Perkembangan Pendidikan Islam Di Spanyol

Pima Putriana/ SP

Spanyol ialah sebuah negara yang pernah ditaklukkan oleh Islam untuk menyebarkan agama Islam di negeri tersebut. Kondisi Spanyol prakedatangan Islam sungguh memprihatinkan, terutama ketika masa pemerintahan Raja Ghotic yang melaksanakan pemerintahannya dengan besi. Kondisi ini menimbulkan rakyat Spanyol menderita dan tertekan dan menderita. Mereka sangat menrindukan datangnya kekuatan Ratu Adil sebagai sebuah kekuatan yang bisa mengeluarkan mereka ketika itu. Kerinduan mereka akibatnya menemukan momentumnya ketika kedatangan Islam di Spanyol. Ketika Islam masuk ke negeri Spanyol,

negeri ini banyak mengalami perkembangan peradaban yang pesat baik dari kebudayaan maupun pendidikan Islam, alasannya ialah Spanyol didukung oleh negerinya yang subur dengan penghasilan ekonomi yang cukup tinggi sehingga menghasilkan para pemikir hebat. Spanyol mengalami perkembangan pesat dalam kebudayaan dan pendidikan Islam yang dimulai dengan mempelajari ilmu agama dan sastra.

Pada periode klasik paruh pertama – masa kemajuan – (650-1000M), wilayah kekuasaan Islam meluas melalui Afrika Utara (Aljazair dan Maroko) hingga ke Spanyol di Barat. Spanyol ialah nama gres bagi Andalusia zaman dahulu. Nama Andalusia berasal dari suku yang menaklukkan Eropa Barat di masa kemudian sebelum bangsa Goth dan Arab (Islam). Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715M), salah seorang Khalifah dari Dinasti Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Ada tiga nama yang sering disebut berjasa dalam penaklukan Spanyol, yaitu Musa bin Nushair, Tharif bin Malik dan Thariq bin Ziyad. Dari ketiga nama tersebut, nama terakhirlah yang sering disebut paling terkenal, alasannya ialah pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian suku Barbar (muslim dari Afrika Utara) yang didukung Musa bin Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Al-Walid. Pasukannya yang berjumlah 7000 orang menyeberang selat di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Tentara Spanyol di bawah pimpinan Raja Roderick sanggup ditaklukkan. Cordova jatuh pada tahun 711 M. Dari sana, wilayah-wilayah Spanyol, menyerupai Toledo, Sevilla, Malaga, dan Granada sanggup dikuasai dengan mudah.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan tugas yang sangat besar. Masa itu berlangsung selama hampir 8 periode (711-1429 M). Kedatangan Islam di Spanyol telah membawa perubahan yang sangat besar, terutama di bidang sosial dan ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Perkembangan peradaban Spanyol Islam terbentuk bukan hanya alasannya ialah sentuhan dari tradisi Arab-Islam, akan tetapi lebih dari itu alasannya ialah akhir persentuhan peradaban yang di bawa oleh Arab-Islam dengan kebudayaan masyarakat . Semua ini tidak terlepas dari kepiawaian dan proteksi dari penguasa dalam memajukan ilmu pengetahuan dan tingginya motivasi umat Islam dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sehingga dalam waktu singkat Spanyol bermetamorfosis pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam di belahan barat.
A.  Sejarah Singkat Masuknya Islam di Spanyol
Semenanjung Iberia di Eropa, yang mencakup wilayah Spanyol dan wilayah Portugal kini ini, menjorok ke selatan ujungnya hanya dipisahkan oleh sebuah selat sempit dengan ujung benua Afrika. Bangsa Grit bau tanah menyebut selat sempit itu dengan tiang-tiang Hercules dan di seberang selat sempit itu terletak di benua Eropa. Selat sempit itu sepanjang kenyataan memisahkan lautan tengah dengan lautan atlantik. Semenanjung Iberia, sebelum ditaklukkan bangsa Visighots pada tahun 507 M, didiami oleh bangsa Vandals. Justru wilayah kediaman mereka itu disebut dengan Vandalusia. Dengan mengubah ejaanya dan cara membunyikannya, bangsa Arab pada masa belakangan menyebut semenanjung Iberia itu dengan Andalusia.
