Pergerakan Politik Afrika Selatan Dalam Menentang Politik Apartheid

Rinaldi Afriadi Siregar/PIS

A.    Latar belakang munculnya Politik Apartheid di Afrika Selatan
Pada tahun 1910 Perang Boer kedua berakhir dan Inggris berhasil mempersatukan wilayah Afrika Selatan dalam satu Uni Afrika Selatan menjadi republik dengan presidennya Hendrik Verwoed. Verwoed yang berhasil menciptakan kebijakan untuk memisahkan secara umum dikuasai orang kulit putih dan secara umum dikuasai kulit gelap justru malah mengakibatkan diskriminasi antara keduanya. Sebelum dilaksanakan Politik Apartheid sebenarnya telah usang dilakukan, hal-hal yang merupakan tanda-tanda Apartheid, antara lain:

1.      Native Land Act (Undang-undang Pertanahan Pribumi) tahun 1913 yang melarang kulit hitam membeli tanah di luar kawasan yang sudah disediakan bagi mereka.
2.      Undang-undang Imoraitas tahun 1927 yang melarang terjadinya perkawinan adonan antara kulit putih dengan kulit gelap atau kulit berwarna lainnya[1].
Pengganti Verwoed yaitu Pieter Botha pada tahun 1976 ia mengumumkan bahwa homeland-homeland yang dibuat dimaksudkan untuk menjadi negara belahan yang otonom. Namun siapa pun sanggup memahami dengan gampang bahwa Politik Apartheid yang mengadakan pemisah pembangunan daerah-daerah pemukiman dimaksud untuk memecah belah persatuan dan kesatuan Afrika Selatan, sekaligus mengamankan pemerintahan minoritas bangsa kulit putih di kawasan itu.
Orang-orang kulit gelap yang semula tidak mengerti bahwa kebijakan pemerintahannya, lambat laun mengerti bahwa tujuan sebetulnya yaitu diskriminasi rasial (perbedaan warna kulit). Oleh alasannya yaitu itu mereka berdiri mengadakan perlawanan, tetapi pemerintaha Pieter Botha dengan kejam menumpas setiap perlawanan yang terjadi. Banyak tokoh-tokoh kulit gelap yang dijebloskan dalam penjara, menyerupai tokoh kharismatik Nelson Mandela yang terpaksa mendekam dalam penjara selama 27 tahun. Selain perlawanan bersenjata, usaha-usaha mengakhiri Politik Apartheid juga dilakukan melalui usaha politik. Partai-partai yang populer antara lain Partai Konggres (ANC) pimpinan Nelson Mandela dan Inkatha Freedom Party pimpinan Mongosuthu Buthulesi. Salah seorang tokoh pergerakan Afrika Selatan yang juga sangat populer yaitu Uskup Agung Desmond Tutu. 
Perjuangan rakyat Afrika Selatan yang tidak mengenal lelah simpulan membawa hasil. Timbulnya gejala-gejala ras diskriminasi orang-orang Belanda dari kaum kristen Kalvanis yang pertama tiba ke Afrika Selatan telah memandang penduduk pribumi kulit hitam dengan pandangan yang rendah. Penduduk pribumi dianggap sebagai bangsa yang biadab, primitif dan dianggap sebagai keturunan putra-putra Ham (anak kedua Nabi Nuh) yang dikutuk oleh Yang Mahakuasa untuk jadi budak. Pandangan itu yang mengakibatkan terjadinya perbudakan atas bangsa kulit gelap oleh penduduk kulit putih.
Perbudakan di Afrika Selatan mengikuti usaha cari laba yang besar dengan dibukanya tambang-tambang intan dan emas. Dengan berlakunya sistem perbudakan, maka memudahkan diperoleh pekerja-pekerja yang amat murah. Tempat tinggal mereka tidak boleh berbaur dengan tempat kulit putih.Daerah untuk kulit gelap disediakan khusus yang jauh terpisah dan berpagar rapat. Untuk keluar masuk pemukiman diwajibkan mempunyai surat pas. Dengan sistem itu, maka penguasaan atas persediaan tenaga kerja akan terjamin.
