Perkembangan Islam Di Afrika Selatan

CICI ELFIKA/S/EB

Islam ialah agama yang mulia, keberadaan islam memperlihatkan cahaya kepada semau umat manusia.Islam di Afrika Selatan mungkin tiba sebelum zaman kolonial, dan terdiri dari perhubungan terpencil dengan pedagang Arab dan Afrika Timur. Banyak orang Muslim Afrika Selatan dijelaskan sebagai orang Coloured, utamanya di Tanjung Barat, termasuk yang nenek moyang tiba sebagai budak dari Kepulauan Indonesia (Melayu Tanjung). Yang lainnya dijelaskan sebagai orang India, terutamanya di Kwazulu-Natal, termasuk mereka
yang nenek moyangnya tiba sebagai pedagang dan pegawai dari Asia Selatan; mereka telah bergabung oleh orang lain dari bab lain Afrika serta mengkonversi Afrika Selatan yang berkulit putih atau hitam. Namun, tradisi Muslim ketika ini di negara tersebut berasal dari kedatangan Syeikh Abdurahman Matebe Shah, seorang syekh Melayu dari Sumatra, pada tahun 1668.[Agama Islam masuk ke wilayah Afrika semenjak kala ke-17. Salah satu penyebarnya ialah warga negara keturunan Indonesia, yakni Syekh Yusuf Makassar. Hingga ketika ini, umat Islam di Afrika Selatan mencapai 1,25 juta jiwa atau sekitar tiga persen dari total penduduknya yang berjumlah 49 juta jiwa.
Kendati minoritas, mereka ada di salah satu sentra pertumbuhan Islam terpesat di Benua Afrika ketika ini. Sebagai ilustrasi, di Kota Soweto, tak jauh dari Johannesburg, pada pertengahan 1970-an, cuma ada 10 orang Muslim. Namun, pada awal 2002, jumlahnya berlipat seribu kali menjadi sekitar 10 ribu orang.
Masjid dan madrasah sangat gampang dijumpai. Jumlah orang di aneka macam townships, pusat-pusat permukiman penduduk berkulit hitam dan miskin, semakin hari terus bertambah yang menjadi Muslim. Setiap tahun berlangsung “Festival Syahadat” yang diprakarsai oleh Syekh Dr Abdalqadir as-Sufi. Sejak awal 2000, ratusan orang memeluk Islam. Terakhir, 22 Mei 2010, sebanyak 71 orang, khususnya dari Suku Zulu, serentak kembali kepada Islam di Durban.
Mengapa Islam menarik mereka? Islam dirasakan sebagai jalan keluar dari bahaya gangsterisme dan problem sosial lain, mirip obat terlarang, kekerasan seksual, wabah korupsi, dan dekadensi moral masyarakat lain yang terus merebak di aneka macam tempat di Afrika Selatan. Perhatian Islam atas nasib kaum miskin menggoda mereka. Dalam situasi politik rasis puluhan tahun sebelumnya, agama Islam telah dipandang sebagai salah satu bentuk resistensi dan penolakan atas tatanan masyarakat yang didasarkan akidah apartheid tersebut.
Perlu diketahui bahwa penyebaran agama Islam di Afrika Selatan dimulai terutama oleh para ulama, bangsawan, dan para tahanan politik penjajah Belanda. Hal ini memperlihatkan efek khusus atas perkembangan Islam di Afrika Selatan. Sejarah Islam di sana memang bersamaan dengan sejarah kolonialisme. Islam telah berada di Afrika Selatan selamakurang lebih tiga ratus tahun lamanya. Meski relatif kecil, kiprah mereka kini semakin besar dan penting.
Media massa Muslim, baik elektronik maupun cetak, sebagai satu indikasi yang gampang dilihat, telah berkembang dan menempati posisi penting di mata publik. Di seluruh Afrika Selatan, pada 2005, diperkirakan terdapat sekitar 455 masjid dan 408 lembaga-lembaga pendidikan mulai dari madrasah, sekolah lanjutan, hingga universitas. Jumlah organisasi sosial dan kesejahteraan, forum budaya dan perdagangan, serta media massa mencapai 465 lembaga. Sejak awal 2006, organisasi sosial kemasyarakatan ini bahkan telah meningkat menjadi 1.328 lembaga.