Spanyol diduduki oleh umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan bin Nu’man Al-Ghassani menjadi Gubernur di tempat itu. Pada masa khalifah Al-Walid, Hasan bin Nu’man sudah digantikan oleh Musa bin Nushair. Di zaman Al-walid itu, Musa bin Nushair memperluas wilayah kekuasaanya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji akan membuat kekacauan-kekacauan menyerupai yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Dalam proses penaklukan Spanyol ada 3 jagoan Islam yang memimpin pasukan kesana yakni Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Namun, yang sebagai perintis dan penyelidik kedatangan Islam ke Andalusia ialah Tariq ibn Ziyad. Ia yang telah memimpin pasukan tentera menyeberangi lautan Gibralta (Jabal Thariq) menuju ke semenanjung Iberia. Musa ibn Nushair pada tahun 711 M, mengirim pasukan Islam dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad yang hanya berjumlah 7000 orang dan embel-embel pasukan 5000 personel yang memang tak sebanding dengan tentera pasukan Gothik yang berkekuatan 100.000 lengkap bersenjata. Namun, pada akhirnya, Thariq bin Ziyad mencapai kemenangan, dengan mengalahkan Raja Foderick di Bakkah dan menaklukan kota-kota penting menyerupai Cordova, Granada, Toledo dan hingga akibatnya menguasai seluruh kota penting di Spanyol.
B.  Perkembangan Pendidikan Islam di Spanyol
1.         Mendirikan Lembaga Pendidikan

Ketika umat Islam berkuasa di spanyol telah mendirikan madrasah-madrasah yang tidak sedikit jumlahnya guna menopang pengembangan pendidikannya. Madrasah-madrasah itu tersebar di seluruh tempat kekuasaan Islam, antara lain: Qurthubah (Cardova), Isybiliah (Seville), Thulaitihillah (Toledo), Gharnathah (Granada) dan lain sebagainya. Guna melaksanakan sosialisasi ilmu pengetahuan lebih lanjut, khalifah Abdul Rahman III mencoba merintisnya dengan mendirikan Universitass Cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan. Universitas ini mengambil tempat di sebuah masjid. Pada masa pemerintahan Al-Hakam II (961-976 M), universitas tersebut diperluas lokasinya, dan bahkan mendatangkan para professor dari timur (Al-Azhar dan Nizhamiyyah) sebagai dosen permintaan untuk mengatakan perkuliahan di sana.langkah yang diambil Al-Hakkam II dalam memajukan pendidikan di Spanyol Islam, kemudian diikuti oleh para penguasa sesudahnya.
Semangat (ghirah) tinggi yang ditunjukkan oleh masyarakat dalam menuntut ilmu tidak pernah mundur, meskipun untuk memperkuat eksistensi forum pendidikan para penguasa Spanyol Islam memberlakukan peraturan yang berbeda dengan penguasa Abbasiyah di Baghdad. Peraturan tersebut dengan memungut biaya bagi para siswanya. Hal ini dilakukan bagi terlaksananya penyelenggaraan pendidikan yang diinginkan. Semangat menuntut ilimu yang diperkenalkan Spanyol Islam, bukan hanya terbatas bagi para pelajar muslim saja, akan tetapi juga terbuka kepada para pelajar nonmuslim. Sikap toleran yang ditawarkan membuat para pelajar nonmuslim berlomba-lomba untuk menuntut ilmu di Spanyol Islam.
Dalam menunjang pendidikannya, pendidikan Spanyol Islam memberlakukan kurikulum universal dan kompherensif. Artinya, mengatakan materi pendidikan agama dan umum secara integral pada setiap tingkatan pendidikannya, khususnya pada pendidikan tinggi. Indikasi dari kedalaman dan keluasan kurikulum spanyol islam waktu itu boleh jadi ditentukan konsekuensi-konsekuensi pratikal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, sehingga rujukan kurikulum yang diterapkan tidak bersifat fleksibel dan adaptik.