Sampai pada periode ke-19 pemukiman kulit gelap masih bercampur dengan kawasan kulit putih, tapi pada permulaan periode ke-20 mereka digiring ke kawasan pinggiran. Penduduk peranakan dan keturunan India juga termasuk bangsa yang diusir dari kota.Sebuah perkampungan kulit gelap yang besar ialah perkampungan Soweto di sekitar Johannesrburg. Sejauh mata memandang yang tampak hanya kompleks pemukiman yang amat luas dengan rumah-rumah primitif yang kotor. Demikian pandang Kennedy, senator Amerika Serikat yang mengunjungi Afrika Selatan. Rumah-rumah itu tidak disediakan pemerintahan dengan cuma-cuma, tetapi ditarik sewa yang amat tinggi, sementara upah para buruh amat rendah.
Pada tahun 1913 penguasa kulit putih mengeluarkan undang-undang pertanahan pribumi (Native Land Act) yang melarang kulit gelap membeli tanah di luar kawasan yang telah disediakan untuk mereka. Pada tahun 1927 dikeluarkan kembali undang-undang Imoralitas yang melarang kekerabatan seks antara kulit putih dan kulit hitam. Perkawinan adonan antara kulit putih dan kulit gelap atau kulit berwarna lainnya tidak boleh keras[2].
Politik Apartheid dirancang oleh Hendrik Verwoed. Apartheid berdasarkan bahasa resmi Afrika Selatan yaitu Aparte Ontwikkeling artinya perkembangan yang terpisah.
Memperhatikan makna dari arti Apartheid itu kedengarannya baik yaitu tiap golongan masyarakat, baik golongan kulit putih maupun golongan kulit gelap harus sama-sama berkembang. Tapi perkembangan
itu didasarkan pada tingkatan sosial dalam masyarakat yang pada prakteknya menjurus pada pemisahan warna kulit dan terjadinya penistaan dari kaum penguasa kulit putih terhadap rakyat kulit hitam.
Verwoed menyusun rencana pembentukan homeland, yang disebut juga Batustan. Homeland dilaksanakan dengan diadakannya pembagian kembali Afrika Selatan berdasarkan wilayah kesukuan. Tiap orang kulit gelap Afrika Selatan diharuskan menjadi warga negara salah satu homeland atas dasar tempat lahirnya. Untuk memantapkan proyek homeland dikeluarkan santunan biaya untuk perangsang termasuk perangsang untuk pemasukan modal dari luar untuk homeland. Kemajuan-kemajuan kecil tampak dari proyek itu.
Perkembangan Politik Apartheid di Afrika Selatan, Partai Nasional memenangkan pemilihan umum dengan program Politik Apartheid. Kontak antara ras yang sanggup membahayakan kemurnian ras dibatasi.
Segregasi atau pemisahan dan perkembangan terpisah tidak hanya berlaku untuk golongan rasial yang penting, tetapi juga untuk kelompok-kelompok yang lebih kecil.Kemenangan Partai Nasional bukan suatu kebetulan, melainkan merupakan hasil situasi Afrika Selatan itu sendiri. Setelah berkuasa, Partai Nasional bergerak secara sistematis untuk memperkuat kedudukannya dalam dewan legislatif dan memperluas kedudukannya di luar parlemen. Dalam rangka hak-hak politik golongan kulit hitam, golongan kulit berwarna Asia yang telah terbatas dikurangi dan lambat laun dihapus. Di antara hak-hak itu yaitu sebagai berikut :
1.      Pada tahun 1951 dikeluarkan Bantu Authorities Act yang menghapuskan dewan perwakilan rakyat Pribumi dan sebagai gantinya ditetapkan pembentukan pemerintahan suku.
2.      Orang kulit gelap tidak boleh tinggal di kawasan perkotaan kulit putih selama lebih dari 72 jam.
3.      Pada tahun 1945 dikeluarkan Native Land Act yang melarang orang kulit gelap mempunyai atau membeli tanah di kawasan perkotaan.