Kaum Muslim di Afrika Selatan terpusat di dua kota besar, yaitu Durban dan Cape Town, selain di Johannesburg, Port Eliazabeth, Pretoria, dan Soweto. Cape Town, khususnya, merupakan sentra keberadaan kaum Muslim di Afrika Selatan. Di sini, jumlah Muslim sekitar 700 ribu orang atau 30 persen dari jumlah penduduknya.Jadi, suasana di aneka macam sudut Cape Town tak ubahnya mirip kota Muslim lain di mana pun penuh orang berpakaian Muslim berlalu lalang, banyak restoran dan kedai halal, serta kubah dan menara masjid tampak menjulang di seantero kota. Di sini pula, anak keturunan Syekh Yusuf al-Makassari dan darah biru ulama dari nusantara lainnya beserta para pengikutnya bermukim. Oleh pemerintah kolonial Belanda dulu dan diteruskan selama masa Apartheid, mereka disebut sebagai Cape Malay. Jumlahnya kini diperkirakan sekitar 170 ribuan orang.
Tapi, istilah Cape Malay ini perlu diberi catatan tersendiri. Achmat Davids, sejarawan setempat, menolak istilah tersebut dengan dua alasan. Pertama, istilah ini digunakan oleh pemerintah kolonial dan menjadikan tembok pembatas rasial, yang tentu saja tidak sesuai dengan fatwa Islam. Kedua, dalam kenyataannya, mereka lebih-banyak berasal dari Indonesia dan bukan dari Semenanjung Malaysia. Sampai hari ini, efek kekeliruan tersebut menjadikan semacam kerancuan di kalangan Cape Muslim-istilah yang lebih disukai oleh Achmat Davids-tentang asal muasal mereka. Kebanyakan dari mereka lebih mengenal dan merasa mempunyai ikatan emosional dengan Malaysia dibanding dengan Indonesia.
Menyedihkannya lagi, kesalahkaprahan mirip ini juga ada di tingkat akademisi. Dalam sebuah buku sejarah karya seorang penulis setempat, Mogamat Hoosain Ebrahim, dikatakan bahwa “Nama Syekh Yusuf yang sebetulnya ialah Abidin Tadia Tjoessoep dan ia lahir pada 1626 di Makassar, Selebes (sekarang Sulawesi), salah satu dari kepulauan Malaysia. Begitulah, menyerupai peribahasa sapi punya susu, kerbau punya nama.
Terlepas dari soal itu,
kita gampang mendapat bukti-bukti sejarah ihwal keindonesiaan mereka. Selain makam Syekh Yusuf di kota kecil Macassar, sekitar 30 km dari sentra Cape Town, ada sejumlah kosakata Indonesia yang tertinggal dalam percakapan sehari-hari mereka. Kata maaf dan trema (terima) kasih serta jalan-jalan ialah tiga kata yang masih umum dalam percakapan sehari-hari masyarakat Cape Muslim. Kata-kata buka (puasa), bacha (baca) dalam pengertian mendaras Alquran, lebaran untuk hari raya Idul Fitri, serta kramat untuk menyebut makam para wali dan ulama masih dipakai.
Para petugas penyuci mayit disebut toekamandi. Kata maskav untuk kata maskawin. Sementara itu, nama tempat dalam bahasa Indonesia, selain Macassar yang disebut di atas, ada perkampungan Tana Baru, tempat Tuan Guru, ulama lain asal Indonesia, dimakamkan.
Patut juga ditambahkan alasannya umumnya masyarakat Cape Muslim sehari-harinya berbicara dalam bahasa Afrikaans, yang berasal dari bahasa Belanda Kuno. Sejumlah kata dan istilah lain yang sama-sama digunakan ialah kantor, karcis, gratis, tas, rok, keran (air), praktik, transaksi, kuitansi, indikasi, polisi, dan semacamnya hingga kata pisang.
Tentu penulisan kata-kata tersebut di sana dan di Indonesia sedikit berbeda. Di negeri ini, kata-kata tersebut mengalami proses Indonesianisasi, sedangkan di Afrika Selatan masih dipertahankan sesuai dengan aslinya meski pengucapannya relatif sama. Malah sebaliknya, yang pernah terjadi atas kebiasaan dan istilah yang semula berasal dari bahasa Indonesia ini ialah Belandanisasi. Misalnya, nama Muhammad” dituliskan Mogamad atau nama Khadijah dituliskan sebagai “Gadijah meski tetap dilafalkan sebagai Muhammad dan Khadijah.
Selain itu, terjadi modifikasi nama-nama nusantara yang semula tidak memakai sistem nama keluarga (sure name), ditambahkan nama keluarga, terkait dengan sistem manajemen kolonial. Bagaimana nama-nama orang yang didatangkan dari nusantara itu berubah?