2.         Pengembangan Perpustakaan
Kelancaran proses pendidikan sangat tergantung dari prasarana-prasarana yang mendukung. Diantaranya ialah akomodasi perpustakaan. Untuk itulah khalifah-khalifah Umayah di Spanyol telah berupaya menyisihkan dana dari kas Negara untuk membangun banyak sekali sarana pendukung tersebut secara intensif. Ambisi untuk mnedirikan perpustakaan, bukan hanya dilakukan oleh para khalifah saja. Akan tetapi, ambisi tersebut juga telah diwakili oleh setiap masyarakat Spanyol Islam. Mereka mengoleksi banyak sekali buku bukan untuk kepentingannya dirinya saja.besarnya perhatian umat Islam di Spanyol dalam penyediaan sarana perpustakaan sangat luar biasa. Ini sanggup dilihat dengan berdirinya perpustakaan Khazanatul Humist-Tsani di Andalusia. Perpustakaan ini mempunyai buku sebanyak 400.000 jilid. Di samping perpustakaan-perpustakaan lain yang didirikan oleh perorangan untuk dimanfaatkan secara umum, bahkan mereka berlomba-lomba untuk mendirikannya. Penomena ini menyulap tempat Spanyol menjadi negara yang kaya dan makmur, di samping kemerdekaan ilmiah yang dikembangkan. Kondisi ini terlihat dari peratuaran yang berlaku ketika itu. Ilmu pengetahuan bukan hanya milik orang merdeka, tetapi juga merupakan milik para budak. Hubungan yang serasi ini menjadi daya pelopor tersendiri bagi kemajuan pendidikan yang diperkenalkan Spanyol Islam.
3.         Faktor Penunjang Pengembangan Pendidikan Spanyol Islam
Ilmu pengetahuan Spanyol Islam tidak telepas dari banyak sekali factor, baik factor internal maupun eksternal. Factor internal dalam hal ini ialah factor aliran islam sebagai motivasi, nilai dan doktrin merupakan factor utama dalam memajukan pendidikan Spanyol Islam. Ini terlihat dari gairah umat Islam dalam menyikapi dorongan tersebut. Mereka menyikapi ilmu pengetahuan bukan untuk mencari kedudukan tertentu dalam susunan pemerintahan, akan tetapi alasannya ialah tuntutan aliran Islam.
Faktor ekstrinsik merupakan faktor yang bekerjasama dengan upaya kaum muslimin Spanyol dalam membuat kultur Islam dalam bentuk peradaban. Factor tersebut antara lain:
v  Faktor kekuasaan. Factor ini direflesikan dalam bentuk akal penguasa Umayah II dan penguasa lainnya, member proteksi yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pendidikan.
v  Faktor akademis. Munculnya forum pendidikan di Spanyol mempunyai saham yang cukup besar dalam menstimulasi dan mendinamisir kaum muslim untuk mengembagkan pendidikan dan melalukan banyak sekali rangkaian riset.
v  Faktor kompetisi posotif. Dimensi ini mengatakan nuansa, bahwa ketika mereka berlomba-lomba mengembagkan ilmu pengetahuan akan tetapi mereka masih menjaga instruksi etik dan harmonisasi kekerabatan pertransperan ilmu.
v  Faktor toleransi dan stabilitas nasional. Kondisi aman ini ikut memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan peradaban di Spanyol. Spanyol tidak mendeskriditkan umat non Islam, mereka diperlakukan sama dalam semua aspek, kecuali agama
.
4.         Bias Pendidikan Spanyol Islam Bagi Perkembangan Dunia Modern
Spanyol Islam mencapai jaman keemasan, dengan kebangkitan dinamika intelektualitasnya dalam segala bidang ilmu pengetahuan secara integral dan serasi antara tahun 1050-1300 M. di sisi lain, pada waktu bersamaan dunia belahan Eropa mengalami stagnasi ilmu pengetahuan. Dogma gerejani yang melarang mempelajari dan menganggap filsafat dan ilmu Yunani berbahaya bagi agama Kristen. Kondisi inilah yang menimbulkan banyak para ilmuan Eropa yang haus akan ilmu pengetahuan, keluar dari negaranya. perkenalan mereka dengan dunia Islam menimbulkan mereka kagum dengan akal pemerintah dan semangat umat Islam dalam menyebarkan ilmu pengetahuan. Mereka berupaya mentransper ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia Islam ke dunia Eropa, dengan jalan menerjemahkan sejumlah buku-buku. Bunga dasri pencerahan ilmu pengetahuan inilah yang menstimuli timbulnya institusi gres ilmu pengetahuan di Eropa. Dari sinilah kemudian lahir beberapa forum pendidikan di Eropa.
