Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari)

Pahma Herawati/S/A
            insiden malari merupakan insiden pertama yang memperlihatkan ketidaksetiaan jenderal-jenderal di lingkungan kepresidenan selama masa pemerintahan Soeharto. Perang Intelijen dan permainan kotor yang dimainkan oleh dua jenderal berpengaruh, hampir saja meruntuhkan takhta Soeharto. Sedemikian sakit hatinya Soeharto atas terjadinya insiden ini, ia bahkan tidak menyinggungnya dalam autobiografi  Soeharto, pikiran, Ucapan, dan Tindakan saya yang diterbitkan di tahun 1989. Tercatat hanya satu kali ia mengungkit

Peristiwa Malari. Itupun hanya sekilas menyebutkan bahwa insiden ini merupakan kelanjutan dari aksi-aksi demonstrasi anti-korupsi mahasiswa diawal tahun 70-an. Penghianatan telah melunturkan kepercayan Soeharto. Ia menjadi lebih sensitif terhadap kritik-kritik yang dialamatkan kepada keluarga dan kroninya.[1]

            Diluar konflik militer, Peristiwa Malari sanggup dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasionalisme ekonomi di indonesia. Serangan para mahasiswa terhadap modal absurd beralih ke sasaran-sasaran dalam negeri, khususnya pebisnis Cina lokal yang menjadi kawan bagi investor Jepang beserta rekan-rekan politik mereka. Peristiwa ini juga telah mengubah pandangan rezim Soeharto bahwa pertumbuhan ekonomi semata sudah merupakan jaminan kuat bagi kesinambungan stabilitas politik.[2]
            Pada 14 januari 1974 pukul 19.45, presiden Soeharto  bersiap untuk menjemput tamunya, Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka yang rencananya akan mengunjungi jakarta selama empat hari (14-17 januari 1974). Betapa terkejutnya Soeharto ketika mendapati laporan bahwa para mahasiswa telah bersiap menggerakkan demonstrasi dibeberapa tempat.
            Sekelompok mahasiswa berkumpul di ujung lapangan udara Halim Perdanakusuma, tempat PM Tanaka mendarat. Mereka membawa aneka atribut, termasuk poster-poster yang menyerukan kebencian terhadap jepang dan menolak modal asing, terutama yang didominasi pihak Jepang.
            Mencoba menerobos masuk untuk menemui PM Tanaka, para mahasiswa ini dihadang oleh pegawapemerintah keamanan yang memang diperintahkan untuk mencegah para demonstran masuk ke pangkalan udara. Gagal melaksanakan rencananya, para mahasiswa kemudian keluar dan bergabung dengan rekan-rekan mereka yang melaksanakan pemblokiran jalan-jalan keluar lapangan udara Halim PerdanaKusuma.[3]
            1. Jakarta diselubungi Asap
Keesokan harinya, selasa 15 januari 1974, kekacauan makin memuncak. Ribuan mahasiswa yang dikomandoi Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI) berkumpul ditengah kota. Mereka berbaris di jalan-jalan sembari membagi-bagikan selebaran yang berisikan tuntutan mereka kepada pemerintah. Aktivitas mahasiswa terlihat meningkat dibeberapa kampus. Mereka kemudian berunjuk rasa dari kampus Universitas Indonesia dijalan Salemba menuju Universitas Trisakti di kawasan Grogol, Jakarta.
            Demonstrasi balasannya tidak terkontrol lagi dan pecah menjadi kerusuhan massa. Sore harinya, kelompok massa yang kebanyakan berasal dari golongan cowok dan belum dewasa perkampungan jakarta turut turun ke jalan dan mulai melaksanakan agresi anarkis. Mereka menyerang semua yang berbau Jepang. Mobil-mobil buatan jepang di bakar. Gedung-gedung yang ada hubungannya dengan jepang, menyerupai bangunan milik Astra Motor, dihancurkan. Pabrik minuman asal luar negeri, Coca Cola, juga menemui nasib yang sama. Bahkan keesokan harinya, massa mulai merampok dan menjarah sentra pertokoan di Pasar Senen. Suasana Kota Jakarta menjadi mencekam dan diselubungi asap.
            Diwaktu yang sama, Soemitro sedang mengikuti rapat Dewan Wanjakti bersama jenderal M. Panggabean. Ditengah rapat, laksamana Soedomo, wakil Pangkopkamtib, memperlihatkan pesan melalui surat kepada Soemitro bahwa sedang terjadi kekacauan di Jakarta. Namun Soemitro tidak eksklusif bertindak. Ia tetap mengikuti rapat sembari memantau perkembangan keadaan yang dikabarkan Soedomo kepadanya.