Inilah yang terjadi. Karena orang-orang Muslim nusantara tersebut umumnya diperbudak, penambahan nama keluarga pada belakang nama mereka dilakukan berdasarkan nama keluarga tuan atau pemiliknya. Lazimnya ialah nama Belanda Hendricks, Edwards, Martin, dan sebagainya. Maka, jangan heran jika nama warga Muslim keturunan Indonesia di Afrika Selatan ketika ini merupakan kombinasi yang bagi kita kurang lazim. Terkesan mirip adonan nama Islam dan nama Katolik Sulaeman Edwards, Yusuf Hendricks, Fatimah Vellie, dan seterusnya. Tentu, hal ini pada karenanya hanyalah kebiasaan. Jadilah nama gado-gado semacam itu.
Satu hal yang patut kita hargai, perhatian dan minat bangsa Afrika Selatan pada Indonesia umumnya sangat besar. Begitu besarnya penghormatan masyarakat Afrika Selatan kepada Syekh Yusuf hingga mereka menganugerahinya The Companions of Oliver Tambo yang diserahkan ketika menjelang Ramadhan 1427 Hijrah (2005 M). Selain Syekh Yusuf, hanya ada satu tokoh lain yang pernah mendapat penghargaan serupa, yaitu Ir Soekarno, presiden pertama RI. Artinya, mereka telah menyetarakan Syekh Yusuf sebagai pendekar nasional Afrika Selatan. Ulama ini dipandang sebagai salah satu inspirator bagi pembebasaan bangsa Afrika Selatan dari belenggu politik apartheid.
Pesatnya perkembangan Islam di Afrika Selatan ialah karena kemiskinan. Islam memperlihatkan jawaban atas kemiskinan lewat zakat, sedekah, wakaf dan sejenisnya. Bagi masyarakat Afrika, Islam memperlihatkan jalan keluar untuk problem sosial. Afrika ialah negeri dengan secara umum dikuasai Katolik karena usang dijajah Eropa dan lantas menjadi koloni Inggris. Namun klausul ihwal zakat ternyata menarik penduduk orisinil untuk pindah agama. Sementara bagi intelektual muda, reformasi sosial dan gaya hidup yang dianggap lebih suci merupakan faktor penentu. Tahun 1976, hanya ada sekitar 10 orang warga berkulit hitam yang beragama Islam di Soweto. Mereka bersahabat satu  sama lain. Beberapa warga yang memeluk Islam lantas mengubah namanya menjadi nama Islam. Hanya nama belakang saja yang dibiarkan sebagai identitas pribadi. Mereka mengindentikkan diri dengan Bilal, seorang budak yang dimerdekakan dan lantas menjadi muadzin pada zaman Rasulullah SAW.
Sejak itu pertumbuhan Islam di Afrika Selatan sangat pesat. Sebagian besar memang kalangan muda. Mereka tertarik alasannya kehidupan Islam sanggup menciptakan mereka meninggalkan kehidupan ala preman dan obat-obatan. Islam menjadi agama yang pertumbuhannya tercepat di tanah hitam itu ketika ini. Mereka percaya kembali ke Islam sanggup memperbaiki dekadensi moral yang melanda negerinya. Gerakan kembali ke Islam mendasar bukan cuma terjadi di Negeria tapi menyusup ke belahan bumi Afrika lainnya. Tak terkecuali Afrika Selatan. Kemerosotan ekonomi ialah faktor utama yang mendukung meruyaknya gerakan Islam mendasar di Afrika. Dengan segera gerakan yang semula berkembang di Nigeria mempunyai pengikut di Ghana, Kamerun, Benin. Para cowok menjadi penggagas kebangkitan Islam di tanah hitam. Ini sepintas mengingatkan kita pada kebangkitan Islam di Mesir ketika negeri itu dipimpin Anwar Sadat dengan munculnya gerakan Ikhwanul Muslimun.
Seperti di Indonesia, gerakan konservatif atau radikal mendasar ini tentu saja berseberangan dengan kubu liberal. Afrika Selatan ketika ini, sehabis post-apartheid, tengah berjalan menuju demokrasi liberal. Dengan sendirinya, gerakan mendasar tidak saja berhadapan dengan pihak yang ingin meninggalkan kehidupan agama tapi juga pihak Muslim yang menempuh jalur liberal. Bagi kalangan Islam liberal, perubahan sosial harusa dipertimbangkan. Pluralisme, demokrasi, keadilan sosial, dan egalitarian ialah nilai inti dari Islam. Karena itu mereka menolak gagasan kembali ke fundamentalisme. Sementara bagi kalangan konservatif tradisional, gerakan yang dilakukan kubu modernis liberal ialah sebuah konspirasi menghancurkan identitas Islam Afrika. Mereka menolak setiap gagasan berbau Barat. Demokrasi yang digaungkan ialah bunyi dan kepentingan Barat. Dan Afrika bukan Barat. Mereka pernah hancur alasannya dijajah Barat.
Dua perkembangan Islam yang berbeda, radikal dan liberal, ialah fenomena yang terjadi  tidak saja di Afrika tapi juga Asia. Namun pertumbuhan d
i Afrika ialah pengulangan atas sejarah Ikhwanul Muslimun. Historia repitie. Sejarah selalu berulang. Entah apakah Islam radikal sanggup mencapai posisi mirip Ikhwanul Muslimun di Mesir karena  kendala yang mereka hadapi sangat ketat. Seperti Indonesia, Afrika Selatan ialah negeri yang sedang tumbuh. Hanya saja Indonesia usang terpuruk pada krisis ekonomi yang berkepanjangan tanggapan korupsi puluhan tahun. Karena itu cita-cita yang tumbuh di Afrika Selatan, mengedepankan nilai Islam juga ada di Indonesia. Hanya saja pemerintah seolah keburu meredam gejolak tersebut.
Di Afrika Selatan, gerakan radikal Islam menolak disebut sebagai fundamental. Mereka lebih bahagia disebut Islam kaffah alasannya yang mereka tempuh ialah mengedepankan nilai Islam keseluruhan. Afrika ialah bangsa yang pernah bersahabat dengan Islam. Karena itu kembali kepada nilai-nilai spiritual yang usang hilang ialah keniscayaan. Maka mereka mengoptimalkan masjid, imam, anak muda dan seluruh komponen pendukung. Secara kuantitas, tak sanggup dipastikan berapa persen pertumbuhan umat Islam di negeri Nelson Mandela itu. Itu alasannya peng-Islaman biasanya dilakukan secara informal. Bahkan juga tidak ada angka statistik yang terang ihwal jumlah Muslim Afrika Selatan. Hanya ada angka asumsi bernafsu yang menyatakan jumlah Muslim di Soweto mencapai 10 ribu orang. Jumlah yang sama juga tumbuh di kota-kota besar lain.
Hampir 72 persen warga kulit gelap beragama Kristen. Sisanya masih menganut kepercayaan lokal. Hanya jumlah kecil yang beragama Islam, Hindu, dan Yahudi. Islam tiba ke Afrika lewat pedagang Arab. Hanya saja kemudian terpinggirkan oleh gerakan misionaris. Kemudian politik apartheid juga membatasi gerak Islam untuk tumbuh. Dana dari Muslim India dan warga kulit hitam  sebetulnya sangat membantu mengurangi penduduk miskin. Hanya kemudian ada benturan di antara mereka. Warga kulit hitam menilai India rasis. Indian juga sangat radikal yang karenanya dilekatkan dengan gerakan teroris. Yang belakangan itu merujuk pada adanya warga Indian yang terlibat pemboman restoran di Cape Town.
Muslim kulit gelap menganggap dirinya lebih moderat kendati masih bersimpati dengan warga Palestina dan Afghanistan. Sedangkan kelompok Indian Muslim dianggap lebih memperhatikan politik mudah dan perkembangan dunia luar ketimbang warganya sendiri. Muslim kulit gelap pada karenanya harus berjuang sendiri mengumpulkan dana untuk pendidikan dan kesejahteraan umat Islam. Terbukti, gerakan ini lebih menarik penduduk miskin untuk masuk Islam. Sementara warga Indian terlibat dalam acara radikal yang berdasarkan mereka sanggup mengeluarkan mereka dari penghancuran Islam dengan alasan kebudayaan.
Kesimpulan
Islam di Afrika Selatan mungkin tiba sebelum zaman kolonial, dan terdiri dari perhubungan terpencil dengan pedagang Arab dan Afrika Timur. Banyak orang Muslim Afrika Selatan dijelaskan sebagai orang Coloured, utamanya di Tanjung Barat, termasuk yang nenek moyang tiba sebagai budak dari Kepulauan Indonesia (Melayu Tanjung). Yang lainnya dijelaskan sebagai orang India, terutamanya di Kwazulu-Natal, termasuk mereka yang nenek moyangnya tiba sebagai pedagang dan pegawai dari Asia Selatan; mereka telah bergabung oleh orang lain dari bab lain Afrika serta mengkonversi Afrika Selatan yang berkulit putih atau hitam. Namun, tradisi Muslim ketika ini di negara tersebut berasal dari kedatangan Syeikh Abdurahman Matebe Shah, seorang syekh Melayu dari Sumatra, pada tahun 1668.
Referensi:
Suara Muhammadiyah,Edisi 15 2004
Soeratman Darsti. 2012. Sejarah Afrika, ombak, Yogyakarta