C. Pola Pendidikan Islam di Spanyol
 1. Kuttab
Di Andalusia banyak terdapat kuttab-kuttab yang menyebar hingga ke pinggira kota. Pada forum ini, para siswa mempelajari banyak sekali macam disiplin ilmu pengetahuan, menyerupai fikih, bahasa dan sastra, music dan kesenian. Kuttab termasuk forum pendidikan yang terendah yang sudah tertata dengan rapi di ketika itu. Pada forum ini siswa-siswanya mempelajari banyak sekali macam ilmu pengetahuan di antaranya:
v  Fikih
Pemeluk Islam di Andalusia menganut mazhab Imam Maliki. Tokoh-tokoh yang termahsyur di sini diantaranya tersebut nama Ziyad ibnu Abd. Ar-Rahman, Abu Bakar ibn al-Qutiyah, Munzir Ibn Said al-Baluti dan Ibn Hazm yang sangat popular di kala itu.
v  Bahasa dan Sastra
Bahasa arab menjadi bahasa resmi umat Islam di Spanyol, bahasa ini sanggup dipelajari di kuttab, bahkan kepada siswanya diwajibkan untuk selalu melaksanakan obrolan dengan menggunakan bahasa resmi Islam (bahasa arab), sehingga bahasa ini menjadi cpat popular dan menjadi bahasa keseharian. Tokoh-tokoh bahasa tersebut ialah Ibn Sayidih, Ibn Malik yang mengarang Al-Fiyah, Ibn Khuruf dll. Di bidang sastra tersohor nama Ibn Abd. Rabbih, Ibn Bassam dan Al-Fath ibn Khaqam.
v  Musik dan Seni
Di Spanyol berkembang music-musik yang bernuansa arab yang merangsang tumbuhnya nilai-nilai kepahlawanan. Banyak tokoh music yang bermunculan ketika itu, di antaranya Al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Ziryab (789-857)
Ziryab selalu tampil pada acara-acara perjamuan kenegaraan di Cordova, alasannya ialah ia merupakan aransemen music yang handal dan piawai pula mengubah syair-syair lagu yang pantas dikonsumtifkan kepada seluruh lapisan dan tingkat timur.
2.  Pendidikan Tinggi
Tidak sanggup dipungkiri bahwa Islam di spanyol merupakan tonggak sejarah peradaban, kebudayaan dan pendidikan pada periode kedelapan dan simpulan periode ketiga belas. Universitas Cordova berdiri megah dan menjadi ikon Spanyol, sehingga Spanyol termashyur ke seluruh dunia. Universitas ini tegak bersanding dengan Masjid Abdurrahman III, yang pada akibatnya berkembang menjadi forum pendidikan tinggi yang populer dan setara dengan Universitas Al-Azhar di Cairo dan Universitas Nizamiyah di Baghdad. Selain itu, terdapat juga Universitas Sevilla, Malaga, dan Granada. Secara garis besar perguruan tinggi di spanyol terdapat dua konsentrasi ilmu pengetahuan yaitu:
v  Filsafat
Universitas Cordova bisa menyaingi Baghdad, salah satu diantaranya alasannya ialah bisa mengimpor ilmu filsafat dari belahan timur dalam jumlah yang besar. Ibnu Bajjah ialah filosof muslim yang pertama dan utama dalam sejarah kefilsafatan di Andalus. Nama lengkapnya ialah Abu Bakar Muhammad ibnu Yahya ibnu Al-Shaiq, yang lebih populer dengan nama ibnu Bajjah. Dilahirkan di Zaragoza, ia pindah ke Sevilla dan Granada. Meninggal alasannya ialah keracunan di Fez tahun 1138 M dalam usia muda. Seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina di Timur, persoalan yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya ialah Tadbir al-Mutawabbid
Tokoh utama kedua ialah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk orisinil Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah Timur Granada dan wafat pada
usia lanjut pada tahun 1185 M. ia banyak menulis persoalan kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang populer ialah Hay ibn Yaqzhan. Bagian simpulan periode ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristotelis yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibnu Rusyd dari Cordova, ia lahir tahun 1126 M dan wafatnya tahun 1198 M. ciri khasnya ialah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristotelis dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah klasik wacana keserasian filsafat dan agama. Dia juga hebat fiqih dengan karyanya yang termasyhur Bidayah al-Mujtahid
v  Sains
Tercatat nama Abbas ibn Farnas yang termasyur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ia ialah orang pertama yang menemukan pembuatan beling dari batu. Perkembangan sains pada tempat ini diikuti pula oleh ilmu kedokteran, matematika, kimia dan music serta ilmu lainnya, bahkan ada ilmuan perempuan yang hebat kedokteran, yaitu Umm al-Hasan binti Abi Ja’far.