            Ketika kepanikan semakin kasatmata di wajah wakilnya, barulah Soemitro tetapkan untuk keluar dari ruangan rapat. Namun niatnya ini ditahan oleh Panggabean, sesudah selesai rapat, Soemitro gres menemui Soedomo untuk berkoordinasi duduk kasus keamanan. Jenderal Soemitro kemudian meminta semoga soedomo menjaga keamanan jakarta dan mencegah semoga demonstran tidak melintasi Monas atau masuk ke istana Negara, tempat presiden Soeharto mendapatkan PM Tanaka. Ia kemudian tetapkan untuk turun ke jalan menuju jalan Thamrin tempat dimana kabarnya Kedutaan Besar Jepang diserbu oleh para demonstran.
            Lambatnya Jenderal Soemitro selaku Pangkopkamtib bereaksi ini mengakibatkan pertanyaan di benak banyak sekali pihak. Kecu
rigaan pun mengarah kepadanya.
            Demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi terang menjadi malu bagi soeharto di hadapan tamunya, PM Tanaka. Dengan menahan rasa malu, Soeharto menjelaskan kepada PM Tanaka bahwa masih tersisa perasaan anti-jepang di hati rakyat Indonesia. Untuk itu ia mengajukan dua duduk kasus penting kepada pihak jepang. Masalah pertama ialah berkaitan dengan pelimpahan skill dan pengetahuan (dari jepang) kepada bangsa indonesia dan yang kedua, ia meminta keberadaan partisipasi modal bangsa Indonesia dalam investasi-investasi Jepang di Indonesia.
            Usai agenda Perdana Menteri Jepang itu di indonesia, presiden Soeharto dengan memakai helikopter yang berangkat dari istana, mengantarkan tamunya ke pangkalan udara. Keadaan jakarta dirasa belum kondusif untuk dilalui dengan kendaraan darat. Tak ayal Malapetaka 15 januari 1974, dikhawatirkan oleh Soeharto, telah menciderai kekerabatan baik yang telah terbangun antara Indonesia dengan Jepang sebagai salah satu investor absurd terbesar ketika itu.
            2. Tujuan Malari
            Menurut informasi yang disebarluaskan pemerintah, Peristiwa Malari ialah bukti adanya pihak-pihak yang ingin menggulingkan kekuasaan pemerintah yang sah. Oknum-oknum PSI bergabung dengan oknum Masyumi, yang dibantu oleh oknum-oknum sosialis lainnya ( maksudnya PNI-Asu), mendekati kader-kader muda untuk membuatkan isu-isu dan aktivitas politik yang menyudutkan pemerintah. Media massa, oknum sipil serta oknum militer juga dituduh telah terlibat dengan gerakan PSI-Masyumi ini. Dikatakan bahwa mereka ingin menggerakkan massa untuk mencapai kedua tujuan mereka. Tujuan yang pertama atau tujuan taksis ialah menjatuhkan Aspri Presiden, komkamtib, dan Dwi fungsi ABRI. Sementara tujuan kedua atau tujuan taktik mereka ingin menggulingkan kepala negara, mengganti Pancasila dan mengubah Undang-Undang Dasar 45. Tujuan selesai PSI ialah ingin mendirikan pemerintahan demokrasi liberal. Sedangkan Masyumi dikatakan ingin mendirikan Negara Islam.
            3. Tanggapan Tanaka ihwal demonstrasi mahasiswa
            Keterkejutan tidak hanya menjadi milik Soeharto. Meskipun beberapa hari sebelumnya telah mendengar kabar dari para stafnya ihwal protes-protes yang gencar dilancarkan oleh para mahasiswa Indonesia terhadap perusahaan-perusahaan Jepang, tak urung sambutan tak ramah mahasiswa Indonesia menciptakan kaget perdana Menteri Kakuei Tanaka.
            Dengan wajah yang diusahakan terlihat tenang, PM Tanaka menjelaskan bahwa pemerintah jepang tidak bermaksud untuk mendominasi negara lain. Konkretnya, jepang akan membentuk sebuah forum yang akan mengatur dan membimbing pengusaha-pengusaha jepang yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.
