Peran Strategis Cowok Dalam Proses Proklamasi Kemerdekaan: Pengamanan Soekarno-Hatta Ke Rengasdengklok 1945

Eko Adi Putra / SI IV

1.Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok Oleh Pemuda
Satu hari menjelang terjadinya proklamasi kemerdekaan Indonesia, terdapat suatu bencana yang sangat penting bagi konstelasi usaha bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Peristiwa tersebut ialah pengamanan Soekarno-Hatta ke wilayah Rengas dengklok oleh para cowok yang ingin segera Indonesia merdeka. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat antara cowok dengan Soekarno-Hatta dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Malam hari di tanggal 15 Agustus 1945, rumah Bung Karno dikerumuni cowok yang mendesak supaya malam itu juga kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Pemuda mendesak dengan keras biar proklamasi itu segera dilaksanakan. Namun Bung Karno tetap menolak dengan alasan bahwa Jepang sudah merestui kemerdekaan Indonesia dan besok pagi Panitia Persiapan Kemerdekaan akan bersidang dan melaksanakan kemerdekaan itu. Melihat respon dari Bung Karno tersebut, cowok menilai bahwa kemerdekaan yang akan lahir nantinya hanyalah kemerdekaan buatan Jepang. Oleh alasannya ialah itu cowok tetap mendesak biar proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan ketika itu juga. Namun Bung Karno pun bersikeras pada pendiriannya, menolak memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada malam itu. Perundingan mengalami deadlock dan diputuskan biar rapat diselesaikan saja. Kemudian Bung Karno masuk ke dalam rumahnya dan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing. [1]
Pemuda yang tidak puas terhadap pertemuan dengan Bung Karno mencoba menyusun seni administrasi lain biar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dilaksanakan. Dini hari pada 16 Agustus 1945, disaat waktu sahur di bulan Ramadan, para cowok saling membagi kiprah guna menjemput Soekarno dan Hatta dari rumah mereka masing-masing. Bung Hatta yang sedang berkemas-kemas untuk menyantap masakan sahur, tiba-tiba kedatangan tamu. Tamu tersebut ialah Sukarni dan Jusuf Kunto. Mereka ialah delegasi dari cowok yang ditugasi untuk menjemput Bung Hatta dan mengamankannya. Sesampainya di rumah Bung Hatta, Sukarni dan Jusuf Kunto bertemu dengan penjaga rumah dan memintanya untuk membangunkan Bung Hatta. Kemudian Bung Hatta keluar menemui Sukarni dan Jusuf Kunto dan menanyai maksud dari kedatangan mereka. Adam Malik dalam bukunya yang berjudul Riwayat Proklamasi Agustus 1945, merekam obrolan antara Bung Hatta dengan Sukarni;
“… sehabis Bung Hatta berdiri alasannya ialah kaget bertanya kepada Sukarni, “Apa maksud.” Sukarni menjawab: “Bung (Hatta) lekas-lekas, bersiap, alasannya ialah keadaan telah memuncak genting, rakyat sudah tidak sabar menunggu lagi. Belanda dan Jepang sudah berkemas-kemas pula untuk menghadapi segala kemungkinan. Pemuda dan rakyat tidak berani menanggung akibat-akibat apa yang akan bencana jikalau saudara masih tinggal di dalam kota.”
Setelah mendengar pembagian terstruktur mengenai dari Sukarni perihal keadaan yang akan memuncak disertai kejadian-kejadian yang mungkin membahayakan jiwa, Bung Hatta lalu memutuskan untuk ikut pergi bersama Sukarni dan Jusuf Kunto menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Di lain tempat, Dr. Muwardi dan Chairul Saleh yang juga merupakan delegasi dari golongan pemuda, bertugas untuk menjemput Bung Karno di rumahnya. Adam malik dalam bukunya yang berjudul Riwayat Proklamasi Agustus 1945 juga menuliskan obrolan antara Bung Karno dengan Chairul Saleh;
“Ketika Bung Karno sudah bangun, ia bertanya apa maksudnya membangunkannya pada jam pagi deket subuh itu. Chairul Saleh menerangkan: “keadaan sudah memuncak, kegentingan harus diatasi. Orang-orang Belanda dan Jepang sudah siap-siap untuk menghadapi kegentingan-kegentingan itu. Sebab mereka juga sudah menanti-nanti sesuatu tindakan rakyat di dalam kota. Karena itu mungkin keamanan didalam kota dan keamanan Bung Karno dan Bung Hatta tidak sanggup lagi ditanggung oleh rakyat dan pemuda, oleh alasannya ialah itu diminta supaya Bung Karno pada jam ini juga (04.15) meninggalkan kota.” Akhirnya Bung Karno pun memutuskan untuk ikut dengan cowok disertai Ibu Fatmawati dan Guntur yang masih bayi.
