fulani dan Peuhl. Muslim di Kamerun sebagian besar bergerak dalam perdagangan dan mempunyai bisnis besar di negara Afrika. Tidak ibarat di negara-negara Afrika lainnya, konstitusi Kamerun memperlihatkan kebebasan beragama. Keteladan dari warga Muslim menjadi faktor kunci terhadap peningkatan jumlah mualaf yang masuk Islam baru-baru ini. “Muslim di sini memperlihatkan akhlaq yang baik. Mereka memperlakukan tetangga non-Muslim mereka dengan hormat,” Sheikh Farouk menegaskan.
“Mereka juga tidak terlibat dalam aktivitas yang tidak bermoral, yang telah menarik banyak non-Muslim untuk masuk kita,” tambah kata pemimpin agama setempat.
“Banyak orang yang ingin hidup higienis dari narkoba, alkohol dan seks bebas, yang sanggup mengakibatkan HIV, sehingga mereka berminat untuk masuk Islam,” imbuh pemimpin agama setempat.
Seperti penganut agama lain, Muslim Kamerun juga mengelola sekolah, rumah sakit dan proyek pengembangan masyarakat lainnya. Selain itu, Sheikh Farouk menambahkan bahwa umat Islam yang gemar memberi turut menyumbang untuk membantu membangun masjid atau sekolah Muslim. Sheikh Farouk menegaskan bahwa umat Islam di Kamerun hidup dengan rekan-rekan mereka yang non-Muslim dengan damai, dalam suasana toleransi.
“Meskipun populasi kami yang besar, kami tidak pernah mempunyai konflik agama dengan masyarakat di Kamerun,” kata Sheikh Farouk.
“Sebagai imam kami selalu memberikan perihal pentingnya persatuan, solidaritas dan persaudaraan,” kata Sheikh Farouk.
“Kami menyampaikan kepada orang – orang beriman untuk memperlakukan tetangga non-muslim mereka dengan hormat,” ujar Sheikh Farouk.
Sheikh Farouk menambahkan, umat islam sangat gemar memberi untuk membantu pembangunan masjid atau sekolah muslim. Umat islam di Kamerun juga hidup tenang dengan warga non-muslim dalam suasana toleransi beragama.  “Kami tidak pernah mempunyai konflik dengan warga masyarakat lainnya,” katanya.
Daftar Pustaka :
Sumber Buku
Victor Julius Ngoh.1996. Histo
ry of Cameroon Since 1800.
Limbe:Presbook.
Sumber Majalah
Efendi, Mukhtar.2005.“Islam di Kamerun”.Amanah No. 63 TH XVIII.
Sumber Internet