Perang Salib

ADIL JAYA MANALU/S/EB
 Perang salib pada hakikatnya bukan perang agama, melainkan perang merebutkan kekuasaan daerah. Hal ini dibuktikan bahwa tentara salib dan tentara muslim saling bertukar ilmu pengetahuan. Perang salib besar lengan berkuasa sangat luas terhadap aspek-aspek politik, ekonomi dan sosial, yang mana beberapa bahkan masih besar lengan berkuasa hingga masa kini.Karena konflik internal,antara kerajaan-kerajaan Kristen, dan kekuatan-kekuatan politik,beberapa ekspedisi perang salib bergeser dari tujuan semulanya dan berakhir dengan dijarahnya kota Kristen, Termasuk Ibu Kota Byzantium, Konstantinopel- kota yang paling maju.
Perang salib di mulai pada tahun 1096 dan secara terputus-putus berlangsung selama dua abad. Tujuan dari perang ini ialah merebut kembali yerusalem dari tangan pemeluk agama islam yang dikabarkan telah memberi perlakuan kurang baik kepada peziarah-pezihara Kristen ke tanah suci.

Penyebab pribadi perang salib I ialah permohonan kaisar Alexius I kepada Paus Urbanus II untuk menolong kekaisaran Byzantium dan menahan laju invasi tentara Muslim ke dalam wilayah kekaisaran tersebut. Hal ini dilakukan lantaran sebelumnya pada 1071, kekaisaran Byzantium telah dikalahkan oleh pasukan seljuk yang dipinpin oleh sultan Alp Arselen di pertempuran Manzikert, yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit. Dalam insiden ini pasukan seljuk berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 40.000 orang, terdiri atas tentara romawi, Ghus, al-Hajr, Prancis dan Armania.
Kekalahan ini berujung pada dikuasainya hampir seluruh wilayah Asia kecil (sekarang Turki). Meskipun pertentengan Timur-Barat sedang berlangsung antara gereja Kristen Barat dengan gereja Ortodoks Timur, Alexius I mengharapkan respon yang kasatmata atas permohonannya. Bagaimana pun, respon yang didapat amat besar dan hanya sedikit bermafaat bagi Alexius I.
Paus menyerbu bagai kekuatan invasi yang besar bukan saja untuk mempertahankan kekaisaran Byzantium, tetapi unuk merebut kembalinya Yerusalem, sehabis Dinasti Seljuk sanggup merebut Beitul Maqdis pada 1078 dari kekuasaan Dinasti Fatimiah yang berkedudukan di Mesir.umat Kristen merasa tidak lagi bebas beribadah semenjak Dinasti Seljuk menguasai Baitul Maqdis.
Ketika perang salib I didengungkan pada 27 November 1095, para pangeran kristen dari Iberia sedang bertempur untuk keluar dari Pegunungan Galacia dan Asturia, wilayah basque dan Navarre, dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, selama seratus tahun. Kejatuhan bangsa Moor-Toledo kepada kerajaan Leon pada 1085 ialah kemenangan yang besar yang penting dan kaum kristen yang meninggalkan para perempuan di garis belakang amat sulit untuk di kalahkan. Mereka tidak mengenal hal lain selain bertempur. Mereka tidak mempunyai teman atau perpustakaan untuk dipertahankan. Para kesatria Kristen ini merasa bahwa mereka bertempur di lingkungan abnormal yang di penuhi oleh orang kafir sehingga mereka sanggup berbuat dan merusak sekehendak hatinya.
Seluruh faktor ini kemudian akan dimainkan kembali di lapangan pertempuran di Timur. Para jago sejarah sepanyol melihat bahwa reconquista ialah kekuatan besar dari abjad castilia, dengan perasaan bahwa kebaikan yang tertinggi ialah mati dalam pertempuran mempertahankan kekristenan suatu negara.
Pada tahun 1055 tentara Turki mulai menyerang ke arah barat, yaitu kekaisaran Byzantium dan Siria. Mereka juga menguasai Yerusalem pada tahun 1070. Dengan demikian kawasan yang bertetangga dengan dunia Kristen dikuasai oleh orang Islam militan. Orang-orang Kristen yang dahulu sanggup berziarah ke Yerusalem secara bebas mulai diganggu oleh orang-orang Turki. Pada kurun 11 orang-orang yang hendak berziarah membentuk kelompok-kelompok besar lengkap dengan sumbangan militer.                                                                                                                                        Setelah imbas Romawi lenyap dari Eropa Barat pada kurun 5 wilayah ini ditimpa kekacauan. Suku-suku German yang merebut kawasan yang dahulu dikuasai Romawi
mempunyai kebudayaan yang jauh lebih rendah ketimbang kebudayaan Romawi dan
Arab. Kehidupan gereja pun terpengaruh. Mulailah senjata masuk gereja.
Misi pekabaran Bibel dihubungkan dengan ekspedisi militer. Memasuki kurun 11     
gereja mulai melibatkan para aristokrat yang gemar berperang untuk menyerang
musuh-musuhnya. Musuh-musuh di sini ialah orang Islam dan para bidat. Dengan
demikian gereja mengatur peperangan dan menjamin kedamaian, ketenteraman, serta
keadilan. Politik ini disebut gerakan tenang Allah. Para aristokrat diberi etos
khusus semoga menggunakan keahliannya demi kepercayaan dan gereja. Mereka menjadi tentara
Kristen atau ksatria Kristen. Paus mengobarkan semangat mereka dan memberi
jaminan pengampunan dosa. Pau
s berambisi untuk menggabungkan gereja timur ke
dalam kekuasaannya dan mengusir orang Islam dari Baitul Maqdis .