            4. Keterlibatan oposisi jepang
Kerusuhan yang terjadi bertepatan dengan datangnya perdana menteri jepang ke indonesia mengakibatkan kecurigaan. Mungkinkah ada keterlibatan para oposisi di jepang dalam insiden 15 januari 1974 di Indonesia?
            Kabar yang beredar menyampaikan bahwa rangkaian demonstrasi menghujat jepang di Asia Tenggara sesungguhnya ialah hasil rekayasa dari pihak oposisi di jepang. Tujuannya tak lain menjatuhkan Perdana Menteri Tanaka dan partainya yang sedang berkuasa. Oleh lantaran itu, rangkaian demonstrasi ini diatur semoga waktunya bersamaan dengan kunjungan kenegaraan Tanaka ke Asia Tenggara. Dana-dana dalam jumlah yang cukup besar masuk dari jepang ke negara-negara yang dikunjungi Tanaka. Maka terjadilah agresi kerusuhan anti-jepang, dimana produk-produk buatan jepang dirusak dan dibakar.
            Secara tersirat keterlibatan oposan jepang dimuat dalam buku insiden 15 januari 1974 versi pemerintah, dikatakan bahwa insiden Malari muncul, salah-satunya, disebabkan oleh ” adanya kekuatan absurd yang tidak suka kepada kemajuan-kemajuan yang terdapat di Indonesia dan kekuatan absurd ini selain merupakan sumber konsep, juga sebagai sumber dana yang tidak kecil ” Meski demikian, belum ada penelitian khusus yang sanggup mengambarkan teori ini.[4]
5. Setelah insiden 15 januari 1974
            Berang dengan perilaku mahasiswa yang memperlihatkan kecenderungan lepas tangan atas terjadinya Malari, Soemitro memerintahkan pada Soedomo semoga menangkap hariman siregar dan DMUI. ” mereka sudah bukan belum dewasa lagi. Harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka,” tegas Soemitro. Sekurang-kurangnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, dan 775 orang ditahan. Sebanyak 807 kendaraan beroda empat dan 187 sepeda motor rusak, 144 bangunan terbakar dan 160 kg emas dirampok dari toko-toko perhiasan. Sebuah catatan kelam yang nyaris saja meruntuhkan kekuasaan Soeharto.
6.  Di balik insiden malari
            Dalam insiden Malari Jendral Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan ialah dalang insiden tersebut[5]. Tetapi sesudah para tokoh insiden Malari menyerupai Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak sanggup dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat disitu. Belakangan ini barulah ada pernyataan dari jendral Soemitro (almarhum) dalam buku Heru Cahyono, pangkopkamtib jendral soemitro dan insiden malari bahwa ada kemungkinan kalau justru malahan Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi insiden malari.
Sebaliknya, “dokumen Ramadi” mengungkap planning soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, “ada seorang jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan presiden sekitar bulan april hingga juni 1974. Revolusi sosial niscaya meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi ketika itu dikenal bersahabat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam “dokumen” itu tentu mengacu jenderal soemitro. Keterangan soemitro dan ali moertopo masing-masing berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar, soemitro atau ali moertopo. Sampai kini belum ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas insiden Malari. Sejarah yang begitu gelap, banyak pendapat ihwal dalang insiden ini namun tidak mempunyai bukti yang otentik.
a. Kesaksian Hariman Siregar (penggerak Demonstasi Mahasiswa Bekas Anggota Golkar)
Pada pengadilannya, tanpa sanggup dicegah, Hariman Siregar telah dianggap menjadi motor utama penggagas mahasiswa yang berujung pada huru-hara massa. Sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan pengadilan.[6]
Hariman Siregar lahir pada tahun 1950. Sejak 1959 ia pindah ke jakarta dan diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 1968. Pada 30 juni 1973, ia terpilih menjadi Ketua DMUI. Sebelumnya, tak ada yang menyangka kalau Hariman Siregar akan terpilih menjadi ketua DMUI mengingat dominasi orang-orang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ketika itu.
Pada waktu pemilihannya sebagai ketua DMUI. Hariman Siregar masih tercatat sebagai anggota Golkar. Baru sesudah terpilih menjadi ketua, ia menentukan mengundurkan diri dari Golkar. Ia merasa perlu mencari kebijakan yang independen, lepas dari imbas Golkar[7]. Hal ini diutarakannya pada peresmian sebagai ketua DM-UI pada bulan September 1973. Meski ia mengakui mendukung kebijakan-kebijakan pemimpin-pemimpin Golkar namun beliau menyadari sepenuhnya dipilih oleh para mahasiswa dan bukan oleh Golkar.