Rombongan cowok yang membawa Bung Karno dan Bung Hatta, meninggalkan Jakarta menuju suatu kota terpencil di Jawa Barat yaitu Rengas dengklok. Rengas dengklok dipilih cowok alasannya ialah dianggap relatif lebih kondusif dan dikuasai oleh PETA. Setelah memasuki tempat Rengas dengklok, rombongan Soekarno-Hatta diturunkan di tengah persawahan lalu dibawa ke sebuah asrama PETA. Tidak usang sehabis berada di asrama PETA, rombongan dipindahkan dan dibawa lagi ke rumah seorang camat Rengas dengklok. Namun ternyata tempat itu dinyatakan tidak kondusif dan rombongan Soekarno-Hatta kembali dipindahkan ke sebuah rumah milik seorang petani Tionghoa berjulukan Djiau Kie Siong. Di rumah tersebut Soekarno beserta keluarganya dan juga Hatta diamankan cukup usang oleh para pemuda. [2]
2. Peran Strategis Pemuda di Rengasdengklok
          Selama pengamanan di rumah Djiau Kie Siong, Bung Karno dan Bung Hatta terus menanyakan kabar perihal revolusi besar di Jakarta yang sering disebut-sebut oleh pemuda. Namun tentara PETA yang menjaganya tidak tahu apa-apa perihal hal itu. Kemudian Bung Hatta menyuruh tentara yang menjaganya itu untuk memanggil Sukarni. Tidak usang lalu Sukarni tiba dan menyampaikan bahwa ia belum mendapat kabar dari Jakarta. Mendengar hal demikian, Bung Hatta berkomentar bahwa revolusi besar yang direncanakan cowok itu telah gagal
dan pengamanan ke Rengasdengklok hanya sia-sia alasannya ialah di Jakarta tidak terjadi apa-apa.
Beberapa jam sehabis istirahat, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke sebuah ruangan yang dimana di dalam ruangan tersebut sudah terdapat para cowok diantaranya Sukarni, Jusuf Kunto, dr. Sutjipto, dan Umar Bachsan. Adam Malik dalam bukunya yang berjudul Riwayat Proklamasi Agustus 1945, merekam situasi dan obrolan yang terjadi antara cowok dengan Soekarno-Hatta dalam ruangan itu;
“Sukarni memulai pembicaraan. Ia menerangkan; maksud membawa saudara berdua ke tempat ini tidak lain hanya untuk mempersilakan Bung berdua selekasnya menyatakan Proklamasi Kemerdekaan atas nama seluruh rakyat, alasannya ialah keadaan ketika sudah mendesak dan suasanapun sudah sangat memuncak. Jika tidak dilakulan proklamasi selekas-lekasnya, maka pemberontakan yang hebat, pemberontakan melawan tiap-tiap penghalang kemerdekaan (ketika itu Jepang dan kaki tangannya) tentu akan berlaku. Maka oleh alasannya ialah itu atas nama segenap rakyat, buruh, tani dan tentara supaya saudara-saudara turut melaksanakan proklamasi itu. Jika tidak, maka segala akibatnya, terutama yang mengenai keselamatan dari saudara berdua, tidak akan sanggup ditangani oleh rakyat.” [3]
Terlihat sangat terang bahwa cowok tetap menginginkan kemerdekaan Indonesia dibentuk oleh bangsanya sendiri bukan buatan dari bangsa lain. Pemuda menilai jikalau kemerdekaan Indonesia menunggu dilaksanakan oleh panitia bentukan Jepang (PPKI) maka sama artinya kemerdekaan yang nantinya lahir hanyalah kemerdekaan buatan Jepang yang sewaktu-waktu sanggup dijajah lagi. Oleh alasannya ialah itu, cowok melihat kekalahan Jepang dari Sekutu ialah momentum bagi Indonesia untuk sanggup merdeka dan menjadi negara seutuhnya tanpa adanya intervensi dari bangsa lain. Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengas dengklok merupakan suatu bentuk upaya strategis cowok biar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dilaksanakan. Setelah upaya obrolan di Jakarta sebelumnya gagal membuat proklamasi kemerdekaan bagi Indonesia. Soekarno-Hatta dipaksa oleh para cowok untuk memproklamasikan kemerdekaan hari itu juga di Rengas dengklok akan tetapi Soekarno tetap menolak dan hanya bersedia melaksanakan proklamasi di Jakarta. Pemuda yang telah bersusah-payah membawa Soekarno-Hatta ke Rengas dengklok enggan menyerah. Sukarni terus berupaya meyakinkan Soekarno-Hatta bahwa penyerahan Jepang tidak ada keragu-raguan lagi dan Indonesia sanggup merdeka tanpa pemberian Jepang.