4.      Segregasi pendidikan dilaksanakan dengan Bantu Educationa Act pada tahun 1953[3]
Diantara proyek Bantustan yang dianggap berhasil di Afrika Selatan yaitu pemberian kemerdekaan kepada Transkei pada tanggal 26 Oktober 1976. Kemerdekaan ini disambut baik oleh rakyat dan pemerintah Transkei, tetapi menerima jawaban negatif dari negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.
B.     Pergerakan Politik Afrika Selatan Dalam Menentang Politik Apartheid
Setelah partai nasional berkuasa di Afrika Selatan secara sistematis dilembagakan dan dituangkan dalam undang-undang sehingga orang kulit putih menguasai rakyat pribumi dan secara berangsur-angsur merampok dan mengurangi hak-haknya. Orang kulit gelap menolak klaim kulit putih bahwa secara kodrat orang kulit putih mempunyai keunggulan dan hak untuk memimpin. Dengan adanya orang-orang kulit hitam mendapatkan pendidikan Barat maka mereka mulai mengambil langkah-langkah membentuk gerakan politik. South Afrika Native National Conference dan APO mengirimkan delegasinya ke London untuk mengajukan protes, tetapi gagal. Sebagai reaksi, lahirlah South African National (SANC) pada tahun 1912 kemudian namanya diubah menjadi ANC (African National Congress). Sasarannya terbatas pada usaha supaya golongan elit Afrika Selatan diterima secara sosial dan politik dalam masyarakat yang dikuasai oleh orang kulit putih. Perjuangan mereka untuk mencapai target yaitu lewat jalan konstitusional[4].
Perjuangan ANC berubah sesudah pemerintah Afrika Selatan mengeluarkan National Land Act yang isinya :”orang kulit gelap tidak boleh membeli tanah atau hidup di wilayah orang kulit putih sebagai penyewa atau penggarap bagi hasil”. Pada tahun 1919 – 1920, ANC melancarkan kampanye menentang peraturan-peraturan kewajiban orang kulit gelap membawa pas. ANC mengalami kemunduran sesudah pemerintah Afrika Selatan mengambil tindakan keras dan tegas. Untuk sementara peranannya diambil alih oleh ICU (Industrial and Commercial Union) yang didirikan pada tahun 1919. ANC memperluas keanggotaannya dan jadinya menjelma organisasi massa.
Pada tahun 1952, orang kulit hitam, kulit berwarna serta sejumlah orang kulit putih melancarkan suatu perlawanan pasif. Situasi menyerupai ini terjadi pada tahun 1970 dan insiden serupa sering terjadi dalam usaha tanpa kekerasan yang dilakukan oleh ANC. Pada tahun 1955, kelompok-kelompok yang menentang Politik Apartheid mengadakan pertemuan di Capetown untuk menggariskan dasar-dasar bagi Afrika Selatan yang demokratis dan non rasial. Pada tahun 1956 sebanyak 156 orang pemimpin ditangkap alasannya yaitu dituduh berkomplot akan menggulingkan pemerintah. Proses ini terjadi berlarut-larut sampai jadinya mereka dibebaskan pada tahun 1961. Sementara ANC kehilangan pemimpin-pemimpinnya, sejumlah anggotanya memisahkan diri dan mendirikan Pan Africanist Congress (PAC). Pada tahun 1
960 PAC melancarkan kampanye anti kebijakan pemerintah. Dalam insiden itu sebanyak 69 orang tewas ditembak oleh polisi di Sharpeville. Gerakan ANC dan PAC jadinya tidak boleh sesudah insiden itu.
Pembantaian di Sharpeville dan adanya larangan organisasi-organisasi politik di kalangan orang kulit gelap merupakan titik balik dalam sejarah pembebasan Afrika Selatan. Akhirnya diputuskan bahwa dengan jalan tenang tidak sanggup maka ditempuh jalan kekerasan. Pada tahun 1961 – 1962, pencetus orang kulit gelap mendirikan organisasi Umkhonto We Sizwe dan Poso dengan mengadakan sabotase terhadap milik orang kulit putih. Menjelang simpulan tahun 1973, pemimpin-pemimpin Bantustan mengadakan pertemuan untuk membentuk federasi negeri-negeri Bantu dan mengutuk diskriminasi rasial di Afrika Selatan.
Pada tahun 1974, para pemuka federasi mengadakan pertemuan dengan PM Vorster. Pada pertemuan itu, PM Vorster maupun federasi akan meminta pemanis wilayah bagi negara Bantu. PM Vorster menolak usulan supaya diselenggarakan suatu konvensi multirasial guna menyusun suatu konstitusi gres dan ia tidak akan mengikutsertakan orang kulit gelap dalam kekuasaan negara. Tekanan-tekanan semakin meningkat semenjak bulan Juni 1976 dikala ±10.000 pelajar melancarkan demontrasi protes di Soweto yang menjelma huru hara di kota-kota orang kulit gelap erat Johanessburg dan Pretoria. Ratusan orang tewas dan lebih seribu orang mengalami luka-luka. Terbunuhnya Steve Biko pimpinan Black Consciousness dalam tahanan merupakan puncak tekanan pemerintah Afrika Selatan.
Pada tanggal 1 April 1960 Dewan Keamanan PBB (DK) berseru kepada Afrika Selatan supaya mengambil tindakan untuk mewujudkan harmoni rasialatas dasar persamaan dan melepaskan kebijaksanaan-kebijaksanaan Apartheid dan diskriminasi rasial. Pada tanggal 7 Agustus 1963 DK mengulangi seruannya sambil menghimbau kepada semua negara supaya menghentikan penjualan senjata dan perlengkapan militer kepada Afrika Selatan. Pada tanggal 4 Desember 1963, DK mengutuk perilaku hirau tak hirau pemerintah Afrika Selatan dan mengulangi kembali seruannya kepada semua negara supaya memakai embargo senjata.
Sehubungan dengan jatuhnya banyak korban dikala pasukan Afrika Selatan melepaskan tembakan terhadap demonstran yang menentang diskriminasi sosial (16 Juni 1976) pada tanggal 14 Juni 1976 DK mengutuk keras pemerintah Afrika Selatan. Mereka menyampaikan bahwa Apartheid yaitu suatu kejahatan, mengganggu perdamaian dan keamanan international serta mengakui sahnya usaha rakyat Afrika Selatan dalam melenyapkan Apartheid.
Sikap negara barat yang menjunjung tinggi persamaan hak dan kewajiban martabat semua orang tidak oke dengan diskriminasi rasial dan Politik Apartheid di Afrika Selatan, tetapi mereka tidak sanggup berbuat sesuatu alasannya yaitu mempunyai banyak kepentingan. Mereka hanya mendukung resolusi-resolusi anti Apartheid[5]. Kepentingan negara-negara Barat terhadap Afrika Selatan antara lain sebagai berikut :
        Afrika Selatan merupakan salah satu sumber utama materi mentah yang diperlukan oleh industri dan kehidupan negara-negara tersebut.
        Letak geografis Afrika Selatan mempunyai arti penting bagi taktik global negara-negara Barat, khususnya USA.
        Afrika Selatan menguasai jalur pelayaran Tanjung Harapan yang merupakan urat nadi mereka.
        Suplai minyak dan bahan-bahan mentah vital diangkut lewat jalur tersebut.
Notes:
[1] Soeratman Darsti. 2012. Sejarah Afrika.Ombak, Yogyakarta. Hal 10.
[2] Mochtar Lubis. 1993. Nelson Mandela “Langkah Menuju Kebebasan Surat-surat Dari Bawah Tanah. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta. Hal 16.
[3]
[4]
[5] Mohammad Zazuli. 2009. 60 Tokoh Dunia Sepanjang Masa. Narasi. Yogyakarta. Hal 122-123.
Daftar Pustaka:
          Soeratman
Darsti. 2012. Sejarah Afrika.Ombak, Yogyakarta.
          Mochtar Lubis. 1993. Nelson Mandela “Langkah Menuju Kebebasan Surat-surat Dari Bawah Tanah. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta.
          Mohammad Zazuli. 2009. 60 Tokoh Dunia Sepanjang Masa. Narasi. Yogyakarta. Hal 122-123.