Ditiduh menjadi Antek PSI ialah tuduhan terberat yang mengarah pada Hariman ialah soal kedekatannya dengan PSI. Isu ini telah berkembang semenjak ia terpilih menjadi ketua DMUI. Dinding-dinding kampus dipenuhi dengan goresan pena yang menuding Hariman Siregar, bersama Sjahrir (Sekjen GDUI), telah menjadi “Antek PSI”. Menurut mereka yang anti terhadap Hariman, kekerabatan antara Hariman dengan PSI ini dibuktikan dengan kedekatannya dengan GDUI yang dihuni oleh orang-orang PSI. Pada akhirnya, hal ini menciptakan Hariman Siregar dipersalahkan dalam kiprahnya pada Peristiwa 15 Januari 1974. Ia pun dieksekusi enam tahun penjara, dipotong masa tahanan. Lebih ringan dari tuntutan jaksa, dua belas tahun penjara. Buktyi-bukti yang kurang kuat, memaksa pengadilan berakhir tanpa mengetahui secara terang siapa dalang Malari sebenarnya.
Kesaksian ihwal Malari “Bukan itu tujuan kami!” Komentar Hariman Siregar ketika Wapangkopkamtib laksamana Soedomo menanyakan keterlibatan mahasiswa pada kerusuhan yang terjadi pada tanggal 15 januari 1974. Kata-kata inilah yang kemudian menciptakan Pangkopkamtib naik pintam lantaran menganggap Hariman ingin melepaskan tanggung jawab. Perintah penangkapan pun dikeluarkan oleh Soemitro. Hal ini tak ayal menciptakan Hariman Siregar menjadi ketua DMUI terpendek sepanjang sejarah, yaitu hanya enam bulan saja.
Mengenai aksinya dipertengahan bulan januari 1974, Hariman berkisah,”Pemerintah tidak memperhatikan rakyat, membiarkan harga melonjak dan memanfaatkan kekuasaan hanya untuk kroni terdekat mereka. Karena itu pemerintah harus dikoreksi. Bagi hariman, aksi-aksinya itu murni sebagai agresi mahasiswa yang kecewa terhadap pemerintah dan bukan lantaran ditunggangi olehn pihak lain. ” sebagai mahasiswa waktu itu, saya tergerak untuk melaksanakan agresi ketika pemerintah yang mengaku dilahirkan mahasiswa kok mulai menyimpang,”ujar Hariman lagi.

b. Soeharto mempermasalahkan dokumen Ramadi
Beberapa ketika sesudah jabatannya sebagai pangkopkamtib dicopot akhir insiden malari, soemitro yang waktu itu masih menjabat wakil panglima malari, soemitro yang waktu itu masih menjabat wakil panglima Angkatan Bersenjata (wapangab) dipanggil menghadap Soeharto[7]. Dalam pertemuan itu, Soeharto mempermasalahkan Dokumen Ramadi. Dikatakan dalam dokumen itu bahwa revolusi sosial akan meletus antara tanggal 4 april 1974 dan 6 juni 1974. Soeharto niscaya jatuh dan digantikan oleh jenderal “S”. Isu-isu yang beredar di luar juga menyampaikan bahwa Soemitro ingin menjadi presiden dengan mencari dukungan dari kampus-kampus. Itulah sebabnya sebagai Pangkopkamtib, Soemitro dinilai bertindak terlalu lunak pada mahasiswa
. Latar belakang keluarganya yang berasal dari PNI juga ikut disebut-sebut.
Karena desas-desus yang tak sedap ini, Soemitro kemudian di minta oleh Soeharto untuk pergi ke luar negeri menjadi Duta Besar di Washington. Tapi tawaran Soeharto ditolak Soemitro. Ia merasa lebih terhormat jikalau ia mengundurkan diri. Jabatan Wapangab pun diserahkan kembali pada Sang Presiden.[8]
Dokumen Ramadi terang telah mengakhiri karir Soemitro. Ironisnya, Soemitro mengaku tidak pernah mengenal Ramadi. ” Dengar namanya pun… belum pernah!” Ucap Soemitro heran. Ia juga merasa belum pernah sekalipun melihat Dokumen Ramadi.