3.  Faktor Pendukung Kemajuan Islam di Spanyol
v  Adanya proteksi dari penguasa, membuat pendidikan Islam cepat sekali maju, alasannya ialah penguasa sangat menyayangi ilmu pengetahuan dan berwawasan jauh ke depan.
v  Adanya beberapa sekolah dan universitas di beberapa kota Spanyol yang sangat populer (Universitas Cordova, Malaga, Sevilla, dan Granada).
v  Banyaknya para sarjana Islam yang dating dari ujung timur dan ujung barat wilayah Islam dengan membawa banyak sekali buku dan banyak sekali wawasan.
v  Adanya persaingan antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.
4.  Runtuhnya Kedigdayaan Islam di Andalusia
Di antara penyebab keruntuhan peradaban dan pendidikan Islam di Andalusia adalah:
Ø  Konflik Agama
Pada akhir-akhir kemajuan peradaban pendidikan Islam di Andalusia, telah muncul ke permukaan paham-paham dan perbedayaan keyakinan. Kondisi yang tidak menguntungkan bagi umat Islam telah membuat “berani” umat Kristiani menampakkan dirinya ke permukaan. Bahkan terang-terangan berani menentang kebijakan penguasa Islam di kala itu.
Ø  Ideologi Perpecahan
Kultur sosial kemasyarakatan ketika itu amat berpeluang besar terjadinya pertikaian, apalagi dengan tida adanya sosok pemimpin yang sanggup mempersatukan ideology yang telah memecah belah persatuan. Sehingga keamanan negeri tidak lagi bisa terjamin dan terjadinya perampokan di mana-mana. Kondisi menyerupai ini dimanfaatkan oleh umat Kristiani untuk menyusun kekuatan.
Ø  Krisis Ekonomi
Dalam situasi semakin sulit, umat kristiani tidak lagi jujur dalam membayar upetinya kepada penguasa Islam, dengan banyak sekali dalih. Sering terjadi perampokan yang diskenario oleh kelompok Kristiani, dan pada akibatnya menuduh Islam yang berbuat aniaya kepadanya. Pemerintah lebih memperhatikan kemajuan pendidikan dan lupa menata perekonomian, sehingga melemahkan ekonomi Negara.
Ø  Peralihan Kekuasaan
Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ke tangan Fendinand dan Isabella, sementara di kalangan Islam sendiri terjadi perpindahan kekuasaan dengan system hebat waris. Pola yang masih dipertahankan umat Islam dalam menggantikan tampuk kepemimpinan kadang jauh dari kelayakan.
Eksistensi perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh peradaban Spanyol Islam di segala bidang, telah menjadikannya sebagai sebuah Negara adidaya di zamannya. Kehadirannya telah banyak mewarnai pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Pengembangan ilmu pengetahuan di Spanyol Islam dimulai dengan mendirikannya mendirikan forum pendidikan, menyerupai madrasah-madrasah dan Universitas Cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan. Selain itu, demi kelancaran proses pendidikan, maka dibangunlah akomodasi perpustakaan. Perpustakaan itu dibangun atas upaya Abdurrahman III juga dilakukan oleh Al-Hakam II dengan membangun perpustakaan terbesar di seluruh Eropa pada masa itu.
DAFTAR PUSTAKA
          Harum, Maidir. 2001. Sejarah Pendidikan Islam. Padang: IAIN Imam Bonjol.
          Munir, Syamsul. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
          Nizar, Samsul. 2009. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
          Syalabi, Ahmad. 1973. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang
          Thahir, Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada