Peran K.H Ahmad Dahlan Dalam Pendidikan Islam Di Indonesia

AHMAD SUHARLAN/SEJARAH PENDIDIKAN

   K. H. Ahmad Dahlan merupakan salah satu tokoh pembaharu dalam Islam sekaligus sebagai pendiri persyarikatan Muhammadiyah. K. H. Ahmad Dahlan mulai melaksanakan ide pembaharuan sekembalinya dari haji pertama yaitu pada tahun 1888, melihat keadaan masyarakat Islam di Indonesia yang mengalami kemerosotan disebabkan oleh keterbelakangan pengetahuan akhir tekanan penjajahan pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda menginginkan rakyat pribumi sebagai buruh bergairah dengan upah rendah sehinga tidak lagi

memikirkan pendidikan. Adanya perbedaan dalam pendidikan menimbulkan berkembangnya dualisme pendidikan yakni sistem pendidikan kolonial Belanda dan sistem pendidikan Islam tradisional yang berpusatkan di pondok pesantren. Melihat perbedaan pendidikan yang terjadi pada ketika itu maka timbulah ide dari K. H. Ahmad Dahlan untuk melaksanakan pembaharuan. Dalam melaksanakan pembaruan K. H. Ahmad Dahlan tidak hanya mendirikan sekolah, tetapi ikut membantu mengajar ilmu keagamaan di sekolah lain ibarat di Kweekschool Gubernamen Jetis. K. H. Ahmad Dahlan juga melaksanakan pembaharuan lain ibarat mendirikan masjid, menerbitkan surat kabar yang memuat perihal ilmu- ilmu agama islam.

     K.H. Ahmad Dahlan mempunyai pandangan yang sama dengan Sayyid Ahmad Khan (Tokoh Pembaru Islam di India) mengenai pentingnya pembentukan kepribadian. Ahmad Khan sangat besar hati dengan pendidikan para pendahulunya dan mengakui bahwa pendidikan yang demikian telah menghasilkan orang-orang besar sepanjang sejarahnya. Akan tetapi Ahmad Khan juga mengakui bahwa memalsukan metode pendidikan para pendahulunya tidak akan membuahkan hasil yang diinginkan. Metode-metode gres yang sesuai dengan zaman harus digali. Ahmad Khan berpandangan bahwa pendidikan sangat penting dalam pembentukan kepribadian. Sayyid Ahmad Khan tidak menganjurkan adanya masyarakat yang sekuler atau pluralis, meskipun ia mencoba mendorong kaum muslimin untuk bekerjasama dengan orang-orang Barat, untuk makan bersama mereka, untuk menghormati agama mereka, untuk mempelajari ilmu-ilmu mereka, dan lain-lainnya. K.H. Ahmad Dahlan menganggap bahwa pembentukan kepribadian sebagai sasaran penting dari tujuan-tujuan pendidikan. Ia beropini bahwa tak seorangpun sanggup mencapai kebesaran di dunia ini dan di darul abadi kecuali mereka yang mempunyai kepribadian yang baik. Seorang yang berkepribadian yang baik ialah orang yang mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Hadis. Karena Nabi merupakan pola pengamalan Al-Qur’an dan Hadis, maka dalam proses pembentukan kepribadian siswa harus diperkenalkan pada kehidupan dan ajaran-ajaran Nabi saw. K.H. Ahmad Dahlan tidak bekerja sendirian Ia dibantu oleh kawan-kawannya di Kauman, ibarat Haji Sujak, Haji Fachruddin, Haji Tamim, Haji Hisyam, Haji Syarwani dan Haji Abdul Gani. Sedangkan anggota Budi Oetomo yang paling keras mendukung segera didirikan sekolah agama yang bersifat modern ialah Mas Rasyidi siswa Kweekchool di Yogyakarta, dan R. Sosrosugondo seorang guru di sekolah tersebut. Sekitar sebelas tahun kemudian sehabis organisasi Muhammadiyah didirikan K.H.Ahmad Dahlan meninggal dunia pada tanggal 23 Pebruari 1923.
            Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan
    Merasa prihatin terhadap sikap masyarakat Islam di Indonesia yang masih mencampur-baurkan adat-istiadat yang jelas-jelas bertentangan dengan aliran umat islam, inilah yang menjadi latar belakang pemikiran K.H. ahmad Dahlan untuk melaksanakan pembaruan, yang juga melatar belakangi lahirnya Muhammadiyah. Selain faktor lain diantaranya, yaitu efek pemikiran pembaruan dari para gurunya di Timur Tengah.Hampir seluruh pemikiran K.H. Ahmad Dahlan berangkat dari keprihatinannya terhadap situasi dan kondisi global umat Islam waktu itu yang karam dalam kejumudan (stagnasi), kebodohan, serta keterbelakangan. Kondisi ini semakin diperparah dengan politik kolonial belanda yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Menurut K.H. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis ialah melalui pendidikan. Memang, Muhammadiyah semenjak tahun 1912 telah menggarap dunia pendidikan, namun perumusan mengenai tujuan pendidikan yang spesifik gres disusun pada 1936. Pada mulanya tujuan pendidikan ini tampak dari ucapan K.H. Ahmad Dahlan: ” Dadiji kjai sing kemajorean, adja kesel anggonu njambut gawe kanggo Muhammadiyah”( Jadilah insan yang maju, jangan pernah lelah dalam bekerja untukMuhammadiyah).
   Untuk mewujudkannya, berdasarkan K.H. Ahmad Dahlan pendidikan terbagi menjaditigajenis,yaitu:
1. Pendidikan moral, akhlak, yaitu sebagai perjuangan untuk menumbuhkan aksara insan yang baik, berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah
2. Pendidikan Individu, yaitu sebagai perjuangan untuk menumbuhkan kesadaran individu yang utuh, yang berkesinambungan antara keyakinan dan intelek, antara kebijaksanaan dan pikiran serta antara dunia dan akhirat
3. Pendidikan kemasyarakatan, yaitu sebagai perjuangan untuk menumbuhkan kese”iya”an dan impian hidup masyarakat.
Tanpa mengurangi pemikiran para intelektual muslim lainnya, paling tidak pemikiran Ahmad Dahlan perihal pendidikan Islam sanggup dikatakan sebagai awal kebangkitan pendidikan Islam di Indonesia. Gagasan pembaruannya sempat menerima tantangan dari masyarakat waktu itu, terutama dari lingkunagan pendidikan tradisional. Kendati demikian, bagi Dahlan, tantangan tersebut bukan merupakan hambatan, melainkan tantangan yang perlu dihadapi secara pandai dan bijaksan
a.Arus dinamika pembaharuan terus mengalir dan bergerak menuju kepada banyak sekali duduk kasus kehidupan yang semakin kompleks. Dengan demikian, peranan pendidikan Islam menjadi semakin penting dan strategis untuk senantiasa menerima perhatian yang serius. Hal ini disebabkan, lantaran pendidikan merupakan media yang sangat strategis untuk mencerdaskan umat. Melalui media ini, umat akan semakin kritis dan mempunyai daya analisa yang tajam dalam membaca peta kehidupan masa depannya yang dinamis. Dalam konteks ini, setidaknya pemikiran pendidikan K.H Ahmad Dahlan sanggup diletakkan sebagai upaya sekaligus wacana untuk memperlihatkan wangsit bagi pembentukan dan pelatihan peradaban umat masa depan yang lebih proporsional.
Konsep Pendidikan KH. Ahmad Dahlan
     Kehadiran penjajah Belanda ke Indonesia telah merusak tatanan sosial yang ada dalam masyarakat Indonesia. Di jawa, Belanda telah merusak dan menghancurkan komponen kehidupan perdagangan dan politik umat Islam. Selain itu, kondisi umat Islam mulai menyimpang dari kesucian dan kemurnian aliran Islam. Dalam segi aktivitas keagamaan, mulai berkembang sikap fatalisme, khurafat, takhayul, serta konservatisme yang tertanam besar lengan berkuasa dalam kehidupan keagamaan dan sosial ekonomi masyarakat Islam. Kondisi ini diperburuk lagi dengan dengan misi kristenisasi yang membuat umat Islam mengalami kejumudan dalam setiap aspek kehidupannya. Memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan Islam dan akhir dari pemerintahan kolonial Belanda, terutama di pulau Jawa, K.H. Ahmad Dahlan merasa sangat prihatin. Umat Islam ketika itu berada dalam keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Selain itu, sistem pendidikan yang ada sangat lemah sehingga tidak bisa menandingi misi kaum Zindiq maupun Kristen. Melihat kenyataan diatas, dia sebagai seorang muallim merasa terpanggil untuk mempertahankan sistem dari abad-abad permulaan Islam sebagai suatu sistem yang benar dan bebas dari unsur-unsur bid’ah, berusaha membangun kembali agama Islam yang didasarkan pada sendi-sendi aliran yang benar, yakni sejalan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Oleh lantaran itu K.H. Ahmad dahlan memfokuskan dirinya untuk memperbaiki tatanan masyarakat dengan meningkatkan taraf pendidikan khususnya di Indonesia.    
     Pelaksanaan pendidikan berdasarkan Dahlan hendaknya di dasarkan pada landasan yang kokoh. Landasan ini merupakan kerangka filosofis bagi merumuskan kerangka filosofis bagi Islam, baik secara vertikal (Khaliq) maupun Horizontal (makhluk). Dalam pandangan Islam, paling tidak ada dua sisi kiprah penciptaan manusia, yaitu sebagai abd’ Tuhan dan khalifah fi al-ardh. Dalam proses kejadiannya, insan diberikan Tuhan dengan al-ruh dan al’aql. Untuk itu, pendidikan hendaknya menjadi media yang sanggup berbagi potensi al-ruh untuk menalar petunjuk pelaksanaan ketundukan dan kepatuhan insan kepada Khaliqnya. Disini eksistensi kebijaksanaan merupakan potensi dasar bagi penerima didik yang perlu dipelihara dan dikembangkan guna menyusun kerangka teoritis dan metodologis bagaimana menata hubungan yang serasi secara vertikal maupun horizontal dalam konteks tujuan penciptaannya.
     Pendidikan berdasarkan K.H. Ahmad Dahlan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Upaya mengaktualisasikan gagasan tersebut maka konsep pendidikan K.H. Ahmad Dahlan ini meliputi:
1.Tujuan Pendidikan
     Menurut K.H. Ahmad Dahlan, pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada perjuangan membentuk insan muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham kasus ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan yang saling bertentangan pada ketika itu yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan sekolah model Belanda. Di satu sisi pendidikan pesantren hanya bertujuan utnuk membuat individu yang salih dan mendalami ilmu agama. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan sekuler yang didalamnya tidak diajarkan agama sama sekali. Melihat ketimpangan tersebut KH. Ahamd Dahlan beropini bahwa tujuan pendidikan yang tepat ialah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spritual serta dunia dan akhirat. Bagi K.H. Ahmad Dahlan kedua hal tersebut (agama-umum, material-spritual dan dunia-akhirat) merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Inilah yang menjadi alasan mengapa KH. Ahmad Dahlan mengajarkan pelajaran agama dan ilmu umum sekaligus di Madrasah Muhammadiyah.
2. Materi pendidikan
      Menurut Dahlan, materi pendidikan ialah pengajaran Al-Qur’an dan Hadits, membaca, menulis, berhitung, Ilmu bumi, dan menggambar. Materi Al-Qur’an dan Hadits meliputi; Ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan insan dalam memilih nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran Al-Qur’an dan Hadits berdasarkan akal, kerjasama antara agama-kebudayaan-kemajuan peradaban, aturan kausalitas perubahan, nafsu dan kehendak, Demokratisasi dan liberalisasi, kemerdekaan berpikir, dinamika kehidupan dan peranan insan di dalamnya, dan budpekerti (budi pekerti).
 3. Metode Mengajar
        Di dalam memberikan pelajaran agama K.H. Ahmad Dahlan tidak   memakai pendekatan yang tekstual tetapi kontekstual. Karena pelajaran agama tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami secara kognitif, tetapi harus diamalkan sesuai situasi dan kondisi. Cara belajar-mengajar di pesantren memakai sistem Weton dan Sorogan, madrasah Muhammadiyah memakai sistem masihal ibarat sekolah Belanda. Bahan pelajaran di pesantren mengambil dari kitab-kitab agama saja. Sedangkan di madrasah Muhammadiyah materi pelajarannya mengambil dari kitab agama dan buku-buku umum. Di pesantren hub
ungan guru-murid biasanya terkesan sewenang-wenang lantaran para kiai mempunyai otoritas ilmu yang dianggap sakral. Sedangkan madrasah Muhammadiyah mulai berbagi hubungan antara guru-murid yang akrab.