Ramadi ialah bekas kolonel bidang aturan militer yang lahir di pontianak, 12 Maret 1912. Namanya menjadi populer lantaran ditemukannya sebuah dokumen yang menyampaikan bahwa Soemitro bermaksud menggantikan Soeharto. Nama Ramadi tertulis di dalam dokumen itu. Beberapa ketika sesudah terjadi Peristiwa Malari, Ramadi ditangkap dan dimasukkan kepenjara.
Berdasarkan laporan, Ramadi diketahui ketika itu sedang menjabat sebagai Komisaris PT Ravitek. Ia jug merupakan salah satu anggota MPR dari golkar semenjak tahun 1971. Kabarnya, campuran perjuangan perbaikan pendidikan islam (GUPPI) berada dibawah pimpinan Ramadi. Dari pemeriksaannya, Ramadi menyampaikan bahwa Soemitro telah memberi angin kepada mahasiswa untuk terus melancarkan demonstrasi. Bersama seseorang yang berjulukan Jayusman, Ramadi mengaku ingin membantu soemitro merombak pemerintahan dan membersihkan menteri-menteri, termasuk Ali Moertopo dan Sudjono Humardani.
Memang perilaku lunak Soemitro terhadap agresi mahasiswa, keterlambatannya mencegah huru-hara di tanggal 15 januari 1974, dan kabar hubungannya dengan Ramadi memunculkan sebuah tanda tanya besar. Benarkah Soemitro dengan proteksi kelompok Ramadi berambisi menjadi presiden? Dari investigasi Ramadi inilah banyak dikorek informasi yang menyudutkan  Soemitro. Dikatakan, Ramadi pernah berkata pada K.H. Sjarifuddin Mohammad Amin (ketua umum GUPPI), ” ini hari yang bakal menangis si gendut ( maksudnya Soemitro-pen.)!”. Kematian Ramadi, 61 tahun, yang tiba-tiba di RSPAD Gatot Soebroto semakin menambah misteri kasus Malari, mungkinkah Ramadi sengaja disingkirkan?
            c. Menurut Soemitro Ali yang ingin menjadi presiden
            Tak terima dengan segala kabar yang memojokkannya, Soemitro kemudian membela diri. Melalui dua bukunya, Soemitro: dari pangdam Mulawarman hingga pangkopkamtib dan pangkopkamtib jenderal soemitro dan insiden 15 januari 1974, ia menceritakan kesaksiannya di seputar insiden malari. Hal ini mungkin dilakukannya untuk menandingi buku insiden 15 januari 1974 karangan Marzuki Arifin yang sangat memojokkannya.
            Mengenai Peristiwa Malari, Soemitro merasa yakin bahwa insiden ini merupakan salah satu ekses yang ditimbulkan oleh ambisi Ali Moertopo yang ingin menggapai ambisinya menjadi presiden dengan cara dan melalui jalan masuk intelijen, terang Soemitro.
Kesimpulan
Peristiwa Malapetaka 15 januari 1974 (malari) telah usang berlalu, namun teka-teki apa yang sesungguhnya terjadi dan siapa yang berada di balik huru-hara yang hampir menghanguskan kota jakarta masih belum terpecahkan. Hariman siregar (ketua Dewan Mahasiswa UI) dan beberapa orang yang dituduh menjadi antek PSI-Masyumi, memang telah dijebloskan ke penjara. Tetapi dalang sebetulnya tetap menjadi misteri.
            Nama Ali Moertopo (Opsus/Aspri) dan Soemitro (Pangkopkamtib) disebut-sebut menjadi pemicu ledakan yang nyaris mengguncang dingklik kekuasaan Soeharto. Keduanya dikatakan saling berebut imbas untuk menggantikan Soeharto.
Kutipan
[1] Yogaswara, Dalang insiden 15 januari 1974 (Malari), yogyakarta: PT. Buku Kita, 2009
[2] Crouch, Harold, Militer dan Politik di Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1986
[3] Adam, Asvi warman, Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia, Yogyakarta: Penerbit Ombak,  2004
[4] Arifin, Marzuki, insiden 15 januari 1974, jakarta: Publishing House Indonesia Inc.,1974
[5] Ramadhan K. H.,Pers bertanya Bang Ali menjawab, jakarta: Pustaka Jaya, 1995
[6] Van Dijk, C., Pengadilan Hariman siregar, Jakarta: Teplok Press, 2000
[8] Cahyono, Heru, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 januari 1974, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998
[9]Ramadhan K.H., Soemitro: Dari Pangdam Mulawarman hingga Pangkopkamtib, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994