Pada tahun 1050 dikenallah gerakan perang suci, yang juga disebut Perang Salib.
Disebut Perang Salib lantaran para ksatria menggunakan lambang salib dari kain
merah pada pundak dan dada sebagai tanda.
Tinggalan Perang Salib telah meninggalkan kesan-kesan sejarah yang mendalam dan berkekalan. Perang Salib telah menunjukkan imbas yang sangat besar ke atas Zaman Pertengahan Eropah. Pada dikala sebahagian besar benua tersebut disatukan di bawah Paus yang begitu berkuasa, tetapi pada kurun ke-14 konsep usang mengenai Dunia Kristian menjadi pecah, dan kemajuan birokrasi berpusat (pembentukan negara bangsa moden) sedang rancak berjalan di Perancis, England, Burgundy, Portugal, dan sebahagian Castile serta Aragon kerana penguasaan gereja pada permulaan era Perang Salib. Walaupun Eropah terdedah kepada kebudayaan Islam buat beberapa kurun menerusi perhubungan di Semenanjung Iberia dan Sicily, banyak fatwa Islam ibarat sains, perubatan dan senibina telah dipindahkan ke Barat semasa Perang Salib. Pengalaman ketenteraan dari Perang Salib juga memberi kesan ke atas Eropah; sebagai contoh, kubu-kubu Eropah mula mempunyai struktur watu yang besar sebagaimana yang terdapat di Timur, berbanding bangunan kayu yang kecil sebagaimana yang biasa wujud pada masa lalu.
 Keperluan untuk membina, mengangkut dan membekalkan pasukan tentera yang besar membawa kepada perdagangan yang rancak di segenap Eropah. Kebanyakan jalan-jalan kurang dipakai semenjak zaman Empayar Rom menyaksikan pertambahan trafik dengan pedagang-pedagang tempatan mula meluaskan ruang lingkup mereka. Ini bukan hanya disebabkan Perang Salib tetapi juga kerana ramai orang ‘mahu’ mengembara sehabis bertemu dengan hasil keluaran Timur Tengah. Ini juga membantu permulaan Renaissance di Itali, kerana pelbagai negara kota di Itali semenjak dari mula lagi mempunyai koloni-koloni perdagangan yang penting dan tidak mengecewakan di negeri-negeri tentera salib, samada di Tanah Suci mahupun di wilayah Empayar Byzantine yang ditawan kemudiannya. Di sebalik kekalahan di Timur Tengah, tentera salib memperoleh kembali Semenanjung Iberia dan melambatkan ekspansi ketenteraan Islam.
Perang Salib telah memberi kesan mendalam terhadap Dunia Islam dengan perkataan “Frank” dan “tentera salib” awet setara dengan ungkapan yang mewakili penghinaan. Orang Islam secara tradisi menyanjung Salahuddin, pahlawan Kurdis sebagai jagoan menentang tentera salib. Pada kurun ke-21 ini, sesetengah orang di Dunia Arab ibarat pergerakan kemerdekaan Arab dan gerakan Pan-Islam menggelar campur tangan pihak Barat dalam hal ehwal Timur Tengah sebagai “Perang Salib”. Perang Salib dianggap oleh Dunia Islam sebagai serangan hebat yang kejam dan dahsyat oleh orang Kristian Eropah.
KESIMPULAN
Perang salib di mulai pada tahun 1096 dan secara terputus-putus berlangsung selama dua abad. Tujuan dari perang ini ialah merebut kembali yerusalem dari tangan pemeluk agama islam yang dikabarkan telah memberi perlakuan kurang baik kepada peziarah-pezihara Kristen ke tanah suci.
Pada tahun 1055 tentara Turki mulai menyerang ke arah barat, yaitu kekaisaran Byzantium dan Siria. Mereka juga menguasai Yerusalem pada tahun 1070. Dengan demikian kawasan yang bertetangga dengan dunia Kristen dikuasai oleh orang Islam militan. Orang-orang Kristen yang dahulu sanggup berziarah ke Yerusalem secara bebas mulai diganggu oleh orang-orang Turki. Pada kurun 11 orang-orang yang hendak berziarah membentuk kelompok-kelompok besar lengkap dengan sumbangan militer. 
Dalam perang tersebut, para prajurit kristen memang menggunakan gejala Salib pada pakaian dan persenjataan mereka, selain memang dipinpin oleh Raja Kristen.perang salib berlangsung berkepanjangan, bahkan bangsa-bangsa Barat yang ada di daratan Eropa yang berdatangan ke Indonesia pada selesai kurun ke-16 masih di liputi oleh suasana perang tersebut. Sebagai balasannya ialah terjadinya konflik dengan pedagang-pedagang islam dari Timur Tengah yang terlebih dahulu tiba ke Indonesia. namun ada dampak kasatmata dari perang tersebut, yaitu terjadinya kontak budaya.
Menurut vanden End & de Jonge (2001) semangat iman, semangat berperang, dan semangat
politik bersatupadu sehingga sukar memilih sisi mana yang paling menonjol.
DAFTAR PUSTAKA
Sami bin Abdullah al-Maghluts, Atlas Perang Salib, Penerbit Al-Mahira, 2009