Usaha dan Jasa-Jasa Besar K.H. Ahmad Dahlan sanggup diuraikan sebagai berikut:
1. Mengubah dan membetulkan arah kiblat yang tidak tepat berdasarkan semestinya. Umumnya Masjid-masjid dan langgar-langgar di Yogyakarta menghadap ke timur dan orang-orang shalat menghadap ke arah barat lurus. Pada hal kiblat yang bersama-sama menuju Ka’bah dari tanah Jawa miring ke utara kurang lebih 24 derajat dari sebelah barat. Berdasarkan ilmu pengetahuan perihal ilmu falaq itu, orang dilarang menghadap kiblat menuju barat lurus, melainkan harus miring ke utara 24 derajat. Oleh lantaran itu K.H. Ahmad Dahlan mengubah bangunan pesantrennya sendiri, supaya menuju kearah kiblat yang betul. Perubahan yang diadakan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu menerima tantangan keras dari pembesar-pembesar masjid dan kekuasaan kerajaan (Abuddin Nata, 2004: 106-107).
2. Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam dengan popular, bukan saja di pesantren, melainkan ia pergi ke tempat-tempat lain dan mendatangi banyak sekali golongan. Bahkan sanggup dikatakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan ialah bapak muballigh Islam di Jawa Tengah, sebagaimana Syekh M. Jamil Jambek sebagai bapak muballigh di Sumatera Tengah.
3. Memberantas bid’ah-bid’ah dan khurafat serta adat istiadat yang bertentangan dengan aliran agama Islam.
4. Mendirikan perkumpulan/persyarikatan Muhammadiyah pada tahun 1912 M yang tersebar di seluruh Indonesia hingga sekarang. Pada permulaan berdirinya, Muhammadiyah menerima halangan dan rintangan yang sangat hebatnya, bahkan K.H.Ahmad Dahlan dikatakan telah keluar dari mazhab, meninggalkan andal sunnah wal jama’ah. Bermacam-macam tuduhan dan fitnahan yang dilemparkan kepadanya, tetapi semuanya itu diterimanya dengan sabar dan tawakal, sehingga Muhammadiyah menjadi satu perkumpulan yang terbesar di Indonesia serta berjasa kepada rakyat dengan mendirikan sekolah-sekolah, semenjak dari taman kanak-kanak hingga akademi tinggi.
     Ahmad Dahlan juga sering mengadakan pengajian agama di tabrak atau mushola. Pada tahun 1912 dia mendirikan Muhammadiyah yang semata-mata bertujuan untuk mengadakan dakwah Islam, memajukan pendidikan dan pengajaran, menghidupkan sifat tolong-menolong, mendirikan kawasan ibadah dan wakaf, mendidik dan mengasuh belum dewasa biar menjadi umat Islam yang berarti, berusaha ke arah perbaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan aliran Islam. Ide-ide yang di kemukakan K.H.Ahmad Dahlan telah membawa pembaruan dalam bidang pembentukan forum pendidikan Islam yang semula bersistem pesantren menjadi sistem klasikal, dimana dalam pendidikan klasikal tersebut dimasukkan pelajaran umum kedalam pendidikan madrasah. Meskipun demikian, K.H. Ahmad Dahlan tetap mendahulukan pendidikan moral atau ahlak, pendidikan individu dan pendidikan kemasyarakatan.
  DAFTAR PUSTAKA
– Syamsul Kurniawan-Erwin Mahrus,jejak pemikiran Tokoh Pendidikan Islam,(Jogjakarta:Ar-Ruzz Media),hal.193.                                                             
 –   Hizah.Samsul,2002.filsafat pendidikan islam.Jakarta.Ciputat pers.                                  – Prof.DR.Ahmad Sjalaby.1973.Sedjarah Pendidikan Islam.Djakarta:Penerbit BulanBintang.
 –   Soedja,Muhammad,1993.cerita perihal kyiai haji Ahmad Dahlan.Jakarta: 
 Rhineka cipta.