Melihat kondisi yang semakin sulit, Sukarni meminta Jusuf Kunto untuk melaporkan dan merundingkannya ke Jakarta. Jusuf Kunto berangkat ke Jakarta dan ia menemui kelompok Kaigun dan Subardjo. Setelah berunding di Jakarta akhirnya Subardjo meminta Jusuf Kunto mengantarnya ke Rengas dengklok untuk menjemput Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dan segera melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. [4]
3. Dampak Pengamanan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok
Sekitar pukul 18.00 WIB, Ahmad Subardjo bersama Jusuf Kunto tiba di Rengas dengklok dan eksklusif menemui Soekarno-Hatta dan Sukarni. Pada awalnya kedatangan Subardjo ditolak oleh Sukarni alasannya ialah Subardjo tiba mengatasnamakan Kaigun, bahkan Subardjo hampir ditahan oleh cowok alasannya ialah hal itu. Subardjo lalu menunjukan bahwa kedatangannya bahwasanya diutus oleh Wikana cs. Ia terus berupaya menyakinkan Sukarni bahwa semua persediaan untuk persiapkan proklamasi sudah diatur di Jakarta. Soekarno-Hatta pun berjanji akan menandatangani proklamasi kemerdekaan itu dengan syarat harus ditanda-tangani di Jakarta. Namun Sukarni belum percaya begitu saja. Menurutnya, sanggup jadi akad tersebut tidak dipenuhi jikalau mereka nanti sudah tiba di Jakarta. Kemudian Subardjo memperlihatkan jaminan siap untuk ditembak mati oleh tentara PETA jikalau kemerdekaan Indonesia tidak diproklamasikan malam itu juga atau selambat-lambatnya pada tengah hari berikutnya. Setelah beberapa menit berunding, akhirnya Sukarni mempersilakan Subardjo untuk membawa kembali Soekarno-Hatta ke Jakarta.
Setibanya di Jakarta, Soekarno-Hatta kembali ke rumah mereka masing untuk sekadar istirahat sejenak dan bersih-bersih sebelum melaksanakan rapat untuk membahas teknis pelaksanaan proklamasi. Sekitar pukul 22.00 WIB Bung Karno mendatangi Bung Hatta untuk mengajak bahu-membahu pergi ke rumah Laksamana Maeda guna melaksanakan rapat untuk membahas teknis penyusunan teks proklamasi dan pelaksanaan dari proklamasi tersebut. Sesampainya di rumah Maeda, Bung Karno dan Bung Hatta disambut oleh beberapa pejabat Jepang diantaranya ialah Miyoshi, Shigetada Nishijima, dan Maeda. Setelah beberapa menit lalu Maeda mengajak petinggi-petinggi Indonesia untuk bertemu Letnan Jendral Otoshi Nishimura (Direktur Departemen Umum Pemerintahan Militer). Pertemuan ini bertujuan untuk memberikan perilaku resmi pemerintah Jepang terhadap planning mempercepat proklamasi kemerdekaan. Dalam pertemuan itu Letnan Jenderal Nishimura memberikan bahwa pemerintah Jepang keberatan akan kemauan pemimpin dan cowok Indonesia untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan dengan alasan alasannya ialah Jepang sudah mengalah kepada Sekutu dan diminta untuk menjaga status quo di Indonesia. Namun alasannya ialah tekad bangsa Indonesia sudah berpengaruh dan bersatu, maka planning mempercepat proklamasi kemerdekaan tetap dilaksanakan. Pemimpin dan cowok Indonesia melanjutkan rapat untuk membahas teks proklamasi. [5]
Di dalam rumah Laksamana Maeda telah berkumpul puluhan orang, mereka diantaranya ialah para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan para pentolan cowok progresif yang ingin cepat Indonesia merdeka. Mereka semua berkumpul membicarakan mengenai teks proklamasi. Kemudian hasil dari rapat itu ialah lahirnya teks proklamasi yang kita ketahui ketika ini dan juga diputuskan orang yang nantinya akan membacakan dan menandatangani teks proklamasi tersebut atas nama bangsa Indonesia ialah Soekarno-Hatta. Sebelum rapat ditutup, Bung Karno memperingatkan bahwa pada hari itu juga, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB proklamasi kemerdekaan akan dibacakan di halaman rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur No.56. Akhirnya dengan dibacakannya proklamasi kemerdekaan tersebut, bangsa Indonesia telah menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Cindy Adams, Bung Karna Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Gunung Agung, Jakarta 1965.
[3] Drs. Amrin Imran, Dr. Mohammad Iskandar dkk. Indonesia Dalam Arus Sejarah 6: Perang dan Revolusi, Jakarta, Ichtiar Baru Van Hoeve, 2012.
[4] Indra, Muhammad Ridhwan, Marthabaya, Sophian, 1987. Peristiwa-Peristiwa di Sekitar Proklamasi 17-8-1945. Jakarta: Sinar Grafika.
[5] Mohammad Hatta, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Jakarta, Tintamas, 1981.